Rabu, 20 Desember 2017

Diabetes

Penyakit diabetes dikenal sebagai the silent killer (pembunuh terselubung), karena seringkali penderita tidak menyadari dirinya mengidap diabetes sampai terjadi komplikasi, baik yang ringan sampai berat.
Seseorang dikatakan terkena diabetes jika hasil pengecekan laboraturium kadar gula darah saat puasa (minimal 8 jam) melebihi 126 mg/dl  atau pengecekan gula darah sewaktu melebihi 200 mg/dl. Gejala awal yang dirasa bagi penderita diabetes antara lain adalah berat badan turun drastis, sering lapar, sering haus, sering pipis terutama di malam hari.
Penyakit ini tidak langsung menyebabkan kematian, tetapi komplikasi yang dihasilkan dari diabetes ini berupa gangguan pembuluh darah yang menyebabkan serangan jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan dan sebagainya hingga berakhir dengan kematian.
Komplikasi dari diabetes ini bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh manusia. Namun demikian, jika pasien diabetes bisa mengontrol kadar gula darahnya dengan baik, maka komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit ini bisa dicegah.
Hasil gambar untuk pankreas
Organ pankreas pada sistem pencernaan

1.  MENGENAL DIABETES
Diabetes merupakan penyakit degeneratif (kerusakan organ tubuh karena usia atau gaya hidup yang tak sehat), dimana sel-sel pankreas mengalami kemunduran yang sebelumnya aktif menjadi tidak aktif lagi, sehingga tidak memproduksi cukup insulin.
Pankreas merupakan salah satu organ pada sistem pencernaan manusia yang tugasnya memproduksi hormon dan enzim yang diperlukan dalam proses metabolisme.  Salah satu hormon yang diproduksi pankreas adalah insulin.
Insulin berfungsi mengikat glukosa dari darah dan memasukkan ke dalam sel-sel seluruh tubuh agar bisa digunakan sebagai energi pada semua aktifitas. Gula dalam darah berperan sangat penting sebagai sumber energi sel. Sisa gula dalam darah di ubah menjadi glikogen dan disimpan di hati, otot dan jaringan lainnya. Glikogen dapat digunakan lagi menjadi glukosa jika dibutuhkan, misalnya pada saat kita berpuasa. 
Jadi penyakit diabetes adalah penyakit akibat terjadi peningkatan kadar gula di dalam darah karena pankreas  tidak memproduksi insulin secara normal, atau ketika tubuh tidak secara efektif menggunakan insulin (resistensi insulin). Akibatnya zat karbohidat (yang ada dalam makanan sehari-hari), tidak semuanya dapat diubah menjadi tenaga dan sisanya menumpuk dalam darah.
Pada makanan yang sehari-hari kita makan terdapat zat karbohidrat, protein dan lemak. Presentase karbohidrat pada makanan sekitar 60-70% sekaligus sebagai sumber utama energi (tenaga). Pada penderita diabetes, sebagian (besar) karbohidrat tidak dapat diubah menjadi tenaga. Karenanya penderita diabetes gampang sekali lelah akibat langsung dari persediaan energi yang terbatas.

Diabetes biasa ditandai dengan kadar gula darah di atas normal. Kisaran kadar gula yang normal bagi tubuh adalah:
·         Berpuasa selama 8 jam 
=
kurang dari 100 mg/dl  
·         Dua jam sesudah puasa  
=
120-150 mg/dl  
·         Sewaktu (sebelum makan)
=
80-120 mg/dl  
·         Dua jam sesudah makan  
=
130-180 mg/dl  
·         Menjelang tidur (malam) 
=
100-140 mg/dl  
Penyakit diabetes merupakan penyakit metabolik. Kebanyakan penyakit metabolik adalah karena faktor genetik atau keturunan, meski sebagian di antaranya disebabkan pola makan yg salah, racun, infeksi, dan sebagainya.
Menurut WHO (1995), Indonesia adalah pengidap diabetes urutan 7 terbanyak di dunia dengan angka 4,5 juta orang. Dan yang memprihatinkan, perkiraan pada tahun 2025 Indonesia naik peringkat ke urutan 5 dengan perkiraan penderita 12,4 juta.

2.  MACAM & PENYEBAB DIABETES
Berdasarkan penyebabnya diabetes dibedakan menjadi 2 macam yaitu tipe 1 dan tipe 2. Diabetes tipe 1 disebabkan oleh kerusakan pankreas sehingga produksi insulin berkurang.  Sedangkan diabetes tipe 2 disebabkan oleh resistensi insulin dalam arti insulinnya cukup tetapi tidak bekerja dengan baik dalam mengontrol kadar gula darah. Atau bisa dikatakan tubuh tidak efektif menggunakan insulin.
Pasien diabetes tipe 1 umumnya memiliki perawakan kurus, sedangkan diabetes tipe 2 lebih banyak menyerang orang-orang bertubuh besar yang dikategorikan kelebihan berat badan (overweight) maupun obesitas. Walaupun itu tidak bisa jadikan sebagai patokan.
Karena penyebabnya berbeda, pengobatan kedua tipe diabetes ini juga tidak sama. Pengidap diabetes tipe 1 membutuhkan insulin dalam bentuk suntikan, sedangkan pasien diabetes tipe 2 cukup mengonsumsi obat oral atau obat telan.

Diabetes tipe 1 susah diprediksi dan dicegah, sebab merupakan kelainan genetik yang dibawa sejak lahir. Lain halnya dengan diabetes tipe 2 yang sangat bisa dicegah, karena biasanya menyerang orang-orang dengan pola makan tidak sehat dan jarang berolahraga.
Dilihat dari perbandingan jumlah kasus, diabetes tipe 1 mencakup 10-15 persen dari jumlah seluruh pengidap diabetes. Jumlah kasus diabetes tipe 2 terutama di negara maju dan berkembang mencapai 85-90 persen dari seluruh pengidap diabetes semua tipe.

3.  BAHAYA DIABETES
Hingga saat ini, penyakit diabetes belum dapat disembuhkan. Tetapi keseimbangan kadar gula darah dapat dikontrol dan dikendalikan dengan mengubah pola makan, memperbaiki pola hidup dengan rajin berolah raga, dan mengonsumsi obat secara terartur.
Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi akibat kadar glukosa darah tinggi antara lain penyakit jantungstrokeretinopati diabetes yang mempengaruhi penglihatan mata, gagal ginjal yang memerlukan dialisis, dan kurangnya sirkulasi darah di bagian tungkai yang mengharuskan dilakukannya amputasi.

Sistem pencernakan manusia

4.  OBAT DIABETES; METFORMIN & GLIMEPIRIDE
Meski secara medis diabetes tidak bisa disembuhkan, pengendalian kadar gula darah sangat penting agar penderita bisa melangsungkan hidup secara baik seperti manusia lain yang bukan penderita diabetes. 
Penderita diabetes tipe 2 umumnya akan membutuhkan obat-obatan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darahnya.  Tujuan pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan keseimbangan kadar gula darah dan mengendalikan gejala untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.
Obat yang biasa direkomendasi dokter bagi penderita diabetes mellitus (DM) tipe 2 dan harus selalu siap sedia adalah Metformin. Selain itu juga ada obat tambahan yaitu Glimepiride bagi penderita diabetes bila kadar gula darahnya sudah tinggi (diatas 200 mg/dl  ).

a.   METFORMIN. Metformin merupakan obat pilihan pertama untuk penderita diabetes tipe 2. Dalam menurunkan kadar gula darah yang tinggi, metformin bekerja dengan cara:
·         meningkatkan sensitifitas tubuh terhadap insulin yang diproduksi oleh tubuh sendiri.
·         menghambat proses glukoneogenesis dan glikogenolisis, serta
·         memperlambat penyerapan glukosa pada usus.
Dalam bekerja, obat ini membutuhkan insulin. Obat ini tidak merangsang peningkatan produksi insulin sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia.
Metfomrin sebaiknya dikonsumsi sesaat setelah makan atau setelah makan suapan pertama. Metformin dikonsumsi 2-3 kali sehari.
Pada pengobatan diabetes dengan metformin yang dikombinasikan dengan sulfonilurea atau insulin, perlu dilakukan monitoring gula darah berkala karena kemungkinan hipoglikemia.
Efek samping umumnya dapat hindari bila metformin diminum bersama makanan, atau dosisnya dikurangi untuk sementara.

b.  GLIMEPIRID. Glimepirid adalah obat yang bekerja menurunkan kadar glukosa darah yang tinggi dengan cara merangsang keluarnya insulin dari sel Pankreas. Glimepirid memiliki efek samping hipogilkemi (anjloknya kadar gula darah menjadi di bawah normal), gangguan pencernaan, mual, dan anemia.
Glimepirid dikonsumsi sesaat sebelum atau pada saat sarapan. Bagi pasien yang lupa mengonsumsi glimepirid disarankan segera meminumnya begitu teringat jika jadwal dosis berikutnya tidak terlalu dekat. Dan jangan menggandakan dosis glimepirid pada jadwal berikutnya untuk mengganti dosis yang terlewat.
Dosis yang tepat akan ditentukan oleh dokter berdasarkan hasil pemeriksaan. Adapaun dosis lazimnya adalah sebagai berikut:
·         Dosis awal: 1-2 mg sehari sekali secara oral.
·         Glimepirid harus diberikan dengan sarapan atau makan pertama Anda.
·         Dosis dapat ditingkatkan setelah 1-2 minggu sesuai hasil pemantauan.
·         Tidak melebihi 8 mg sehari.
Penggunaan glimepirid jangka panjang dapat menyebabkan hipoglikemia. Oleh sebab itu diperlukan titrasi dosis dengan memantau gejala hipoglikemia (penurunan kadar gula darah) ataupun hiperglikemia (peningkatan kadar gula darah).
Jika mengalami gejala hipoglisemia (kadar gula darah terlalu rendah) seperti merasa lemas, pucat, jantung berdebar, penglihatan kabur, rasa lapar, dan gemetar, maka segera mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula.
Tidak semua penderita diabetes boleh menggunakan obat Glimepirid, antara lain :
·         Penderita Diabetes melitus (DM) tipe I yang bergantung pada insulin.
·         Seseorang dengan gangguan fungsi hati atau gangguan ginjal.

·         Wanita hamil dan menyusui. 

5.  MEWASPADAI HIPERGLIKEMIA & HIPOGLIKEMIA
·               HIPERGLIKEMIA adalah kondisi dimana kadar gula darah terlalu tinggi, yaitu melebihi angka 200 mg/dl  . Tanda-tanda jika kadar gula darah terlalu tinggi adalah badan terasa lelah, nafsu makan menggila, bobot tubuh berkurang, sering merasa haus, dan sering buang air kecil.
Dan jika kadar gula darah telah melebihi 350 mg/dl  , gejala yang akan dirasakan adalah perasaan mudah gelisah, tingkat kesadaran menurun, sangat kehausan, penglihatan tidak jelas, dan pusing. Perubahan pada kondisi kulit juga dapat terlihat, seperti memerah, kering, dan terasa panas.  Selain itu, penderita juga bisa mengalami infeksi pada gigi dan gusi, masalah kulit, osteoporosis, gagal ginjal, kerusakan saraf, kebutaan, dan penyakit kardiovaskular.
·               HIPOGLIKEMIA adalah kondisi dimana kadar gula darah terlalu rendah, yaitu di bawah 70 mg/dl  . Tanda-tanda jika kadar gula darah terlalu rendah adalah badan tiba-tiba terasa lemah atau gemetar, berkeringat dingin, muka pucat, detak jantung lebih cepat, merasa tidak enak badan, rasa mual, dan sedikit kebingungan.
Obat-obatan penurun kadar gula darah, seperti insulin atau obat anti-diabetes bila dikonsumsi terlalu banyak bisa membuat gula darah turun drastis. Hipoglikemia akan cepat terjadi jika insulin atau obat anti-diabetes tidak diiringi oleh asupan makanan yang cukup atau justru tidak makan sama sekali. Olahraga yang berlebihan juga bisa memicu kondisi ini.
Hipoglikemia bisa dibedakan menjadi 3. yakni: Hipoglikemia Ringan (glukosa darah 50-60 mg/dl) ; Hipoglikemia Sedang (glukosa darah 40-50 mg/dl  ), dan ; Hipoglikemia Berat (glukosa darah <35 mg /dL).
Kondisi hipoglikemia sedang atau berat dapat menyebabkan sel-sel otak tidak memperoleh bahan bakar untuk bekerja dengan baik. Keadaan ini akan sangat membahayakan karena akan menyebabkan gangguan pada sistem saraf pusat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain untuk mengatasi hipoglikeminya. Gejalanya antara lain: sakit kepala, bicara pelo, gerakan tidak terkoordinasi, penglihatan ganda, perasaan seperti mau pingsan, serangan sinkop, dan bisa kehilangan kesadaran.
Apabila muncul gejala Hipoglikemia, maka hal-hal yang bisa dilakukan adalah segera mengkonsumsi 2 hingga 3 sendok gula pasir atau gula merah, atau meminum soda biasa ½ gelas (soda mengandung gula yang sagat tinggi). Sedangkan untuk para penderita gula darah yang sudah cukup parah sebaiknya untuk selalu membawa glucagon sebagai insulin pengganti gula yang tidak diproduksi oleh pancreas karena organ tersebut terganggu.

6.  BEKAL PENDERITA DIABETES
Bagi penderita diabetes mellitus, disamping harus melakukan program perawatan diabetes, seperti pengobatan, diet, dan olahraga rutin juga diharuskan melakukan tes gula darah rutin atau sesering mungkin.  Hal itu perlu dilakukan untuk memonitor kadar gula darah jangan sampai terlalu rendah (hipoglikemia) atau terlalu tinggi (hiperglikemia). 
Bila kadar gula darah terlalu rendah (hipoglikemia) dan kondisi dibiarkan terus maka bisa membuat tubuh penderita lemas dan kemudian kehilangan kesadaran atau pingsan. Dan tentu situasi itu akan sangat berbahaya.  Oleh karenanya apabila penderita diabetes mengalami hipoglikemia, maka segera segera mengkonsumsi makanan atau minuman berkadar gula tinggi.
Maka sangat disarankan bagi penderita diabetes, kapanpun dan dimanapun berada (terutama bila mau melakukan perjalanan jauh atau kegiatan agak berat) untuk membekali diri setidaknya dengan 3 hal, yaitu:
·         Alat test kadar gula darah
·         Obat metformin dan glimiperide

·         Minuman manis dalam termos kecil, atau gula batu (gula pasir yang dikristalkan).


Jumat, 15 Desember 2017

Turki Bangkit Menjadi Negara Islam di Tangan Erdogan

Turki setelah runtuh di tangan Musthofa Kemal At Taturk dari sistem khilafah menjadi sistem demokrasi sekuler kini mulai bangkit. Presiden Erdogan dengan semboyannya yang sangat terkenal, "Turki harus bangkit dari wilayah di mana ia pernah runtuh" sedikit demi sedikit mulai bangkit. Turki mulai 

Prestasi Erdogan menuju kebangkitan Islam di Turki yang telah tercatat diantaranya:

1.    Produk domestik nasional Turki tahun 2013 mencapai US $ 100 Miliar melampaui Arab Saudi, UEA dan Iran.
2.    Erdogan membawa Turki menjadi anggota 20 negara ekonomi terkuat di dunia atau G20 yang awalnya peringkat 111 ke peringkat 16.
3.    Tahun 2023 akan dibangun Turki modern yang akan menjadi negara terkuat yang mengatasnamakan Islam.
4.    Airport Turki adalah bandara terbesar di Eropa.
5.    Turkis Airlines menjadi maskapai penerbangan terbaik di dunia dalam 3 tahun berturut-turut.
6.    Komoditas pertanian kian maju.
7.    Turki bisa memproduksi sendiri Tank baja, pesawat tempur tanpa awak, pesawat terbang dan satelit militer modern yang multifungsi.
8.    Erdogan telah mendirikan 125 universitas baru, 189 sekolah baru, 510 rumah sakit baru. Sekolah-sekolah di Turki menjadi sekolah unggul di Eropa.
9.    Erdogan membebaskan biaya kuliah bagi rakyatnya dan menjadi tanggungan negara.
10.    Nilai tukar uang Turki meningkat menjadi 30 kali lipat.
11.    Jumlah pencari kerja menurun hingga 2%.
12.    Gaji guru sebesar gaji dokter.

Kamis, 14 Desember 2017

Tips Aman Menjadi Seorang Koruptor (Jangan Ditiru)

Andai, hanya berandai, kalau saya pun akhirnya menjadi koruptor,  seperti mereka yang digelandang KPK, akan ada banyak hal yang tidak akan  saya lakukan. Akan saya pelajari berbagai kesalahan yang dilakukan  mereka hingga akhirnya tertangkap tangan. Akan saya pikirkan skenario  termutakhir untuk mengantisipasinya. Beberapa sudah terpikir, misalnya  sebagai berikut:
1. Tetap Low Profile
Ini strategi yang mustinya dilakukan para koruptor. Jangan tampil  mencolok, memamerkan harta yang berlebih, bergonta-ganti kendaraan  mewah, membangun rumah bak istana, atau membiarkan pasangan menenteng  tas bermerek yang harganya lebih mahal dari upah UMR ibukota.
Seorang kawan menyebut, Gayus Tambunan yang sempat menghebohkan dunia  pajak tanah air dan internasional, selama bertahun-tahun tampil low profile, mengendarai mobil second, bahkan menarik uang patungan bensin  untuk rekan-rekan sekantor yang menumpang kendaraannya. Siapa sangka, di  bagasi mobil yang sama, tumpukan uang kerap menyesaki ruangnya.
2. Jangan pakai telpon selular
Kalau mau korupsi aman, hindari penggunaan teknologi terkini, terutama  telepon selular. Kenapa? Ya jelas, selama ini KPK bisa menjaring para koruptor dan penyuapnya lewa sadapan percakapan lewat telepon selular.  Pakailah surat, atau kalau perlu merpati pos. Jangan lupa langsung hancurkan surat yang Anda kirim dan terima sehingga tak ada bukti.
Hal sama berlaku untuk instant messaging. Jangan percaya klaim bahwa  Whatsapp atau Telegram menggunakan enkripsi 32bit atau whatever jumbo mambo istilah teknis yang mereka katakan. Intinya, teknologi digital  meninggalkan jejak digital, yang bagi negara atau KPK tentunya punya  cara mengaksesnya.
Kalau jadi koruptor, berhubunganlah dengan penyuap Anda lewat  fasilitas analog, macam kode morse, anagram dan sejenisnya. Paling  banter yang bisa memecahkan anak pramuka.
3. Jangan pakai akun bank tanah air.
Ini kesalahan berikutnya para koruptor. Mereka melakukan transaksi  suap-menyuap menggunakan rekening bank Indonesia. Tidak sadarkah Anda, semua transaksi perbankkan diawasi oleh Bank Indonesia dan PPATK (Pusat  Pelaporan dan Analisis Transaksi). Adalah masih untung hingga tahun ini  PPATK dan Bank Indonesia tidak secara otomatis menyerahkan laporannya ke  KPK. Coba iya, bakal lebih penuh rutan kita diisi tersangka kasus rasuah.
Belajarlah dari para konglomerat hitam. Gunakan rekening di negeri  macam Swiss, Luxemburg atau negera-negara lain di pasifik dan Amerika  Latin yang menawarkan tax haven seperti Bermuda, British Virgins Island  dan Puerto Rico. Kalau perlu, minta bantuan konsultan keuangan untuk  menset-up atau membeli shell company guna mencuci bersih uang korupsi  Anda.
4. Hindari menerima uang cash
Banyak koruptor tertangkap tangan menerima uang cash dalam jumlah luar  biasa. Bahkan seorang Dirjen sebuah kementerian teknis disebut tertangkap tangan bersama tak kurang dari 33 buah tas penuh dengan uang  rupiah, dollar dan poundsterling di kamar dinasnya.
Tidakkah mereka berpikir, betapa repotnya menerima suap berupa uang  cash. Apalagi dalam bentuk rupiah. Jumlahnya pasti banyak dan  berbendel-bendel. Masih mending kalau dollar atau pounds. Namun, masih  saja bakal repot.
Tidakkah mereka berpikir, untuk mendapatkan uang cash dalam julah  besar guna menyuap, para pelaku rasuah musti menarik uang dalam jumlah besar di bank. Yang artinya akan ada catatan, yang artinya akan  mengaktifkan fasiitas alert dari Bank Indonesia, PPATK dan  ujung-ujungnya KPK.
Belakangan ada trend baru di mana suap tidak diberikan dalam bentuk  uang fisik, namun dalam bentuk kartu ATM. Yang kemudian akan secara  rutin diisi oleh penyuap, sehingga koruptor tidak terbebani dengan  bergunung uang cash menyesaki kamar. Namun, jika Anda melihat point no  3, cara ini tetap beresiko besar selama ATM tersebut masih menggunakan  rekening bank tanah air.
5. Buat Yayasan
Jika mau korupsi relatif aman, ikuti cara yang dicontohkan pendahulu  kita. Dirikanlah yayasan, kalau bisa yang ada hubungannya dengan  kegiatan sosial, keagamaan atau pendidikan. Kemudian, lewatkanlah uang  suap ke sana, untuk kemudian bisa dialokasikan ke berbagai kegiatan  tanpa kena pajak--namun bersih--hingga akhinya bisa masuk kembali ke  rekening pribadi Anda tanpa kecurigaan.
Anyway, semua teknik di atas hanyalah imajinasi saya. Jangan terlalu  dianggap serius. Jangan pula dicoba. Karena, jujur, kalau saya bisa  memikirkan skenario semacam itu, KPK pasti telah lama memikirkannya dan  menyiapkan penanggulangannya.
Sekali lagi, mengacu pada wejangan nenek moyang kita, sekarang adalah  jaman kala bendhu, jaman kekacauan. Korupsi adalah salah satu wujud sekaligus penyebab kekacauan jaman ini. Adalah paling bijak untuk tidak  ikut-ikutan melakukannya. Sebagaimana Eyang Ranggawarsita pernah berucap, "Sak begja-begjaning wong, kuwi sing eling lan waspada,".
Sugeng sonten, monggo ngopi rumiyin.
Oleh : Hasto Suprayogo (kompasianer)



Senin, 11 Desember 2017

Negeri Kita Semakin (Tidak) Makmur ?

Perdebatan masyarakat awam tentang tingkat kemakmuran negeri kita terjadi di mana-mana dan tak kunjung selesai dengan satu kesepahaman.  Ada yang menilai bahwa negeri kita semakin makmur, indikasinya: mal-mal semakin banyak berdiri, jumlah kendaraan terus bertambah, perumahan-perumahan muncul di mana-mana, demikian pula rumah-rumah di desa banyak yang dibangun ala minimalis.  Bahkan masyarakat di pelosok-pelosok desapun banyak yang telah memiliki motor dan tidak asing lagi dengan handphone.

Namun sebagian lain berpendapat sebaliknya, jaman sekarang hidup semakin susah, mencari pekerjaan semakin sulit, pengangguran semakin banyak, para sarjana sulit mendapatkan pekerjaan, membuka usaha tidak semudah dulu, pedagang kaki lima pada digusur, banyak yang lari ke LN menjadi TKI, dan sebagainya.  Perbedaan pandangan seperti itu tentu wajar terjadi dan cukup beralasan, tergantung dari sudut mana mereka memandang. Berbagai pandangan itu tidak lepas dari pengaruh lingkungan, pengalaman dan pengetahuan yang berbeda satu sama lain.

Lantas bagaimana sesungguhnya tingkat kemakmuran negeri kita ini?.  Penulis mencoba memberikan pandangan berdasarkan data dan kajian.  Setidaknya ada empat parameter untuk menilai tingkat kemakmuran suatu masyarakat bangsa, yaitu: (1) pendapatan perkapita, (2) koefisien gini (3) data kemiskinan, dan (4) indek pembangunan manusia (IPM).

1.   Pendapatan Per Kapita.

Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara selama satu tahun.  Besaran pendapatan per kapita dapat dihitung dengan cara membagi besarnya pendapatan nasional atau Pendapatan Domestik Bruto (PDB) suatu negara dengan jumlah penduduk negara yang bersangkutan.  Pendapatan per kapita merupakan ukuran paling sederhana untuk merepresentasikan tingkat kesejahteraan dan tingkat pembangunan sebuah negara.  Semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2016 mencapai Rp 12.406,8 triliun (US$ 932,6 miliar) dan Pendapatan per Kapita mencapai Rp 47,96 juta/tahun (senilai US$ 3.605).   Jadi pendapatan rata-rata penduduk Indonesia per bulan di tahun 2016 sebesar Rp 4 juta.

International Monetary Fund dalam laporannya yang dirilis akhir tahun lalu menyebutkan pendapatan perkapita Indonesia per Oktober 2017 sebesar US$ 13.120  jauh berada dibawah Singapura (US$ 93.680), Brunei (US$ 77.700), dan Malaysia (US$ 30.430). Namun sedikit diatas Filipina (US$ 8.780) dan Vietnam (US$ 7.380).   Dari sebelas negara yang ada di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat kelima, dibawah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand.  Namun berada di atas Filipina, Vietnam, Laos, Myanmar, Timor Leste dan Kamboja.

2.   Koefisien Gini

Koefisien Gini atau Gini Ratio merupakan indeks yang digunakan untuk mengukur ketimpangan pendapatan antara penduduk miskin dan penduk kaya pada sebuah negara.  Gini ratio dikembangkan oleh statistikus Italia, Corrado Gini, dan dipublikasikan pada tahun 1912 dalam karyanya, Variabilit e mutabilit.  Perhitungan koefisien gini didasarkan pada kurva Lorenz, yaitu sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari suatu variable tertentu (misalnya pendapatan) dengan distribusi uniform (seragam) yang mewakili persentase kumulatif penduduk.

Besaran angka koefisien gini berkisar antara 0 hingga 1. Semakin besar angka koefisien gini maka semakin besar tingkat ketimpangan/kesenjangan kekayaan penduduk.  Angka 0 berarti menunjukkan pemerataan sempurna, sedangkan angka 1 berarti menunjukkan ketimpangan yang sempurna.  Di seluruh dunia, angka koefisien kesenjangan pendapatan ini bervariasi dari 0.25 (Denmark) hingga 0.70 (Namibia).


Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2016, Indek Gini Ratio di Indonesia berada di angka 0,397. Proporsi masyarakat Indonesia dengan kekayaan kurang dari US$ 10.000 mencapai 84,30%, sedangkan kekayaan lebih dari US$ 1 juta hanya 0,1%.  Besarnya kesenjangan juga terlihat pada penguasaan orang-orang kaya di sektor perbankan. Dana bank di Indonesia didominasi oleh pemilik rekening di atas Rp 2 miliar. Hampir 98 persen jumlah rekening di bank dimiliki oleh nasabah dengan jumlah tabungan di bawah Rp 100 juta.

Ketimpangan kekayaan antara orang kaya dan miskin di Indonesia termasuk paling buruk di dunia. Berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, 10 persen orang kaya menguasai sekitar 77 persen dari seluruh kekayaan aset dan keuangan di negara ini. Kalau dipersempit lagi, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional .  Kondisi ini hanya lebih baik dibanding Rusia, India, dan Thailand.  Berdasar laporan Credit Suisse, kekayaan rata-rata orang dewasa  Indonesia yang mencapai $10.772 dan menempati peringkat ke-4 kawasan ASEAN. Sedangkan peringkat tertinggi adalah Singapura ($276.885), dan terendah Myanmar yang hanya $2.221.

Namun dalam ketimpangan kekayaan di ASEAN, Indonesia menempati peringkat kedua dibawah Thailand. Thailand adalah negara paling tinggi ketimpangan kepemilikan kekayaannya. Sedangkan negara ASEAN paling merata kepemilikan kekayaannya adalah Brunei dengan Indeks Gini mencapai 68%.  Data Kementerian Keuangan menunjukkan, selama 10 tahun terakhir, ketimpangan pendapatan di indonesia berkisar antara 0,32 sampai dengan 0,41. Meski meningkat, ketimpangan pendapatan masyarakat ini masih berada pada tahap sedang (berada di rentang 0,3-0,5).

Secara teori ekonomi dalam sebuah negara berkembang, bahwa 80% kekayaan di seluruh negeri hanya dikuasai oleh tak lebih dari 20% penduduknya saja. sementara 20% kekayaan selebihnya harus dibagi-bagi ke sisanya yang 80% penduduk. Namun kenyataan di Indonesia menyimpang jauh. Menurut ketua MPR, Zulkifli Hasan kesenjangan sosial di Indonesia sangat tinggi sekali. Hal ini terjadi akibat distribusi kekayaan negara yang sangat timpang dan tidak adil di Indonesia. Separuh lebih (85%) kekayaan bangsa Indonesia hanya dikuasai dan dikendalikan oleh segelintir orang (23 konglomerat) yang masing-masing memiliki perusahaan raksasa di Indonesia.

Sedangkan Sekjen PBNU, Helmy Faishal Zaini juga mengungkapkan bahwa jumlah dana yang berputar di Indonesia sekitar 9 triliun. Namun perputaran uang terbesar (85%) hanya dikuasai oleh segelintir orang saja (35 konglomerat) yang masing-masing memiliki perusahaan raksasa di Indonesia.  Terpuruknya ekonomi Indonesia pada  1998 karena hanya bertumpu pada segelintir pengusaha atau konglomerat.

3.   Data Kemiskinan

Survei Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2016 angka orang miskin di Indonesia mencapai 28,01 juta atau 10,86 persen dari total penduduk negeri.  Kemiskinan di Indonesia berdasarkan data BPS sejak tahun 2007 hingga 2016 ditunjukkan dalam prosentase dari populasi sebagai berikut:  Tahun 2007=16,6% ; 2008=15,4% ; 2009=14,2% ; 2010=13,3% ; 2011=12,5% ; 2012=11,7% ; 2013=11,5% ; 2014=11,0% ; 2015=11,1% ; dan  2016=10,9%.

Data di atas menunjukkan penurunan kemiskinan nasional secara perlahan dan konsisten. Namun beberapa pihak mengkritisi, pemerintah Indonesia menggunakan patokan yang sangat rendah mengenai definisi garis kemiskinan, sehingga yang tampak adalah gambaran yang lebih positif dari kenyataannya. Tahun 2016 pemerintah Indonesia mendefinisikan garis kemiskinan dengan perdapatan per bulannya (per kapita) kurang dari Rp. 325.000,- (atau sekitar USD $25) yang dengan demikian berarti standar hidup sangat rendah, juga buat pengertian orang Indonesia sendiri.

Namun jika kita menggunakan nilai garis kemiskinan yang digunakan Bank Dunia, yang mengklasifikasikan penduduk miskin penghasilannya kurang dari USD $37.5 per bulan (setara Rp. 498.000,- ), maka prosentase data di atas akan kelihatan tidak akurat karena nilainya seperti dinaikkan beberapa persen.

Lebih lanjut lagi, menurut Bank Dunia, kalau kita menghitung angka penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari USD $2 per hari (setara Rp.79.000/bulan) angkanya akan meningkat lebih tajam lagi. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia hidup hampir di bawah garis kemiskinan. Laporan terbaru di media di Indonesia menginformasikan bahwa sekitar seperempat jumlah penduduk Indonesia (sekitar 65 juta jiwa) hidup hanya sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional.



4.   Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI)  merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan sebuah negara dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk). IPM diperkenalkan oleh Badan Program Pembangunan di bawah PBB (United Nations Development Programme/UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR).

Penentuan peringkat IPM dilakukan melalui survei dengan obyek tiga dimensi utama yaitu: Standar Hidup Layak (PDB per kapita), Pendidikan, dan Kesehatan untuk semua negara seluruh dunia.  IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah Negara maju, Negara berkembang atau Negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.

Dalam laporannya, UNDP menempatkan IPM Indonesia masuk kategori sangat rendah di dunia, berada di peringkat 113 dari 188 negara di dunia, dengan nilai sebesar 0,689. Di ASEAN saja Indonesia tertinggal jauh dari Singapura (peringkat 9), Brunai (peringkat 30), dan Malaysia (peringkat 59). Juga masih dibawah Thailand (peringkat 93) dan Filipina (peringkat 98). Dengan peringkat itu Indonesia masih berada dalam kelompok negara menengah, sedangkan negara tetangga Malaysia masuk kategori tinggi.

Bahkan yang memprihatinkan lagi peringkat IPM Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 110 (tahun 2014) turun menjadi peringkat 113 (tahun 2015). Penurunan itu disebabkan antara lain oleh faktor kesenjangan sosial yang tinggi, banyaknya kasus korupsi (Indonesia peringkat 5 negara terkorup di dunia), dan sebagainya.

Catatan Akhir

Berdasarkan data diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat pembangunan kualitas hidup bangsa Indonesia tergolong sangat rendah, dengan nilai IPM sebesar 0,689 yang berada di peringkat 113 dari 188 negara di dunia (berdasarkan penilaian UNDP).   Sedangkan di Asia Tenggara Indonesia menempati urutan kelima, di bawah Singapura, Brunei, Malaysia dan Thailand. Tingkat ketimpangan kekayaan di Indonesia juga termasuk paling buruk di dunia, dimana segelintir (1 %) orang terkaya menguasai  separuh (49,3 %) total asset negara. Dan sekitar seperempat jumlah penduduk Indonesia (sekitar 65 juta jiwa) hidup hanya sedikit saja di atas garis kemiskinan, dengan pendapatan per kapita per bulan kurang dari Rp.798.000 (standar Bank Dunia).


Demikian catatan akhir tentang tingkat kemakmuran bangsa tercinta ini. Ironis, negara dengan sumber kekayaan alam melimpah didukung sumber daya manusia intelektual tinggi namun kualitas hidup bangsanya begitu memprihatinkan.  Kenapa?  Tentu ada masalah dengan bangsa tercinta ini. Semoga kita dapat segera mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan nya sehingga tercapai keadilan dan kemakmuran bangsa yang didambakan. Amin

&&&&&


Resume


EMPAT PARAMETER UNTUK MENILAI TINGKAT KEMAKMURAN BANGSA
yaitu: (1) pendapatan perkapita, (2) koefisien gini (3) data kemiskinan, serta (4) indek pembangunan manusia (IPM).

1. Pendapatan Per Kapita.
·         Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk selama satu tahun.  
·         Besaran pendapatan per kapita dihitung dengan cara membagi besarnya pendapatan nasional atau Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dengan jumlah penduduk. 
·         Pendapatan per kapita merupakan ukuran paling sederhana untuk merepresentasikan tingkat kesejahteraan dan tingkat pembangunan sebuah negara. Semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut. 
·         BPS : PDB tahun 2016 = Rp 12.406,8 triliun ; Pendapatan per Kapita = Rp 47,96 juta/tahun (senilai US$ 3.605).   Jadi pendapatan rata-rata penduduk Indonesia per bulan di tahun 2016 sebesar Rp 4 juta.
·         International Monetary Fund : Pendapatan perkapita Indonesia per Oktober 2017 sebesar US$ 13.120 jauh berada dibawah Singapura (US$ 93.680), Brunei (US$ 77.700), dan Malaysia (US$ 30.430). Namun sedikit diatas Filipina (US$ 8.780) dan Vietnam (US$ 7.380).

2. Koefisien Gini
·         Koefisien Gini atau Gini Ratio merupakan indeks yang digunakan untuk mengukur ketimpangan pendapatan antara penduduk miskin dan penduk kaya pada sebuah negara.  
·         Gini ratio dikembangkan oleh statistikus Italia, Corrado Gin th. 1912, yg didasarkan pada kurva Lorenz.
·         Besaran angka koefisien gini berkisar antara 0 hingga 1. Angka 0 berarti menunjukkan pemerataan sempurna, sedangkan angka 1 berarti menunjukkan ketimpangan yang sempurna.
·         Di seluruh dunia, angka koefisien kesenjangan pendapatan ini bervariasi dari 0.25 (Denmark) hingga 0.70 (Namibia).
·         BPS per Maret 2016: Indek Gini Ratio di Indonesia = 0,397.
·         Dana bank di Indonesia didominasi oleh pemilik rekening di atas Rp 2 miliar. Hampir 98 persen jumlah rekening di bank dimiliki oleh nasabah dengan jumlah tabungan di bawah Rp 100 juta.
·         Ketimpangan kekayaan antara orang kaya dan miskin di Indonesia termasuk paling buruk di dunia.
·         Secara teori ekonomi, bahwa 80% kekayaan di seluruh negeri hanya dikuasai oleh tak lebih dari 20% penduduknya saja.
·         Ketua MPR, Zulkifli Hasan : Kesenjangan sosial di Indonesia sangat tinggi sekali. Separuh lebih (85%) kekayaan bangsa Indonesia hanya dikuasai dan dikendalikan oleh segelintir orang (23 konglomerat) yang masing-masing memiliki perusahaan raksasa di Indonesia.
·         Helmy Faishal Zaini : Jjumlah dana yang berputar di Indonesia sekitar 9 triliun. Namun perputaran uang terbesar (85%) hanya dikuasai oleh segelintir orang saja (35 konglomerat) yang masing-masing memiliki perusahaan raksasa di Indonesia.

3. Data Kemiskinan
·         BPS : Sejak 2007 sd 2016, data statistic penurunan angka lemiskinan.
·         Pemerintah mendefinisikan garis kemiskinan dengan perdapatan per bulannya (per kapita) kurang dari Rp. 325.000,- (atau sekitar USD $25) = standar hidup sangat rendah.
·         Standar Bank Dunia, penduduk miskin penghasilannya kurang dari USD $2 per hari ($60 perbulan = Rp. 900 ribu per bulan.
·         Sekitar seperempat jumlah penduduk Indonesia (sekitar 65 juta jiwa) hidup hanya sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional.

4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
·         Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan sebuah negara dalam upaya membangun kualitas hidup manusia (masyarakat/penduduk).
·         Tiga dimensi utama IPM: Standar Hidup Layak (PDB per kapita), Pendidikan, dan Kesehatan.  
·         IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah Negara maju, Negara berkembang atau Negara terbelakang
·         UNDP menempatkan IPM Indonesia masuk kategori sangat rendah di dunia, berada di peringkat 113 dari 188 negara di dunia.
·         Dengan peringkat itu Indonesia masih berada dalam kelompok negara menengah, sedangkan negara tetangga Malaysia masuk kategori tinggi.

·         Bahkan yang memprihatinkan lagi peringkat IPM Indonesia mengalami penurunan dari peringkat 110 (tahun 2014) turun menjadi peringkat 113 (tahun 2015).