Kamis, 01 Maret 2018

Dimanakah Letak Keadilan Tuhan ?

Kalo ada dua bayi yg baru lahir, bayi yg pertama lahir dari ulama yang punya pesantren besar, yg di berkahi Allah, yg bepeluang banyak utk mencari bahkan memilih pahala. Sedangkan bayi kedua  lahir dari seorang gembel yg hidup di kolom jembatan dan dikelilingi kemaksiatan dan penderitaan.
Bayi yg pertama dididik secara agamis dan dalam lingkungan yg penuh kebarokahan,sehingga dia menjadi pemuda yang sholeh bergelimang pahala.  Lalu bagi bayi yg kedua, tentu dia terdidik dengan kehidupan yang jauh dari nilai agama dan di kelilingi kebatilan,sehingga dia menjadi seorang yang hidup bergelimang dosa dan penderitaan hidup.
Bagaimana bayi yang ke dua bisa merasakan dan memahami Maha Adilnya Allah, jika takdir yg menentukan bayi harus lahir dr rahim siapa?
Coba bayangkan jika saudara lahir menjadi bayi yg kedua, dan saudara melihat kehidupan bayi yg pertama dari lahir sampai besar dan menjadi sholeh.bandingkan dgn apa bayi kedua alami.
##bukan untuk tidak percaya pada Maha Adilnya Allah, tetapi untuk kita berfikir lebih dalam lagi##
🙏🙏🙏

Santri Ndholetak
https://www.facebook.com/gbaidhowi?hc_ref=ARRVFtvXwHqNJSHj1Jw9-8L5P-4vwEyq5TlUprPK5a4w6pc17konjfdr2iJk-OHLNzo&fref=nf

🙏

Para Presiden Yang Dihempas Reformasi Arab


Gerakan musim semi Arab menelan korban sejumlah presiden di negara Arab. Ada yang tewas dibunuh, kabur ke luar negeri, atau terus dirongrong masalah. Inilah 5 presiden negara Arab korban reformasi.

Zine El-Abidine Ben Ali, Tunisia
Arab Spring atau gelombang reformasi dunia Arab bermula dari Tunisia. Presiden Ben Ali yang berkuasan selama 23 tahun tumbang, ia dan keluarganya kabur ke Arab Saudi, negara yang melindunginya, dengan menggondol harta kekayaan negara yang mereka jarah sejumlah ratusan juta US Dollar.

Hosny Mubarak, Mesir
Musim semi Arab merambat ke Mesir. Ratusan ribu warga menggelar aksi protes di lapangan Tahrir di Kairo. Mubarak yang berkuasa lebih 3 dekade tumbang, bahkan harus tampil di pengadilan di dalam kerangkeng. Jenderal Abdel Fattah al Sisi, yang kemudian mengambil alih kekuasaan membebaskan Mubarak. Tapi ia tidak boleh bepergian keluar negeri.

Muammar al Gaddafi, Libya
Penguasa Libya yang menjuluki dirinya sebagai “Raja Arab” ini tidak semujur rekannya. Kolonel Al Gaddafi yang berkuasa 40 tahun terpaksa kabur dari istananya di Tripoli, dan terbunuh di kota kelahirannya Sirte. Jasadnya bahkan dipertontonkan kepada umum di sebuah gudang pembekuan daging hewan di kota Misrata.

Ali Abdullah Saleh, Yaman
Berkuasa lebih 40 tahun di Sanaa, dengan gaya kepemimpinan yang ia sebut “menari di atas kepala ular berbisa”, Saleh tumbang dihempas musim semi Arab pada 2011. Ia kemudian bergabung dengan pemberontak Syiah Huthi pada 2014. Beberapa hari lalu, Saleh umumkan pindah kubu, membela aliansi Arab Saudi. Ia dikabarkan dibunuh kaum Huthi yang merasa dikhianati.

Bashar Al Assad, Suriah
Al Assad masih bertahan sebagai presiden di Damaskus. Namun kekuasaannya sejak 2011 terus dirongrong kelompok yang namakan diri oposisi, yang sejatinya grup radikal seperti Front al Nusra, Al Qaida dan ISIS. Didukung Rusia, ia bisa bertahan, walau lebih separuh negaranya hancur akibat perang dengan sejumlah kelompok pemberontak yang didukung Arab Saudi dan AS. Ed.: as/ml (dari berbagai sumber)

http://www.dw.com/id/para-presiden-yang-dihempas-reformasi-arab/g-41654332

Sejumlah Kesalahpahaman Tentang Bangsa Arab


Bangsa Arab mengikuti sistem politik-pemerintahan Islam? Ini salah satu kesalahpahaman yang meluas, termasuk di Indonesia. Apa lagi bentuk kesalahpahaman lainnya mengenai bangsa Arab? Ikuti opini Sumanto al Qurtuby.
Saya perhatikan ada banyak masyarakat di Indonesia, baik Muslim maupun non-Muslim, yang tidak paham, salah paham atau gagal paham terhadap "Bangsa Arab” yang konon merupakan kelompok "ethnolinguistik” terbesar kedua di dunia setelah Bangsa Tionghoa. Akibatnya, banyak sekali persepsi-persepsi atas "Bangsa Arab” yang tidak akurat sehingga pada gilirannya menimbulkan penilaian yang kurang valid dan sikap atau tindakan yang berlebihan terhadap mereka.
Kesalahpahaman pertama, adalah menganggap Bangsa Arab itu sebagai "Bangsa Muslim”. Meskipun mayoritas Bangsa Arab adalah Muslim tetapi faktanya banyak sekali yang bukan Muslim, dalam pengertian tidak memeluk Islam sebagai "agama resmi” mereka. Arab Kristen adalah kelompok non-Muslim Arab yang paling dominan. Pada umumnya mereka mengikuti tradisi Gereja-Gereja Timur (Eastern Churches) seperti Gereja Ortodoks Yunani atau Gereja Katolik Yunani. Mekipun banyak juga dari mereka yang mengikuti gereja-gereja Protestan. Selain itu, Bangsa Arab juga ada yang menjadi pengikut Gereja Maronite (terbesar di Libanon), Gereja Koptik (berpusat di Mesir), dan Gereja Ortodoks Suriah (di Suriah).
Ada juga komunitas Arab yang mengikuti memeluk Judaisme (Yahudi), Druze dan Baha'i. Bahkan dalam perkembangan terakhir, banyak masyarakat Arab yang mengikuti ateisme dan agnotisisme (simak studi Ralph M Coury dalam buku Sceptics of Islam: Revisionist Religion, Agnoticism, and Disbelief in the Modern Arab World).
Kesalahpahaman kedua, Bangsa Arab jauh dari kesan tunggal dan monolitik.
Sebagai Muslim pun, Bangsa Arab jauh dari kesan tunggal dan monolitik. Selain Arab Sunni yang merupakan populasi dominan, Arab Syiah juga banyak sekali (di Irak, Saudi, Libanon, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dlsb.), kemudian disusul Arab Ibadi yang berpusat di Oman, negara tetangga Saudi. Karena sebagai sesama Bangsa Arab, baik Muslim maupun non-Muslim Arab telah berbagi bahasa, tradisi dan budaya yang sama, meskipun tentu saja ada banyak varian dan keunikan lokal di antara Bangsa Arab itu sendiri, baik karena faktor kesejarahan dan "geo-kultural” yang berlainan maupun akibat persinggungan dengan berbagai tradisi, budaya dan masyarakat non-Arab.
Kesalahpahaman ketiga,   Bangsa Arab itu sama dengan Arab Saudi. Dengan kata lain, Arab Saudi dijadikan sebagai baromater atau tolok ukur untuk menilai Bangsa Arab secara umum. Tentu saja persepsi ini sama sekali tidak akurat karena bangsa Arab bukan hanya di Saudi saja tetapi juga tersebar di berbagai negara. Menurut catatan Charter of the Arab League, ada sekitar 22 "Negara Arab” di Timur Tengah yang menggunakan Bahasa Arab sebagai "bahasa resmi/nasional”.
Selain Arab Saudi, negara-negara Arab lain adalah Aljazair, Bahrain, Comoros, Djibouti, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Libanon, Libya, Mauritania, Maroko, Oman, Palestina, Qatar, Somalia, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab dan Yaman. Dari segi populasi, yang terbesar adalah Mesir kemudian disusul berturut-turut: Sudan, Aljazair, Maroko, dan Irak. Saudi dan Yaman memiliki jumlah penduduk yang kurang lebih sama. Penting juga untuk dicatat tentang "Arab Diaspora” yang tersebar di berbagai negara di dunia ini: dari Eropa dan Amerika Utara sampai Asia Tengah dan Asia Tenggara. Jadi, melihat dunia Arab dari "jendela Saudi” tentu saja tidak valid dan tidak pas. 
Kesalahpahaman keempat, memandang Arab sebagai bangsa monolitik atau homogen yang mempraktekkan tradisi dan budaya yang seragam sebuah kesalahan fatal. Sebagaimana suku-bangsa lain di dunia ini, Bangsa Arab juga bangsa heterogen dalam segala aspek kehidupan bahkan bukan hanya soal adat-istiadat, tradisi dan budaya mereka saja tetapi sampai pada masalah teologi-keagamaan, pandangan kepolitikan, sistem pemerintahan, sistem perekonomian, dlsb. 
Kesalahpahaman Kelima, Semua laki-laki Arab itu bergamis
Oleh karena itu, menganggap semua laki-laki Arab itu bergamis atau berbusana jubah misalnya jelas keliru karena faktanya budaya pakaian casual ala Barat sudah berkembang luas di kawasan Arab. Jubah pun memiliki desain dan corak yang warna-warni. Pula, menganggap semua orang Arab itu berjenggot juga keliru besar karena faktanya banyak sekali yang kelimis. Begitu pula, keliru besar jika memandang perempuan Arab itu selalu mengenakan cadar (seperti niqab, burqa, khimar, dlsb). Karena faktanya, banyak sekali kaum perempuan Arab yang tidak bercadar. Di antara "negara-negara Arab”, hanya Saudi saja yang cukup ketat dalam hal  tata-busana termasuk pemakaian cadar karena negara-kerajaan ini dipengaruhi oleh Mazhab Hanbali yang terkenal tekstualis-konservatif. Meski begitu, di Saudi pun, khususnya di kota-kota besar, karena faktor perkembangan zaman yang begitu pesat, kita akan dengan mudah menjumpai kaum perempuan yang tidak mengenakan cadar.
Kesalahpahaman keenam, memandang Bangsa Arab mengikuti sistem politik-pemerintahan Islam. Padahal, negara-negara Arab mengikuti sistem politik-pemerintahan yang beraneka ragam. Ada yang mengikuti sistem monarkhi seperti Saudi, Bahrain, Kuwait, Yordania, Maroko, Oman, dlsb. Sebagai negara-kerajaan pun mereka berlainan: ada yang mengikuti sistem kesultanan (seperti Oman), monarkhi konstitusional (seperti Kuwait), keamiran (Qatar), kerajaan federal (seperti Uni Emirat Arab), dan seterusnya. Selain itu, negara-negara Arab juga banyak yang mengikuti sistem Republik seperti Mesir, Yaman, Sudan, Libanon, Aljazair, Suriah, Irak, dlsb. Menariknya, negara-negara Arab menolak sistem politik-pemerintahan model khilafah yang oleh sebagaian umat Islam di Indonesia justru didengung-dengungkan.
Kesalahpahaman ketujuh, negara-negara Arab itu kaya-raya karena sumber minyak. Padahal banyak sekali yang miskin. Negara-negara Arab yang cukup makmur dan kaya itu hanya kawasan Arab Teluk saja seperti Saudi, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Oman. Selebihnya, negara-negara Arab itu (seperti saya sebutkan di atas) sangat miskin bahkan jauh lebih miskin dari Indonesia. 
Kesalahpahaman kedelapan, Arab itu identik dengan suku Baduin yang memiliki pola hidup berpindah-pindah dari satu padang pasir ke padang pasir berikutnya (dalam antropologi disebut nomad atau pastoralis. Padahal, banyak masyarakat Arab kontemporer yang meninggalkan pola-hidup nomadik dan menetap di kota-kota.
Kesalahpahaman kesembilan, Bangsa Arab itu bangsa kolot dan konservatif yang mengikuti gaya hidup yang kuno-ketat-normatif. Persepsi ini jelas keliru besar. Banyak masyarakat Arab yang bergaya hidup dan berpola pikir maju, modern, dan visioner.

Itulah beberapa pandangan yang keliru terhadap Bangsa Arab.  Arab adalah sebuah "entitas etholinguistik”, bukan "entitas keagamaan”. Sebagai sebuah entitas entholinguistik, Bangsa Arab, sebagaimana bangsa-bangsa lain di jagat raya ini, juga sangat plural dan kompleks: dari aspek keagamaan dan kebudayaan sampai sistem perekonomian dan politik-pemerintahan. Tidak ada sangkut-pautnya antara "Arab” dan "Islam” misalnya. Sayang, masalah pluralitas dan kompleksitas Bangsa Arab ini kurang ditangkap dan dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, sehingga terjadi distorsi informasi dan aksi disana-sini.
Melihat keragaman dan kerumitan Bangsa Arab ini, maka dengan demikian jelaslah bahwa jika ada sekelompok umat Islam di Indonesia yang seolah-olah meniru gaya "orang Arab” dalam berpenampilan (dengan berjubah, berjenggot atau bercadar, misalnya), sebenarnya yang mereka tiru adalah "Arab imajiner” atau "Bangsa Arab” seperti dalam "alam imajinasi” sekelompok Islam itu, bukan Bangsa Arab di alam nyata. Semoga bermanfaat. 
Penulis:
Sumanto Al Qurtuby (ap/as)
Dosen Antropologi Budaya dan Direktur Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi, serta Senior Scholar di National University of Singapore. Ia memperoleh gelar doktor dari Boston University dan pernah mendapat visiting fellowship dari University of Oxford, University of Notre Dame, dan Kyoto University. Ia telah menulis ratusan artikel ilmiah dan puluhan buku, antara lain Religious Violence and Conciliation in Indonesia (London & New York: Routledge, 2016)
http://www.dw.com/id/sejumlah-kesalahpahaman-tentang-bangsa-arab/a-40966480

Musim Semi Arab: Awalnya dan Situasi Sekarang


Musim Semi Arab sudah lima tahun berlalu. Negara-negara Arab yang dulu dilanda revolusi masih tetap bergelut dengan berbagai masalah. Di banyak tempat, revolusi bahkan tak menunjukkan bekas. Berikut situasi lima negara.

Tunisia, Awalnya
Peristiwa politik yang disebut "Revolusi Yasmin" diawali kerusuhan masal di seluruh negeri akhir Des 2010. Awalnya peristiwa pembakaran diri penjual sayur Mohamed Bouazizi (17 Des 2010). 14 Jan 2011 Presiden Ben Ali meninggalkan Tunisia. 17 Jan 2011 Perdana Menteri Mohamed Ghannouchi dirikan pemerintahan sementara. 27 Feb 2011 Ghannouchi turun, dan PM baru Béji Caïd Essebsi.

Tunisia, Situasi Sekarang
17 Jan 2011 Perdana Menteri Mohamed Ghannouchi dirikan pemerintahan sementara. 27 Feb 2011 setelah sejumlah aksi protes besar-besaran, Ghannouchi turun, dan PM baru Béji Caïd Essebsi (foto). Tunisia hingga kini masih menghadapi banyak masalah. Antara lain masalah keamanan. Juli 2015 terjadi sebuah serangan teror di Sousse yang menyebabkan 38 orang tewas. 30 diantaranya berasal dari Inggris.

Mesir, Awalnya
Perlawanan dimulai 25 Jan 2011, pada hari yang disebut "Hari Kemarahan“. 11 Feb Presiden Husni Mubarak yang sudah berkuasa puluhan tahun turun jabatan, Dewan Militer ambil alih. Mereka jamin pemilu demokratis serta cabut situasi darurat yang sudah berlangsung 30 tahun. 2 Juni 2012 Mubarak dijatuhi hukuman seumur hidup. Setelah itu ia beberapa kali dihadapkan ke pengadilan karena sejumlah tuduhan.

Mesir, Sekarang
Dalam pemilu antara 2011 dan 2012 Ikhwanul Muslimin dapat suara mayoritas di parlemen. Mohammed Mursi jadi Presiden. Partai liberal, kiri dan kekuatan sekuler protes dan memuncak Nov 2012. Serangkaian demonstrasi berakhir pada kudeta oleh militer. Mereka angkat Adli Mansur sebagai presiden sementara, dan akhirnya lewat pemilu Mei 2014, (Jenderal) Abdel al-Fattah al-Sisi (foto) jadi presiden.

Libya, Dulu
Muammar Gaddafi (foto) diktator Libya antara 1969-2011. Ia penguasa yang paling lama bercokol di puncak kekuasaan Libya. Awal 2011 Musim Semi Arab menjalar ke Libya dan sulut demonstrasi di seluruh negeri. Gaddafi kehilangan kontrol. Maret sejumlah negara lancarkan serangan udara. Juni 2011 Gaddafi resmi dicari karena pelanggaran kemanusiaan. 20 Oktober 2011 Gaddafi tewas dibunuh saat buron.

Libya, Situasi Sekarang
Sejak 2011 Libya diguncang baku hantam antar milisi. Awalnya proses demokratisasi berjalan karena 2012 pemilu demokratis dilaksanakan. Partai sekuler ANK jadi kekuatan terbesar. Tapi partai Islam jadi mayoritas di parlemen. Pemerintah mayoritas Islam fundamental tidak mampu atau mau hapus milisi. Ansar al-Sharia bisa bergerak bebas. Presiden Nuri Abusahmain bahkan dirikan pasukan pribadi.

Maroko, Lima Tahun Lalu
Maroko adalah monarki konstitusional, dan sejak 1999 dipimpin Muhammad VI (foto). Negara miskin tapi stabil secara politik. Setelah seruan di Facebook, 20 Feb 2011 (Hari Kehormatan) ribuan berdemonstrasi tuntut reformasi politik dan demokrasi. Dalam kerusuhan jatuh korban tewas. Sebagai reaksi, Raja Maroko umumkan reformasi politik 10 Maret 2011.

Maroko, Situasi Sekarang
Referendum konstitusi dilaksanakan setelah Musim Semi Arab. Perubahan yang disetujui 98% anggota parlemen, akui Tamazight jadi bahasa resmi disamping Arab. Sejumlah kewenangan dialihkan dari raja ke perdana menteri dan parlemen. Raja sekarang wajib angkat PM dari partai yang mayoritas di parlemen. Sebelumnya, Raja Maroko bisa mengangkat siapapun yang ia inginkan. Foto: istana raja.

Aljazair, Lima Tahun Lalu
Kerusuhan Aljazair (2010–2012) berkaitan dengan revolusi di Tunisia. Aksi protews warga awalnya disulut terus meningkatnya harga bahan pangan. Kerusuhan muncul secara spontan dan tidak terorganisir. Oposisi tuntut pencabutan situasi darurat, dan itu dipenuhi pemerintah tanggal 24 Feb 2011. Hingga pertengahan April ada kerusuhan dan demonstrasi. Foto: Presiden Abdelaziz Bouteflika

Aljazair, Situasi Sekarang
Aljazair hingga sekarang tetap menghadapi banyak masalah. Presiden Bouteflika juga tetap berkuasa. Dalam pemilu 17 April 2014 ia terpilih jadi presiden untuk keempat kalinya. Menurut keterangan departemen dalam negeri, 81,5% suara diraih Bouteflika, dan 12,18% diraih penantangnya Ali Benflis. Foto: ibukota Aljir.

http://www.dw.com/id/musim-semi-arab-awalnya-dan-situasi-sekarang/g-18977578

Suriah: Neraka di Tahun Kelima


Berawal dari aksi protes lusinan aktivis di pusat kota Damaskus lima tahun silam, konflik di Suriah menjelma menjadi neraka berkepanjangan. Sebuah lembaga penelitian merumuskan kengerian di dataran Syam itu dalam angka.
Tragedi saja tidak cukup buat menggambarkan derita dan nestapa apa yang dialami penduduk Suriah. Sejak perang berkecamuk lima tahun silam, negeri di daratan Syam itu remuk didera teror Islamic State, dijerat keberingasan serdadu Bashar al Assad dan dihujani bom oleh koalisi internasional.
Padahal segalanya berawal penuh harap. Gelombang musim semi Arab yang menyapu seluruh jazirah, dulu juga ikut berjejak di Damaskus untuk meruntuhkan rejim Assad. Demokrasi seakan ada di depan mata. Tapi apa yang kemudian terjadi adalah neraka berkepanjangan yang merenggut lebih dari seperempat juta nyawa manusia. Lebih 11 juta warga terpaksa mengungsi baik ke negara tetangga maupun meluruk ke Eropa dan memicu krisis pengungsi.
Dalam laporannya tahunannya, wadah pemikir Syrian Centre for Policy Research bahkan menyebut angka korban tewas, langsung atau tidak langsung, mencapai 470.000 orang. Sementara PBB mencatat korban luka-luka telah melampaui angka satu juta.
Catatan muram itu bertambah panjang di tahun ke lima konflik. Tingkat harapan hidup yang awalnya berkisar 70,5 tahun, kini jatuh di angka 55,4 tahun. Sekitar 85 persen penduduk kehilangan mata pencaharian dan seperlima angkatan kerja kini mencari uang lewat perang dengan menjadi gerilayawan bayaran, melakukan penculikan atau penjarahan.
Lembaga penelitian Frontier Economics memperkirakan perekonomian Suriah kehilangan sekitar 275 miliar US Dollar potensi pertumbuhan akibat perang. Jika hingga 2020 konflik belum mereda, potensi yang lenyap bahkan mencapai 1,3 triliun US Dollar atau sepuluh kali lipat dari anggaran belanja Indonesia tahun 2016.

Musnahnya jejak peradaban
Namun kerugian tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan hilangnya situs-situs bersejarah. UNESCO mencatat hampir semua situs warisan dunia yang ada di Suriah saat ini telah punah atau mengalami kerusakan berat.
Termasuk diantara yang lenyap adalah kota tua Aleppo dan Bosra, benteng Crac des Chevaliers bekas peninggalan perang salib dan situs kuno Palmyra yang dihancurkan oleh Islamic State.
Penguasa Suriah Bashar al Assad tentunya punya sudut pandang lain menyimak perang saudara di negerinya sendiri. "Semua cerita itu tidak benar. Itu tidak terjadi, melainkan cuma propaganda," tuturnya belum lama ini dalam wawancara dengan media Jerman, ARD.

INILAH AKTOR UTAMA PERANG SURIAH

Bashar al Assad
Presiden Suriah ini bersama rezim di Damaskus adalah penyebab utama pecahnya perang saudara yang dimulai 2011. Rakyat yang tak puas atas kepemimpinannya 4 tahun silam menggelar berbagai aksi protes yang dijawab dengan tembakan peluru tajam. Sumbu peledak perang adalah tewasnya beberapa remaja yang menggambar grafiti anti Assad di tahanan aparat keamanan.

Pemberontak Suriah
Mereka menamakan diri kelompok oposisi. Dalam kenyataanya mereka adalah kelompok militan yang punya berbagai agenda, dan kebetulan punya satu sasaran, yaitu menumbangkan rezim Bashar al Assad. Kelompok paling menonjol adalah Free Syrian Army, serta Front al Nusra yang merupakan cabang al Qaida di Suriah. Akibat perang saudara, 300.000 tewas dan lebih 12 juta warga Suriah mengungsi.

Islamic State (IS)
Walaupun baru muncul awal tahun 2014, IS merupakan kelompok bersenjata paling kuat dan ditakuti. Kelompok Sunni ini didukung pakar militer bekas pasukan elit Saddam Hussein dari Irak. Anggotanya berdatangan dari berbagai negara Eropa. Kebanyakan anak muda, militan, radikal, dan punya keahlian di bidang militer maupun teknologi informatika. IS kini menguasai kawasan luas di Suriah dan Irak.

Arab Saudi
Merupakan negara pendukung kelompok pemberontak Sunni di Suriah. Arab Saudi terutama ingin menumbangkan rezim Assad dan meredam hegemoni penunjang kekuasaanya, yaitu Iran. Mereka sekaligus juga memerangi IS agar tidak semakin kuat. Riyadh punya kepentingan agar Suriah tidak runtuh, yang akan menyeret Libanon dan Irak serta seluruh kawasan ke situasi chaos.

Iran
Sebagai negara pelindung kaum Syiah, Iran mendukung milisi Hisbullah di Libanon yang bertempur membela rezim Al Assad. Iran juga mengirim tentara serta penasehat milternya ke Damaskus. Mula-mula kehadiran Iran tidak dianggap. Tapi perkembangan situasi menyebabkan pemain besar lainnya kini mulai merangkul pemerintah di Teheran untuk solusi krisis Suriah.

Turki
Ankara takut terbentuknya negara Kurdistan di Suriah. Karena itu dengan segala cara hal ini hendak dicegah. Turki juga "melatih" pemberontak Suriah dengan dibantu biaya AS. Presiden Recep Tayyip Erdogan juga berseteru dengan Assad. Selain itu kaum Kurdi di Irak juga makin kuat karena mendapat dukungan Iran. Inilah yang membuat Turki mengerahkan militernya ke perbatasan atau melewatinya.

Amerika Serikat
Keterlibatan Washington di kawasan dimulai 2003 dengan tumbangkan penguasa Irak, Saddam Hussein. Vakum kekuasaan picu runtuhnya Irak dan destabilisasi keamanan hingga ke Suriah. Kondisi ini yang juga ciptakan Islamic State (IS) yang mampu kuasai kawasan luas di Irak dan Suriah. AS juga membiayai pelatihan pemberontak "moderat" dengan dana 500 juta US Dolar, sebagian menyeberang ke Al Qaida.

Rusia
Moskow dikenal sebagai pendukung rezim di Damaskus. Akhir 2015 Rusia memutuskan lancarkan serangan udara terhadap IS. Operasi militer ini memicu kecaman di kalangan NATO. AS dan Turki mengklaim serangan udara Rusia ditujukan ke kelompok pemberontak anti Assad. Insiden penembakan jet Rusia oleh militer Turki makin panaskan situasi.
Penulis: as/ml (dari berbagai sumber)

Acarbose, Obat Diabetes

Acarbose merupakan kelompok obat antidiabetes terutama diabetes tipe 2, yang berfungsi mengontrol kadar gula darah dengan cara memperlambat proses pencernaan karbohidrat menjadi senyawa gula yang lebih sederhana. 

Obat ini membantu menurunkan kadar gula dalam darah setelah makan. Selain mengubah pola konsumsi makanan serta program olah gerak tubuh, para pengidap diabetes biasanya juga diberikan acarbose sebagai obat tambahan.

Untuk mengendalikan diabetes, acarbose bisa dikonsumsi bersama dengan obat lainnya seperti insulin, metformin, sulfonilurea. Jika kadar gula darah dapat terkontrol, maka penderita diabetes bisa terhindar dari kerusakan ginjal, stroke, kebutaan, kerusakan saraf, serangan jantung, kehilangan keseimbangan serta disfungsi seksual. 

Obat ini tidak diperuntukkan bagi penderita diabetes yang berusia 18 tahun ke bawah, dan harus dikonsumsi sesuai dengan resep dokter.

Dosis Acarbose

Umumnya, konsumsi acarbose pada masa awal pengobatan adalah 50 - 150 mg per hari. Jika tubuh penderita merespon pengobatan dengan baik, maka dalam rentang waktu minimal enam hingga delapan minggu dosis ditingkatkan menjadi 150 mg per hari. 
Untuk mendapatkan efek pengobatan maksimal, acarbose harus dikonsumsi secara teratur dan disesuaikan dengan pola konsumsi makanan penderita diabetes.

Rabu, 28 Februari 2018

Aku Tak Akan


Tuhan …
Aku tak akan memohon padaMu.
Karena sesungguhnya Engkau telah tahu
segala kebutuhan dan keinginanku.
Kalau aku masih tetap memohon padaMu
berarti aku tak meyakini Kemaha-tahuan dan Kasih sayangMu.

Tuhan …
Aku tak akan berbuat sesuatu untukMu.
Karena sesungguhnya Engkau tak membutuhkan apapun
dari mahluk ciptaanMu.
Kalau aku masih tetap berbuat sesuatu untukMu
berarti aku masih pamrih dan menyangsikan KebesaranMu.

Tuhan ….
Aku tak akan takut berbuat apapun.
Karena sesungguhnya Engkau tahu niat baik
seluruh perbuatan hambaMu.
Kalaupun yang kuperbuat ternyata keliru
aku sangat meyakini akan Kemaha BijaksanaanMu.

Tuhan …
Aku tak akan mengadu kepadaMu
tentang kegaduhan bangsa ini.
Karena sesungguhnya Engkaulah yang mengatur segalanya.
Kalau aku masih merisaukannya
berarti aku menyangsikan keberadaanMu.

Tuhan …
Aku ingin bisa menjalani kehidupan ini
sesuai petunjuk dan kehendakMu
tanpa mengharapkan sesuatu apapun
selain cinta Mu.