Kita tidak bisa marah dengan mereka yg masih HARUS KELUAR RUMAH utk bekerja karena kebutuhan hidup.
Kita juga tidak bisa iri dengan mereka yg bisa #stayathome dengan NYAMANnya, karena perjuangan tiap orang dalam masa Covid-19 ini tidaklah sama..
Ada yang diberi KELEBIHAN MATERI untuk bisa #dirumahsaja..
Ada juga yang TERSEOK-SEOK dgn segala kesulitan untuk bertahan hidup jika hanya #dirumahsaja..
Yang bisa kita lakukan adalah MENJAGA DIRI masing² sebaik mungkin dan tetap mengikuti anjuran memakai masker, minum Vit, rajin mencuci tangan n menjaga jarak dg orang lain, BUKAN MENJADI HAKIM bagi satu sama lain..
Sadarlah kita berada di BADAI YANG SAMA, tapi TIDAK DIKAPAL YANG SAMA...
Biarlah masing² kapal mencari jalan keluar dari badai ini...
Berdoa dan berharaplah yang terbaik untuk setiap kapal, tanpa saling menghakimi...
Tetaplah kuat iman dan imun, semangat menjalani hidup....
Badai pasti berlalu, tetapi pastikan Allah ada dalam kapal anda dan memegang kendali atas kapal anda.
Jangan menyerah 🙏👏
SANGKAN PARANING DUMADI ; Telah menjelajahi kehidupan lebih dari 50 tahun, saatnya merenungi dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk "hari kemudian"
Senin, 25 Mei 2020
Rabu, 20 Mei 2020
Kembang Titipan 31 (Tamat)
*KEMBANG TITIPAN 31*
Timan melangkah
dengan hati-hati, agar langkahnya tak menimbulkan bunyi. Siapa yang duduk
diteras dan menyalakan lampu ya?
Perlahan
Timan naik keteras, lalu menepuk jidatnya sambil tertawa.
"Ya
ampuun, Lastri sama bu lurah?"
Marni dan
Lastri tertawa.
"Oh,
rupanya kita dikira maling yu.." kata Lastri sambil merengut.
"Lha
mana yang lainnya?" seru Marni.
"Masih
diluar, melihat ke teras kok ada yang duduk, jangan-jangan anak buah Basuki.
Lha pak lurah mana?"
"Baru
beli bensin. Sama aku nitip rujak," kata Lastri."
"Haa,
malam-malam pengin rujak juga?"
"Iya
tuh, ini .. yang minta anaknya mas Bayu."
"Oh,
gitu ya, kalau lagi hamil dan pengin sesuatu, alasannya yang minta
anaknya?"
Lastri
hanya tertawa.
"Mana
yang lainnya?" tanya Marni.
"Walaah,
habisnya nggak kelihatan ada mobil, jadi nggak bisa nebak siapa yang datang.
Saya khawatir ada orang jahat, jadi saya suruh tunggu dulu diluar. Sebentar,
saya masukkan mobil dan isinya," kata Timan sambil tertawa, lalu setengah
berlari kembali ke mobil.
"Ada
apa mas?" hampir semua bertanya dengan khawatir.
"Tidak
apa-apa, tenang saja, turun nanti kalau sudah didepan rumah," kata Timan
sambil masuk ke mobilnya dan membawanya masuk ke halaman.
Begitu
para 'penumpang' turun, terdengar teriakan-teriakan haru, saling peluk dan
bertangisan diantara mereka.
"Alhamdulillah
Sri, kamu selamat, mbah Kliwon juga selamat," tangis Marni.
"Senang
melihatmu sehat Sri...bahagia kamu sudah kembali," kata Lastri sambil
memeluk erat Sri.
"Atas
do'a saudara-saudaraku ini," kata Sri yang kemudian menarik Mery.
"Ini
mbak Mery, siapa yang belum kenal?"
"Aku
yang belum," kata Lastri yang kemudian mengulurkan tangannya kearah Mery,
dan disambut hangat oleh Mery.
"Saya
Mery,"
"Saya
Lastri, isterinya mas Bayu, anak desa juga seperti Sri."
"Anak-anak
desa yang luar biasa," kata Mery memuji.
"Lhah
ini apa?" tiba-tiba Timan berteriak sambil menunjuk kearah meja.
"Itu,
aku sama yu Marni membawa nasi dan lauk pauk, karena yakin kalau kalian
pasti lapar."
"Itu
kamu yang masak Tri?' tanya Bayu kepada isterinya.
"Ya
bukan lah, aku mencium bau bumbu saja mau muntah. Kami beli dijalan. Ayo Sri,
dibawa kebelakang, " kata Lastri.
"Wah,
yu Lastri repot-repot, tapi syukurlah, tadi aku berencana masak setelah sampai.
Ee.. sudah ada makanan, ayo mbak kita bawa kebelakang," ajak Sri kepada
Mery.
"Mana
pak lurah?" tanya Bayu.
"Lagi
keluar, Lastri pengin rujak."
"Tuh
kan, kamu merepotkan pak lurah Tri?" tegur Bayu sambil merangkul
isterinya.
"Tidak
mas Bayu, mas Mardi sekalian mau isi bensin." kata Marni.
"Itulah,
karena tidak kelihatan mobilnya, jadi aku curiga, siapa yang menyalakan lampu
dan duduk-duduk diteras."
"Jadi
tadi pada takut, dikira kami pencuri," kata Marni.
"Kalau
yang ini memang pencuri bu lurah," kata Bayu sambil menunjuk kearah isterinya.
Lastri
melotot menatap suaminya, yang tertawa-tawa.
"Aku
mencuri apa sih mas? tanya Lastri masih dengan cemberut.
"Kamu
mencuri hatiku?" kata Bayu akhirnya yang disambut Marni dan Timan dengan
tertawa keras.
Lastri
mencubit pinggang suaminya.
"Iih,
mas Bayu, agak kesana, kamu bau."
"Lho,
sudah dipeluk dari tadi baru terasa kalau bau?" kata Bayu sambil menjauh.
"Iya,
tadi nggak terasa, lama-lama perutku mual."
"Mas,
permisi kebelakang dulu, takut Lastri marah-marah karena bau keringat."
"Aku
bawa bajumu mas, ini.. ganti sana," kata Lastri sambil membuka tasnya.
"O,
sudah siap-siap rupanya."
Bayu
meraih bajunya dan langsung pergi kebelakang.
Timan dan
Marni hanya tertawa.
"Semoga
besok kalau isteri saya mengandung justu suka mencium bau keringat saya,"
kata Timan.
"Iih,
nggak mungkin deh mas. Bau keringat selalu membuat mual."
"Waduh,
kalau begitu aku juga mau mandi nih," kata Timan yang langsung berdiri dan
bergegas kebelakang.
"Hari
ini benar-benar menyenangkan," kata Marni.
"Eh,
mbah Kliwon sama pak Darmin mengapa duduk mojok disitu?"
"Tidak
apa-apa bu lurah, mau mandi dulu, nungguin ngantri kamar mandi," kata pak
Darmin.
"Lha
itu kang Mardi datang. Aduuh.. mudah-mudahan rujaknya dapat.." kata Lastri
senang.
***
Malam itu
pak Darmin dan mbah Kliwon juga Sri dan Mery masih ada dirumah Timan. Mereka
masih ingin menenangkan diri disana.
Pak lurah
dan Bayu sudah pulang ,
Timan
ingin menutupkan pintu ketika dilihatnya pak Darmin masih duduk diteras.
"Lho,
bapak kok masih duduk disitu ? Ini sudah malam lho pak," tegur Timan.
"Iya
nak, sebentar lagi, bapak belum bisa tidur."
Timan
mendekat dan duduk dihadapan calon mertuanya.
"Bapak
sedang memikirkan apa?"
"Nak,
bapak ingin mengatakan lagi., bahwa bapak benar-benar titip Sri ya nak. Dia
sudah banyak menderita."
"Mengapa
bapak berkata begitu? Bapak harus percaya bahwa saya benar-benar mencintai Sri.
Saya berjanji akan selalu melindungi dia, dan membuatnya bahagia."
"Terimakasih
nak," kata pak Darmin dengan linangan air mata. Ia teringat hari-hari yang
telah dilaluinya, dan diyakininya pasti sangat membuat Sri mnderita
"Aku
ini orang tua yang tidak becus."
"Sudahlah
pak, jangan berfikir begitu. Bapak sudah melewati semuanya dengan baik, dan
bapak sudah berjanji akan melakukan hal yang baik juga. Itu harus bapak pegang
dan jangan lagi menoleh kebelakang. Kita akan menjalani susah dan senang
bersama-sama."
"So'alnya bapak tau bahwa bapak tak akan luput dari hukuman."
"Oh,
bapak memikirkan itu?"
"Basuki
pasti akan mengatakan bahwa dia telah membayar bapak untuk semua hutang bapak,
dan seakan bapak telah menjual anak bapak. Itu bisa menjerat bapak dengan
hukuman yang lumayan berat."
"Pak,
kami melaporkan Basuki atas penculikan terhadap Sri. Tapi tak bisa dipungkiri
semua akan terlibat. Sri, mbak Mery, pak Marso, semua harus hadir ketika
dipanggil dipersidangan. Tapi jangan khawatir, banyak yang akan membantu."
"Tapi
kalau Basuki bercerita tentang hutang bapak itu?"
"Kita
semua berharap yang terbaik pak, bapak harus menyerahkan semuanya kepada Allah
Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sekarang bapak istirahat saja, jangan
memikirkan terlalu berat. Saya akan mendo'akan yang terbaik bagi kita
semua."
Timan
berdiri, merengkuh pak Darmin dan diajaknya masuk kedalam. Ketika masuk
kekamar, dilihatnya mbah Kliwon sudah terlelap.
***
Basuki
adalah orang yang kasar, keras, diktator. Ia merasa bahwa harta yang
dimilikinya bisa mewujudkan apa yang diinginkannya. Ia tak pernah ditentang, ia
seakan disembah-sembah karena gelimang kekayaannya. Ia tak pernah susah dan ia
tak pernah merasa sakit hati.
Tapi kali
ini ia merasa menjadi orang yang berbeda. Meringkuk dalam ruang pengap, tak
seorangpun menaruh hormat. Sebelumnya dia dicaci maki. Justru oleh seorang
belia yang dia gandrungi. Basuki merasa aneh. Ia benar-benar jatuh cinta. Ia
benar-benar ingin memiliki seorang isteri, dan isteri itu adalah Sri. Gadis
yang berbeda. Kembang dusun yang cantik dan polos, yang tak bergeming oleh iming-iming
harta miliknya. Ini adalah perempuan idaman dan Basuki ingin memilikinya. Namun
langkah yang salah membuatnya terjebak dalam kubangan derita.
"Sri..
Sri... ini semua karena kamu Sri..." bisiknya pilu. Baru kali ini
Basuki merasa sedih.
"Apapun
aku tetap mencintai kamu Sri, aku berharap kamu bahagia, bukankah ini cinta
sejati? Aku ingin melihat kamu bahagia, aku menerima semua ini karena
perbuatanku. Aku pengecut ya Sri, aku nista.. aku hina.. Bibir tipismu yang
mengatakan itu, merajang-rajang jiwaku sampai lumat berkeping-keping,"
lalu Basuki mengusap air matanya.
***
Pagi itu
ketika Sri terbangun, dilihatnya Mery sudah mandi dan berdandan rapi.
"mBak
Mery kok sudah cantik, mau kemana ?"
"Tidak
mau kemana-mana Sri, semalam aku tidak bisa tidur."
"Mengapa
mbak? Kangen sama Basuki?" ledek Sri.
Mery
mencubit lengan Sri pelan.
"Tidak
Sri, aku sudah melupakannya."
"Lalu
mengapa tidak bisa tidur?"
"Dengar
Sri, aku punya beberapa juta rupiah didalam tas merah itu. Aku bermaksud
memakainya sebagai modal berdagang."
"Bagus
mbak. bukankah mas Timan sudah berjanji akan membantu? Besok kalau aku sudah
menikah, kita akan tinggal disini bersama-sama."
"Aku titipkan
uang itu kepada kamu ya Sri."
"Mengapa?
Bukankah mbak Mery bisa membawanya sendiri? Kalau kita pergi ke desaku nanti,
biar saja uang itu didalam almari."
"Kamu
tau Sri, kalau Basuki disidang nanti, aku pasti kena. Dan kemungkinan besar aku
juga akan dihukum."
"Mengapa
mbak Mery mengatakan itu?"
"Basuki
dituduh menculik. Bagaimana cara dia menculik, kan kamu tau sendiri Sri, akulah
orangnya yang membawa kamu kepada Basuki."
"Tapi
mbak Mery sudah berbuat baik, membebaskan aku dari cengkeraman Basuki.
Percayalah mbak Mery tak akan terkena hukuman."
"Aku
juga berharap begitu, tapi seandainya terjadi, rawatlah uang itu. Aku akan
mempergunakannya ketika aku keluar dari penjara," kata Mery berlinang air
mata.
Sri
memeluk Mery.
"Jangan
berfikir begitu mbak, semoga yang terbaiklah untuk kita semua. Mas Timan sudah
berjanji akan mencari pengacara."
"Semoga
tak terjadi sesuatu yang buruk. Sekarang mandilah, aku ingin ikut mas Timan
kepasar dan berjalan jalan seperti beberapa hari yang lalu.Aku ingin melihat
peluang yang ada. Mungkin aku akan berjualan buah, tapi mungkin juga akan
membuka sebuah warung makan."
"Waah,
itu hebat mbak."
"Tapi
aku harus belajar masak dulu sama kamu."
"Ah,
mbak Mery, nanti aku bantuin. Kita akan belajar bersama-sama ya," kata Sri
lalu mengambil handuk dan bergegas kekamar mandi.
***
Ketika
sa'at persidangan itu, Sri melihat Basuki duduk dikusri pesakitan. Matanya
merah, tidak segarang biasanya. Namun ketika Basuki menatapnya, Sri merasa
bahwa Basuki sudah berubah. Tak ada mata garang, tak ada mata nyalang dan
kurangajar seperti yang dulu pernah dilihatnya. Ia justru melihat genangan air
mata dipelupuknya.
Basuki
mendengarkan semua dakwaan dengan tenang. Tapi ketika ditanyakan mengapa
menculik Sri, dia mengatakan bahwa dia mencintainya. Tak disebutkannya bahwa
dia pernah membayar hutang pak Darmin.
Dia juga
mengatakan bahwa penculikan itu dibantu oleh Mery yang mendapat ancaman
darinya. Mery tidak berperan dalam penculikan itu kecuali mendapat paksaan.
Pak Darmin
yang berdebar menghadiri persidangan itu merasa lebih tenang. Tak ada namanya
disebutkan. Mery juga hanya dipanggil sebagai saksi.
Tampaknya
Basuki ingin memikul semua kesalahan itu diatas pundaknya. Itu sangat
mengejutkan, sekaligus melegakan.
***
"mBak
Mery mengapa melamun?"
"Sikap
Basuki itu. Tampaknya aneh. Dia bukan seperti Basuki yang aku kenal. Dia sangat
lemah dan tak berdaya, dia pasrah, dan dia memikul semua kesalahan tanpa
membawa orang lain bersamanya."
"Kita
harus bersyukur, bapak kan sudah ketakutan."
"Aku
juga Sri."
"Lalu
apakah kita harus mema'afkannya?"
"Sebaiknya
kita mema'afkan dia. Dia sudah terhukum."
"Aku
kasihan melihat dia berlinang air mata ketika menatapku."
"Dia
berubah karena kamu Sri. Dia sungguh-sungguh mencintai kamu."
"Itu
sangat menakutkan mbak."
"Tapi
cinta itu tidak bisa disalahkan Sri, dia bisa saja datang kepada siapa saja,
dan dia mempunyai kekuatan yang maha dahsyat. Buktinya dia bisa berubah karena
cinta itu."
"Iya
mbak, kalau teringat waktu itu ya mbak, saya hampir putus asa,"
"Dan
kamu memilih mati bukan?"
"Waktu
itu bayangan saya hanya mati."
"Ya
sudahlah, jangan diingat-ingat lagi. Kapan kita pulang ke desamu?"
"Besok
ya mbak, sudah lama kita tinggal disini. Lagian simbah sama bapak sudah pulang
duluan. Simbah bilang mau membersihkan kamar buat kita."
"Mengapa
simbah Sri, aku kan bisa membersihkannya sendiri."
"Itu
kemauan simbah, dan bapak juga ingin segera membersihkan rumahnya. Ya sudah
biarkan saja mbak, yang penting mereka sudah merasa senang dan lega."
"Tinggal
membicarakan hari pernikahan kamu Sri."
"Ah,
mbak Mery.." kata Sri tersipu.
"Alangkah
membahagiakan jadi pengantin.." gumam Mery.
"mBak
Mery juga tidak bisa selamanya sendiri. Mudah-mudahan segera ada yang melamar
mbak Mery juga."
"Tidak
Sri, aku sudah tua, umurku jauh diatasmu, bukan masanya berharap mendapatkan
suami."
"mBak
Mery masih kelihatan muda dan cantik lho."
"Sudah,
ayo bicara tentang usaha saja. Bagaimana ya sebaiknya, jadi jualan buah atau
warung makan ya."
"Terserah
mbak Mery saja, aku selalu mendukung mbak Mery kok."
"Nanti
bicara sama mas Timan, dan sebaiknya usaha itu dimulai kalau kamu sudah
menikah. Supaya tidak mengganggu mas Timan. Kan sekarang lagi siap-siap mau
jadi pengantin.”
"Iya
lah, gampang, nanti kita bicara lagi, yang jelas aku ingin segera mengajak mbak
Mery melihat desaku."
"Iya,
aku juga ingin nih."
***
Didesanya,
Sri mengajak jalan-jalan Mery mengitari desa dengan berjalan kaki. Mery
sangat takjup melihat pemandangan yang sangat indah disana.
"Ada
tempat untuk orang-orang berwisata disana mbak,"
"Aku
pernah mendengar Telaga Sarangan. Jauhkah dari sini?"
"Tidak,
pak lurah berjanji akan mengajak kita kesana, biar mbak Mery tau."
"Iya
Sri, aku mau. Aku juga kagum kepada yu Lastrimu itu. Katanya ia merintis
usaha pengumpulan pedagang sayur dan buah disini."
"Desa
ini maju setelah kang Mardi jadi lurah. Dibantu yu Lastri kehidupan para petani
disini menjadi lebih baik. Aku bekerja membantu yu Lastri bersama simbah,
Setelah yu Lastri menikah, usaha ini dipegang sendiri oleh kang Mardi. Aku
tetap membantu bersama simbah."
***
Didesanya,
pak Darmin hanya menikahkan Sri dan Timan secara sederhana. Tidak ada pesta
kecuali hanya syukuran diantara tetangga sekitar. Namun begitu Darmin merasa
lega dan pastinya bahagia mendapatkan menantu yang baik seperti Timan.
Setelah
seminggu Timan mengadakan syukuran dirumahnya. Tamunya lebih banyak, karena
sesama pedagang dipasar juga diundang. Bayu ikut mengatur acara itu, karena
Timan sudah tidak punya orang tua.
Timan
sangat bahagia, dia terus menggandeng isterinya dan menyalami setiap tamu
undangan yang hadir.
Banyak
sahabat pedagang pasar mengagumi kedua mempelai. Mereka bak pangeran dan puteri
dari kerajaan antah berantah. Yang satu ganteng, yang satu sangat cantik. Siapa
mengira Sri gadis desa yang lugu sekarang tampak seperti puteri. digandeng sang
pangeran. Sunggingan bahagia menghiasi bibir mereka.
Jam
sepuluh malam, tamu-tamu sudah bubar. Mery letih dan pulas
dikamarnya.
Tapi Timan
dan Sri masih terjaga. Mereka sedang mengamati hadiah-hadiah yang diberikan
para sahababatnya.
Tiba-tiba
Sri melihat sebuah bungkusan kecil berwarna merah jambu. Tidak begitu besar,
tapi terbungkus sangat apik.
"Dari
siapa ini ya mas? Bagus sekali."
"Buka
saja Sri."
Sri
membuka bungkusan dengan hati-hati. Seakan merasa sayang apabila sampai merusak
bungkusan itu.
Ada kotak
kecil didalamnya, berselimut beludru berwarna kuning keemasan.
Sri
berdebar membukanya.
"Haa..
sebuah kalung emas, dengan leontin berbentuk jantung berwarna merah."
"Indah
sekali. Dari siapa ini mas ?" kata Sri sambil menempelkan kalung itu
didadanya."
"Coba
sini aku kalungkan," kata Timan yang kemudian memasangkan kalung itu
kepada isterinya.
"Wah,
cantik sekali Sri. Itu ada tulisannya, dari siapa ya."
Sri mengambil
secarik kertas kecil terselip didasar kotak,
UNTUK SRI
DAN SUAMINYA, SEMOGA BAHAGIA. PAKAILAH KALUNG INI AGAR KAMU SELALU MENDENGAR
DETAK JANTUNGKU.
DARI AKU,
BASUKI.
Sri
melepaskan kertas itu dan terburu-buru mencopot kalungnya.
"Mengapa
Sri?
"Dari
Basuki, aku tidak akan memakainya."
"Jangan
begitu Sri, dia memang mencintaimu. Dan jatuh cinta itu bukan dosa." kata
Timan yang mengenakan kalung ini kembali dileher isterinya.
Sri
memeluk suaminya. Cinta itu bukan dosa.
Ada api
memercik diperaduan, ada kidung-kidung sorga mengalun disana..
T A M A T
Sekilas
info.
Seorang
wanita memeluk bayi yang baru dilahirkan. Disampingnya seorang wanita terbaring
lemah. Matanya menatap sendu, lalu berbisik lirih.
"BAYI
YANG SEHARUSNYA AKU LAHIRKAN."
Penghianatan
cinta itu menyakitkan. Tapi siapa salah kalau setangkai cinta harus luput dari
genggaman?
M I M P
I L E S T A R I
besok lagi
ya
Kembang Titipan 29-30
KEMBANG TITIPAN 29
Sri
berdebar, apakah kakeknya ada didalam mobil itu?
"Benarkah
mbak Mery, itu mobilnya Basuki ?" tanya Timan.
"Benar,
saya yakin. Plaat nomornya diganti, tapi saya tak bisa melupakan sticker yang
ada di kaca belakang. Itu punya Basuki," kata Mery bersemangat.
Jalanan
mendadak ramai, beberapa mobil menyalip mobil Timan.
"Adduh..
mengapa tiba-tiba jalanan ramai?" keluh Timan.
"Ada
gedung pertemuan didepan, ini bubaran para tamu," kata Mery.
"Waduh...
gimana mas?" kata Sri bingung. Sri sangat antusias agar bisa segera ketemu
simbahnya. Tapi halangan ada saja yang menghadang.
"Sabar
ya Sri, setelah keramaian ini nanti aku ngebut deh, supaya bisa
mengejarnya," kata Timan melihat kegelisahan Sri.
Namun Sri
benar-benar panik. Kepalanya terus melongok kedepan, dan panik karena mobil
hitam bersticker bintang itu tak lagi tampak. Mery terus menepuk-nepuk tangan
Sri untuk menenangkannya.
Kerumunan
dan lalu lalang kendaraan itu mulai menyusut, Timan mempercepat laju
mobilnya.
Mobil
hitam didepannya benar-benar tak tampak lagi. Timan terus memacu mobilnya.
"Hati-hati
mas..." Mery mengingatkan.
Tiba-tiba
Sri berteriak.
"Mas,
berhenti dulu."
Timan
serta merta menghentikan mobilnya kepinggir.
"Tolong
mbak, aku mau turun sebentar." kata Sri karena memang Sri duduk ditengah.
Mery turun
lebih dulu, membiarkan Sri turun. Pak Darmin melongok heran. Gemboskah ban
mobilnya?
"Ada
apa Sri?"
"Itu
pak.."
Setengah
berlari Sri menuju kebelakang mobil, dan menemukan serpihan lagi. Kali itu
potongan berwarna abu-abu tua. Sri memungutnya lalu berlari mendekati mobil.
Ditunjukkannya serpihan itu.
"Bapak,
ini potongan celana simbah." kata Sri sambil menunjukkan potongan kain
itu.
"Simbahmu
memotong-motong bajunya lagi?"
"Ini
potongan celananya," lalu Sri kembali naik ke mobil.
"Ada
apa Sri? " tanya Timan.
"Ada
lagi serpihan kain, ini celana simbah, coba mas ikuti, barangkali simbah
kembali memberi tanda kepada kita."
"Oh
iya, syukurlah, coba lagi didepan, apakah masih ada."
Dan
serpihan-serpihan berwarna abu-abu itu terus ditemukannya disepanjang jalan.
Timan
menelpone Bayu.
"Kami
menemukan Rumah itu tapi sudah kosong," kata Bayu.
"Balik
kearah timur mas, tampaknya dia menuju keluar kota. Kami menemukan lagi
jejaknya."
"Posisi
mas Timan dimana?"
"Saya
sudah diluar kota, sharelok ya mas."
***
"Apa
ada yang mengikuti kita?" kata Basuki sambil melihat ke spion.
"Tidak
ada tuan."
"Perasaanku
kok tidak enak."
"Tidak
ada siapa-siapa yang tampak seperti mengikuti kita, tuan."
"Pak
tua membuang apa itu, kok sebentar-sebentar membuka jendela?"
"Tissue
kotor, kan aku sudah bilang bahwa aku suka mabuk?" jawab mbah Kliwon.
Basuki
diam, entah mengapa hatinya terasa gelisah. Ia belum pernah merasakan yang
seperti ini.
"Sebaiknya
aku melalui jalan-jalan desa saja, kita hampir sampai."
"Kalau
melalui jalan desa nanti kelamaan tuan, harus belok kesana kemari."
"Tidak
apa-apa, aku kok merasa ada yang mengikuti."
"Ya
sudah terserah tuan saja."
Basuki
membelokkan mobilnya memasuki jalan kampung.
mBah
Kliwon terkejut, ia pura-pura batuk lalu membuang sesuatu lewat jendela, ketika
mobilnya masih berada diujung jalan itu.
"Pak
tua itu sering kali membuang-sesuatu keluar sih."
"Lha
apa saya muntahkan didalam? Kalau boleh bagi saya nggak apa-apa, yang penting
perut saya lega," jawab mbah Kliwon seenaknya.
Basuki
sangat kesal, tapi apa boleh buat. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali
mendiamkannya.
Mobilnya
terus berjalan, walau tidak secepat ketika dijalan raya.
"Nanti
kalau ada warung, belilah nasi bungkus, dimakan disana. Rumah itu bagus,
perlengkapan makan ada, kamar sudah ditata."
"Baik
tuan."
"Barangkali
begitu ada warung kamu turun So, mendung sangat tebal, kalau hujan kita tidak
bisa berhenti," kata Basuki.
"Baik
tuan, tuan mau makan apa?"
"Apa
saja, pokoknya ada ikan, toh belum tentu aku makan. Yang penting kalian, aku
tidak mau kalian mati kelaparan ketika bersama aku," kata Basuki
seenaknya.
Kedua anak
buahnya berpandangan lalu mengangkat pundaknya. Kendati dibantu mati-matian,
selalu kata-kata kasar yang diucapkannya.
***
Mobil
Timan sudah berjalan jauh, tapi serpihan-serpihan itu tak tampak lagi.Timan
bingung, apalagi Sri.
"Kok
tidak ada lagi? Jangan-jangan sebelum kita ketemukan serpihan terakhir tadi mereka
berhenti, dan tiba ditujuan," kata Sri.
Sepertinya
tak ada rumah atau tempat singgah," kata Timan sambil menghentikan
mobilnya.
"Jangan-jangan
dia berbelok, masuk jalan kampung," kata Mery.
"Baiklah,
ayo kita kembali."
Timan pun
memutar mobilnya kembali sambil mengamati kalau kalau ada belokan yang
sekiranya dilewati mobil Basuki.
"Ada
belokan kekiri, kita coba masuk ya," kata Timan sambil membelokkan
mobilnya.
Dan memang
benar, mereka menemukan serpihan-serpihan seperti semula. Rupanya mobil Basuki
Keluar masuk kampung, tapi mereka tak akan kehilangan jejak karena selalu
ada tanda yang diberikan mbah Kliwon.
***
Namun
sebelum keluar lagi ke jalan raya, hujan turun dengan tak terbendung. Dijalan
air menggenang, dan mengalirkan apa saja yang gampang hanyut. Timan benar-benar
bingung. Dimana-mana yang tampak hanyalah air.
"Aduuh,
bagaimana ini?" keluh Sri.
"Tenang
dulu Sri, bagaimana kalau kita berhenti dulu di warung, sambil makan dan minum.
Nanti siapa tau kalau hujan reda, tanda-tanda itu akan tampak lagi," kata
Timan.
Sesungguhnya
Timan merasa kasihan kepada pak Darmin dan kedua wanita disisinya, sudah lewat
sa'atnya makan siang, jadi semua harus dipaksa untuk makan. Tanpa menunggu
jawaban mereka, Timan sudah membelokkannya kesebuah warung. Untunglah mobilnya
bisa berhenti didepan warung dimana atapnya agak menjorok keluar, sehingga
mereka bisa turun tanpa kehujanan.
Timan
meminta Mery dan Sri turun, dan juga pak Darmin.
"Sebenarnya
aku tidak lapar," kata Sri walau akhirnya mengikuti Timan masuk kedalam.
"Lapar
atau tidak, kita harus makan, siapa tau perjalanan kita masih jauh." Kata
Timan sambil memilih meja yang cukup untuk mereka berempat.
"Mari
pak, silahkan mau pesan apa, Sri, mbak Mery."
"Sri
mau makan apa?"
"Terserah
mas Timan saja," kata Sri lesu.
"Jangan
begitu Sri, ayo pesanlah. Ayo mbak Mery, bapak.."
"Ya
sudah, berhubung hujan, makan makanan berkuah saja, biar anget,, soto juga
nggak apa-apa." kata pak Darmin.
"Oh
iya, apakah bapak kedinginan? Air hujan bisa masuk ya pak?" tanya Timan
kepada Darmin, yang tadi duduk dibelakang.
"Tidak
nak, kap nya rapat sekali, tidak ada air yang masuk."
"Ya
sudah, syukurlah. Ma'af ya pak, belum bisa beli mobil bagus, yang bisa memuat
lebih banyak orang," kata Timan tersipu.
"Tidak
apa-apa nak, itu kan memang mobil untuk berdagang."
"Iya
pak. nasi soto ya pak? mBak Mery apa? Sri apa?"
"Aku
sama, nasi soto saja. Sri apa?" kata Mery.
"Aku
sama saja."
"Minumnya?
"
"Teh
hangat saja," kata Mery yang kemudian diikuti yang lainnya.
Hujan
masih sangat deras. Sri menatap kucuran air yang mengguyur diujung warung itu,
melalui talang yang terpasang.
Bagaimanapun
ia tak bisa menghilangkan rasa gelisah yang terus meremas-remas batinnya.
Mery yang duduk disampingnya selalu menepuk-nepuk tangan Sri agar Sri merasa
lebih tenang.
Begitu
pesanan terhidang, Sri hanya meneguk sedikit teh yang aesungguhnya menyegarkan
diudara yang dingin itu. Sri juga hanya menyendok beberapa sendok nasi soto
yang dipesankan untuknya.
Timan
mendiamkannya. Ia bisa mengerti bagaimana perasaan Sri.
"Makan
yang banyak Sri, nanti badan kamu lemas," kata pak Darmin yang sejak tadi
memperhatikan anaknya.
Sri
menatap ayahnya sekilas, lalu mengangguk pelan.
Ponsel
Timan berdering.
"Dari
mas Bayu."
Timan
menjawab telephone itu.
"Hallo
mas,"
"Mas
Timan dimana?"
"Kami
sedang makan di warung mas, hujan deras sekali."
"Iya
benar, kami juga sedang berhenti disebuah warung, Sudah mendapat titik
terang?"
"Gara-gara
hujan ini tanda-tanda itu hilang mas, coba nanti kalau sudah sedikit reda,
karena dijalan penuh air."
"Iya,
tumben hujan hari ini, beberapa hari tidak hujan ditempat saya."
"Ini
mas, saya share lokasi ya. Syukur-syukur kalau sudah dekat kita bisa
bertemu."
"Ya
mas.. saya tunggu."
***
Mobil
Basuki berhenti disebuah rumah kecil yang halamannya cukup luas. Rumah itu
terletak dipinggiran kota. Basuki merasa dia lebih aman disitu. Ada garasi
mobil disisi sebelah kiri rumah. Seorang laki-laki setengah tua membawakan
payung, dan memayungi Basuki agar tidak kehujanan sampai di teras. Sedangkan
Marso dan temannya berlarian masuk tanpa menunggu payung menjemputnya.
mBah
Kliwon enggan turun. Ia menunggu laki-laki yang mungkin pemilik atau penunggu
rumah itu datang dan memayunginya.
Basuki
memasuki rumah dan memeriksa kedalam. Tampaknya semua memuaskan. Perabot yang
tertata rapi, tiga kamar tidur yang sudah beralaskan sprei bersih ditiap
kasurnya, dan dapur dengan segala kelengkapannya. Itu sesuai dengan apa yang
dipesannya kepada pemilik rumah.
"Bagaimana
pak? Apakah masih ada yang kurang?" tanya laki-laki yang tadi
menyambutnya.
"Tidak
ada, bagus, terimakasih banyak."
"Baguslah
kalau begitu."
"Bapak
yang punya rumah ini?"
"Bukan,
saya penunggunya yang disuruh membukakan pintu untuk bapak."
"Oh,
ya sudah, uang sewa untuk sebulan sudah saya trensfer tadi."
"Ya,
ya.. ibu sudah bilang. Kalau begitu saya permisi dulu. Kalau ada apa-apa saya
tinggal disebelah situ, ada bel kalau bapak memerlukan sesuatu."
"Ya,
baiklah."
"Ada
mini market diujung jalan, kalau barangkali bapak ingin membeli sesuatu."
"Ya,
ya, terimakasih banyak."
Laki-laki
penunggu rumah itu berlalu.
"Kalian
makanlah, kan tadi beli nasi bungkus dijalan."
"Tuan
tidak makan, didapur lengkap ada piring, sendok, mangkok."
"Tidak,
aku ingin istirahat dulu."
"Jangan
lupa..Kunci pintu depan dan aku ingin beristirahat. Ada dua kamar, tapi jangan
biarkan pak tua tidur sendirian."
"Baik
tuan."
"Oh
iya So, masukkan mobil ke garasi. Kalau kelihatan dari luar akan sangat
berbahaya," kata Basuki sambil melemparkan kunci mobil kearah Marso.
mBah
Kliwon masuk ke salah satu kamar, entah siapa yang akan menemaninya, yang
penting ia ingin beristirahat. Nasi bungkus yang tadi diulurkan kepadanya
ditinggal diatas meja yang ada diluar kamar itu.
Pikiran
mbah Kliwon tidak tenang sekarang. Hujan deras sejak keluar dari kota sampai
sekarang, apakah tidak membuat serpihan yang dibuatnya menjadi hanyut ? Dan
sebenarnya adakah yang bisa mengenali tanda-tanda yang diberikan melalui
guntingan baju dan celananya?
"Ya
Tuhan, tolonglah hambaMu ini.."
mBah
Kliwon menerawang menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Ia ingin
beristirahat, tapi hatinya tidak tenang. Bagaimana cucuku,bagaimana menantuku,
itu yang difikirkan dalam benaknya.
"Tidak
bisa tidur pak?" tiba-tiba Marso muncul dikamar itu, lalu menutup
pintunya.
mBah
Kliwon lega ditemani Marso, karena teman yang satunya sikapnya kurang
menyenagkan. Dia adalah priya yang makan ketela rebusnya hanya secuil dan
sisanya dikembalikan ke piring, itu selalu diingatnya dan membuat dia kurang
menyukainya. Apalagi kalau diingat bahwa dialah penyebab semua malapetaka ini.
"Sampeyan
saja tidurlah, mana bisa seorang tawanan tidur nyenyak," kata mbah Kliwon
kesal.
"Sebenarnya
saya kasihan sama bapak."
"Untuk
apa, saya tidak butuh dikasihani. Saya hanya ingin pergi."
Lalu mbah
Kliwon membalikkan tubuhnya, memunggungi Marso yang berbaring disampingnya.
***
Bayu dan
beberapa polisi akhirnya bisa menemukan dimana Timan dan yang lainnya sedang
beristirahat. Hujan masih turun, tapi tidak selebat tadi.
Sri
menatap kejalanan, dan melihat masih tampak air menggenang. Ia menghela nafas,
dan merasa tak bisa mengendapkan perasaannya,
Ketika
hujan reda, mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Memang benar, tak
selembarpun serpihan celana mbah Kliwon ditemukan. Air hujan yang menggenangi
jalanan, mengalirkan semua benda yang gampang terhanyut.
Sri
menatap jalanan dengan sedih. Ia tak mengucapkan apapun, dan membiarkan Timan
mengendarai mobilnya, mengikuti mobil polisi yang berjalan didepannya.
"Sri,
percayalah simbahmu akan selamat. Ia bisa memberikan tanda-tanda, berarti dia
baik-baik saja," kata Mery sambil terus menepuk-nepuk tangan Sri.
***
"Pak,
lebih baik bapak makan. Saya ambilkan ya?" tiba-tiba kata Marso.
"Aku
tidak lapar," jawab mbah Kliwon.
"Bapak
harus makan, supaya tidak lemas. Saya ambilkan ya," kata Marso yang tanpa
menunggu jawaban mbah Kliwon langsung keluar dari kamar.
"mBah
Kliwon sedikit merasa senang pada Marso, karena sekarang Marso lebih
menghormati dirinya. Dia tidak memanggil pak tua seperti yang lainnya, tapi
memanggilnya bapak. Itu berarti perasaan Marso terhadap dirinya telah berubah.
Dia tidak menganggap mbah Kliwon sebagai sekedar tawanan. Mungkin ada rasa
kasihan dihati Marso dan mungkin ada kata-kata mbah Kliwon tadi yang membuatnya
berubah.
"Ini
pak, ayo.. makanlah dulu, saya temani," kata Marso sambil membawa makanan
yang sudah diletakkannya diatas piring.
mBah
Kliwon bangkit, ada perasaan tak enak karena Marso sudah bersusah payah
meladeninya makan.
"Ayo
pak, saya saja lapar, masa bapak tidak?" kata Marso sambil membuka
bungkusan. mBah Kliwon mengikutinya. Nasi gudeg yang dibawa Marso sedikit
menerbitkan seleranya. Tapi tetap saja tak banyak yang bisa masuk ke perutnya.
Hatinya yang tidak tenang membuatnya tak nyaman walau ada makanan seenak
apapun.
"Setelah
ini saya mau keluar sebentar."
"Mau
kemana?"
"Ada
yang harus saya lakukan, eh.. mau membeli.. rokok."
Setelah
Makan Marso memasuki kamar temannya.
"Pinjam
kunci rumah sebentar. Kamu taruh dimana ?"
"Itu
dimeja, kamu mau kemana?"
"Mau,
beli rokok."
"Tumben
pengin merokok, kayaknya sudah lama kamu tidak merokok."
"Cuma
pengin saja," kata Marso sambil mengambil kunci rumah dan bergegas
kedepan.
***
"Kita
kehilangan jejak," keluh Timan.
Sri
berlinangan air mata. Harapan untuk bisa menemukan simbahnya pupus sudah. Mery
merasa iba.
Timan
menghentikan mobilnya. Dilihatnya mobil polisi berhenti dibelakangnya
"Sri,
tolong jangan menangis ya," kata Timan sambil mengusap air mata yang
meleleh dipipi kekasihnya.
Diperlakukan
begitu bertambah deraslah air mata yang mengalir. Mery merangkulnya dan menepuk
nepuk punggungnya.
Tiba-tiba
Mery melihat sesuatu. Seseorang berjalan melintasi mobil Timan.
Mery
melepaskan pelukan Sri, dan membuka pintu mobil.
"Marso
!!!" teriaknya.
***
besok lagi
ya
*KEMBANG TITIPAN 30*
"Marso !! Mery mengulang panggilannya
karena laki-laki tersebut seperti tak mendengarnya. Tapi pada panggilan kedua
ini Marso berhenti melangkah. Ia menoleh dan terkejut melihat siapa yang
memanggilnya.
"Bu Mery ?"
"Awas, jangan lari! Ada polisi
disekitarmu ! Teriak Mery."
Tapi Marso memang tak ingin lari. Ia justru
menunjuk kearah mobil polisi yang diparkir tak seberapa jauh dari mobilnya
Timan.
"Bu Mery ada disini ?"
"Ya, kamu sedang mengikuti junjunganmu
kan?"
Timan turun dari mobil, dan juga
polisi-polisi serta Bayu ikut turun mendengar Mery berkata-kata dengan keras.
"Saya tadi beli sesuatu di mini market
itu dan melihat ada mobil polisi, saya justru ingin melapor."
"Melapor tentang apa pak?" tanya
salah seorang polisi.
"Ini salah satu anak buah Basuki pak,
tangkap saja dia."
"Tunggu pak, saya justru akan melaporkan
bahwa tuan Basuki ada disekitar sini."
"Bohong kalau dia bilang mau melapor
pak," sergah Mery.
"Bukankah bu Mery melihat saya berjalan
kearah situ? Saya dari mini market yang ada disebelah sana, lalu saya melihat
mobil polisi dan justru ingin melapor."
"Dimana Basuki ?"
"Dirumah itu, kira-kira seratus meter
dari sini," kata Marso sambil menunjuk kearah rumah dimana Basuki ada
disana.
"Apa simbahku ada disana?"
tiba-tiba Sri sudah ada disamping Mery.
"Laki-laki tua itu? Ada, Dia sekamar
dengan saya.
"Dimana? Dimana?" kata Sri
penasaran.
"Ayo kita kesana."
"Tolong, jangan bilang kalau saya
melaporkan."
"Mengapa tiba-tiba kamu melaporkan
majikan kamu?"
"Saya lelah, lama-lama saya tidak suka
apa yang dilakukannya, saya ingin bertobat."
"Dimana rumahnya?"
"Yang ada pohon mangga, kiri jalan, cat
biru,"
Salah seorang polisi menggandeng Marso karena
belum sepenuhnya percaya apa yang dikatakan Marso.
Sri sudah lari lebih dulu, tapi kemudian
Timan mengejarnya.
"Sri, sabar Sri, tunggu dulu, Basuki itu
berbahaya, bagaimana kalau kamu ditangkap sekalian?"
Sri menurut, ia berjalan dibelakang polisi
dengan digandeng Timan. Tak tahan rasanya ingin segera bertemu simbahnya.
***
"So.. Marso..." " teriak
Basuki.
"Marso sedang keluar tuan," jawab
salah satu anak buahnya.
"Apa? Keluar kemana?" kata Basuki
berteriak.
"Katanya mau beli rokok tuan."
"Orang gila! Eddan ! Mengapa
keluar?" Aku mendengar sirene mobil polisi. Apa kamu tuli dan tidak
mendengarnya?"
"Ya tuan, saya mendengarnya."
"Mengapa kamu biarkan Marso
keluar?"
"Dia bilang hanya akan membeli
rokok."
"Sudah lama dia tidak merokok, mengapa
tiba-tiba ingin beli rokok?"
"Tadi bilang ingin sekali, begitu
tuan."
"Mana sekarang, mengapa belum kembali?
Tadi aku mendengar sirene mobil polisi, Jangan-jangan dia ditangkap. Celakalah
kita."
Lalu Basuki memasuki kamar mbah Kliwon.
Dilihatnya mbah Kliwon berbaring sambil memejamkan mata.
"Pak Tua, bangun.. kita harus
pergi."
"Kemana lagi? Aku capek."
"Tidak boleh capek, pak tua harus
mengikuti aku terus. Ayo bangun !!"
Basuki menyuruh anak buahnya untuk menarik
mbah Kliwon. Terpaksa mbah Kliwon bangun. Tadi mbah Kliwon juga mendengar
sirene mobil polisi. Semoga segera ada pertolongan, batin mbah Kliwon berharap.
"Mana Marso, mengapa lama sekali ?"
"Iya, saya juga heran mengapa lama
sekali. Padahal ada mini market didekat situ."
Basuki melangkah kedepan rumah, diikuti anak
buahnya yang menggandeng tangan mbah Kliwon.
Ia bermaksud membuka garasi untuk
mengeluarkan mobilnya. Namun tiba-tiba dilihatnya beberapa polisi sudah berdiri
dihalaman.
Basuki terkesiap. Ia merasa bahwa itu adalah
ancaman.
"Berdiri disitu dan jangan
bergerak!" hardik salah seorang polisi.
Basuki tiba-tiba menarik tubuh mbah Kliwon,
lalu ia mengeluarkan sebilah pisau belati yang sebenarnya selalu siap terselip
dipinggangnya.
" Biarkan saya pergi, atau saya bunuh
orang tua ini !" ancam Basuki dengan mata merah.
Sesungguhnya
dia ketakutan. Basuki belum pernah berurusan dengan polisi. Ia punya segalanya
dan banyak anak buah, tapi tak seorangpun menentangnya karena ia banyak uang.
Sekarang ia harus berhadapan dengan polisi, itu membuatnya takut.
Tiba-tiba dua orang wanita muncul, Mery dan
Sri. Mata Basuki menyala menatap Mery.
"Penghianat busuk !!" umpatnya
sambil menudingkan belati itu kearah Mery.
"Simbaaah !!" tiba-tiba Sri berlari
mendekat ketika melihat simbahnya dalam ancaman. Tapi Timan yang ada
dibelakangnya melompat dan memegang lengan Sri.
"Sabar Sri, bahaya kalau kamu
mendekat," tegur Timan sambil memegangi lengan Sri.
"Aku mau simbah... simbah.."
"Sri, aku baik-baik saja.." kata
mbah Kliwon dengan linangan air mata.
Sri menatap Basuki dengan mata berapi-api.
"Laki-laki pengecut !!" hardiknya
keras.
Basuki menatap Sri dengan sendu. Gadis yang
diimpikannya, dicintainya, berdiri dihadapannya dengan kemarahan yang
meluap-luap. Sejenak hati Basuki bergetar. Karena gadis itulah semuanya ini
terjadi. Basuki yang setengah tua, mencintai gadis belia yang polos dan lugu,
Ini dirasakan Basuki. Ia belum pernah mencintai, baru kali ini. Dan ternyata
dia tak tau bagaimana seorang pecinta harus bersikap. Ia terlalu sombong dan
mengira bahwa semua keinginanya pasti akan tercapai. Sekarang ini, mendengar
Sri menghardiknya, seketika kesombongannya tumbang. Gadis idamannya itu
mengatakan dirinya pengecut. Teriris batin Basuki.
"Sri, jangan membenciku, aku hanya ingin
bertahan."
"Kamu laki-laki pengecut ! Tidak
berani menghadapi akibat dari kesalahan yang selama ini kamu lakukan, dan
mempergunakan seorang tua sebagai tameng. Benar-benar menjijikkan ! Aku kira
kamu laki-laki perkasa yang tak terkalahkan, ternyata bukan, kamu laki-laki
lemah tapi merasa kuat!! Kamu tak berdaya! Kamu nista! Kamu hina!!" teriak
Sri sambil menangis. Ia juga tak mengerti, darimana datangnya keberanian itu.
Barangkali karena sangat marah melihat simbahnya dicengkeram lengannya dan
diacungi belati di tengkuknya.
Basuki terpana. Tak menyangka gadis polos
yang digandrunginya bisa memakinya demikian tajam. Bagai sembilu yang
mengiris-iris jantungnya.
Belum pernah selama ini ada yang berani
memakinya, semua orang terbungkuk-bungkuk dihadapannya, tunduk takluk akan
semua perintahnya. Darimana datangnya sembilu yang ada dibibir tipis menawan
itu dan kemudian melukai hatinya?
"Lepaskan simbahku kalau kamu memang
laki-laki !!" teriak Sri lagi sambil menuding kearah Basuki.
Sementara
polisi sedang menunggu sa'at baik untuk melumpuhkan Basuki, Sri berhasil
melumpuhkannya dengan kata-kata pedasnya. Basuki merasa lemas, tangannya
terkulai dan belati ditangannya terlepas.
Dengan sigap polisi melompat kearahnya dan
meringkusnya, berikut salah seorang anak buahnya.
Sri berlari menubruk simbahnya, merangkulnya
sambil menangis haru.
"Cucuku, cucuku yang perkasa, kamu
berhasil membebaskan simbah," bisik mbah Kliwon ditelinga Sri.
Basuki diringkus dengan pasrah. Sebelum
polisi memaksanya pergi, ia menatap Sri dengan pilu.
"Sri, aku mencintai kamu Sri, semua ini
karena kamu, aku ingin memiliki dan membahagiakanmu," katanya ketika
melewati Sri yang masih merangkul simbahnya.
Sri
melepaskan pelukannya, menatap laki-laki gagah yang nyaris menyiksa hidupnya,
dan melihat air mata mengambang dipelupuknya. Ada rasa iba terbersit dihati Sri
ketika melihatnya. Ya Tuhan, cinta bisa membuat hidup seseorang menjadi
porak-poranda. Cinta yang melalui jalan sesat. Aduhai.
Basuki menurut ketika borgol membelenggu
tangannya. Sebelum masuk ke mobil polisi, ia sempat menatap Mery yang
memandangnya tak acuh, dan melihat Marso berdiri disana. Oo.. ternyata kamu,
kata batin Basuki, tapi dia tak berdaya. Ia duduk terbelenggu dengan salah
seorang pembantunya. Merasa seperti mimpi ketika sang tuan sekarang duduk sebagai
pesakitan.
***
Bayu yang semula ikut bersama polisi sekarang
mendekati mobil Timan.
"Mas Timan, aku mau duduk dibelakang
bersama pak Darmin," kata Bayu.
"Aku juga mau dibelakang bersama
simbah," teriak Sri nyaring. Nyaring dan ringan, setelah semua beban
terasa lepas.Tangannya terus menggandeng simbahnya.
"Aku juga mau dibelakang kalau
begitu." kata Mery.
Mobilnya ada sebuah, mobil colt terbuka, tapi
mereka dengan riang beramai-ramai duduk dibelakang. Wajah-wajah mereka ceria.
"Waduh, aku sebenarnya juga ingin duduk
dibelakang kelihatannya rame nih.. Tapi apa mobilnya bisa berjalan sendiri
ya?" teriak Timan sambil tertawa.
"Ya sudah, saya didepan menemani calon
menantu saya," kata pak Darmin yang kemudian membuka pintu depan.
Yang lain tertawa tawa sambil berdesakan
duduk di jok belakang.
Timan mendekati Marso. Tadi polisi sudah
mencatat alamat rumah dan ponsel Marso.
"Bapak mau pulang sendiri atau bersama
saya?"
"Saya pulang sendiri saja pak, banyak
angkutan umum."
"Baiklah, ini sekedar buat ongkos ya
pak."
Timan memberikan sejumlah uang yang diterima
Marso dengan senang hati.
"Terimakasih banyak pak,"
"Jangan lupa, suatu sa'at bapak pasti
akan dipanggil untuk menjadi saksi. "
"Ya pak, tadi sudah diberi tau."
"Saya mengucapkan terimakasih karena
bapak telah melakukan hal terbaik, sehingga bisa membebaskan mbah Kliwon."
"Sama-sama pak, saya tergugah untuk
melaporkan juga karena mbah Kliwon."
"Oh ya?"
"Saya juga mulai jenuh dengan kehidupan
yang tidak menentu. Saya ingin terlepas dari semuanya, dan ingin hidup
tenang."
"Semoga yang terbaik untuk bapak ya.
Hati-hati pak, saya pamit dulu."
"Selamat jalan pak, saya menunggu
angkutan umum dulu.
***
Dalam
perjalanan itu mbah Kliwon banyak bercerita tentang pengalamannya selama
disandera Basuki. Ia juga mengatakan bahwa yang menunjukkan rumah Timan
pastilah anak buah yang tadi ikut dibawa polisi, karena mbah Kliwon pernah
memberinya minum dan menyuguhkan ketela rebus.
"Jadi simbah tidak mengira kalau itu
mata-mata Basuki?" tanya Sri.
"Sama sekali tidak. Simbah baru pulang
dari rumah pak lurah, melihat dia celingak-celinguk didepan rumah, saya tanya
katanya mau minum seteguk air. Lha salahnya mulut orang tua ini, saya ngoceh
tentang Sri yang berada dirumah nak Timan, tentang maksud saya akan menengok
kerumah nak Timan segala."
"Jadi setelah itu dia terus mengawasi
simbah lalu mengikuti simbah ketika berangkat kerumah mas Timan bersama pak
lurah?"
"Mungkin itulah yang terjadi. Ma'afkan
orang tua ini ya, jadi merepotkan banyak orang."
"Tidak apa-apa mbah, bukankah karena itu
lalu kita bisa menangkap Basuki?" kata Bayu menimpali.
"Iya mbah, jangan merasa bersalah."
"Tertangkapnya Basuki justru karena
simbah bicara dengan orang yang salah itu," kata Bayu lagi.
"Yah, barangkali memang inilah
jalannya."
Mery hanya mendengarkan mereka berbincang. Ia
menemukan dunia yang benar-benar belum pernah dialaminya. Persahabatan,
persaudaraan, saling dukung dan berbagi, itu terasa indah. Mery tidak menyesal
telah pergi dari kehidupannya bersama Basuki, karena ia merasa lebih nyaman
sekarang.
Namun
ada sesuatu yang mengiris, sa'at Basuki mengucapkan cinta kepada Sri. Laki-laki
yang dicintainya, yang menemukan banyak wanita tapi tak pernah mengucapkan
cinta, sekarang kepada gadis belia yang lugu itu ia benar-benar mengucapkannya.
Tapi tidak, Mery tau bahwa ia harus memupus rasa cintanya. Ia yakin cintanya
terjatuh pada orang yang salah. Ia ingin melupakannya.
"mBak Mery kok diam saja?"
tiba-tiba kata Sri mengejutkannya.
"Oh, apa ?"
"mBak Mery melamunkan apa?"
"Tidak ada, aku kan.. mendengarkan
cerita mbah Kliwon itu. Seru ceritanya."
"Iya mbak, semoga setelah ini kita hidup
lebih nyaman ya mbak?"
"Benar Sri. Sudah aku bayangkan apa yang
ingin aku lakukan nanti."
"Besok kita pulang kedesaku dulu ya
mbak?"
"Iya Sri, kemanapun kamu, aku
ikut."
"Tapi itu desa lho mbak, sepi dan tidak
ramai seperti disini."
"Aku justru ingin merasakan bagaimana
kehidupan desa, yang jauh dari hiruk pikuk dan keramaian. Melihat sawah dan
kebun yang menghijau, pasti menyenangkan."
"Iya mbak, kita nanti tinggal dirumah yu
Lastri, boleh kan mas Bayu?" tanya Sri kepada Bayu.
"Tentu saja boleh, kan Lastri sudah
menyerahkan rumah itu untuk ditinggali mbah Kliwon."
"Iya nak, dari rumah simbah yang reyot
dan sekarang sudah dirobohkan, simbah lalu tinggal dirumah Lastri yang lebih
bagus. Tidak apa-apa nanti ramai-ramai tinggal disana. Menikmati ketela dan
jagung rebus kalau sa'atnya panen." kata mBah Kliwon.
"Hm, membayangkannya sudah senang.
Jagung rebus ya, atau bakar barangkali lebih nikmat ya mbah." kata Mery.
"Ya, pastinya nak. Apa nak Mery pernah
makan jagung juga?"
"Ada tukang masaknya Basuki yang pernah
membawakan jagung manis mentah, lalu dibakar, enak sekali.. manis- sangit..
begitu." kata Mery.
"Iya, yang enak kan sangitnya itu,"
kata Bayu.
Perjalanan itu sungguh perjalanan yang penuh
suka cita.
Didepan Timan berbincang dengan pak Darmin.
Timan mengatakan ingin segera mengikat Sri secara resmi.
"Ya nak, terserah nak Timan saja kapan,
tapi seperti nak Timan ketahui, saya ini miskin, tidak punya apa-apa, jadi ya
nanti sederhana saja nikahnya." kata pak Darmin.
"Tidak apa-apa pak, bagi saya yang
penting adalah resminya. Nanti di Solo akan saya rayakan bersama teman-teman
pasar, soalnya sudah pada ribut pengin datang di pernikahan saya nanti.
"Ya nak, terserah nak Timan. Ya
beginilah nak, kalau orang tidak mampu."
"Yang penting bukan tidak mampu karena
hartanya pak, tapi bapak sudah bisa melewati kehidupan buruk yang selama ini
bapak jalani."
"Saya sudah mertobat nak, sungguh
menyakitkan kalau diingat. "
"Semoga dengan kehidupan sekarang kita
akan merasa lebih tenang."
"Ya nak, aamiin."
“Wah, dibelakang ramai sekali ya, pasti
gembira dengan kembalinya simbah."
"Sudah sejak tadi mereka ramai bercanda.
Biarkan saja, sudah lama Sri menderita, semoga selanjutnya dia bisa merasa kan
hidup tenang dan senang. Saya serahkan Sri kepada nak Timan nanti, jaga dan
kasihilah dia karena selama ini saya tidak bisa melakukannya." kata pak
Darmin sendu.
"Saya berjanji tak akan membiarkan lagi
Sri menderita."
Ada telepon dari lurah Mardi yang menanyakan
perkembangan pencarian mbah Kliwon. Dengan gembira Timan menjawab kalau sudah
selesai.
"Sudah ketemu mbah Kliwon?"
"Sudah pak lurah, ceritanya panjang, ini
hampir sampai Solo, nanti saya akan cerita lebih lengkap."
"Syukurlah, ini saya sudah di Solo,
dirumah mas Bayu. Tapi mas Bayu saya telepon tidak diangkat."
"Ooh, mereka duduk dibelakang, dan ramai
sekali, mungkin tidak mendengar, pak lurah."
"Ya sudah, saya menunggu saja, hati-hati
dijalan mas Timan. Ini saya bersama isteri dan Lastri lagi berbincang. Senang
mendengar berita baik ini.
***
Sudah
malam ketika mobil Timan memasuki kota Solo. Ia langsung menuju rumah, untuk
menurunkan Sri dan lain-lainnya dulu, setelahnya baru akan mengantarkan Bayu.
Karena memang lebih dulu melewati rumahnya daripada kerumah Bayu.
Namun ketika hampir memasuki halaman, Timan
terkejut. Lampu teras sudah menyala, dan ada orang duduk disana, entah siapa
karena yang kelihatan hanya kepalanya.
Karena khawatir, ia menghentikan mobilnya
diluar pagar, kemudian berjalan kearah rumah sendirian. Ia melarang yang
lainnya ikut turun.
***
besok
lagi ya
Langganan:
Postingan (Atom)