Kamis, 12 September 2019

Pertanyaan Bid'ah

Pertanyaan : apakah perbuatan ini bid’ah ? 

1.  Penentuan waktu shalat fardu (dan puasa) di negara-negara Skandinavia (lingkar kutub utara) yang MENGIKUTI WAKTU SHALAT DI ARAB SAUDI. Sebab di wilayah sana ada fenomena Midnight Sun” (matahari tidak tenggelam, alias tidak pernah malam selama beberapa minggu)

2.  Di masjid kampung saya, setiap bulan Ramadhan selalu dilaksanakan “TAUSIYAH” (ceramah agama) di sela-sela waktu antara SHALAT TARAWIH dan WITIR.

3.  Membayar zakat fitrah dengan BERAS atau UANG (selain kurma, gandum, anggur atau keju).

4.  Utsman ibn Affan berinisiatif menambah adzan untuk SHALAT JUMAT MENJADI DUA KALI, karena situasi dan kondisi kota Madinah yang semakin berkembang.

5.  Zakat profesi dan kewajiban membayar zakat mal (kekayaan) yang disimpan dalam bentuk SELAIN EMAS & PERAK, yaitu kekayaan dlm bentuk dalam bentuk deposito, property, lahan tanah, dsb.


Kelima pertanyaan tersebut tidak ada dalilnya dalam AQ maupun hadis (tetapi ada di Ijma’ dan Qiyas) 



Rabu, 11 September 2019

Shalat Ghaib


1. Niat

2. Takbiratul ikhram & membaca Surat Alfatihah

3. Takbir kedua & membaca Shalawat Nabi

-- Allohumma sholli ‘ala muhamma wa ‘ala ali Muhammad, kama sholaita ‘ala ibrohim wa ‘ala ibrohim.

4.  Takbir ketiga & membaca do’a untuk jenazah

Allahummaghfirlahu warhamhu, wa ‘afihi wa’fu anhu

(Ya Allah ampuniah dia, berilah dia rahmat dan sejahterakan serta maafkanlah dia)

5.  Takbir keempat & membaca do’a:

Allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna ba’dahu waghfirlana walahu  

(Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya yang akan sampai kepada kami, dan jangan Engkau memberi fitah kepada kami sepeninggalnya serta ampunilah kami dan dia.)

6.  Salam

Senin, 09 September 2019

Bill Gates, Milyarder Dunia yang Dermawan


Bill Gates, adalah pendiri Microsoft sekaligus salah satu orang terkaya di dunia,

Menurut laporan Forbes,  jumlah kekayaannya (2018) telah mencapai US$ 91 miliar atau setara Rp 1.292 triliun (kurs Rp 14.200).
Bill Gates juga tercatat sebagai orang paling dermawan di Amerika Serikat (AS).

Sepanjang hidupnya, dia telah menyumbangkan USD 35,8 miliar atau setara Rp 545,1 triliun (USD 1 = Rp 15.227). 

Bill bersama istrinya, Melinda Gates mempunyai hobi berkeliling dunia dalam rangka menumpas kemiskinan. Lewat Gates Foundation yang mereka dirikan, mereka telah berdedikasi untuk meningkatkan kualitas hidup semua orang.

Yayasan Bill & Melinda Gates yang mereka dirikan tahun 1994 merupakan yayasan amal terbesar di dunia. Misi utama yayasan ini adalah memperbaiki sistem kesehatan dan mengurangi kemiskinan ekstrem di seluruh dunia

Tahun 2010 Gates dan sang istri, Melinda, mendirikan gerakan The Giving Pledge, yang mendorong orang-orang terkaya di dunia menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk amal.


Jumat, 06 September 2019

Sehat dengan Zikir dan Doa

Bagi seorang Muslim, zikir dan doa merupakan salah satu bentuk komitmen keagamaan dan keimanannya kepada Allah SWT. Doa adalah permohonan yang dimunajatkan ke hadirat Allah, Zat Yang Mahakuasa. Sedangkan zikir adalah mengingat Allah SWT dengan segala sifat-sifat-Nya. Dengan demikian, zikir dan doa dapat dimaknai sebagai suatu amalan dalam bentuk kata-kata yang diucapkan secara lisan ataupun dalam hati yang berisikan permohonan kepada Allah SWT dengan selalu mengingat nama-nama dan sifat-Nya.

Sebenarnya, zikir itu tidak terbatas pada bacaan zikirnya (dalam arti sempit), melainkan meliputi segala bacaan, tindakan, dan segala amal kebaikan yang diperintahkan oleh agama.
Dipandang dari sudut kesehatan jiwa, zikir dan doa mengandung unsur psikoterapeutik yang mendalam. Terapi psikoreligius tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan psikoterapi psikiatrik, karena dia mengandung kekuatan spiritual atau keruhanian yang membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme. Dua hal ini, yaitu rasa percaya diri (self confident) dan optimisme merupakan dua hal yang amat esensial bagi penyembuhan suatu penyakit selain obat-obatan dan tindakan medis lainnya.

Levin (1996) dari Eastern Virginia Medical School misalnya, dia melakukan studi terhadap 393 pasien jantung di San Fransisco, untuk mengetahui sejauh mana efektivitas zikir dan doa. Kelompok pasien jantung dibagi dalam dua kelompok secara acak (random), yaitu kelompok mereka yang memperoleh terapi zikir dan doa dan kelompok mereka yang tidak. Hasilnya menunjukkan kelompok mereka yang memperoleh terapi zikir dan doa, ternyata sedikit sekali mengalami komplikasi sementara kelompok mereka yang tidak memperoleh terapi zikir dan doa banyak timbul berbagai komplikasi dari penyakit jantungnya itu.

Sebuah studi di VSCF Medical Center menemukan pula bahwa pasien operasi jantung yang didoakan oleh orang lain tampak jauh lebih mampu bertahan, pasien tersebut juga mengalami komplikasi yang lebih sedikit dan lebih singkat waktu perawatannya. Studi lain mengindikasikan, orang yang berdoa teratur merasa lebih baik dan lebih merasa damai. Frekuensi doa sama halnya dengan frekuensi membaca kitab suci, memiliki korelasi positif dengan kesehatan semakin sering berdoa, kualitas kesehatan pun semakin baik.

Mengapa demikian? Zikir dan doa yang kita lakukan sejatinya dapat mengoptimalkan kinerja semua komponen otak. Kita mengetahui otak adalah pusat pengendali kehidupan manusia. Optimalnya kinerja otak, akan optimal pula aktivitas kehidupan kita. Sebaliknya, error otak kita, akan error pula kehidupan kita.

Setidaknya, ada tiga mekanisme yang ditimbulkan oleh doa, yaitu: (1) doa memunculkan dampak relaksasi, (2) doa memancarkan emosi positif, dan (3) doa membuka “campur tangan” Allah sehingga terbuka beragam solusi.

Relaksasi di sini, adalah ketika seseorang berdoa, orang itu melepaskan ketegangan akibat pekerjaan atau aktivitas lain seperti beristirahat, melakukan penyegaran jiwa dan raga. Ilmuwan menggolongkan berdoa sebagai bentuk meditasi atau kegiatan pertapaan, di mana seseorang keluar dari batas inderawi.

Dalam konteks ajaran Islam, aktivitas ibadah harian, khususnya salat fardu dan sunah yang dilakukan secara khusyuk, merupakan kegiatan meditasi tertinggi. Ketika itu, terjadi perubahan pada kerja atau fungsi organ tubuh seperti pernapasan yang melambat, penurunan laju detak jantung, penurunan tekanan darah, penghangatan bagian luar tubuh, aktivitas gelombang otak yang lebih lambat, dan keadaan metabolisme yang rendah. Selain itu, muncul perasaan ruhiyah yang lebih, kepuasan jiwa dan fisiologis, rasa damai dan tenang.

Proses doa pun akan memancarkan emosi positif. Artinya, doa yang khusyuk akan menimbulkan dampak yang lebih baik dan positif dalam jiwa, pemikiran, persepsi, daya ingat, niat, kehendak, dan semacamnya. Doa memperbaiki keadaan jiwa dan emosi, serta membawa kepada keadaan tenang yang kemudian memancar ke segala sisi kehidupan bagi orang yang berdoa.

Kondisi ini, pada akhirnya akan menimbulkan mekanisme yang ketiga, yaitu terbukanya pintu pertolongan Allah dengan ditemukannya berbagai solusi dan keajaiban dalam hidup karena semua komponen hormon otak (neuroendokrin) akan teraktivasi secara optimal. Nah, optimasi ini akan terjadi apabila doa memiliki sebuah tujuan yang “tidak berbatas” dan “bebas kepentingan”. Tujuan yang tidak berbatas dan faktor bebas kepentingan akan menghasilkan fenomena cinta.

Dengan demikian, doa adalah sebuah ekspresi cinta. Hormon otak yang akan teroptimalisasikan fungsinya adalah oksitosin, vasopresin, melatonin, endorfin, serotonin, dopamin, dan epinefrin. Meskipun beberapa di antara mereka bersifat saling berlawanan, akan tetapi ketika proses doa berjalan sukses mereka akan menempati posisinya secara ideal. Kondisi hormonal yang optimal akan merangsang optimasi hubungan antara sel-sel otak dan mengoptimalkan pula intensitas data yang diubah menjadi biolistrik.

Penguatan data berlangsung di area yang disebut sebagai saltatory conduction atau suatu daerah di axon yang bebas mielin. Daerah ini memiliki “kekosongan” yang memungkinkan elektron “melompat”. Kondisi ini akan mengarahkan pikiran untuk terfokus pada solusi. Semakin intens seorang berdoa, akan semakin lebar pula gerbang solusi dibukakan baginya.

Untuk mencapai kondisi tersebut, jalur-jalur pengganggu yang dapat mengganggu data yang akan diolah oleh kulit otak harus diminimalisasi. Jalur pengganggu yang potensial dapat timbul dari terlalu terbukanya jalur limbik dan batang otak. Sebuah proses doa yang benar akan membuka katup limbik dan batang otak secara terbatas, mengatur jalur transmisi sensoris dari talamus juga secara terbatas, dan akhirnya mengakumulasi semuanya dengan intensitas tinggi gap junction (hyperneuron) dan saltatory conduction untuk menghasilkan sebuah gelombang kekuatan mental yang mutlak bertujuan untuk mendapatkan solusi cerdas.

Oleh karena itu, seorang ahli zikir dan doa pandangannya akan menjadi jernih karena apa yang ingin dia lihat terfiltrasi (tersaring) oleh ketulusan. Apa yang ingin dia dengar semuanya mendatangkan kesejukan dan ketenangan karena data yang masuk terseleksi oleh keikhlasan. Pada gilirannya, keputusan mental yang akan diambil adalah keputusan terbaik yang dapat dilakukan. (dr. Tauhid Nur Azhar)

Aa Gym, Sosok Sufi Tasawuf Modern

Jika menyimak tausiyah-tausiyah yang disampaikan oleh KH. Abdullah Gymnastiar, pendakwah yang akrab disapa dengan Aa Gym maka kita akan dapati bahwa tema-tema dakwahnya selalu seputar masalah akhlak. 
Pesan-pesan dakwah Aa Gym selalu terkait dengan kebersihan hati (qalbun salim). Temanya berkisar masalah pengendalian diri, syukur, sabar, ikhlas, sikap rendah hati, empati, toleransi, dan berbagai amal shaleh yang mengarah pada ketaqwaan. 
Dipastikan hampir tidak pernah menjumpai Aa Gym bicara mengenai fikih, apalagi yang bersinggungan dengan masalah khilafiyah, seperti hukum memelihara jenggot, celana cingkrang, wanita shalat di masjid, batasan hijab wanita, ziarah kubur, dzikir berjamaah, tahlilan, peringatan maulid nabi, dan sebagainya. 
Bagi Aa Gym persoalan fikih adalah masalah persepsi para ulama dalam memahami al-Qur’an dan hadis. Kalau ibadah dan muamalah seseorang dilaksanakan dengan niat tulus untuk memperoleh ridho Allah Swt, maka mengikuti pendapat ulama manapun adalah baik, sepanjang tidak bertentangan dengan Alqur’an dan hadis nabi.
Menurut Aa Gym, dalam menjalani kehidupan dengan pengamalan agama Islam hal yang paling penting adalah akhlak. Karena misi utama Rasulullah diturunkan oleh Allah Ta’ala ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia.  “Sesungguhnya aku (Rasulullah) diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak” (HR. Ahmad).
Akhlak yang baik bersumber dari hati yang baik. Hati yang bersih akan memancarkan akhlak mulia.  Namun jika hati kotor, maka kotor pula ucapan dan perbuatan kita sehingga membuat rusak akhlaknya. Jadi kalau kita ingin punya akhlak yang baik, maka harus berjuang agar memiliki hati yang baik.
Hati adalah panglima. Hati adalah parameter bagi diri kita seutuhnya. Baik buruk hidup kita atau bersih kotor diri kita, tergantung dari baik buruknya hati kita.
Rasulullah Saw. bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuhnya, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Bukhori dan Muslim). 
Hidup ini juga tergantung pada suasana hati. Meski rumahnya mewah dan luas, tetapi bila hatinya sempit maka akan terasa sempit pula hidup ini. Sebaliknya meski rumahnya sempit namun bila hatinya lapang maka akan terasa lapang pula hidup ini. Demikianlah pentingnya peran hati.
Begitulah, dakwah Aa Gym senantiasa mengarah seputar pengelolaan hati (qalbu), sehingga beliau memperkenalkan konsep dakwahnya dengan istilah “Manajemen Qalbu” (MQ).

Tasawuf
Sesungguhnya konsep dakwah Manajemen Qalbu Aa Gym tidak lain adalah tasawuf, karena ilmu tasawuf adalah ilmu tentang pengelolaan hati.
Tasawuf, menurut Imam al-Ghazali adalah ilmu yang mempelajari cara-cara membersihkan hati (qalbun salim) dan menyucikan jiwa (tazkiyatun nafs) dalam upaya untuk mencapai kedekatan dengan Sang Khalik, Allah Swt (Makrifat).
Ilmu tasawuf mengajarkan bagaimana cara bersyukur, sabar, ikhlas, tawadhu’, qana’ah, zuhud, dan taubat, serta membersihkan hati dari sifat-sifat buruk, seperti takabur, riya', 'ujub, kikir, sum'ah, orientasi pada kemegahan duniawi, dan seterusnya.  Ilmu tasawuf mengajarkan nilai, etika, moral, dan akhlak.
Dengan begitu maka dakwah yang disampaikan oleh Aa Gym adalah dakwah tasawuf yang mengajarkan akhlakul karimah dengan cara menjaga kebersihan hati.

Sufi Tasawuf Modern
Tasawuf sering disalah pahami oleh masyarakat awam sebagai metode sufi untuk mencapai makrifatullah dengan cara menjauhi kesibukan dan meninggalkan kesenangan duniawi.
Seorang ulama besar dan tokoh Muhammadiyah, Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah yang popular dengan sapaan Buya Hamka kemudian memberi pemahaman tentang hakekat tasawuf kepada kaum muslimin Indonesia.  
Bagi Buya, tasawuf bukanlah cara-cara hidup seperti yang pernah diajarkan oleh para Sufi jaman dulu, yang harus hidup menyepi, menyendiri dan menjauhi dunia secara normal, apalagi meninggalkan syariat agama. Tetapi sesungguhnya tasawuf  adalah cara hidup yang lebih menekankan pada aspek akhlakul karimah dengan tidak melupakan aspek syariahnya. 
Buya Hamka kemudian mencoba menginterpretasikan tasawuf sesuai dengan kehidupan masyarakat modern, yang dikenal dengan istilah “Tasawuf Modern”.  Secara singkat pengertian tasawuf modern adalah tasawuf murni yang relevan untuk diterapkan pada zaman modern.
Dengan begitu maka tasawuf modern adalah penerapan sifat ikhlas, syukur, sabar, tawadhu’, qana’ah, dan zuhud oleh seorang mukmin dalam kehidupan modern, yang harus tetap semangat dalam bekerja sesuai profesinya, seperti dokter, insinyur, pengacara, ekonom, pengusaha, maupun militer. 
KH. Abdullah Gymnastiar merupakan salah satu sosok yang menerapkan tasawuf dalam kehidupan modern ini.  Selain dikenal sebagai pendakwah dan pendiri pondok pesantren Daarut Tauhiid, Aa Gym adalah seorang pengusaha yang sukses. Ia juga sebagai seorang penulis buku dan penyanyi.  
Bukan hanya sekedar memberi nasehat dalam tausiyahnya tentang bagaimana kiat mengelola hati, Aa Gym juga memberi contoh konkrit bangaimana penerapan akhlakul karimah dalam berbisnis dan berkehidupan dalam interaksi sosial kemasyarakatan.
Maka adalah hal yang wajar apabila Aa Gym disebut sebagai seorang Sufi dalam tasawuf modern.


Tarekat Pesantren Daarut Tauhiid
Semua ulama tasawuf sependapat bahwa satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan seseorang mencapai Makrifat adalah melalui kebersihan hati (Qalbun Salim) dan kesucian jiwa (Tazkiyatun Nafs). 
Untuk memperoleh kebersihan hati dan kesucian jiwa secara efektif, seseorang perlu menjalani serangkaian proses pendidikan (tarbiyah) dan latihan (riyadhah)  mental yang panjang, dengan menjalani amalan-amalan spiritual (tarekat) yang dibimbing oleh seorang guru tarekat (mursyid) dalam sebuah lembaga spiritual (zawiyah). 
Dalam hubungan antara tasawuf dengan tarekat, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah ilmu mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam dunia tasawuf kedudukan tarekat sangatlah penting. Tarekat di dalam tasawuf ibarat sebuah laboraturium tempat para murid mempraktekkan teori ilmu tasawuf yang telah diperolehnya di kelas, sehingga ketika keluar dari laboraturium dia bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi para sufi konvensional, tasawuf tanpa tarekat adalah kosong. Tasawuf tanpa tarekat hanya belajar teori tanpa praktek, seperti kursus mengemudi mobil di dalam kelas tanpa praktek lapangan.
Pondok Pesantren Daarut Tauhiid yang didirikan Aa Gym adalah merupakan lembaga tempat mempraktekkan ilmu Manajemen Qalbu (MQ).  Dengan begitu maka dapat dikatakan pesantren Daarut Tauhid merupakan lembaga yang mempraktekkan tarekat MQ.
Pesantren ini mengacu pada konsepsi dasar MQ meliputi 4 komponen, yaitu: Ma’rifatullah, Manajemen Diri, Entrepreneurship, dan Leadership.  Tata nilai MQ inilah yang kemudian menjadi dasar dan filosofi bagi organisasi Pesantren Daarut Tauhiid yang dikenal dengan rumusan statement “Menuju Generasi Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar”. 

Sehingga motto pesantren Daarut Tauhiid adalah “zikir, fikir, ikhtiar”, dan bertujuan untuk membentuk insan yang ramah, santun, berwibawa, rajin, trampil cekatan, dan tidak menyia-nyiakan waktu.

Kamis, 05 September 2019

Tasawuf di Kalangan Muhammadiyah


Di kalangan umat Islam di Indonesia masih sering timbul pertanyaan, apakah warga Muhammadiyah mengamalkan tasawuf? Pertanyaan itu timbul karena istilah tasawuf dalam Persyarikatan muhammadiyah kurang populer. Demikian juga tariqat, Muhammadiyah secara organisatoris tidak mempunyai afiliasi dengan tariqat mana pun.

Persyarikatan bisa juga dikatakan sebagai tariqat, dalam arti sebagai satu organisasi yang mempunyai cara tertentu dalam memahami ajaran Islam.

Persyarikatan sering disoroti orang luar sebagai organisasi Islam yang "kering spiritual''. Ada anggapan dari orang luar, Muhammadiyah sebagai ormas Islam yang berbasis masyarakat kota lebih menyukai cara-cara beribadah yang praktis-praktis saja atau seolah-olah mencari yang ringan-ringan saja.

Misalnya dikatakan, sehabis salat fardu tidak diikuti dengan wirid atau zikir panjang, melainkan hanya doa pendek dengan suara lirih. Salat tarawih mencukupkan delapan rakaat ditambah tiga rakaat witir.  Tidak ada kebiasaan istighotsah dan mujahadah secara massal dan lain-lain.

Kenyataannya tidak sebagaimana anggapan tersebut, sebab Muhammadiyah bukan mencari yang praktis-praktis atau yang ringan-ringan saja, melainkan semata-mata ingin melaksanakan amal ibadah yang mempunyai landasan hukum agama yang kuat sesuai dengan tuntunan Rasul.

Misalnya mengenai wirid setelah salat fardu dan salat tarawih, ingin meniru apa yang dulu diamalkan oleh Rasulullah. Mengenai pendalaman amalan spiritual, juga ingin mengamalkan apa yang dulu dicontohkan Rasulullah. Misalnya dengan mengamalkan ibadah-ibadah sunah seperti salat tahajud, puasa sunah, salat sunah rawatib, membaca doa dan wirid, iktikaf di masjid, tadarus Alquran, memiliki al-akhlaqul karimah, dan lain-lain.

Istighotsah di kalangan warga Muhammadiyah dilakukan secara individual. Jadi, pengamalan ibadah di kalangan umat Islam di Indonesia itu lebih banyak kesamaannya. Bila terdapat perbedaan dalam cara pelaksanaannya, itu karena perbedaan cara pemahaman dari tiap-tiap golongan.

Spiritual Islami

Aktualisasi spiritualitas Islam ialah upaya mewujudkan kehidupan islami, dengan menekankan pada penyempurnaan pengamalan ibadah, kesucian rohani, dan kesalihan moral atau al-akhlaqul karimah.

Di kalangan warga Muhammadiyah terdapat orang-orang yang dalam mengapresiasi makna ibadah dan zikir sebagai didefinisikan dalam buku Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, bukan pada ritual formal seperti duduk di masjid sambil memutar-mutar tasbih, melainkan lebih menekankan gerak amal saleh dalam bentuk kiprah kreatif dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat.

Pemahaman seperti itu kemudian termanifestasikan dalam bentuk kekurangakraban dengan wirid-wirid, zikir, dan tahlil secara verbal (qauli), dan lebih mengutamakan zikir qalbi dan fi'li (operasional) sehingga orang luar memandang mereka kering spiritual.

Karena itu, persyarikatan perlu memberikan penjelasan kepada orang luar tentang pemahaman Muhammadiyah mengenai spiritualitas islami untuk menghilangkan kesalahpahaman orang luar terhadap Muhammadiyah.

Di samping itu, persyarikatan perlu mengimbau semua warganya agar meningkatkan pengamalan spiritualitas islami dalam rangka pengukuhan akidah, penyempurnaan ibadah, dan keluhuran akhlak.

Aktualisasi spiritualitas islami itu juga berbarengan dengan kehendak mengembangkan pemikiran tajdid (pembaharuan dan pemurnian ajaran Islam). Hal itu dimaksudkan agar segala amalan ibadah dilakukan dengan cara yang benar sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadis, bebas dari syirik, bid'ah, khurafat, dan takhayul.

Tasawuf Modern

Meskipun PP Muhammadiyah dengan Majlis Tarjih belum pernah membahas secara khusus tentang ajaran tasawuf, seorang tokoh yang namanya cukup terkenal, Prof Dr Hamka, telah memperkenalkan istilah tasawuf modern untuk memberikan nama pada ajaran tasawuf yang menurutnya sesuai dengan paham Muhammadiyah. Dia menulis beberapa buku tentang tasawuf, di antaranya berjudul Tasawuf Modern.

Para pemuka Muhammadiyah yang lain pada umumnya menekankan, semua warga suka menjalankan ibadah-ibadah sunah, di samping ibadah wajib, dan memiliki akhlaqul karimah. Istilah akhlaqul karimah ini mencakup serangkaian sifat-sifat utama seperti: taqwa, zuhud, sabar, faqr, qana'ah, tawakal, ikhlas, syukur, rida, wara', tawadhu', raja', tobat, dan lain-lain sebagaimana dicontohkan Rasulullah.

Jadi, mereka tidak menggunakan istilah tasawuf tetapi menganjurkan warganya memiliki sifat-sifat utama sebagaimana yang didambakan para penganut tasawuf.

Menurut Hamka, istilah tasawuf modern adalah tasawuf murni yang relevan untuk diterapkan pada zaman modern. Orang yang menjalankan tasawuf murni mestilah memegang teguh akidah yang benar (tauhid yang bersih), melaksanakan ibadah dengan tekun, menghiasi dirinya dengan al-akhlaqul karimah, serta melakukan pergaulan dalam kehidupan sosial sehari-hari sesuai dengan Alquran dan hadis.
Ia tidak tenggelam dalam khalwat atau menjauhi kehidupan duniawi, tapi bergaul secara wajar dalam kehidupan sosial.

Akhlak dan Tasawuf

Ajaran Islam meliputi tiga bagian pokok, yaitu akidah (kepercayaan atau keimanan), syariah (hukum-hukum agama, meliputi ibadah dan muamalah), dan akhlak (moral atau budi pekerti). Atau, tiga bagian pokok itu ialah iman, Islam, dan ikhsan.

Iman adalah sebagaimana tercermin dalam rukun iman yang enam. Islam adalah sebagaimana yang kita kenal dengan rukun Islam yang lima. Ikhsan adalah sikap batin, kita merasa selalu dalam pengawasan Allah, sehingga kita harus berbuat sebaik-baiknya.

Istilah tasawuf belum dikenal pada zaman Nabi Muhammad SAW. Istilah tersebut baru dikenal pada abad ke-2 Hijriah, dengan kemunculan seorang zahid yang bernama Abu Hasyim Al-Kufi yang digelari sebagai seorang sufi.

Maka sebelum abad ke-2 H itu umat Islam belum mengenal klasifikasi ajaran Islam, Islam yang bernama tasawuf. Mereka merasa sudah puas dan tenang hatinya jika sudah dapat mengamalkan akidah, syariah, dan akhlak; atau mengamalkan iman, Islam, dan ihsan. Sedangkan cita-cita tertinggi sesuai dengan ajaran Alquran dan hadis adalah menjadi orang yang bertakwa.

Sepeninggal Rasulullah, sahabat, dan tabiin, terdapat ulama yang mengembangkan ikhsan lebih lanjut melalui ajaran tasawuf. Jadi, baik tasawuf maupun al-akhlaqul karimah berinduk pada ihsan.

KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, pada masa hayatnya sangat menganjurkan segenap warga untuk mengamalkan al-akhlaqul karimah. Di antara sifat-sifatnya yang menonjol ialah zuhud, yakni tidak tergila-gila atau serakah untuk mengejar harta, bahkan harta beliau banyak dikorbankan untuk membaiayai kegiatan amal usaha Persyarikatan, seperti lembaga pendidikan, kesehatan, penyantunan fakir miskin, dakwah, dan lain-lain.

Dengan demikian KH Ahmad Dahlan telah berhasil menjelmakan spirit (roh) dan nilai-nilai substansial tasawuf menjadi etos kerja warga Muhammadiyah dalam melaksanakan kegiatan sosial keagamaan. (18c)

Oleh Drs H Ibnu Djarir, Wakil Ketua Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah.

Rabu, 04 September 2019

Menjawab Propaganda Menghalalkan Zina Dengan Konsep “Milkul Yamin” Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/51115-menjawab-propaganda-menghalalkan-zina-dengan-konsep-milkul-yamin.html

Orang liberal yang mengaku-ngaku sebagai muslim terus berusaha terus merusakan syariat dari dalam. Kali ini mereka berusaha “menghalalkan zina” dengan memakai konsep “milkul yamin”. Bisa jadi orang awam terpengaruh karena ada istilah-istilah Arab yang terkesan ilmiah. Begitu juga dengan istilah “non-marital” (tidak menikah) yang dipakai agar terkesan ilmiah.
Sebenarnya bukan hanya saat ini saja pemikiran seperti ini muncul. Pemikiran liberal ini muncul sejak lama dan selalu menghadirkan orang baru dan gaya baru untuk mengusungnya. Sejak dahulu mereka umumnya memakai dua “pemikiran” untuk menghalalkan zina yaitu bolehnya berhubungan badan di luar pernikahan

1. “Milkul yamin” (Tuan boleh menggauli budak perempuannya)

Membolehkan berhubungan badan di luar nikah tidak bisa dikiaskan dengan budak. Mereka mengkiaskan bolehnya seseorang mengauli patnernya/pacarnya dengan budak, tentu tidak tepat. Orang yang merdeka tentu berbeda dengan budak. Terdapat hikmah besar mengapa seorang tuan boleh menggauli budak perempuannya di antaranya tuannya akan lebih memperhatikan dan memberikan kasih sayang kepada budaknya. Apabila budak perempuan itu hamil, budak tersebut akan melahirkan anak tuannya yang status anaknya merdeka dan mengangkat derajat sang ibu, lalu status budak perempuan menjadi “ummu walad” yang akan merdeka apabila tuannya telah meninggal. Masih banyak hikmah lainnya di balik syariat Allah ini.

2. Konsep mut’ah (boleh berhubungan badan suami istri dalam jangka waktu sesuai perjanjian, misalnya sehari, sepekan, sebulan, setahun. Setelah jangka waktu itu, maka mereka berpisah. Konsep ini disebut juga “nikah mut’ah”)

Memakai dalil ini untuk membolehkan berhubungan badan di luar nikah juga tidak tepat, karena konsep nikah mut’ah sempat diperbolehkan di awal-awal Islam kemudian syariat ini di hapus (mansukh).


Berikut penjelasan lebih rinci bahwa pemikiran di atas tidak tepat

1. Milkul yamin (Tuan boleh menggauli budak perempuannya)

Membolehkan berhubungan badan di luar nikah tidak bisa dikiaskan dengan budak. Mereka mengkiaskan bolehnya seseorang mengauli patnernya/pacarnya dengan budak, tentu tidak tepat.
Penyebutan “milkul Yamin” terdapat dalam beberapa ayat Al-Quran, Salah satunya di mana Allah berfirman,
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS Al-Mukminun: 5-6)
Syaikh As-Sa’di menjelaskan maksud “milkul yamin” yaitu budak perempuan, beliau berkata:
 “Yaitu budak perempuan yang ia miliki.” [Lihat Tafsir As-Sa’diy]
Orang liberal menafsirkan sendiri ayat ini dengan asal-asalnya serta membolehkannya berhubungan badan di luar nikah (membolehkan berzina), padahal tasfir ayat ini justru TIDAK membolehkan berzina.

Al-Qurthubi berkata menjelaskan tafsir ayat ini:
“Hal ini berkonsekuensi haramnya zina, demikian juga haramnya onani/masturbasi dan nikah mut’ah.” [Lihat Tafsir Al-Qurthubi]

 

2. Konsep mut’ah 

Memakai dalil ini untuk membolehkan berhubungan badan di luar nikah juga tidak tepat, karena konsep nikah mut’ah sempat diperbolehkan di awal-awal Islam kemudian syariat ini di hapus (mansukh).
Terdapat beberapa dalil yang menyebutkan bahwa nikah mut’ah telah diharamkan hingga hari kiamat. Dari Rabi` bin Sabrah, dari ayahnya, bahwasanya ia bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda:
“Wahai, sekalian manusia. Sebelumnya aku telah mengizinkan kalian melakukan mut’ah dengan wanita. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkannya hingga hari Kiamat. Barangsiapa yang mempunyai sesuatu pada mereka , maka biarkanlah! Jangan ambil sedikitpun dari apa yang telah diberikan”.[HR. Muslim]
Beliau juga berkata,
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mut’ah pada masa penaklukan kota Mekkah, ketika kami memasuki Mekkah. Belum kami keluar, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengharamkannya atas kami”. [HR. Muslim]
Al-Qadhi Iyadh menjelaskan bahwa larangan nikah mut’ah adalah Ijma’ ulama. Beliau berkata,
“Di awal-awal Islam nikah mut’ah hukumnya boleh, kemudian terdapat nash yang menghapusnya sebagaimana terdapat dalam beberapa hadits dalam kitab ini dan telah ada ijma’ larangan hal ini.” [Ikmalul Mu’allim 4/275]

Sebagai penutup, kami ajak merenung dan berpikir bagi mereka yang membolehkan berhubungan badan di luar pernikahan (memperbolehkan berzina). Apakah mereka punya anak perempuan atau punya saudara perempuan? Relahkan anak perempuan dan saudara perempuan mereka dizinahi dan di luar status pernikahan? Tentu tidak kan. Perhatikan hadits berikut:
Abu Umamah Radhiyallahu anhu bercerita, “Suatu hari ada seorang pemuda yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan aku berzina!”.
Orang-orang pun bergegas mendatanginya dan menghardiknya, merekaberkata, “Diam kamu, diam!”.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mendekatlah”. Pemuda tadi mendekati beliau dan duduk.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Relakah engkau jika ibumu dizinai orang lain?”.
“Tidak demi Allah, wahai Rasul” sahut pemuda tersebut.
“Begitu pula orang lain tidak rela kalau ibu mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika putrimu dizinai orang?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika putri mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika saudari kandungmu dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika saudara perempuan mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur bapakmu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
“Relakah engkau jika bibi (dari jalur ibumu) dizinai?”.
“Tidak, demi Allah, wahai Rasul!”.
“Begitu pula orang lain tidak rela jika bibi mereka dizinai”.
Lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangannya di dada pemuda tersebut sembari berkata, “Ya Allah, ampunilah kekhilafannya, sucikanlah hatinya dan jagalah kemaluannya”.
Setelah kejadian tersebut, pemuda itu TIDAK PERNAH lagi tertarik untuk berbuat zina”. [HR. Ahmad, shahih, Ash-Shahihah I/713 no. 370]
Demikian semoga bermanfaat
@ Lombok, Pulau Seribu Masjid