Senin, 08 Mei 2017

Bicara Rasisme

"Mau jadi gubernur aja susah, ini lagi mau jadi wapres. Kafir mana boleh jadi pejabat di sini?," kata Ahok lantas tertawa di Balai Kota, Jakarta, Kamis (4/5).

Membantah ucapan Ahok rasanya tentu sudah tidak terhitung. Berapa banyak pejabat nonmuslim (kafir, istilah Ahok), selama republik ini berdiri.  Betapa rasis dan tendensius sekali ucapan Ahok, bahkan cenderung bernada provokatif.

Atau, jika ingin lebih spesifik yang ia maksud adalah pejabat dari etnis China pun rasanya sudah bukan sedikit lagi yang kita kenal dan umumnya kehadiran mereka tidak mengalami resistensi secara umum. Ini beberapa nama-nama mereka ;

Menteri:

1. Amir Syamsuddin (Freddy Tan Toan Sin), menteri hukum dan HAM.
2. Bob Hasan, menteri perdagangan dan perindustrian era orde baru, pengusaha.
3. Ignasius Jonan, menteri ESDM.
4. Kwik Kian Gie, menteri koordinator Indonesia, ahli ekonomi.
5. Laksamana Sukardi, menteri negara BUMN
6. Lie Kiat Teng, menteri Indonesia, ahli kesehatan.
7. Mari Elka Pangestu, menteri Indonesia, ahli ekonomi.
8. Oei Tjoe Tat, menteri Indonesia, politisi.
9. Ong Eng Die, menteri Indonesia, ahli ekonomi.

Politisi :

1. Alex Indra Lukman, politisi PDI Perjuangan, anggota DPR RI;
2. Alvin Lie Ling Pao, politisi PAN, skr anggota Ombusman;
3. Charles Honoris, keponakan obligor BLBI Samadikun Hartono/sdh ditahan Jakgung, politisi PDI; Perjuangan, anggota DPR RI.
4. Christiandy Sanjaya, Wakil Gubernur Kalimantan Barat.
5. Hari Tjan Silalahi, tokoh senior CSIS
6. Jusuf Wanandi, politisi senior, mantan anggota MPR.
7. Sofjan Wanandi, politisi, pengusaha, pendiri Gemala Group.
8. Setya Novanto, Ketua DPR RI.

- Perwira Tinggi TNI:

1. Brigadir Jenderal TNI Teguh Santosa (Tan Tiong Hiem).
2. Mayor Jenderal TNI Iskandar Kamil (Liem Key Ho).
3. Brigadir Jenderal TNI Teddy Yusuf (Him Tek Ji).
4. Marsekal Pertama TNI Ir Billy Tunas, MSc
5. Brigadir Jenderal TNI Paulus Prananto.
6. Laksamana Pertama TNI FX Indarto Iskandar (Siong Ing).
7. Mayjen TNI dr Daniel Tjen, SpS.
8. Brigadir Jenderal Surya Margono alias Chen Ke Cheng (Tjhin Kho Syin).

Dan tentu masih banyak lagi tokoh China yang berkiprah di bidang lainnya.

Jadi ucapan Ahok tsb sangat tidak berdasar. Cenderung berbahaya bagi persatuan bangsa ini.  Jika pun ada penolakkan atas dirinya sebagai calon gubernur pada pilkada 2017 lalu, itu semata karena sikap, juga sifatnya yang tidak baik, dan arogan. Serta kebijakannya tentang reklamasi yang tidak berpihak pada rakyat miskin.

Faktanya kehadiran Ahok di kancah politik, sudah terbukti menimbulkan kegaduhan antar golongan dengan menimbulkan gesekan yang sangat tajam, terutama karena ucapanya yang tidak etis sebagai pemeluk agama lain.  Ia lancang berbicara tentang Al Maidah ; 51 seenaknya, hal inilah yang telah mencederai hati sebagian besar ummat Islam Indonesia yang memiliki ghirah.

Jikalah kaum Muslimin dikatakan rasis, perhatikan dari 101 Pilkada serentak 2017, tidak ada satupun isu agama yang mencuat kecuali di Jakarta, yang justru ia sendiri yang memantik isu itu timbul di Kepulauan Seribu


Sesungguhnya siapakah yang memprovokasi rasisme di negeri ini?

Minggu, 07 Mei 2017

Note: Cara Bersyukur


Betapa sedikitnya manusia yang mau (pandai) bersyukur kepada-Nya.  
·         Pertama, QS. Saba’ ayat 13: Sangat sedikit sekali di antara hamba-Ku yang mau bersyukur.  
·         Kedua, QS. Al-Baqarah ayat 243:  "Sesungguhnya Allah sentiasa melimpahkan kurnia-Nya kepada (seluruh) manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur."  
·         Ketiga, QS. Ibrahim ayat 7:  "Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)."
Bagi orang yang enggan bersyukur, Allah Ta’ala mengancam dengan azab-Nya yang sangat pedih. 
Allah SWT berfirman:
La in syakartum la azidannakum wala in kafartum inna adzabi lasyadid
Artinya : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim ayat 7)
Rasulullah SAW adalah manusia yang patut kita teladani dalam bersyukur.
Siti Aisyah bertanya kepada Nabi Muhammad (suaminya), mengapa Nabi begitu kuat dan tekun beribadah (shalat malam) sampai kakinya bengkak. Padahal beliau adalah seorang nabi yang telah diampun dosanya yang dahulu maupun yang akan datang. Nabi Muhammad menjawab,  "Tidak bolehkah aku menjadi orang yang pandai bersyukur kepada Allah?"
Cara Bersyukur
Imam Al-Ghazali mengajarkan kepada kita bahwa cara bersyukur kepada Allah dilakukan dengan tiga tahap, yaitu dengan hati, dilanjutkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan.
Bersyukur dengan perbuatan merupakan bentuk rasa syukur yang konkrit (nyata), yang bermakna bahwa semua nikmat yang diperoleh harus dimanfaatkan di jalan yang diridhai-Nya. 
Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya Allah senang melihat atsar (bekas/wujud) nikmat-Nya pada hambaNya".  Misalnya, orang kaya membagi hartanya untuk bersedekah kepada kaum dhuafa.

Bersedekah adalah Bentuk Rasa Syukur.
Cara bersyukur yang diajarkan Imam Al-Ghazali adalah membuktikan rasa syukur dengan suatu perbuatan, yaitu bersedekah.  Ada empat macam wujud syukur dalam bersedekah, yaitu (1) sedekah harta, (2) sedekah ilmu, (3) sedekah tenaga, dan (4) berdo’a  (mohon ampunan).  Aturan main dalam bersedekah adalah:
Pertama. Sedekah harta merupakan bentuk rasa syukur paling utama bagi mereka yang diberi karunia nikmat, terutama rezeki harta. Aturan mainnya adalah bersedekah minimal 2,5 persen dari rezeki yang diperolehnya.
Kedua.  Sedekah ilmu. Apabila seseorang tidak mempunyai cukup harta untuk disedekahkan (miskin), maka ia harus bersedekah dengan ilmu. Bentuknya adalah berdakwah, atau “amar makruf nahi munkar”, yaitu mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran.
Ketiga.  Sedekah tenaga.  Apabila tidak mempunyai cukup harta (miskin) dan tidak cukup ilmu (tidak pandai) untuk disedekahkan, maka ia bisa menggantikannya dengan sedekah tenaga. Yaitu membantu dalam bermacam kebajikan dengan tenaganya. 
Keempat.  Berdoa dan memohon ampunan kepada Allah SWT.  Hal itu adalah upaya terakhir apabila ia tidak mempunyai cukup harta, ilmu dan tenaga untuk disedekahkan, maka ia harus memohon ampunan.

Kesimpulan dari uraian diatas adalah bahwa sedekah merupakan bentuk konkrit dari rasa syukur kepada Allah SWT.  Besar kecilnya wujud sedekah menunjukkan ukuran besar kecilnya kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT.
Marilah kita merenungi segala kenikmatan Allah yang telah diberikan kepada kita. Dan semoga kita mampu bersedekah sehingga kita termasuk dalam golongan orang yang pandai bersyukur.

&&&&

Grup Akapela Bersyukur.
Akapela adalah seni musik yang dinyanyikan hanya dengan menggunakan vokal (mulut), tanpa menggunakan iringan alat atau instrument musik.  Suara alat-alat musik seperti gitar, drum, perkusi dan sebagainya ditiru oleh suara mulut personel grup musik.
Beberapa personel grup akapela ini adalah penyandang cacat tubuh (disabilitas), salah satunya adalah sang vokalis utama yang tunanetra (buta mata).  Saat grup musik ini mengawali penampilannya beberapa detik, tiba-tiba lampu listrik padam, sound systemnya pun tidak berfungsi, dan suasana menjadi gelap gulita.
Peristiwa padamnya listrik itu berlangsung cukup lama.  Hingga beberapa menit berlalu lampu penerangan tak kunjung menyala.  Dan hadirin mulai resah, kemudian suasana menjadi gaduh, beberapa orang cenderung panik dan protes.
Dst …

Suasanapun menjadi hening. Kebanyakan hadirin tersentak dan baru tersadarkan oleh pertanyaan sang vokalis tunanetra.
Kemudian sang vokalis mulai menyanyikan lagu Opick berjudul “Alhamdulillah (Bersyukur)”
Bersujud kepada Allah  -  Bersyukur sepanjang waktu
Setiap nafasmu, seluruh hidupmu -  Semoga diberkahi Allah

Bersabar taat pada Allah  -  Menjaga keikhlasannya
Semoga dirimu, semoga langkahmu  -  Diiringi oleh rahmatNya

Alhamdulillah wasyukurilah  -  Besyukur padamu ya Allah  

Selasa, 02 Mei 2017

Allah Menutup Aib Kita

Dikisahkan bahwa pada zaman Nabi Musa ‘alaihis salam, Bani Israil ditimpa musim kemarau yang berkepanjangan. Mereka pun berkumpul mendatangi Nabi Musa.
“Wahai Musa, berdoalah kepada Rabbmu agar Dia menurunkan hujan kepada kami!” Maka berangkatlah Nabi Musa ‘alaihissalam bersama kaumnya menuju padang pasir yang luas bersama lebih dari 70 ribu orang. Mulailah mereka berdoa dengan kondisi yang lusuh penuh debu, haus dan lapar.
Musa berdoa, “Wahai Tuhan kami turunkanlah hujan kepada kami, tebarkanlah rahmat-Mu, kasihilah anak-anak dan orang-orang yang mengandung, hewan-hewan dan orang-orang tua yang rukuk dan sujud.”
Namun sungguh aneh, tetap saja langit terang benderang, matahari justru bersinar makin kemilau. Kemudian Musa berdoa lagi, “Wahai Tuhanku berilah kami hujan!”
Allah pun berfirman kepada Musa, “Bagaimana Aku akan menurunkan hujan kepada kalian sedangkan di antara kalian ada seorang hamba yang bermaksiat sejak 40 tahun yang lalu. Keluarkanlah ia di depan manusia agar dia berdiri di depan kalian semua. Karena dialah, Aku tidak menurunkan hujan untuk kalian!”
Maka Musa pun berteriak di tengah-tengah kaumnya, “Wahai hamba yang bermaksiat kepada Allah selama 40 tahun, keluarlah ke hadapan kami, karena engkaulah hujan tak kunjung turun.”
Seorang pria melirik ke kanan dan kiri, melihat tak seorang pun yang keluar di hadapan manusia, saat itu pula ia sadar kalau dirinyalah yang dimaksud sebagai hamba yang telah bermaksiat selama 40 tahun tersebut. Ia pun merasa malu, takut, dan gelisah.
Ia berkata dalam hatinya, “Kalau aku keluar ke depan manusia, maka akan terbuka rahasiaku. Kalau aku tidak berterus terang, maka hujan pun tak akan turun.”
Maka pria itu menundukkan kepalanya karena malu dan menyesal, air matanya pun menetes, ia berdoa kepada Allah, “Ya Allah, Aku telah bermaksiat kepadamu selama 40 tahun, selama itu pula Engkau menutupi aibku. Sungguh sekarang aku bertobat kepada-Mu, maka terimalah taubatku!” isaknya dalam hati yang penuh pengharapan.
Tak lama kemudian awan-awan tebal pun bergumpal di atas langit, semakin tebal menghitam lalu turunlah hujan.
Nabi Musa keheranan dan berkata, “Ya Allah, Engkau telah turunkan hujan kepada kami, padahal tak seorang pun yang keluar di depan manusia.”
Allah berfirman, “Aku menurunkan hujan disebabkan seorang hamba yang karenanya hujan tak kunjung turun telah bertaubat atas dosa-dosanya.”
Musa berkata, “Ya Allah, Tunjukkan padaku hamba yang telah bertaubat itu.”
Allah berfirman, “Wahai Musa, Aku tidak membuka aibnya padahal ia bermaksiat kepada-Ku selama 40 tahun, apakah Aku membuka akan aibnya sedangkan ia telah bertaubat kepada-Ku?!”
*****
MasyaAllah… Sungguh luar biasa cara Allah menutupi aib hambaNya. Demikian pula Allah selalu merahasiakan aib kita, sehingga orang-orang yang berada di sekitar hanya mengetahui hal-hal baik tentang kita.
Sahabat, inginkah aib kita terus-menerus dirahasiakan oleh Allah dan akan kita tebus di akhirat kelak? Tentu tidak!!!
Karenanya mari segera bertaubat dan tutupilah aib sesama, sebagaimana Allah menutupi aib hambanya.
“Barang siapa yang menutupi aib saudaranya, Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat. Dan barang siapa mengumbar aib saudaranya, maka Allah akan mengumbar aibnya hingga terbukalah kejelekannya walau ia di dalam rumahnya.” (H.R. Ibnu Majah)
*****

Memberi Itu Membahagiakan

KEBAHAGIAAN tergantung pada apa yang dapat anda BERIKAN, bukan pada apa yang anda PEROLEH (Mahatma Gandhi)
.
MEMBERI ITU MEMBAHAGIAKAN (1)
Ada seorang gadis mengontrak rumah bersebelahan dengan rumah seorang ibu miskin dengan 2 anak.
Pada satu malam tiba-tiba listrik padam.(mati lampu)..... dengan bantuan cahaya HP dia ke dapur mau mengambil lilin...
tiba-tiba ada yang mengetuk pintu... ternyata anak miskin sebelah rumah.
Anak itu bertanya : "Kakak, punya lilin ?"
Gadis itu berpikir : JANGAN PINJAMKAN nanti jadi kebiasaan, maka si gadis menjawab , "TIDAK ADA!!".
Saat itulah si anak miskin berkata riang:
"Saya sudah duga kakak tidak punya lilin, Ini ada 2 lilin untuk kakak. Kami khawatir karena kakak tinggal sendiri dan tidak punya lilin."
Hati anak miskin itu sangat bahagia. Sementara gadis itu merasa sangat bersalah, dalam linangan airmata, dia memeluk anak kecil itu erat-erat.
Saudaraku...
janganlah kita mudah BERPRASANGKA Buruk...
Berbagilah....karena memberi itu menyenangkan hati.....
Karena kekayaan tidak tergantung berapa banyak kita PUNYA, tetapi seberapa banyak KITA BISA MEMBERI....
Memberi itu membahagiakan lagi menentramkan.....
.
"MEMBERI ITU MEMBAHAGIAKAN" (2)
Seorg Guru yang alim lagi bejalan-jalan santai bersama salah seorg diantara murid2nya di sebuah taman.
Di tengah2 asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang yang lusuh.
Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yg bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera pulang karena telah menyelesaikan pekerjaannya.
Sang murid melihat kepada Gurunya sambil berujar : “Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon2..?
Nanti ketika dia datang utk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangan. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas..!. Pasti asyik..."
Gurunya yang alim dan bijak itu menjawab : “Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin.
Kamu kan seorg yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya.
Sekarang kamu coba memasukkan begerapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.
Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak2 bersama gurunya sambil mengintip apa yg akan terjadi dengan tukang kebun...
Tidak berapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas2kan kotoran di pakaiannya. Dia berjalan menuju tempat sepatunya yg ia tinggalkan sebelum bekerja.
Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu mengganjal di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata.. Uang. Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang2, seolah2 ia tidak percaya dengan penglihatannya.
Setelah ia memutar pandangannya ke segala arah di sekelilingnya ia tidak melihat seorangpun ada di sekelilingnya.
Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah2 ia bicara kepada Tuhan..
“Aku bersyukur kpd-Mu wahai Tuhan. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak2ku lagi kelaparan. Mereka belum mendapatkan makanan hari ini. Engkau telah menyelamatkanku, anak2 dan istriku dari kelapan dan sakit ”.
Dia terus menangis dalam waktu yang cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Tuhan Yang Maha Pemurah.
Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat dari balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung...
Ketika itu Guru yang bijak tersebut memasukkan pelajaran kepada muridnya :
“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yg lebih daripada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu.?”
Sang murid menjwb :
“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku.
Sekarang aku baru paham dengan makna kalimat yang dulu belum aku pahami selama ini".
"KETIKA KAMU MEMBERI, KAMU AKAN MENDAPATKAN KEBAHAGIAAAN YANG LEBIH BANYAK

Teladan Ayah (Charlie Chaplin)

Charlie Chaplin, komedian paling terkenal tempo dulu, pernah bercerita:
Waktu masih kecil, aku diajak oleh ayahku untuk nonton pertunjukan sirkus.
Sebelum masuk, kami antri di depan loket untuk membeli karcis. Antrian cukup panjang, dan di depan kami ada satu keluarga ikut antri, bapak, ibu, dan 4 anak.
Anak-anak itu tampak bahagia; dari pakaian yang mereka kenakan, dapat dipastikan bahwa mereka bukan orang kaya, pakaiannya sangat sederhana, meski tidak dekil.
Tiba giliran mereka harus membayar karcis. Sang bapak merogoh kantong celana, dan tampak kebingungan: uangnya tidak cukup untuk membayar 6 lembar karcis.
Dia sedih dan murung, kemudian segera minggir dari antrian.
Ayahku melihatnya, dan langsung merogoh uang 20 dolar dari sakunya.
Ayahku langsung menjatuhkan uang itu di samping bapak empat anak tersebut. Ayahku menepuk pundaknya, dan berkata, "Pak, uang anda jatuh."
Bapak itu menoleh, memandang ayahku, dan dia sadar bahwa ayahku mau membantunya supaya bisa beli 6 karcis.
Matanya sembab, bibirnya tersenyum, dan dia ambil uang 20 dolar itu sambil berterimakasih. Ayahku pun tersenyum, lantas mundur menghampiri aku.
Aku lihat bapak itu segera beli karcis untuk keluarganya, mereka tampak sangat bahagia.
Ayahku lantas mengajak aku pulang, kami tidak jadi nonton pertunjukan sirkus.
Ternyata, uang ayahku hanya 20 dolar, dan sudah diberikan kepada keluarga tadi.
Dalam hidupku, itulah pemandangan yang paling menakjubkan. Pemandangan yang jauh lebih indah dibanding pertunjukan apapun di muka bumi ini.
Sejak saat itu aku meyakini, bahwa pendidikan terbaik adalah tindakan, bukan kata-kata.
-----
_It's not about how much money you give. It's about how much love you put in your give_
Rasulullah bersabda,
مَنْ لا يَرحم لا يُرحم
artinya, barang siapa tidak menyayangi sesama maka ia tak akan disayang Allah. (HR. Imam Bukhari)
*****


Senin, 01 Mei 2017

Mereka Yang Memperoleh Hidayah

Rasulullah Saw bersabda:
_"Barang siapa yang *diuji* lalu BERSABAR; yang *diberi* lalu BERSYUKUR; yang *dizalimi* lalu MEMAAFKAN; dan yang *menzolimi* lalu sgr MEMINTA MAAF dan beristighfar..._
_maka bagi mereka keselamatan dan mereka tergolong orang² yang memperoleh hidayah"_
(HR. Baihaqi)
Bersyukur, bersabar, meminta maaf dan memaafkan adalah perkara sederhana yang *tidak mudah dilakukan*.
Bagi mereka yang senantiasa bersyukur dan bersabar atas nikmat dan ujian dari Allah, serta meminta maaf dan memaafkan dalam pergaulan sesama manusia ... adalah mereka yang telah *mendapat hidayah*.
Mereka yang telah memperoleh hidayah (petunjuk) dari Allah maka hidupnya akan terbimbing ke jalan kebajikan dan terhindar dari jalan kesesatan, dan mereka akan *hidup penuh kedamaian*.
Mari berlomba untuk selalu berbuat kebajikan dalam hidup di dunia yang singkat ini.
_*Fastabiqul Khairat*_
*****

Input, Proses, Output dan Outcome

Dalam sebuah program perencanaan suatu kegiatan, maka ada tiga aspek yang harus diperhatikan yaitu input, proses dan output atau outcome. 

INPUT adalah semua potensi yang ‘dimasukkan’ ke dalam sebuah proses.

PROSES adalah serangkaian kegiatan (yang saling terkait antara ruang, waktu, keahlian atau sumber daya lainnya) yang dirancang untuk mengubah input/masukan menjadi hasil/keluaran. Keluaran ini meliputi dua aspek yaitu output dan outcome.

OUTPUT adalah hasil langsung yang dapat dirasakan dari suatu proses, sedangkan OUTCOME adalah efek jangka panjang dari proses tersebut berupa manfaat atau harapan perubahan.  

Contoh dalam dunia pendidikan tinggi maka output adalah melahirkan sarjana-sarjana yang spesifik di bidang pendidikan. Sedangkan OUTCOME JANGKA PENDEK  adalah kesadaran, pengetahuan, atitud, skill, opini, aspirasi dan motivasi. OUTCOME JANGKA MENENGAH  adalah perilaku, praktek, penentu,keputusan, kebijakan dan aksi aksi sosial di bidang pendidikan.  OUTCOME JANGKA PANJANG  adalah adanya perubahan kondisi sosial, ekonomi, kependudukan, dan lingkungan pendidikan.

Contoh lagi yaitu dalam sebuah program yang memiliki tujuan “untuk meningkatkan layanan pelanggan”, maka outputnya adalah menemukan suatu produk database, sedangkan outcomenya adalah penurunan panggilan pelanggan ke call center.

Output berkenaan dengan apa yang kita hasilkan dan siapa yang menjadi sasaran kita.  Sedangkan outcome lebih mencakup kepada hasil yang harus dicapai dalam jangka pendek, menengah dan panjang dalam aspek pembelajaran, aksi dan kondisi yang diharapkan.

Output merupakan hasil dari aktifitas, kegiatan atau pelayanan dari sebuah program dan terukur dengan menggunakan volume, sedangkan outcome adalah dampak, manfaat, harapan perubahan dari sebuah kegiatan atau pelayanan suatu program.