Senin, 22 Mei 2017

Harta dan Sedekah

1.  Penciptaan Bumi

Dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan bahwa ketika Allah menciptakan bumi, planet kita ini bergetar, dan terus berguncang tidak pernah diam.  Kemudian Allah menciptakan gunung di beberapa permukaannya. Maka dengan kekuatan yang diberikan kepada gunung, ternyata bumipun terdiam.  

Para malaikat akhirnya kagum akan penciptaan dan kekuatan gunung tersebut.

> Malaikat bertanya, “Ya Allah hebatnya kekuatan gunung, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?”

Allah menjawab, “Ada, yaitu besi.”

> Malaikat bertanya lagi, “Ya Allah adakah yang lebih kuat dari besi?”

 Allah menjawab, “Ada, yaitu api. Besi dapat leleh karena api.”

> “Adakah yang lebih kuat daripada api?”

“Ada, yaitu air.  Api akan padam oleh air

> “Adakah yang lebih hebat daripada air?”, Tanya Malaikat lagi

“Ada, yaitu angin.  Angin dapat membawa awan dalam perjalanan yang amat jauh, bahkan badai juga dapat menyebabkan ombak besar”

> “Para malaikat bertanya lagi, “Ya Allah, adakah yang yang lebih kuat dari semua ini?”

Allah menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan ikhlas”.  (HR. Turmudzi dan Ahmad)

Dari hadis qudsi tersbut, Allah memberikan ketegasan bahwa bersedekah dengan ikhlas ternyata mempunyai kekuatan yang luar biasa, bahkan lebih dahsyat daripada gunung, besi, api, air, dan angin.  Begitu luarbiasanya sehingga Allah memberi kedudukan yang istimewa bagi orang yang dermawan. Begitu istimewanya orang-orang yang dermawan, sehingga walaupun ia berdosa besar, ia disukai Tuhan.


2. Keistimewaan Ahli Sedekah

Pada suatu peperangan yang dimenangkan oleh kaum Muslimin, banyak tawanan orang Yahudi yang diancam hukuman mati.  Ketika satu tawanan mau dihukum mati, tiba-tiba malaikat jibril datang memberi tahukan kepada Rasulullah SAW, supaya orang Yahudi itu dibebaskan.  Diberitahukan bahwa orang Yahudi yang satu ini sangat dermawan, ia suka menjamu tamu, dan suka menolong fakir miskin.  

Ketika Rasulullah datang memberitahukan kepada orang Yahudi itu bahwa dia dibebaskan, dia bertanya: “Mengapa?”.  Nabi menjawab: “Allah baru saja memberitahukan padaku bahwa kamu suka membantu orang miskin, suka menjamu tamu, suka memikul beban orang lain.”   Kemudian orang Yahudi itu berkata: “Apakah Tuhanmu menyukai perilaku seperti ini?”. Nabi menjawab : ”Betul, Tuhanku menyukai hambanya yang dermawan.”.  Saat itu juga orang Yahudi itu memeluk Islam.  Dia masuk Islam karena sifat kedermawanannya dicintai oleh Allah SWT.

 

3. Keutamaan Sedekah

Lebih lanjut Rasulullah menjelaskan : Orang bodoh yang dermawan lebih dicintai Allah ketimbang ahli ibadah yang pelit. (HR. Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Rasulullah bersabda,  “Orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Sedangkan orang yang pelit (bakhil) itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka.  (HR. Al-Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Seorang alim menasehatkan, : Ketika kita membantu orang-orang miskin, janganlah berfikir bahwa kita membantu mereka. Pada hakekatnya kitalah yang dibantu mereka, karena kita dibawa oleh mereka untuk menjadi lebih dekat kepada Allah SWT.

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan pada aspek sosial, karena Rasulullah ditugaskan oleh Allah SWT adalah untuk menyempurnakan akhlak.  Sehingga kepedulian social sangatlah diutamakan.

Dalam sebuah hadis Qudsi disebutkan :  ”Tidak beriman kepada-Ku (Allah) orang yang tidur kenyang sedangkan tetangganya lapar, padahal ia mengetahuinya” (HR.Al-Bazzar)

 

4. Pendusta Agama

Mereka yang kikir dengan hartanya dan tidak peduli terhadap nasib fakir miskin yang membutuhkan bantuan harta, maka oleh Allah SWT dicap sebagai pendusta agama

Allah berfirman dalan surat Al-Ma’un ayat 1-2; “Ara-aitalladzii yukadzdzibubiddiin; Fadzaalikalladzi yadu’ - ’ulyatiim; Walaa yahudhdhu ’alaa tha’aamil miskin.”  

Artinya: Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?. Mereka adalah orang yang menelantarkan anak yatim dan tidak peduli terhadap nasib orang miskin.

 

5. Harta adalah Sumber Segala Kejahatan. 

Perlu diketahui, bahwa harta adalah sumber dari segala kejahatan.  Dalam suatu hadis Rasulullah bersabda.

”Setelah kaum iblis mengetahui bahwa aku telah diutus oleh Allah dan umat telah berdiri bersamaku, mereka merasa tak sanggup lagi menyesatkan kaum  Muslimin supaya menyembah berhala.  Tetapi pemimpin mereka berkata, ’Aku tidak peduli apakah manusia itu masih atau sudah tidak lagi menyembah berhala.  Aku akan menggoda mereka setiap saat melalui tiga cara, yaitu: 1) supaya mereka mencari harta dengan jalan yang tidak halal, 2) supaya mereka membelanjakan harta itu di jalan yang tidak benar, dan 3) supaya mereka menahan harta itu tidak pada haknya.’ Selanjutnya Rasulullah SAW menjelaskan bahwa segala kejahatan dari sinilah (harta) sumbernya.” (HR. Abi Umamah)

Karena alasan hartalah membuat kebanyakan orang melakukan kejahatan spt: penipuan, pencurian, pertengkaran, zalim, korupsi, kolusi, dsb. Dengan harta pulalah kebanyakan orang melakukan maksiat.     Dan pada sebagian harta kitalah sesungguhnya ada hak bagi kaum dhuafa yaitu fakir miskin yang seharusnya segera kita berikan. 

 

6. Tak Akan Pernah Puas. 

Kebanyakan manusia tidak akan pernah puas dengan harta yang telah mereka miliki.     Mereka akan selalu merasa kurang dan terus menimbun harta.

Rasulullah bersabda, Seandainya anak cucu adam (manusia) mendapatkan dua lembah yang berisi emas, niscaya ia masih menginginkan lembah emas yang ketiga.  Tidak akan pernah penuh perut anak Adam kecuali ditutup dalam tanah (mati)” (HR. Ahmad)

Contoh manusia yang hubbud dunya (terlalu cinta harta) adalah Qarun. Kisah keserakahan Qarun diabadikan oleh Allah dalam al-Qur’an surah al-Qashash ayat 76-82.  Keserakahan Qarun membuat Nabi Musa murka, maka Allah menenggelamkan Qarun dan seluruh harta bendanya ke dalam bumi.



7. Perintah Sedekah

Allah memerintahkan kita untuk menafkahkan sebagian dari rizki yang kita peroleh.  Allah berfirman :

QS. Al-Baqarah : 254: ”Hai orang-orang yang beriman.  Nafkahkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, sebelum datang hari, yang pada hari itu tidak ada jual beli, tidak ada lagi persahabatan yang akrab, dan tidak ada lagi syafa’at.  Dan orang-orang kafir itulah golongan orang-orang yang zalim” .

> S. Ali Imran (3): 92: ”Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebajikan (yang sempurna), sebelum menafkahkan  sebagian harta yang kamu cintai.  Dan apapun yang kamu infakkan, sungguh Allah maha Mengetahui”.  

Perintah Allah kepada kita untuk bersedekah (infak) diiringi pula dengan janji Allah yang akan membalasnya dengan pahala yang berlipat.   

> QS. Saba:39: Qul inna rabbi yabsuthurrizqa li mayyasyaa-u min ‘ibaadihii;   Wa yaqdiru lahuu;  Wa maa anfaqtum min syai-in fa huwa yukhlifuhuu wa huwa khairur raaziqiin.  (Katakanlah, “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki diantara hamba-hamba-Nya dan membatasi baginya.  Dan apa saja yang engkau infakkan, maka Allah akan menggantinya.  Dan Dia-lah sebaik-baik Pemberi Rezeki.”

> QS. Al-Baqarah (2): 261: “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT, bagaikan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh tangkai, dalam tiap-tiap tangkai ada 100 butir.  Dan Allah SWT akan melipatgandakan bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya dan Maha Mengetahui terhadap semua hamba-Nya”. 

 

8. Islam Agama Yang Perhatian Terhadap Sosial

Islam adalah agama yang sangat concern terhadap masalah-masalah sosial.   Peran orang dermawan terhadap tegaknya suatu masyarakat sangatlah besar. Kedermawanan merupakan salah satu pilar yang menopang tegaknya masyarakat sejahtera.  Tanpa peran orang dermawan, maka keberadaan suatu masyarakat akan rapuh, kacau , dan bisa jadi akan akhirnya runtuh, meskipun dipimpin oleh penguasa yang hebat, karena yang terjadi adalah kesenjangan sosial.  

Rasulullah SAW bersabda,  ”Tegaknya dunia (masyarakat) itu karena 4 sendi, yaitu  Ilmunya para ulama, keadilan para pemimpin, kedermawanan orang kaya dan doa fakir miskin.”  (al hadist).

Dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Asaakir, Allah berfirman :  ”Inilah agama yang Aku ridhai untuk diri-Ku.  Tidak ada yang mampu membuatnya bagus, kecuali kedermawanan dan akhlak yang bagus.  Karena itu, muliakanlah agama ini dengan yang dua  itu selama kamu melestarikannya (yaitu akhlak dan sedekah).”

*****

Jumat, 12 Mei 2017

Sangkan Paraning Dumadi (DK)

Sangkan Paraning Dumadi, merupakan falsafah kepercayaan Kejawen (Jawa Kuno) yang mendalam tentang bagaimana cara manusia menyikapi kehidupan. Sangkan Paraning Dumadi merupakan falsafah utama yang menjadi konsep dasar bagi falsafah lainnya dalam kepercayaan Kejawen.

Dalam bahasa Jawa kuno, “sangkan“ berarti asal muasal, “paran“ adalah tujuan, dan “dumadi“ artinya menjadi, yang menjadikan atau pencipta. Dengan begitu bahwa yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah pengetahuan tentang “Dari mana manusia berasal dan akan kemana ia akan kembali.“

Keberadaan manusia dan alam semesta merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi, yaitu Tuhan Pencipta Alam Semesta. Kelak pada akhirnya seluruh alam semesta akan kembali kepada-Nya.

Karena itu, sebagian orang yang mengidentikkan konsep Sangkan Paraning Dumadi dengan ajaran Islam "Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojii’un", yang artinya "Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali pula kepada-Nya." Kalimat tersebut biasa diucapka oleh umat Islam apabila mendengar kabar duka cita kematian atau musibah.

Bahwa tujuan hidup manusia adalah memperoleh kehidupan yang bahagia, yaitu kondisi kehidupan yang tenang, tenteram dan damai. Untuk dapat memperoleh kondisi kehidupan yang bahagia itu maka kepercayaan Kejawen mengajarkan agar kita menyatukan atau menyelaraskan jiwa kita dengan "kehendak" Sang Maha Pencipta. Konsep ini dikenal dengan "Manunggaling Kawula Gusti" yang arti harfiahnya adalah "menyatunya jiwa dengan kehendak Tuhan".

Sebagian orang mengatakan konsep manunggaling kawulo Gusti itu dalam khasanah Islam sama dengan Makrifat. Untuk dapat mencapai tingkat Makrifat maka Kejawen mengajarkan berbagai macam "laku", yaitu praktik spiritual yang dilakukan oleh penganut Kejawen. Laku spiritual ajaran kejawen, dalam istilah umum disebut ibadah meliputi: Sembahyang, Semedi, Tirakat, dan Sedekah.

Praktik laku spiritual itu nantinya akan membuahkan hasil yaitu jiwa atau pribadi luhur sesuai kehendak Tuhan, yaitu pribadi yang mempunyai karakter dan sifat-sifat luhur ilahiyah, antara lain: jujur, adil, tanggung-jawab, ikhlas, toleran, peduli, sabar dan syukur.

Pribadi luhur merupakan syarat untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan hidup, baik secara lahiriah maupun batiniah. Secara lahiriah, laku ajaran Kejawen dapat membantu manusia untuk mencapai kesehatan, kebahagiaan, dan kemakmuran. Sedangkan secara batiniah, laku ajaran Kejawen dapat membantu manusia untuk mencapai kesucian, pencerahan, dan kebijaksanaan. 

***** 

Filosofi Sangkan Paraning Dumadi

Tubuh manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmaniah berupa badan tubuh dan ruhaniah sebagai isinya.

a. Jasmani sebagai materi benda diciptakan dari unsur alam, yaitu tanah, air, udara dan api (panas). Karena asalnya dari bahan sari pati alam, maka kelak jasmani akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang udara kembali kepada udara, yang api kembali kepada api, dan yang air akan menyatu kembali kepada air.

b. Ruh yang didalamnya terkandung Jiwa, merupakan sesuatu yang tidak berwujud materi, terdiri dari tiga unsur ruhaniah yaitu akal, nafsu dan hati/perasaan. Dari unsur2 itulah diri manusia bisa melihat, mendengar, sedih, gembira, marah, benci, cinta, iba, kasih sayang, berfikir dan sebagainya.

Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah berfirman: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh (ciptaan) Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kamu”.(Q.S. As-Sajdah, 32: 9).

Ruh atau jiwa tidak akan bisa hancur seperti jasmani. Ia akan tetap utuh sampai kapanpun. Lantas kemana kembalinya ruh apabila seseorang telah meninggal dunia? Ilmu Jawa Kuno mempercayai bahwa bila manusia telah meninggalkan kehidupan dunia maka ruhnya akan kembali lagi kepada Sang Hyang Widhi, yaitu Tuhan YMK.

Ruh dan jiwa memang sejatinya hanya milik Allah semata dan Dia-lah yang menjaganya. Hal ini bisa kita lihat pada kondisi tertidur. Dalam tidur jiwa kita pergi mengembara meninggalkan jasad, sementara ruh tetap tinggal bersama jasad untuk menghidupinya. Kemudian jiwa kembali lagi saat kita terbangun.

Jiwa bisa menjadi kuat dan sehat jika dilatih dan dirawat dengan baik, namun ia juga bisa menjadi rusak, sakit dan lemah jika tidak dirawat dengan baik. Jiwa bisa mencapai derajat yang tinggi dan mulia, bisa juga jatuh kederajat yang amat hina, lemah tidak berdaya.

***** 

Sepuluh Filosofi Kejawen.

Dalam ajaran ilmu falsafah tradisional Jawa kuno, falsafah Sangkan Paraning Dumadi disertai dengan falsafah hidup lainnya, antara lain :

1. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara

Artinya, menebar kebaikan untuk kemakmuran dunia, memberantas kemungkaran. Maknanya, dalam kehidupan dunia manusia harus menebarkan kemakmuran (kedamaian dan kesejahteraan) bagi alam semesta; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Dalam agama Islam, dikenal dengan "Rahmatan lil alamin" dan "Amar makruf nahi munkar".

2. Urip Iku Urup

Hidup itu nyala, maksudnya adalah hidup itu haruslah menjadi penerang bagaikan lentera. Maknanya dalam hidup orang hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, "khairunnas anfa'uhum linnas", artinya manusia yang paling baik ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.

3. Ngunduh Wohing Pakarti

Artinya, menuai hasil dari setiap perbuatan, maksudnya bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) pasti akan mendapat balasan. Maknanya semua orang akan mendapatkan akibat dari setiap prilakunya sendiri (kebaikan maupun keburukan). Jadi, kita tidak perlu menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain karena bisa saja itu adalah akibat dari apa yang kita lakukan sendiri. Jadi, kita harus ingat untuk berhati-hati dalam betindak. Allah SWT berfirman: "Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah - Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah" artinya barangsiapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan, meski sebesar zahrah (debu/atom) niscaya akan memperoleh balasan (QS. Al-Zalzalah: 7-8)

4. Sugih Tanpa Bandha, Sekti Tanpa Aji-Aji

Terjemahan literalnya adalah "kaya tanpa harta kekayaan, sakti/kuat tanpa ajian mistis". Maknanya bahwa kekayaan batin itu lebih berharga daripada harta benda, dan kekuatan karakter lebih penting daripada kekuatan fisik. Makna lain adalah orang kaya itu bukanlah orang yang banyak harta tetapi orang yang kaya hati atau besar jiwanya. Sedangkan orang bisa menjadi hebat dan kuat itu tidaklah dengan mantra tetapi dengan ilmu.

5. Ajining raga saka busana, Ajining diri saka lathi lan budi

Arti literalnya adalah "Kehormatan raga berasal dari busana, sedangkan kehormatan diri berasal dari lisan dan prilaku". Maknanya, kehormatan luar seseorang bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Sedangkan kehormatan diri (marwah) dilihat dari cara berkomunikasi dan moral prilakunya. Cara berpakaian itu menentukan kehormatan raga dan cara berbicara menunjukkan kehormatan diri seseorang. Penampilan dan ucapan kita mempengaruhi bagaimana orang bereaksi dan menghargai kita. Sedangkan kehormatan diri ditentukan oleh bagaimana seseorang berucap dan budi pekertinya. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, "Hiyaa Rukum 'Akhaa Sinukum Akhlaaq", Sebaik-baik orang diantara kalian ialah orang yg baik akhlaknya. (HR. Bukhari & Muslim).

6. Lembah Manah lan Andhap Asor (tawadhu')

Dalam bahasa jawa pengertian "lembah manah" dan "andhap asor" mempunyai pengertian yang mirip, yaitu bersikap rendah hati dan sopan santun. Filosofi ini bagai pepatah: "Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk" artinya: semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya; kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati. Dalam Islam sikap luhur seperti itu dikenal dengan istilah "tawadhu".

7. Mulat Sarira Hangrasa Wani

Arti mulat berarti melihat dan sarira berarti badan, maknanya "introspeksi diri atau merenungkan diri sendiri". Sedangkan hangrasa berarti merasa, dan wani berarti berani., maknanya "berani dengan penuh kesadaran". Makna keseluruhan adalah "berani dengan kesungguhan hati melihat kekurangan diri". Jadi harus ada keberanian, artinya kesungguhan hati untuk melihat kekurangan diri. Dalam Bahasa Arab atau khasanah Islam dikenal dengan frase: muhasabah atau tafakur.

8. Becik ketitik - Ala ketara

Secara harfiah dapat diterjemahkan "perbuatan baik akan nampak, dan perbuatan buruk akan terungkap". Maknanya bahwa perbuatan baik yang meskipun tidak diperlihatkan atau diketahui orang lain, pada akhirnya pasti akan tampak atau diketahui orang. Sebaliknya bahwa perbuatan buruk meskipun ditutup-tutupi pada akhirnya pasti akan tercium atau terungkap. Pesan moralnya adalah tidak usah pamrih dan jangan berbuat curang, karena semua perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan ada balasannya.

9. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Landhep tanpa natoni.

Arti literalnya adalah "Menyerbu tanpa bala bantuan, Memenangkan tanpa merendahkan, dan Tajam tapi tak melukai". Maknanya, dalam menghadapi lawan, manusia yang baik adalah yang mampu mengalahkan dengan cara luhur penuh kebajikan. Mereka mampu melawan sendiri tanpa bantuan kawan atau membawa massa. Dan mampu memenangkan peperangan tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan, bahkan lawanpun kalah secara terhormat merasa tak terluka.

10. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

Arti literalnya adalah "Jangan sakit hati bila tertimpa musibah, dan jangan bersedih bila kehilangan". Maknanya adalah kita harus senantiasa bersabar dan tegar menghadapi segala macam musibah, dan pasrahkan segala sesuatunya kepada Allah karena Tuhan yang mengatutr segala sesuatunya.

.

 


Tiga Tipe Perang Modern

Setelah perang dunia kedua dan perang dingin usai peta politik global mengalami perubahan. Perang antarnegara tidak lagi menggunakan kekuatan militer dan pengerahan senjata semata. 
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih potensi terjadinya perang konvensional antara dua negara bisa dibilang kecil. Karakteristik perang juga mengalami pergeseran. Kini, muncul perang jenis baru, yakni perang asimetris, perang hibrida, dan perang proxy
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam bukunya berjudul "Memahami Ancaman, Menyadari Jati Diri Modal Membangun menuju Indonesia Emas" secara detil merinci ketiga jenis perang gaya baru tersebut. 
1.   Perang asimetris secara umum bisa dijelaskan sebagai perang antara kedua belah pihak yang kekuatannya tidak seimbang.  Pihak yang lemah tidak akan secara terang-terangan berhadapan dengan pihak yang kuat. Cara yang dilakukan adalah dengan mengggunakan cara-cara di luar kebiasaan, salah satunya dengan menggunakan taktik perang gerilya. 
2.  Perang hibrida adalah perang yang menggabungkan teknik perang konvensional dan perang informasi untuk mengalahkan musuhnya.  Pihak yang memiliki kekuatan besar akan menggunakan kekuatan militer untuk menghabisi musuhnya. Namun jika keadaan tidak menguntungkan strategi yang mereka gunakan adalah dengan menyebarkan informasi palsu, kemudian menjatuhkan wibawa negara lewat kampanye hitam.  Atau melakukan infiltrasi yang tujuan akhirnya adalah menghancurkan musuh. 
Jenis perang hibrida cukup rumit, karena perang ini menggunakan banyak cara, bisa dengan menggunakan senjata nuklir, senjata biologi dan kimia, perang informasi hingga kemungkinan berkembangnya aksi terorisme. 
3.  Perang proxy adalah pertikaian antara dua negara atau kekuatan besar yang tidak saling berhadapan langsung. Biasanya mereka menggunakan pihak ketiga untuk menghancurkan musuhnya. Dalam perang jenis ini tidak mudah untuk mengenali siapa kawan dan siapa lawan.  Biasanya pihak ketiga yang bertindak adalah negara kecil, organisasi masyarakat, kelompok masyarakat atau perorangan.  Perang proxy bisa dikatakan sebagai perang menggunakan pihak ketiga.
Dalam sebuah simposium nasional di Universitas Indonesia, Senin 10 Maret 2014, Gatot memaparkan bahwa pemicu terjadinya perang saat ini adalah soal energi. Ia memaparkan sekitar tahun 2043 sumber energi fosil akan habis dan digantikan dengan bio energi. Karena itu sasaran konflik mengarah pada lokasi yang sumber energinya banyak dan melimpah.  Dan Indonesia salah satunya. 
---------------

Bahaya Proxy War
Negara diminta waspada terhadap potensi perang menggunakan pihak ketiga atau proxy war di masa depan. Pemicunya adalan bertambahnya jumlah populasi manusia tetapi ketersediaan sumber daya alam kian menipis. NGO dapat dimanfaatkan negara lain dalam proxy war.
Semenjak satu tahun lalu, Gatot Nurmantyo, Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) aktif berpidato dalam berbagai forum mengenai bahaya proxy war atau perang menggunakan pihak ketiga.  Dalam pandangannya, proxy war dipicu oleh bertambah pesatnya populasi penduduk dunia tetapi tidak diimbangi ketersediaan pangan, air bersih, dan energi sehingga akan muncul konflik baru. Posisi Indonesia sebagai negara khatulistiwa sangatlah penting karena menjadi  arena persaingan kepentingan nasional berbagai negara. 
Konflik-konflik di belahan dunia terjadi akibat persaingan kepentingan antarnegara untuk menguasai sumber energi. “Sekitar 70 persen konflik di dunia disebabkan masalah energi.  Cadangan energi dunia diperkirakan tinggal 45 tahun lagi.  Dan ini bisa habis apabila tidak ada gantinya,” kata Gatot Nurmantyo.
Dampak lebih lanjut dengan meningkatkan kebutuhan  energi pada tahun 2007 sampai 2009 mendongrkan naiknya harga pangan dunia sebesar 75 persen. Pada 2043, populasi penduduk dunia diperkirakan mencapai 12,3 miliar jiwa. Dengan asumsi sekitar 2,5 miliar penduduk tinggal di garis ekuator (khatulistiwa) . Sisanya 9,8 miliar adalah penduduk di negara yang  berada di luar ekuator. Negara yang berada dalam perlintasan garis ekuator punya kemampuan budidaya tanam sepanjang tahun seperti Indonesia, Asia Tenggara, Afrika Tengah, dan Amerika Latin.
Kalau sebelumnya konflik berada di wilayah Timur Tengah. Maka, peperangan berpotensi bergeser di negara ekuator karena perebutan sumber daya energi dan alam. 

Dengan perkembangan teknologi, sifat dan karakteristik perang telah tidak lagi sifatnya konvensional antar dua negara. Melainkan mengarah kepada tiga jenis perang yaitu perang asimetris, perang hibrida, dan perang proxy.

Perang Asimetrik

Perang Asimetrik (PA) kini dipahami sebagai perang antar Pihak yang berbeda kekuatannya sehingga si lemah perlu bersiasat aksi tempur lebih kreatif dan inovatif, a.l. penggunaan strategi Ermattungskrieg [Hans Delbruck] atau upaya penjemuan atau pelelahan atau penghabisan tenaga potensi musuh yang lebih kuat dengan metoda seperti gerilya (hit & run) berbasis dukungan rakyat dan berbasis wilayah lebih luas daripada kedudukan si kuat guna memecah pasukan si kuat dalam satuan-satuan tempur lebih kecil dan berpencar sehingga lebih mudah jadi sasaran gangguan taktis bahkan penghancuran.

Perluasan rumusan PA kini adalah pelibatan teknologi informatika guna disinformasi
selain pengendalian informasi tentang situasi dan kondisi medan laga bagi proses pengambilan keputusan terbaik.

Terakhir, PA dimaknai sebagai model Perang Generasi ke-4 (PG4) dengan catatan: PG1 adalah pertempuran berbasis linier dan barisan seperti era Napoleon,

PG2 adalah pertempuran berbasis senapan mesin dan artileri sehingga terjadi pembantaian seperti pada Perang Dunia ke-I (1914-1918) dan

PG3 adalah pertempuran berbasis manuver tank, pesawat terbang dan kapal perang seperti pada Perang Dunia ke-II (1940 – 1945) sampai dengan invasi balatentara Amerika ke Irak (2001).

Sedangkan PG4 berciri kombatan non uniform berkapasitas cendekiawan yang berkemampuan seperti multi bahasa, penguasaan sejarah dan antropologi wilayah sasaran serta lebih ditujukan untuk mengalahkan kekuatan musuh tanpa tindakan militer, menyerang langsung jiwa dari penentu kebijakan musuh dan menghancurkan kemauan politik musuh.

Strategi PG4 ini mengingatkan model strategi kolonialis Belanda (1602 – 1942) 

--- Wednesday, 09 July 2008


:: Situs Berita Indonesia ::

http://apindonesia.com/new Menggunakan Joomla! Generated: 14 April, 2010, 08:09
padahal Sun Tzu telah berpetuah bahwa Dagang adalah Perang. Artinya, peran Kesejahteraan Rakyat adalah strategik guna mengatasi kampanye PA atau PG4 oleh musuh, sejalan saja dengan pendapat bahwa tingkat pendapatan per kapita berkorelasi dengan tingkat pastisipasi berdemokrasi, buktinya kini mewabah ulah demokrasi korupsi berjamaah yang berdampak strategik yaitu pelemahan potensi ketahanan bangsa. ***Pandji R. Hadinoto / Ketua BARPETA
HP : 0817 983 4545, eMail : barpeta45@yahoo.com





Hidup di Era Perang Asimetrik

Oleh Ninok Leksono
http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0710/01/iptek/3884227.htm
==================

"Ancaman perang asimetrik (PA) tidak dapat dihadapi dengan cara
konvensional, apalagi pendekatan militer, karena PA apalagi yang
muncul dan berkembang dari dinamika politik, pada dasarnya harus
diatasi dengan pendekatan politik."

(Theo L Sambuaga, Ketua Komisi I DPR, 27 September 2007)

Perhatian terhadap perang asimetrik tampak nyata ketika pejuang
Hizbullah dapat meladeni kekuatan militer Israel (Israel Defence
Force) dalam perang yang terjadi di pertengahan tahun 2006 lalu.
Hizbullah tidak hilang nyali meskipun Israel mengerahkan mesin perang
supercanggih seperti F-16 Sufa. Andalan mereka hanya semangat tempur
tinggi, roket Katyusha, dan kecerdikan cara menembakkan roket
tersebut, yang sempat menimbulkan ketakutan di kalangan warga yang
tinggal di wilayah utara Israel.

Namun, di luar wilayah konflik di Timur Tengah, sesungguhnya perang
asimetrik dewasa ini tengah melanda dunia. Amerika Serikat pun dibuat
pusing, dan negara seperti Indonesia pun tidak luput dari fenomena ini.

Memerhatikan perkembangan semacam itu, Dewan Riset Nasional (DRN)
Kamis (27/9) lalu menyelenggarakan Seminar Terbatas Perang Asimetrik
di Jakarta. Tampil sebagai pembicara adalah Ketua Komisi I DPR Theo
Sambuaga, mantan Wakil KSAD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, Staf Ahli
Menteri Ristek Richard Mengko, dan pengajar Kajian Strategik
Intelijens UI T Saut Situmorang.

Kiki Syahnakri dan Richard Mengko menggarisbawahi pandangan DRN bahwa
PA cenderung semakin banyak dipraktikkan dalam konflik militer maupun
nonmiliter.

Seiring dengan perubahan bentuk peperangan atau cara suatu negara
dalam upaya menguasai negara atau bangsa lain, maka spektrum PA
bertambah luas.

Menurut Kiki, cara berperang dengan menggunakan senjata atau hard
power kini dianggap tidak efisien. Sekadar contoh, sejak September
2001 AS sudah mengeluarkan 602 miliar dollar AS untuk perang
Afganistan dan Irak, tetapi apa hasilnya?

Taliban masih eksis dan melawan dengan tangguh, sementara di Irak yang
dicapai hanya penggulingan regim Saddam Hussein, tetapi kestabilan
yang diharapkan tak kunjung muncul. Untuk tahun 2008, pemerintahan
George W Bush masih akan minta anggaran 170 miliar dollar AS lagi
untuk perang di kedua negara (Kompas, 28/9).

Kalau hard power jadi tidak efisien, maka soft power dinilai jauh
lebih efisien. Di sini termasuk perang budaya, perang ekonomi dan
finansial, juga perang informasi. Dengan corak baru ini, yang
bertindak sebagai tentara bagi negara maju antara lain perusahaan
multinasional dan organisasi nonpemerintah.

Perang asimetrik

Dalam pemahaman umum, PA semula dimaknai sebagai perang antara dua
atau lebih kelompok yang kekuatannya berbeda besar
. Dalam perkembangan
lebih lanjut, pemikir militer masa kini memperluas definisi di atas
dengan memasukkan aspek asimetrik dalam strategi dan taktik. Tidak
jarang yang muncul di sini adalah strategi dan taktik perang
nonkonvensional. Pihak yang lebih lemah berusaha menggunakan strategi
untuk menutup kekurangan dalam hal jumlah maupun kualitas.

Richard Mengko mengutip bahwa konsep PA yang dipraktikkan di luar
hukum-hukum perang lalu sering didefinisikan sebagai "terorisme".

Dalam konteks modern, PA sering dipandang sebagai komponen Perang
Generasi Ke-4.

(Sekadar catatan, mengutip Greg Wilcox, analis militer AS, 2003,
Perang Generasi Pertama bertepatan dengan era munculnya senapan dan
tentara mulai memanfaatkannya untuk mendapatkan sarana tembak dalam
jumlah besar.
Perang Generasi Ke-2 bertepatan dengan era munculnya
teknologi di Abad ke-19, seperti senapan mesin yang efeknya berlanjut
hingga ke era Perang Dunia.

Adapun Perang Generasi Ke-3 ditandai
dengan motivasi ide sebagai penggeraknya, hingga kemudian sering
disebut sebagai peperangan manuver, yang diperlihatkan oleh Jerman
yang melancarkan perang kilat (blitzkrieg) semasa Perang Dunia II.

Perang Generasi Ke-4 oleh sejumlah analis sering disederhanakan
sebagai terorisme. Ia melahirkan ancaman global, menerapkan organisasi
sel dan kelompok aksi yang membangkitkan diri sendiri, acap dilandasi
oleh keyakinan etnik, agama, moral, mengincar sasaran masyarakat atau
ekonomi yang rawan.

Di sini dikenal pula sponsor negara (dalam hal dana, fasilitas, dan
tempat perlindungan), pemanfaatan media untuk memengaruhi opini
publik, memanfaatkan teror sebagai alat pilihan, dan punya akses
terhadap persenjataan teknologi tinggi yang bisa diperoleh di pasaran.

Sementara itu, basis Perang Generasi Ke-4 bisa berupa nonnasional atau
transnasional, seperti ideologi atau agama; melakukan serangan
langsung terhadap kultur musuh, dan mampu melancarkan perang
psikologis amat canggih, dalam hal ini melalui manipulasi media.

Peneliti Perang Generasi Ke-4 berkeyakinan bahwa tipe perang ini tidak
akan menggantikan Perang Generasi Ke-3 dan Ke-2, tetapi akan
berkoeksistensi. Berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh ahli falsafah
dan strategi perang Clausewitz, yang melihat perang sebagai benturan
kebijakan dua negara, Perang Generasi Ke-4 (sering diringkaskan dengan
4GW) bisa diibaratkan petinju lawan infeksi virus.


Meskipun demikian, senjata dan taktik dalam 4GW tidak terbatas pada
terorisme. Di Amerika Selatan sempat ditemukan kapal selam yang sedang
dibangun oleh kelompok penyelundup obat bius. Jadi praktik 4GW bisa
diibaratkan sebagai Fase III aksi gerilya Mao. Ketika musuh sudah
sempoyongan, aksi bisa diteruskan dengan pemanfaatan sarana dan taktik
konvensional untuk menghancurkan militer musuh yang tersisa.

Konteks Indonesia

Indonesia yang hidup di tengah dunia yang terus berubah sekarang ini
juga terpapar pada ide dan potensi dampak PA dan 4GW. Situasi yang
berkembang dewasa ini, juga perspektif sejarah yang memperlihatkan
bahwa kekuatan lebih lemah bisa mengalahkan kekuatan lebih kuat, di
satu sisi bisa melahirkan pandangan optimistik.

Tentang AS yang dibuat kerepotan oleh Vietkong di tahun 1960-an, atau
oleh milisi Lebanon (1982), atau juga oleh jawara (warlord) Somalia
(1992-1994), menjadi contoh- contoh historis. Tampak bahwa kekuatan
raksasa bak Goliath dibuat tidak berdaya secara militer, atau bahkan
secara politis kalah oleh lawan-lawan yang berukuran David (Jeffrey
Record, Why The Strong Lose, Parameters, 2005).

Indonesia di lingkup regional juga secara militer berada dalam posisi
asimetrik dibandingkan tetangga-tetangga dekatnya. Secara militer,
bila ingin mengo- reksi keseimbangan, diperlukan kreativitas untuk
menghadapi jet tempur atau kapal selam maju yang dimiliki tetangga.

Pada sisi sebaliknya, Indonesia dipandang terlalu kuat oleh
pihak-pihak yang punya aspirasi lain, khususnya yang masih belum, atau
tidak mau, menerima konsep NKRI dengan berbagai alasan. Atau, lebih
spesifik lagi, seperti dikemukakan oleh Saut Situmorang, rakyat yang
tertinggal dalam derap pembangunan, potensial untuk meletupkan PA.

Sebenarnya, insiden Cakalele di Ambon 29 Juni 2007 juga bisa disebut
sebagai manifestasi PA. Selain menggarisbawahi pandangan bahwa PA
memperlebar teater konflik, tidak saja militer tetapi juga
seni-budaya; kejadian Cakalele juga memperlihatkan, bagaimana si lemah
bisa membuat si kuat "kecolongan" dan menderita kerugian, dalam hal
ini dalam soal citra politik.

Si Lemah lawan Si Kuat tak hanya diterapkan RMS di Ambon. Seperti
dikemukakan oleh Theo Sambuaga, pemberontak Zapatista di Meksiko juga
melancarkan perlawanan terhadap pemerintah yang sah dari pedalaman
hutan rimba, sambil menggunakan laptop untuk menyusun strategi dan
melancarkan propaganda.

Jelas bahwa sasaran dan medan PA dan 4GW tidak lagi terbatas pada
perebutan wilayah, tetapi menjangkau ekonomi, kultur, media,
komunikasi, psikologi massa, energi, dan sebagainya. Suasana PA dan
4GW demikian berbeda, di mana peperangan tidak ditandai dengan front
jelas, kombatan tanpa uniform, dan sebenarnya berlangsung
terus-menerus (kontinu),
kata Richard Mengko.

Tanpa merujuk satu kasus spesifik, dengan melihat kon- disi nasional
yang belum kokoh, perpolitikan masih tinggi, sementara keadaan
perikehidupan rakyat pada umumnya masih jauh dari sejahtera, potensi
PA tampak riil di Indonesia. Potensi ini jauh lebih riil daripada
potensi invasi oleh satu negara asing.

Rabu, 10 Mei 2017

Agama Apa yang Paling Baik ???

Seorang ahli dari kelompok The Theology Of Freedom dari Brazil bernama Leonardo Boff bertanya kepada Dalai Lhama, pemimpin umat Buddha dari Tibet :

"Yang Mulia, apakah agama terbaik?"

Leonardo Boff menduga bahwa Dalai Lhama akan menjawab : Agama Buddha dari Tibet, atau agama Oriental yang lebih tua dari agama Islam, Yahudi & Kristen.

Ternyata sambil tersenyum, Dalai Lhama menjawab : "Agama terbaik adalah agama yang lebih mendekatkan mu pada Tuhan, yaitu agama yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

Sambil menutupi rasa malu karena punya dugaan kurang baik tentang Dalai Lhama,
Leonardo Boff bertanya lagi : "Apakah tanda agama yang membuat kita menjadi lebih baik?"

Jawaban Dalai Lhama : "Agama apapun yang bisa membuatmu: Lebih welas asih - Lebih berpikiran sehat - Lebih objektif & adil - Lebih menyayangi - Lebih manusiawi - Lebih mempunyai rasa tanggung jawab – dan Lebih ber-etika.  Agama yang memiliki kualitas seperti itu adalah agama terbaik".

Leonardo Boff  terdiam dan ter-kagum² atas jawaban Dalai Lhama yang bijaksana & tidak terbantahkan lagi.

Selanjutnya, Dalai Lhama berkata : "Tidak penting bagiku apa agamamu kawan... tidak peduli kamu beragama atau tidak.  Yang betul² penting bagiku adalah perilakumu di depan kawan² mu, di depan keluarga, lingkungan kerja & dunia."

Dalai Lhama berkata lagi :

" Jagalah pikiranmu, karena akan menjadi perkataanmu".

" Jagalah perkataanmu, karena akan menjadi perbuatanmu".

" Jagalah perbuatanmu, karena akan menjadi kebiasaanmu".

" Jagalah kebiasaanmu, karena akan membentuk karaktermu".

" Jagalah karaktermu, karena akan membentuk nasibmu".


Jadi sebenarnya, nasib mu berawal dari pikiran mu !^

Senin, 08 Mei 2017

Apa Itu Khilafah?

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia. Khilafah bertanggung jawab menerapkan hukum Islam, dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh muka bumi. Khilafah terkadang juga disebut Imamah; dua kata ini mengandung pengertian yang sama dan banyak digunakan dalam hadits-hadits shahih.


Sistem pemerintahan Khilafah tidak sama dengan sistem manapun yang sekarang ada di Dunia Islam. Meskipun banyak pengamat dan sejarawan berupaya menginterpretasikan Khilafah menurut kerangka politik yang ada sekarang, tetap saja hal itu tidak berhasil, karena memang
Khilafah adalah sistem politik yang khas.


Khalifah adalah kepala negara dalam sistem Khilafah. Dia bukanlah raja atau diktator, melainkan seorang pemimpin terpilih yang mendapat otoritas kepemimpinan dari kaum Muslim, yang secara ikhlas memberikannya berdasarkan kontrak politik yang khas, yaitu
bai’at. Tanpa bai’at, seseorang tidak bisa menjadi kepala negara. Ini sangat berbeda dengan konsep raja atau diktator, yang menerapkan kekuasaan dengan cara paksa dan kekerasan. Contohnya bisa dilihat pada para raja dan diktator di Dunia Islam saat ini, yang menahan dan menyiksa kaum Muslim, serta menjarah kekayaan dan sumber daya milik umat.


Kontrak bai’at mengharuskan Khalifah untuk bertindak adil dan memerintah rakyatnya berdasarkan syariat Islam. Dia tidak memiliki kedaulatan dan tidak dapat melegislasi hukum dari pendapatnya sendiri yang sesuai dengan kepentingan pribadi dan keluarganya. Setiap undang-undang yang hendak dia tetapkan
haruslah berasal dari sumber hukum Islam, yang digali dengan metodologi yang terperinci, yaitu ijtihad. Apabila Khalifah menetapkan aturan yang bertentangan dengan sumber hukum Islam, atau melakukan tindakan opresif terhadap rakyatnya, maka pengadilan tertinggi dan paling berkuasa dalam sistem Negara Khilafah, yaitu Mahkamah Mazhalim dapat memberikan impeachment kepada Khalifah dan menggantinya.


Sebagian kalangan
menyamakan Khalifah dengan Paus, seolah-olah Khalifah adalah Pemimpin Spiritual kaum Muslim yang sempurna dan ditunjuk oleh Tuhan. Ini tidak tepat, karena Khalifah bukanlah pendeta. Jabatan yang diembannya merupakan jabatan eksekutif dalam pemerintahan Islam. Dia tidak sempurna dan tetap berpotensi melakukan kesalahan. Itu sebabnya dalam sistem Islam banyak sarana check and balance untuk memastikan agar Khalifah dan jajaran pemerintahannya tetap akuntabel.


Khalifah tidak ditunjuk oleh Allah, tetapi dipilih oleh kaum Muslim, dan memperoleh kekuasaannya melalui akad bai’at. Sistem Khilafah bukanlah sistem teokrasi. Konstitusinya tidak terbatas pada masalah religi dan moral sehingga mengabaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, kebijakan luar negeri dan peradilan. Kemajuan ekonomi, penghapusan kemiskinan, dan peningkatan standar hidup masyarakat adalah tujuan-tujuan yang hendak direalisasikan oleh Khilafah. Ini sangat berbeda dengan sistem teokrasi kuno di zaman pertengahan Eropa dimana kaum miskin dipaksa bekerja dan hidup dalam kondisi memprihatinkan dengan imbalan berupa janji-janji surgawi. Secara histories, Khilafah terbukti sebagai negara yang kaya raya, sejahtera, dengan perekonomian yang makmur, standar hidup yang tinggi, dan menjadi pemimpin dunia dalam bidang industri serta riset ilmiah selama berabad-abad.


Khilafah bukanlah kerajaan yang mementingkan satu wilayah dengan mengorbankan wilayah lain. Nasionalisme dan rasisme tidak memiliki tempat dalam Islam, dan hal itu diharamkan. Seorang Khalifah bisa berasal dari kalangan mana saja, ras apapun, warna kulit apapun, dan dari mazhab manapun, yang penting dia adalah Muslim. Khilafah memang memiliki karakter ekspansionis, tapi Khilafah tidak melakukan penaklukkan wilayah baru untuk tujuan menjarah kekayaan dan sumber daya alam wilayah lain. Khilafah memperluas kekuasaannya sebagai bagian dari kebijakan luar negerinya, yaitu menyebarkan risalah Islam.


Khilafah sama sekali berbeda dengan sistem Republik yang kini secara luas dipraktekkan di Dunia Islam. Sistem Republik didasarkan pada demokrasi, dimana kedaulatan berada pada tangan rakyat. Ini berarti, rakyat memiliki hak untuk membuat hukum dan konstitusi. Di dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syariat. Tidak ada satu orang pun dalam sistem Khilafah, bahkan termasuk Khalifahnya sendiri, yang boleh melegislasi hukum yang bersumber dari pikirannya sendiri.


Khilafah bukanlah negara totaliter. Khilafah tidak boleh memata-matai rakyatnya sendiri, baik itu yang Muslim maupun yang non Muslim. Setiap orang dalam Negara Khilafah berhak menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap kebijakan-kebijakan negara tanpa harus merasa takut akan ditahan atau dipenjara. Penahanan dan penyiksaan tanpa melalui proses peradilan adalah hal yang terlarang.


Khilafah tidak boleh menindas kaum minoritas. Orang-orang non Muslim dilindungi oleh negara dan tidak dipaksa meninggalkan keyakinannya untuk kemudian memeluk agama Islam. Rumah, nyawa, dan harta mereka, tetap mendapat perlindungan dari negara dan tidak seorangpun boleh melanggar aturan ini. Imam Qarafi, seorang ulama salaf merangkum tanggung jawab Khalifah terhadap kaum dzimmi: “Adalah kewajiban seluruh kaum Muslim terhadap orang-orang dzimmi untuk melindungi mereka yang lemah, memenuhi kebutuhan mereka yang miskin, memberi makan yang lapar, memberikan pakaian, menegur mereka dengan santun, dan bahkan menoleransi kesalahan mereka bahkan jika itu berasal dari tetangganya, walaupun tangan kaum Muslim sebetulnya berada di atas (karena faktanya itu adalah Negara Islam). Kaum Muslim juga harus menasehati mereka dalam urusannya dan melindungi mereka dari ancaman siapa saja yang berupaya menyakiti mereka atau keluarganya, mencuri harta kekayaannya, atau melanggar hak-haknya.”


Dalam sistem Khilafah, wanita tidak berada pada posisi inferior atau menjadi warga kelas dua. Islam memberikan hak bagi wanita untuk memiliki kekayaan, hak pernikahan dan perceraian, sekaligus memegang jabatan di masyarakat. Islam menetapkan aturan berpakaian yang khas bagi wanita – yaitu khimar dan jilbab, dalam rangka membentuk masyarakat yang produktif serta bebas dari pola hubungan yang negatif dan merusak, seperti yang terjadi di Barat.


Menegakkan Khilafah dan menunjuk seorang Khalifah adalah kewajiban bagi setiap Muslim di seluruh dunia, lelaki dan perempuan. Melaksanakan kewajiban ini sama saja seperti menjalankan kewajiban lain yang telah Allah Swt perintahkan kepada kita, tanpa boleh merasa puas kepada diri sendiri. Khilafah adalah persoalan vital bagi kaum Muslim.


Khilafah yang akan datang akan melahirkan era baru yang penuh kedamaian, stabilitas dan kemakmuran bagi Dunia Islam, mengakhiri tahun-tahun penindasan oleh para tiran paling kejam yang pernah ada dalam sejarah. Masa-masa kolonialisme dan eksploitasi Dunia Islam pada akhirnya akan berakhir, dan Khilafah akan menggunakan seluruh sumber daya untuk melindungi kepentingan Islam dan kaum Muslim, sekaligus menjadi alternatif pilihan rakyat terhadap sistem Kapitalisme. (hti)