Minggu, 28 Januari 2024

Manusia Yang Paling Dicintai Allah

1. Dua Pertanyaan Sahabat

Ketika sedang duduk iktikaf di masjid Nabawi, Rasulullah saw didatangi oleh seorang laki-laki. Lalu dengan sungguh-sungguh lelaki itu bertanya dua hal: (kitab hadis riwayat Ath-Thabrani 6/139)

Pertama, "Ya Rasulullah, MANUSIA spt apa yang paling dicintai Allah."

Rasulullah menjawab, “khoirunnas anfa'uhum linnas,” yaitu orang yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya.

Kedua, "Ya Rasulullah, AMAL PERBUATAN apa yang paling disukai Allah?" 

Rasulullah menjawab “idkhol al-surur ‘ala qolbi al-mu’min ...“ yaitu memasukkan kegembiraan kedalam hati orang mukmin yang sedang mengalami kesusahan...

dan Rasulullah menambahkan, yaitu: melepaskan kesulitannya, atau menghilangkan kelaparannya, atau melunasi hutangnya.

Saking tingginya nilai kecintaan Allah Ta'ala terhadap amalan itu, sampai² Nabi menegaskan, "Aku lebih suka membantu saudaraku sesama muslim (yang sedang mengalami kesulitan) daripada beriktikaf di masjid ini (Nabawi) selama sebulan penuh".

Dari dua sabda Rasulullah itu kita bisa dapatkan dua poin penting, yaitu:

> Manusia yang yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya.

> Amalan yang paling dicintai Allah adalah memasukkan kegembiraan kedalam hati orang mukmin yang sedang mengalami kesusahan.

*****

2.  Manusia Yang Paling Dicintai Allah

Sabda Rasulullah pertama itu menyiratkan bahwa orang yang paling dicintai oleh Allah bukanlah orang yang paling tinggi gelarnya (professor, kyai atau ustadz), atau yang paling banyak hafalan al qur'an nya, atau paling banyak shalat sunnahnya, dsb. Tetapi orang yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi masyarakat, “khoirunnas anfa'uhum linnas.”

Siapapun dia dan apapun statusnya, baik petani, nelayan, buruh, bahkan orang buta huruf sekalipun bila dia banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya maka dialah orang yang paling dicintai Allah.

> Sumur Wakaf Utsman bin Affan

Saat Rasulullah baru saja hijrah, Madinah dilanda musim paceklik. Masyarakat sulit mendapatkan air bersih, baik untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, maupun untuk berwudhu.

Tak jauh dari Masjid Nabawi, ada sumur besar yang airnya berlimpah milik seorang Yahudi yang terkenal kikir dan serakah, yang tidak mau berbagi air kepada penduduk Madinah. Penduduk terpaksa harus antre dan membeli air bersih dari Yahudi yang harganya tidaklah murah.

Rasulullahpun berseru, "Wahai sahabatku, siapa saja di antara kalian yang membeli sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka kelak dia di surga"

Utsman bin Affan bergegas mendatangi Yahudi pemilik sumur dan memberikan penawaran tinggi untuk membeli sumur nya. Tetapi orang Yahudi pemilik sumur itu menolak menjualnya.

Utsman menawarkan, "Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu,"

"Maksudmu?" tanya Yahudi keheranan.

"Kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu, kemudian lusa menjadi milikku lagi, demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?" jelas Utsman.

Akhirnya si Yahudi setuju dan Utsman membeli separuh dari mata air itu dengan harga 12.000 dirham.

Setelah memiliki setengah bagian sumur, Utsman bin Affan kemudian mulai melakukan sedekah air. Ia mengumumkan kepada seluruh penduduk Madinah yang membutuhkan air bisa mengambil air gratis (tidak dipungut biaya). Maka masyarakat mengambil air dalam jumlah yang cukup untuk 2 hari, karena esok hari sumur itu sudah hak orang Yahudi.

Keesokan hari, Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli. Yahudi merasa terpukul karena dia kehilangan pendapatannya. Setelah itu, Yahudi itupun mendatangi Utsman untuk menjualnya seluruh sumur miliknya. Utsman setuju, dengan demikian sumur itu pun menjadi milik Utsman sepenuhnya.

Utsman bin Affan mewakafkan sumur tersebut sehingga bisa dimanfaatkan siapa saja yang membutuhkan air. Bahkan Yahudi pemilik sumur sebelumnya juga dipersilahkan untuk memanfaatkan air ini secara gratis.

Sumur yang menjadi wakaf Utsman bin Affan di Madinah itu terus mengalirkan kebaikan dan pahala. Bahkan airnya masih mengalir hingga saat ini.

*****

> Kemauan Untuk Menjadi Bermanfaat

Menjadi orang yang bermanfaat itu bukan monopoli orang kaya, seperti Utsman bin Affan yang bisa membeli sumur milik orang Yahudi. Tetapi orang yang tidak kayapun mempunyai peluang yang sama untuk bisa menjadi orang bermanfaat.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan agar kita bisa bermanfaat bagi orang lain. (1) Jika kita memunyai harta, kita bisa memberikan manfaat kepada banyak orang dengan harta. (2) Jika kita memunyai ilmu, kita bisa menyumbangkan ilmu dan pikiran kita sehingga bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. (3) Jika kita memunyai tenaga, kita bisa menyedekahkan tenaga kita sehingga menjadi manfaat bagi banyak orang.

Kuncinya adalah kemauan dan keikhlasan. Kemauan dengan didasari oleh semangat dan kesadaran. Keikhlasan yang bermakna tidak mengharapkan upah atau pujian, melainkan karena mengharapkan ridho dari Allah Ta,ala.

*****

3. Amalan yang paling dicintai Allah

Amalan yang paling dicintai Allah adalah “idkhol al-surur ‘ala qolbi al-mu’min“ yaitu menolong saudara seiman yang mengalami kesulitan. Menolong dalam bentuk: melepaskan kesulitannya, atau menghilangkan kelaparannya, atau melunasi hutangnya.

Jadi amalan yang paling dicintai Allah itu BUKANLAH shalat tahajut yang panjang, bukan pula puasa seperti nabi daud, dzikir yang lama, mengkhatamkan al qur'an, atau iktikaf di malam lailatur qadar. Tetapi amalan yang paling dicintai Allah adalah menolong saudara seiman yang mengalami kesulitan hidup.

Bahkan Rasulullah menegaskan bahwa menolong saudara seiman yang sedang mengalami kesulitan itu lebih beliau sukai daripada beriktikaf selama sebulan penuh di masjid Nabawi.

*****

> Dialog Nabi Musa dengan Allah

Dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Al Ghazali, diceritakan dialog antara Nabi Musa As dengan Allah taala. Nabi Musa merupakan salah satu Nabiyullah yang bisa berdialog langsung dengan Allah Swt.

Nabi Musa bertanya, “Ya Allah, diantara semua ibadah yang telah kulakukan untukMU, manakah ibadah yang membuat Engkau senang?“

> “Apakah Sholatku?“ Allah menjawab, “Sholatmu itu hanya untuk dirimu sendiri. Karena sholat yang kau dirikan akan membuatmu terpelihara dari perbuatan keji dan mungkar.”

> “Apakah puasaku?”. Allah menjawab, “Puasa yang kau jalani juga hanya untukmu. Karena puasa itu dapat melatih dirimu agar mampu mengekang hawa nafsumu.”

> “Apakah dzikirku?”. Allah menjawab, “Dzikirmu juga untukmu sendiri, agar membuat hatimu menjadi tenang.

> “Lalu ibadah yang mana yang membuat Engkau senang? Tanya Nabi Musa.

Allah SWT menjawab, “SEDEKAH. Membantu sesama orang beriman yang sedang mengalami kesusahan itulah yang membuat Aku senang. Tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah, Aku berada disampingnya.“

Apabila shalat, puasa, dzikir dan ibadah mahdhah lainnya hanya bernilai pahala sekali, maka tidak demikian dengan sedekah. Sedekah jariyah mengalirkan pahala yang terus menerus selama apa yang disedekahkan itu memberikan manfaat.

*****

4. Hukum Menolong Saudara Seiman

Menolong kesulitan saudara seiman selain mempunyai nilai pahala yang tinggi, hukum syariahnya adalah WAJIB. artinya bila seseorang enggan menolong saudaranya seiman yang sedang mengalami kesulitan maka Allah akan murka.

Rasulullah bersabda, "Man laa yarham walaa yurham", artinya, "Barangsiapa tidak menolong (sesama manusia), maka ia tidak ditolong (oleh Allah)" (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya." (HR At-Thabrani).

5. Tragedi Palestina

Saat ini di Palestina, saudara2 muslim kita di Gaza sedang mengalami serangan dari militer Zionis Israel. Gedung2 di Gaza hancur, sekitar 100 ribu penduduk meninggal dan ratusan ribu lainnya mengungsi dan kelaparan akibat gempuran militer Israel. Saudara2 muslim kita di Gaza sangat menderita dan butuh pertolongan dari kita yang ada di Indonesia.

Bantuan dari pemerintah sudah dilakukan, dan donasi dari masyarakat kita juga sudah mengalir. Tetapi bantuan itu masih terus dibutuhkan, karena hingga saat ini mereka masih kelaparan dan banyak yang mengalami sakit. Adalah menjadi kewajiban kita untuk menolong masyarakat muslim Gaza yang membutuhkan pertolongan.

***** 

Kufur Nikmat (kisah qarun)

1.  Qarun, Manusia Kufur Nikmat.

Dalam Al-Qur’an surah al-Qashash ayat 76 - 82, diceritakan tentang sosok manusia yang kufur nikmat, yaitu Qarun

2.  Kufur Nikmat

Kufur nikmat” merupakan lawan dari “syukur nikmat”. Kufur nikmat berarti tidak mensyukuri nikmat Allah Swt yang telah dilimpahkan kepadanya. 

Orang yang kufur nikmat adalah orang yang enggan mensyukuri nikmat Allah. Dan bagi orang yang kufur nikmat, maka Allah Ta’ala mengancam dengan azab-Nya yang sangat pedih. 

La in syakartum la azidannakum wala in kafartum inna adzabi lasyadid

artinya : Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim ayat 7) 

3.  Hanya Sedikit Orang Yang Pandai Bersyukur

Dalam al Qur'an Allah Ta'ala beberapa kali mengklaim/menyatakan bahwa hanya sedikit dari manusia yang pandai bersyukur.

(1)   QS. Saba’ ayat 13:  Wa qalîlum min ‘ibâdiyasy-syakûr (Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.) 

(2) QS. Al-Baqarah ayat 243:  "Sesungguhnya Allah sentiasa melimpahkan kurnia-Nya kepada (seluruh) manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."  

(3)   QS. Ibrahim ayat 7:  "Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)."

Dan, salah satu indikator bersyukur adalah sedekah atau pengeluaran zakat malZakat mal atau zakat penghasilan adalah kewajiban untuk mengeluarkan sebagian kecil (2,5%) dari rejeki yang diberikan Allah kepada kita. Menurut Ketua Baznas, masyarakat muslim Indonesia yang sadar mengeluarkan zakat hanya sedikit, yaitu sekitar 3,2 % dari potensi zakat.  Pada 2019, tercatat zakat masuk Rp 8,1 triliun, padahal potensi zakat di Indonesia sebesar Rp 252 triliun. Berarti jumlah pembayar zakat hanya 3,2 persen dari potensi zakat.

Menurut Syekh Yusuf Qardhawi, nisab zakat penghasilan (profesi) dianalogikan dengan zakat pertanian yang nisabnya adalah 5 wasaq, setara dengan 520 kg beras. Bila harga beras per kilogram diasumsikan Rp 12.000, maka nisab zakat profesi adalah 653 x Rp 12.000 =  Rp 6,24 juta per bulan.  

4.  Tanda Kufur Nikmat

Imam Al-Ghazali : bukti syukur kepada Allah dilakukan dengan tiga tahap, yaitu disadari oleh hati (bil qalbi), diucapkan dengan lisan (bil lisani), dan dibuktikan dengan perbuatan (bil a’mali).

Implementasi syukur adalah: (1) Hatinya meyakini bahwa semua nikmat yang didapatkan hanyalah berasal dari Allah; (2) Lisannya memuji Allah, dengan mengucap “Alhamdulillah”; dan (3) Perbuatannya diwujudkan dalam bentuk sedekah.

Menurut para ulama masa kini, apabila kita yang mempunyai penghasilan (gaji) lebih dari 4,35 juta rupiah per bulan (setahun Rp.52,3 juta, setara 85 gram emas), maka kita wajib mengeluarkan zakat sebesar 2,5% dari penghasilan bersihnya (dikeluarkan setiap kali menerima penghasilan). Kalau enggan mengeluarkan zakat 2,5%, maka kita bisa tergolong kufur nikmat. Audzubillah himindzalik

Apabila seseorang tidak merealisasikan ketiga perkara tersebut, maka ia termasuk kufur nikmat. 

5.  Bersedekah adalah Bentuk Nyata Rasa Syukur.

Imam Al-Ghazali : Wujud sedekah tidak selalu dalam bentuk harta. Ada tiga macam wujud sedekah, yaitu (1) sedekah harta, (2) sedekah ilmu, dan (3) sedekah tenaga.  

6.  Kesimpulan.

a.  Barangsiapa hamba Allah yang tidak mengakui, memuji, dan berterimakasih  kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan kepadanya, maka ia telah Kufur Nikmat.

b.  Bukti konkrit dari rasa terimakasih (syukur) kepada Allah SWT adalah sedekah.  

c.  Tiga macam wujud sedekah, yaitu sedekah harta, sedekah ilmu, dan sedekah tenaga.  Besar kecilnya wujud sedekah menunjukkan ukuran besar kecilnya kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT.

d.  Allah menyebutkan hanya sedikit orang yang pandai bersyukur. Muslim Indonesia hanya 3,2% yang membayar zakat mal.


Catatan :


Tahun ini (2019), Pres. Jokowi membayar zakat sebesar Rp 55 juta (berarti penghasilan setahun Rp. 2,2 miliar). Jumlah ini mengalami kenaikan dibandingkan zakat yang dibayarkan kepala negara pada tahun lalu sebesar Rp 50 juta.


&&&&&

Kisah Qarun

Kisah Qarun diabadikan oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an surah al-Qashash ayat 76 - 82
Di zaman Nabi Musa, ada orang bernama Qarunkekayaannya sangat melimpah ruah. Ia masih sepupu dari Nabi Musa.
Namun sebelumnya, hidup Qarun sangat miskin. Dia tidak mampu menafkahi anaknya yang jumlahnya sangat banyak.
Bosan dengan keadaannya, Qarun meminta Nabi Musa untuk mendoakannya agar Allah memberikannya harta benda yang sangat banyak.
Tanpa ragu nabi Musa pun kemudian mendoakan untuk Qarun, karena dia tahu bahwa Qarun adalah seorang yang sangat saleh dan pengikut ajaran Ibrahim yang sangat baik.
Allah pun mengabulkan doa Musa. Akhirnya, Qarun kemudian menjadi orang yang kaya raya.
Tetapi Qarun berubah. Ia menjadi sombong, enggan sedekah, dan kufur nikmat. Dengan sengaja ia memamerkan harta kekayaannya, sehingga membuat orang-orang yang melihatnya hampir saja terjerumus pada kesesatan, karena terbuai gemerlap harta kekayaan itu.
Suatu hari, Nabi Musa diperintahkan oleh Allah untuk mengerjakan Zakat. Nabi Musa lalu mengutus salah seorang pengikutnya untuk mengambil zakat dari Qarun. Begitu sampai, Qarun langsung marah dan tidak mau memberikan sedikit pun dari kekayaannya. Karena, menurut Qarun, kekayaannya itu adalah hasil kerja keras dan usaha sendiri, tidak ada kaitan dengan siapa pun, tidak ada kaitan dengan Allah, atau dewa mana pun. (QS. al-Qashash: 78).
Qarun pun berani memfitnah Nabi Musa. Dia mengupah seorang wanita agar mengaku telah berbuat serong dengan Nabi Musa. Ketika seluruh Bani Israil telah berkumpul, Qarun berkata, ''Wahai Bani Israil, ketahuilah, Musa yang kalian anggap sebagai Nabi dan orang baik itu, sebenarnya tidak demikian. Bahkan, dia telah menghamili wanita ini.''
Nabi Musa merasa sedih dan Allah menunjukkan kekuasannya. Lidah perempuan yang disuruh berbohong tersebut kelu dan dia pun akhirnya mengucapkan cerita yang sebenarnya, bukan kata-kata bohong yang sudah disiapkan sebelumnya.
Nabi Musa kemudian berdoa agar Qarun dan harta seluruh harta kekayaannya ditenggelamkan.
Tidak lama kemudian, bumi berguncang dan seketika bumi terbelah sehingga tubuh Qarun dan seluruh kekayaannya habis ditelan bumi (QS. al-Qashash ayat 81).
Tempat di mana Qarun dan seluruh kekayaannya dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi ini berada di sebuah tempat yang kini dikenal dengan sebutan Danau Qarun (Bahirah Qarun). Namun, tidak ada satu pun kekayaan Qarun yang tersisa, selain puing-puing istananya yang bernama Qasru el-Qarun yang sampai saat ini masih berdiri kokoh di pinggir Tasik Qarun, Kota Fayyoum, yang tidak terlalu jauh dari Kairo, Mesir.
Setelah menyaksikan kejadian yang menimpa Qarun, bertambahlah keimanan orang-orang Bani Israil kepada Allah. ''Benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah),'' ujar mereka.
Kisah Qarun ini mengajarkan kita tentang bahaya sifat kufur, cinta dunia, dan sombong. Allah mengingatkan agar kita selalu bersyukur atas limpahan nikmat kekayaan yang kita miliki. ''Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih,'' demikian Surah Ibrahim ayat 7.



Kesalehan Sosial

1. Kisah Tukang Sepatu Haji Mabrur

Adalah seorang ulama Mekah bernama Abdurrahman ibnu Mubarok. Setelah menyelesaikan ritual ibadah haji, yaitu tawaf dan sa’i, karena kecapean beliau beristirahat di sebelah hijir Ismail. Antara tidur dan terjaga, beliau mendengar dua malaikat yang turun dari langit sedang berbincang.

Malaikat satu berkata, “Diantara ribuan jamaah haji tahun ini hanya ada satu yang mendapatkan pahala haji mabrur, dan seluruh dosa-dosanya diampuni Allah.”

Malaikat yang lain bertanya, “Siapa dia?”

“Dia tidak ada di sini. Dia adalah Ali bin al Muwaqaf, seorang tukang sol sepatu di Damsik.”

Mendengar percakapan dua malaikat yang mengejutkan itu membuat Ibnu Mubarok terjaga dari mimpinya. Karena rasa penasaran maka beliaupun bergegas pergi ke Damsik untuk mencari tahu keberadaan Muwaqaf, si tukang sol sepatu.

Setelah berkeliling kota Damsik, akhirnya Ibnu Mubarok berhasil menemukan Ali Muwaqaf. Setelah diceritakan mimpinya maka Muwaqahpun menangis dan jatuh pingsan.

.
Setelah tersadar Kembali dari pingsannya, Muwaffaq pun menceritakan:

Sudah sejak lama saya ingin pergi haji. Dan selama puluhan tahun, setiap hari saya menyisihkan sebagian uang dari penghasilan saya sebagai tukang sol sepatu, hingga terkumpul 350 dirham.  Jumlah itu sudah cukup untuk berhaji, dan Saya sudah siap untuk berangkat haji.

Pada saat itu, istri saya sedang hamil tua dan sedang mengidam. Dia mencium aroma masakan lezat. Maka istri sayapun meminta agar saya minta sedikit masakan itu.

Akhirnya saya mencari sumber aroma masakan itu. Ternyata berasal dari gubuk yang tidak jauh dari rumah saya, gubuk itu hampir roboh. Di sana, ada seorang janda dan enam anaknya.

Saya mengatakan kepadanya bahwa istri saya menginginkan masakan yang dia masak, meskipun hanya sedikit.

Dengan sedikit ragu, dia mengatakan, "Maaf tidak boleh, tuan."
Saya memaksa dengan mengatakan "Berapapun harganya, saya akan membelinya."

Dengan berlinang air mata, janda itu menjawab, "Makanan ini halal bagi kami, tapi haram bagi tuan."

Saya bertanya, "Kenapa?"

Kemudian janda itu menceritakan:

Selama beberapa hari ini, kami tidak memiliki makanan. Anak-anak saya menangis kelaparan. Lalu saya pergi kelua mencari makanan. Saya melihat seekor keledai mati, jadi kami mengambil sebagian dagingnya untuk dimasak.

Jadi masakan ini adalah dari daging bangkai keledai yang haram bagi tuan, tetapi karena terpaksa masakan ini halal bagi kami yang kelaparan.

Mendengar cerita itu, saya menangis dan pulang ke rumah. Saya menceritakan kejadian tersebut kepada istri saya, dan dia juga menangis. Akhirnya, kami memasak makanan dan pergi ke rumah janda tersebut.

Lalu kami membawakan makanan untuk mereka, dan memberikan 350 dirham untuk janda itu. Saya tidak jadi berangkat haji karena uang yang saya kumpulkan untuk berhaji, saya berikan kepada mereka agar tidak kelaparan.

Mendengar cerita itu, Abdullah Ibnu Mubarak tidak bisa menahan air mata. Ternyata, inilah amal yang dilakukan oleh Ali bin al Muwaqaf sehingga Allah menerima amalan hajinya, meskipun dia tidak berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

.

2. Kesalehan Sosial

> Orang yang taat dan tekun melaksanakan perintah agama disebut sebagai orang yang shaleh. Selaras dengan dua dimensi ibadah, yaitu ibadah vertikal dan ibadah horizontal, maka kesalehan juga ada dua, yaitu: Kesalehan Personal dan Kesalehan Sosial.

> Orang yang tekun shalatnya, dzikirnya, baca qur’annya, dan puasanya maka dikatakan sebagai orang yang saleh secara personal.

> Sedangkan orang yang suka menolong, suka bersedekah, kepedulian sosial tinggi bisa dikatakan sebagai orang yang saleh secara sosial.

> Kesalehan sosial mempunyai nilai yang tinggi dalam pandangan Allah, sehingga orang yang hanya soleh secara personal (sholat dan dzikirnya baik) tetapi tidak soleh secara sosial (apatis dengan persoalan sosial), maka ibadah ritualnya akan sia-sia.

Pernah seorang sahabat datang kepada Rasulullah, mengadukan ada seseorang perempuan yang shalat rajin, tetapi dia selalu menyakiti tetangga dengan lidahnya. Rasulullah berkata, ”Perempuan itu di neraka”.

Sahabat berkata lagi, ada seorang perempuan lain yang shalat nya biasa saja (hanya yang wajib) dan sedekahnyapun hanya beberapa potong keju, tetapi dia tidak pernah menyakiti seorang pun. Rasulullah pun berkata: “Dia penghuni surga.” (HR. Imam al-Bukhari, al-Adab al-Mufrad, Beirut: Darul Basya’ir al-Islamiyyah, 1989, h. 54-55)

> Dengan begitu maka dapat disimpulkan bahwa kesalehan personal akan sia-sia bila tidak dibarengi dengan kesalehan sosial.

 

3. Dalil Kepedulian Sosial*

Ada beberapa dalil berkaitan dengan kepedulian sosial, yaitu:

> Rasulullah bersabda مَنْ لا يَرحم لا يُرحم , Man laa yarham walaa yurham. Artinya, "Barangsiapa tidak menolong (sesama manusia), maka ia tidak ditolong (oleh Allah)" (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

> Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah bersabda, لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ “Laa yarhamullah man laa yarhamu naas” (Allah tidak mengasihi orang yang tidak mengasihi manusia lainnya) – (HR. Bukhari al-Adab al-Mufrad, 1989, h.48)

Makna dari hadis tersebut adalah bahwa seseorang tidak akan mendapatkan pertolongan (dari Allah), apabila dia apatis, tidak menolong sesama manusia (yang membutuhkan pertolongan).

> Dalam situasi yang lain, Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah beriman kepadaku orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. (HR At-Thabrani).

Ditegaskan oleh Rasulullah bahwa orang yang tidak peduli atas nasib tetangganya (yang kelaparan) maka ia tergolong sebagai orang yang tidak beriman.

 

4. Pendusta Agama

Orang yang tidak mempunyai kepedulian sosial, atau apatis terhadap situasi sosial di sekitarnya (terutama kepada mereka yang membutuhkan bantuan), bisa dikatakan sebagai pendusta agama.

Dalam al-Qur’an surah Al-Maun, Allah SWT berfirman; Ara-aitalladzii yukadzdzibubiddiin # Fadzaalikalladzi yadu’ ’ulyatiim # Walaa yahudhdhu ’alaa tha’aamill miskin. Artinya: ”Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?. Mereka adalah orang yang menelantarkan anak yatim dan tidak peduli terhadap nasib orang miskin.”

Pendusta agama adalah orang yang tidak punya kepedulian sosial terhadap penderitaan fakir miskin disekitarnya.

Pendusta agama, menurut Buya Hamka adalah orang yang mendustai pilar-pilar agama, yaitu mendustai shalatnya, mendustai puasanya, mendustai hajinya, dan mendustai ibadah-badah mahdhah lainnya.

Bagi pendusta agama maka ibadah-ibadah ritual yang telah dilakukannya akan gugur dan tidak mempunyai nilai di hadapan Allah Swt.

Hal itu dijelaskan pada surah al-Maun ayat berikutnya; Fa wailul lil mushallin # Al ladziina hum an salaatihim sahuun # Al ladzina hum yuraa una # Wa yamna’unal maa’uun. Artinya: Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu (1) mereka yang lalai dari shalatnya, (2) mereka yang riya’, dan (3) mereka yang enggan memberi pertolongan.

 

5. Kurangnya Kepekaan Sosial

Mengukur tingkat keimanan seseorang itu dari akhlaknya (prilaku sosial), bukan dari ibadah mahdhah semata.  Namun ironisnya kita sering menilai ketaqwaan seseorang dari prilaku ritual ketimbang sosialnya.  

a. Prof. Dr. KH. Mukti Ali, seorang ulama, cendikiawan muslim dan Menteri Agama RI era tahun 1970-an pernah mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam saat itu. Menurutnya umat Islam banyak yang sangat peka terhadap masalah-masalah ritual keagamaan, tetapi kurang peka terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan. Padahal Allah memerintahkan untuk Habluminallah wa habluminannnas secara seimbang.

b. Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Ali Musthafa. Imam Besar Masjid Istiqlal di tahun 2016 ini menyatakan umat muslim mengalami pengingkatan spirit di bidang ibadah individual, tetapi tidak dibarengi oleh spirit ibadah sosial. Beliau mengingatkan bahwa ibadah sosial jauh lebih penting daripada ibadah individual.

c. Prof. KH. Buya Syakur Yasin, pengasuh pondok pesantren Candang Pingan Cirebon juga mengatakan, Kemunduran umat Islam disebabkan oleh pemahaman yang berlebihan terhadap masalah ibadah ritual, tetapi menganggap sepele masalah ibadah sosial.

d. Prof. Dr. Jalaluddin Rahmad, berpendapat bahwa, Islam menekankan ibadah dalam dimensi sosial jauh lebih besar daripada dimensi ritual. Kalau kebetulan kegiatan ibadah ritual itu bersamaan dengan pekerjaan lain yang mengandung dimensi sosial, maka Islam memeberi pelajaran untuk mendahulukan yang sosial.

6. Nasehat Bagi Orang Saleh

Para ulama memberi nasehat; Janganlah seseorang hanya sibuk dengan ibadah ritual saja (shalat, dzikir, puasa, haji, dsb), tetapi hendaklah ia juga peduli terhadap masalah sosial.

Bila seseorang hanya soleh secara personal tetapi tidak soleh secara sosial maka ia tidak akan mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah Swt.

Salah satu bentuk kesalihan sosial adalah sedekah. Mari kita keluarkan sedekah 2,5 persen dari rejeki yang kita terima dari Allah dan salurkan kepada mereka yang membutuhkan. Penyalurannya bisa secara langsung kepada fakir miskin, atau melalui Lembaga sosial atau Lembaga zakat serta masjid yang akan menyalurkan bantuan sosial secara amanah.

MNH adalah salah satu masjid yang mengelola infaq jamaah untuk disalurkan sebagai kegiatan dan bantuan sosial dengan laporan secara transparan.

Semoga kita senantiasa mendapat petunjuk dan bimbingan Allah Swt. Dan semoga amal soleh kita diridhoi oleh Allah Swt. 

*******