Seorang anak merasa marah dan tidak suka tinggal di rumah. Dia merasa ayahnya terlalu cerewet karena selalu menasihati dan ‘ngomel’ untuk hal2 sepele yang dia lakukan :
" Kamu meninggalkan kamar tanpa mematikan AC " ;
“ TV menyala di ruang tengah , tetapi tidak ada yang menonton. Ayo matikan ! " ;
" Kalau keluar masuk rumah , tutuplah pintu dengan benar ” ;
" Bersikaplah jujur selalu , jawablah semua pertanyaan apa adanya tanpa ragu dan harus berbohong ...." ;
" Kalau bisa berbagi dengan adikmu , kenapa mesti berebut sih.." dsb.
Sang anak merasa tidak suka , dan dia merasa selalu salah sehingga ayahnya kerap mengomeli dia untuk hal2 sepele spt itu.
Sampai suatu hari dia beranjak dewasa dan mendapat panggilan untuk melakukan interview.
“ Kalau saya mendapatkan pekerjaan ini , saya punya penghasilan sendiri dan akan meninggalkan rumah ini. Tdak ada lagi ayah yang cerewet " begitu pikirnya.
Ketika tiba di tempat interview , dia mendapati sebuah Kantor dengan halaman yang begitu luasnya. Dia memperhatikan bahwa tidak ada penjaga keamanan di halaman kantor tersebut. Meskipun pagarnya terbuka , dia melihat slot kuncinya menonjol keluar dan orang bisa tersangkut jika masuk melalui pagar tsb. Dia membereskan slot kunci tsb dengan benar , menutup pintu pagar dan berjalan masuk.
Jalan setapak itu dihiasi taman dengan tanaman bunga di kedua sisinya. Dia melihat air mengalir dari sebuah pipa selang dan tidak terlihat seorang pun bekerja ditaman. Airnya meluap hingga membasahi jalan setapak. Dia mengangkat selang tersebut , mematikan keran , merapikan dan meletakkannya di dekat salah satu tanaman sebelum melangkah menuju bangunan kantor.
Memasuki bangunan kantor , tidak ada seorang pun di area resepsionis. Namun terdapat pengumuman yang mengatakan bahwa interview ada di lantai atas.
Saat itu pukul 10 pagi , dan cuaca sangat cerah. Dia melihat lampu depan yang masih menyala. Tiba-tiba dia teringat omelan ayahnya : " Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ? " _seolah2 omelan tersebut nyata dan terngiang2 di kepalanya. Meskipun merasa jengkel oleh pikiran tersebut , dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu depan tersebut.
Tibalah dia di lantai atas yang berupa sebuah aula besar , dimana terlihat banyak calon karyawan duduk menunggu giliran mereka di interview. Dia melihat banyaknya orang tsb dan bertanya-tanya apakah dia masih punya kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan itu.
Dia memasuki aula tsb dengan sedikit ragu dan menginjak keset " Selamat Datang " yang ditempatkan di depan pintu masuk aula. Dia memperhatikan bahwa keset itu terbalik. Bagaikan sebuah kebiasaan , dia pun langsung membalikkan keset tsb dan merapikannya.
Di dalam aula dia melihat deretan kursi untuk menunggu giliran wawancara. Sejumlah kipas angin berputar di deretan bangku2 tersebut. Beberapa baris di depan terlihat penuh dengan orang yang menunggu giliran , sementara barisan belakang sudah mulai kosong. Tiba-tiba
dia mendengar suara ayahnya lagi dalam pikirannya " Mengapa kipas angin menyala di ruangan tetapi tidak ada orang yang menggunakan nya ? " Dia segera mematikan kipas angin yang tidak diperlukan dan duduk di salah satu kursi kosong disana.
Dia memperhatikan orang yang memasuki ruang interview , namun tidak lama segera keluar dari pintu lainnya. Dia jadi bertanya-tanya , tes apa yang ditanyakan dalam interview tersebut.
Kini tiba gilirannya , dan dia segera memasuki ruangan interview dengan sedikit perasaan ragu. Di hadapan nya duduk sang bos yang melakukan interview dan dia segera menyerahkan berkas2 nya. Bos itu mengambil berkas2 lamarannya tersebut dan tanpa melihat langsung bertanya " Kapan Anda bisa mulai bekerja ? "
Sang anak berpikir , " Apakah ini pertanyaan jebakan yang ditanyakan dalam interview atau apakah benar saya langsung diterima " dia pun terlihat bingung.
" Apa yang kamu pikirkan ? " tanya sang bos. “ Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini. Dengan bertanya kami tidak bisa melihat dan menilai langsung tanggung jawab dan keterampilan seseorang. Tes interview kami menilai sikap dan tanggung jawab. Sebenarnya kami telah memberikan tes tersebut pada semua kandidat dan mengamati semua orang melalui CCTV. Tidak ada seorang pun yang datang hari ini untuk membereskan slot kunci pagar dan menutupnya , merapikan pipa selang dan mematikan airnya , merapikan keset Selamat Datang , mematikan kipas atau lampu yang tidak berguna kecuali anda. Anda adalah satu-satunya pelamar yang melakukan itu. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda untuk pekerjaan ini ” kata sang bos.
Sang anak terdiam. Selama ini dia selalu merasa jengkel terhadap disiplin nasihat dan omelan ayahnya. Sekarang dia baru menyadari bahwa hal tsb lah yang telah memberinya pekerjaan. Kekesalan dan kemarahannya kepada sang ayah tiba-tiba sirna.
Dia memutuskan menerima pekerjaan tersebut dan pulang ke rumah dengan bahagia.
Apapun yang dikatakan ayah kepada kita , hanyalah untuk kebaikan kita. Dia melakukan itu untuk membentuk kebiasaan baik bagi kita dan memberi kita masa depan yang cerah !
Batu karang tidak akan menjadi patung yang indah tanpa menahan rasa sakit pahat yang memotongnya.
Agar kita menjadi sebuah patung yang indah , terkadang kita perlu menerima 'pahatan' terhadap kebiasaan dan perilaku buruk yang ada pada diri kita sendiri. Itulah yang dilakukan ayah kita ketika dia mendisiplinkan kita.
Seorang ibu menggendong anaknya di pinggang untuk memberinya makan , memeluknya , dan membuatnya tidur. Tetapi ayah tidak demikian. Dia mengangkat anak itu ke pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dia lihat.
Ayah bisa menjadi teman ketika kita berusia lima tahun , guru ketika kita berusia sepuluh tahun , atau polisi yang siap menghukum ketika kita berusia sekitar dua puluh tahun , dan dia selalu menjadi petunjuk bagi kita di sepanjang hidupnya.
Tidak ada gunanya menyakiti orang tua kita ketika mereka masih hidup dan mengingat tentang mereka ketika mereka telah pergi.
Perlakukan mereka dengan baik selalu.
_Jangan meremehkan nasihat dan hal2 sepele yang mereka ingatkan kepada kita , karena hal-hal itulah yang mungkin akan memberikan kita hidup ketika mereka sudah tak lagi ada bersama-sama dengan kita..
SANGKAN PARANING DUMADI ; Telah menjelajahi kehidupan lebih dari 50 tahun, saatnya merenungi dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk "hari kemudian"
Rabu, 18 April 2018
Kamis, 05 April 2018
Teleportasi Perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad
Salah satu mukjizat Nabi Muhammad adalah diperjalankannya beliau atas kehendak Allah, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian berlanjut ke Sidratul Muntaha, yang dikenal sebagai Isra Miraj.
Perjalanan Isra Miraj merupakan perjalanan yang sangat jauh namun dapat ditempuh dengan waktu yang relatif pendek. Kecepatan yang digunakan berlipat-lipat dari kecepatan cahaya.
Untuk keperluan itu, Allah mengutus makhluk yang diciptakan dari cahaya, yakni Malaikat Jibril sebagai pemandu perjalanan. Selain itu, dihadirkan juga kendaraan khusus bernama Buraq, makhluk berbadan cahaya dari alam malakut.
Dalam ilmu fisika, seorang manusia dengan badan bermateri padat, apabila dipaksakan bergerak dengan kecepatan cahaya (300.000 km/detik), kemungkinan badannya akan tercerai berai karena ikatan antar molekul dan atom dapat terlepas.
Berpedoman kepada teori fisika ketika seseorang melaksanakan perjalanan dengan kecepatan cahaya, susunan materi tubuhnya diubah dahulu menjadi cahaya, proses ini dikenal dalam teori Annihilasi.
Teori Annihilasi mengatakan bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materinya. Dan jika materi direaksikan dengan anti materinya, maka kedua partikel tersebut bisa lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gamma.
Dan apabila seseorang yang telah diubah menjadi cahaya, kemudian bergerak dengan kecepatan cahaya, sesampainya di tempat tujuan maka akan kembali menjadi materi. Dalam fisika kuantum, peristiwa ini lebih dikenal dengan nama teleportasi.
Dengan demikian, perjalanan Isra Miraj yang dilakukan Nabi Muhammad bisa dijelaskan dalam ilmu fisika sebagai peristiwa teleportasi. Dan sudah sewajarnya, jika yang menjadi pengiring Rasulullah selama perjalanan adalah juga makhluk-makhluk cahaya, seperti Malaikat Jibril dan Buraq.
Referensi :
Rabu, 04 April 2018
Isra Miraj Menembus Batas Ruang dan Waktu (HAZ)
Asswrwb Pembaca yang beriman,
Isra Miraj adalah peristiwa Nabi Muhammad diperjalanjan Allah diwaktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha dan dari Masjid Agsha ke Sidratul Muntaha. Jangka waktu dunia adalah semalam, jarak dan ruang dunia adalah Makkah ke Palestina sejauh 3000 km lalu ke langit. Peristiwa ini terjadi saat sebelum Hijrah disaat Agama Islam sangat tertekan dan penganiayaan. Selain itu peristiwa ini terjadi saat 2 tokoh pendukung Nabi wafat yaitu Istri tercinta Siti Khadijah ra dan Paman Abu Tholib maka tingkat kesedihan Nabi saat itu telah berada di titik paling menyedihkan. Disaat itulah Allah memberi kabar gembira dengan peristiwa Isra Miraj.
Perjalanan Isra Miraj ini menembus batas ruang dan waktu sehingga dapat melakukan back to the future. Secara teori relatifitas maka dapatlah dimungkinkan seseorang keluar dari dimensi ruang dan waktu. Sulit dijelaskan pada orang awam bahwa waktu itu memiliki relatifitas. Bila diasumsikan bahwa Nabi Muhammad saat Isra Miraj mengalami relatifitas maka dapat dipahami bahw aNabi dapat bertemu dengan Nabi sebelumnya sampai Nabi Adam dan mengetahui masa depan perjalanan Islam , perjalanan Dunia dan Hari Qiyamat.
Kisah yang diperoleh dari perjalanan Nabi ini diceritakan kembali dengan cara verbal, apa yang dialami diceritakan sesuai dengan Hadist tentang Isra Miraj.
Isra Miraj adalah sebagai ujian keimanan bagi setiap manusia mulai dari jaman nabi hingga sekarang. Banyak yang ragu bahkan tidak percaya tentang peristiwa ini.
Saat jaman Nabi , saat itu banyak yang murtad dan mencemooh cerita ini , maka Abu Bakar secara bulat membenarkan peristiwa ini sehingga Abu Bakar mendapat gelar dari Nabi sebagai orang yang membenarkan Ashshiddiq, yaitu menjadi Abu Bakar Asshshiddiq ra.
Bagi kita saat ini adalah wajib mengimani adanya peristiwa tersebut sebagaimana Abu Bakar Ashshiddiq ra.
Mampukah kita beriman sebagaimana Abu Bakar Ashshiddiq ra?
Smoga ada manfaatnya
Wasswrwb Hariyanto Abu Yazid
Benarkah Indonesia di Ambang Kehancuran? (oleh Prof. KBA)
Indonesia akan memperingati 100 tahun kemerdekaan pada tahun 2045. Dalam buku Masa Depan Dunia (2018), keadaan Indonesia memang cukup memprihatinkan, terutama menjelang 2030, ketika konflik terbuka Indonesia dengan pihak asing terjadi secara terbuka. Model perang yang dijalankan boleh jadi melalui perang proxy atau perang hybrida. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Indonesia telah masuk dalam perangkap rangkaian perang kosmik (cosmic war).
Indonesia saat ini dikelola oleh sistem kekeluargaan, untuk bukan mengatakan dinasti. Negara ini sama sekali bukan pada sistem tatanan yang disesuaikan perkembangan gagasan tatanan dunia (world order) yang menjadi bagian dari studi geo-politik. Model pengelolaan negara seperti ini sangat sulit menuju pada proses sebagai great transformative state (negara yang melakukan transformasi). Sehingga pola ini menyebabkan negara ini pada posisi sustain state yang menjalankan persoalan sebagaimana biasanya (bussines as usual). Tidak berani melakukan lompatan-lompatan besar di dalam mengelola negara. Ketika disebut pengelolaan negara, di benak masyarakat akan muncul keluarga siapa saja yang akan terus mau mengelola negara ini.
Indonesia saat ini dikelola oleh sistem kekeluargaan, untuk bukan mengatakan dinasti. Negara ini sama sekali bukan pada sistem tatanan yang disesuaikan perkembangan gagasan tatanan dunia (world order) yang menjadi bagian dari studi geo-politik. Model pengelolaan negara seperti ini sangat sulit menuju pada proses sebagai great transformative state (negara yang melakukan transformasi). Sehingga pola ini menyebabkan negara ini pada posisi sustain state yang menjalankan persoalan sebagaimana biasanya (bussines as usual). Tidak berani melakukan lompatan-lompatan besar di dalam mengelola negara. Ketika disebut pengelolaan negara, di benak masyarakat akan muncul keluarga siapa saja yang akan terus mau mengelola negara ini.
Pola ini dikenal dengan model Return to Majapahit Era (RME). Maksudnya, Indonesia dikelola persis seperti apa yang terjadi pada saat kerajaan Majapahit. Ada sejarawan Indonesia yang mengatakan bahwa kondisi negara melalui model ini adalah salah kaprah, sebagaimana dapat dibaca buku Menjadi Indonesia (2006). Pola RME ini memang seperti yang dipraktikkan oleh pemerintah saat ini, yaitu melakukan sesuatu untuk memuaskan dinasti politik dan memberikan ruang sebanyak mungkin pada kesempatan proxy war bagi negara asing untuk mencampuri Indonesia. Era Order Baru dapat dikawal melalui konsep stabilitas dan pembangunan. Namun pada tahun 1998, pola ini hancur hingga melahirkan Era Reformasi.
Jika memakai siklus RME, maka polanya adalah setiap 30 tahun sekali, Indonesia akan mengalami goncangan yang sangat boleh jadi akan berdarah-darah. Era Orde Lama berakhir saat komunis hendak menguasai Indonesia. Dalam rentang 30 tahun sejak merdeka, Indonesia diuji melalui berbagai pemberontakkan hingga melahirkan Orde Baru. Era Orde Baru melalui jimat stabilitas dan pembangunan juga kolap pada tahun 1998. Setelah itu, pola RME dikemudikan oleh pemerintah Indonesia. Puncaknya adalah pemerintah sekarang yang membuka seluruh akses bumi Indonesia kepada pihak asing melalui berbagai kemudahan. Di sini, yang dipuaskan adalah tetap pada keluarga-keluarga yang menguasai ekonomi dan politik.
Jika 1998 ditambah 30 tahun, maka 2028 merupakan tikungan sejarah yang harus dihadapi akibat dari pola RME ini. Karena itu, agak masuk akal jika pada pakar memprediksi Indonesia akan hancur pada tahun 2030. Karena siklus sejarah Indonesia akan berada pada tahun 2028 hingga 2030. Pada tahun tersebut, diprediksi akan muncul global paradok yang merupakan hasil kajian pihak intelijen Amerika Serikat dalam Global Trend tahun 2030-an. Dalam pusaran global paradok inilah Indonesia harus menentukan sikap apakah tetap bertahan melalui pola Return to Majapahit Era atau memilih pola baru untuk menyesuaikan dengan kondisi pada tahun-tahun 2030-an.
Jika dilihat dari perang proxy yang sedang berlangsung, dipastikan para pemain politik dan ekonomi Indonesia pada tahun 2030 adalah mereka yang lahir 1980-an dan 1990-an. Generasi ini sama sekali tidak bersentuhan dengan berbagai intrik pada Orde Lama dan Orde Baru. Adapun pemain politik dan ekonomi di Indonesia saat ini hampir kelahiran 1950-an, baik keluarga pribumi maupun non-pribumi. Bahkan para sesepuh bangsa sangat mungkin lahir pada tahun 1940-an. Mereka trauma dengan masa lalu, namun sudah mulai lelah untuk berpikir untuk masa depan, karena sistem pengelolaan negara lebih banyak memakai model sistem kekerabatan (family base). Namun energi nasionalisme generasi tua ini masih sangat kental sekali untuk mempertahankan Indonesia memasuki usia 100 tahun.
Jika dilihat dari perang proxy yang sedang berlangsung, dipastikan para pemain politik dan ekonomi Indonesia pada tahun 2030 adalah mereka yang lahir 1980-an dan 1990-an. Generasi ini sama sekali tidak bersentuhan dengan berbagai intrik pada Orde Lama dan Orde Baru. Adapun pemain politik dan ekonomi di Indonesia saat ini hampir kelahiran 1950-an, baik keluarga pribumi maupun non-pribumi. Bahkan para sesepuh bangsa sangat mungkin lahir pada tahun 1940-an. Mereka trauma dengan masa lalu, namun sudah mulai lelah untuk berpikir untuk masa depan, karena sistem pengelolaan negara lebih banyak memakai model sistem kekerabatan (family base). Namun energi nasionalisme generasi tua ini masih sangat kental sekali untuk mempertahankan Indonesia memasuki usia 100 tahun.
Dalam perang proxy, konsentrasi pada pola pikir generasi suatu bangsa menjadi begitu penting. Filosofinya adalah who think what (siapa memikirkan apa). Dalam buku Masa Depan Dunia diprediksi 2030-an ke atas akan terjadi proses Balkanisasi Nusantara. Proses ini boleh jadi seperti Arab Spring. Hal ini disebabkan energi sumber daya alam yang disedot melalui pola RME yang dijalankan pemerintahan saat ini, akan memunculkan kesadaran baru pada generasi yang lahir 1990-an dan 2000-an ke atas. Mereka tidak diberikan kesempatan untuk mengelola dan menikmati daerahnya masing-masing secara independen. Karena model yang dijalankan sekarang persis seperti yang diinginkan oleh pemerintah asing yang sedang melakukan investasi besar-besaran di Indonesia.
Lapangan kerja, persoalan demografi, kepentingan global, perang proxy, konflik Laut Cina Selatan, dan minimnya tabungan nasionalisme diprediksi akan menjadi pemicu konflik di Indonesia pada tahun 2030-an. Era digital akan semakin memperlebar jarak kekuasaan melalui kharisma dan politik. Berbagai studi menyebutkan bahwa era digital merupakan bagian dari rekayasa global untuk menuju pada Pikiran Global (Global Mind) dan Satu Dunia (One World). Persoalan-persoalan tersebut tentu akan memaksa generasi yang lahir 1990-an ke atas untuk berpikir apa makna bernegara bagi mereka dalam era Global Mind dan One World. Jika tabungan nasionalisme tidak begitu kuat, maka tidak mengejutkan kalau generasi sebelum 1980-an membiarkan tanah dan air dikuasai oleh asing, generasi berikutnya akan dan sedang membiarkan isi pikiran mereka dikuasi oleh asing pula. Artinya, negara tidak mampu lagi berkuasa atas pikiran rakyatnya sendiri.
Puncak Balkanisasi Nusantara bersamaan dengan Satu Dunia (One World) di pentas global. Pendudukan dunia dipaksa bukan berpikir untuk negaranya, tetapi untuk kebumian. Pola-pola ini telah dijalankan oleh berbagai lembaga-lembaga strategis dunia melalui non-state actors. Kemunculan tokoh yang bukan dari negara (non-state actors) dalam pengambilan kebijakan global, telah mengurangi pengaruh negara-negara yang berada di level sustain state dan barbaric state (negara barbar). Para non-state actors ini pada prinsipnya berpikir dalam kerangka melakukan great transformative state.
Dalam buku Masa Depan Dunia saya menyebutkan tahapan setelah Balkanisasi Nusantara adalah kemunculan New Indonesian Country (NIC) pada tahun 2070-an ke atas. Mereka yang menjadi aktor adalah generasi yang lahir pada tahun 2020-an ke atas. Generasi ini lahir dalam proses kemelut bangsa pada tahun 2030-an. Mereka akan mengkonsep kembali alasan bernegara dan merumuskan kembali bagaimana bentuk bangsa Indonesia. Hanya saja, sangat boleh jadi fase NIC ini terjadi manakala para aktor-aktor sekarang yang mendominasi politik dan ekonomi di Indonesia tidak menyaksikan bagaimana generasi baru tersebut. Namun, ulah generasi sekarang tentu akan dipikul oleh generasi yang akan datang.
Karena itu, kita berpesan pada aktor-aktor sekarang supaya menyisihkan sedikit bumi Indonesia kepada generasi 2020-an. Fase NIC adalah fase kebangkitan Indonesia yang sangat boleh jadi cemerlang atau bahkan sebaliknya. Di atas semua itu, apapun yang diprediksi tentu saja merupakan hipotesa berdasarkan kajian akademik. Sejarah selalu terulang, hanya aktor-aktornya saja yang bertukar. Kita berharap walaupun Indonesia diprediksi hancur pada tahun 2030-an, masih ada kesempatan untuk membina generasi muda bangsa Indonesia untuk berpikir apa yang mereka akan lakukan pada tahun 2050-an ke atas.
Akhirnya, tulisan ini hanya sebagai curah pendapat tentang arah dan masa depan Indonesia. Sangat boleh jadi apapun yang diprediksi di atas keliru adanya. Namun semakin kuat kita berpikir tentang kehancuran bangsa Indonesia, sejatinya semakin kuat pula energi kita untuk memperbaiki bangsa ini dari sekarang. Apapun yang terjadi di masa yang akan datang, tentu dipicu oleh ulah para aktor-aktor atau dalang-dalang yang memutar “remote control” di “ruang kemudi” sejarah bangsa Indonesia saat ini. Kepada mereka kita berpesan janganlah berpikir apa yang anda dapatkan dalam kemelut bangsa, tetapi pikirlah yang akan dinikmati oleh generasi bangsa berikutnya.
https://steemit.com/indonesia/@kba13/benarkah-indonesia-di-ambang-kehancuran
Rabu, 28 Maret 2018
Peran dan Fungsi Masjid
4 Pilar Kehidupan Umat Islam
Ada empat hal yang
menjadi pilar kehidupan umat Islam, yaitu: Al-Qur’an, Sunnah Rasul Saw. ,
Ulama, dan Masjid.
Keempat pilar ini saling
terkait dan tidak dapat dipisahkan. Bila kempat pilar tersebut tegak dengan
baik dan kokoh maka kehidupan umat Islam akan eksis dan berjaya. Namun bila ada
salah satu diantaranya tidak berperan dalam kehidupan nyata umat Islam, maka kehidupan
umat Islam akan rapuh dan bisa jadi akan lenyap di atas bumi.
1. Al-Qur’an merupakan
kitab suci yang berisi nilai-nilai kebajikan sebagai pedoman hidup bagi seluruh manusia agar dapat menjalani kehidupan dengan
kemuliaan dan kebahagian hingga di akhirat kelak.
2. Sunnah Rasul saw
merupakan segala sikap, prilaku dan perkataan (sabda) Nabi Muhammad Saw sebagai
penjelas dan perinci nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.
3. Ulama adalah pewaris para nabi, hal itu disabdakan oleh Rasulullah sebagaimana dalam
hadis riwayat At-Tirmidzi. Artinya
para ulama merupakan pewaris perbendaharaan ilmu agama. Sehingga, ilmu syariat
terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya.
4. Sedangkan Masjid selain
sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat pemberdayaan
Umat. Di sinilah umat Islam beribadah, bertemu, bersilaturrahmi, bertatap muka membahas
urusan keummatan.
Keberadaan
masjid bagi umat Islam bukan hanya sekedar sebagai tempat beribadah tetapi
lebih dari itu juga menjadi tempat untuk memenuhi segala
kebutuhan umat islam.
Pada
zaman Rosulullah masjid menjadi pusat kegiatan islam mulai sebagai pengaturan
strategi perang, berdialog, kegiatan sosial serta untuk beribadah umat
islam.
Dari uraian singkat
diatas, dapat disimpulkan, umat Islam tidak mungkin dapat lepas dan dipisahkan
dari Masjid, karena Masjid merupakan salah satu pilar penopang kelangsungan
hidup umat Islam.
Peran dan fungsi masjid
Selain
digunakan sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan pusat kehidupan
komunitas muslim, seperti diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Qur'an.
Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas
sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.
Pada
zaman Nabi SAW fungsi masjid selain sebagai tempat ibadah juga difungsikan
sebagai pusat dakwah dan pemerintahan.
Di masjid Rasulullah menyampaikan khutbah-khutbah dan
pengarahan-pengarahannya mengenai semua masalah kehidupan, baik yang berkenaan
dengan masalah ad-Din (agama), sosial, maupun politik. Di masjid pula Rasulullah
SAW menerima utusan-utusan dari berbagai jazirah Arab yang datang.
Pendeknya, masjid pada zaman Rasulullah SAW merupakan pusat
seluruh kegiatan kaum Muslim.
Peran Masjid.
Masjid nabawi di madinah telah menyebarkan fungsinya sehingga
lahir peranan mesjid yang beraneka ragam.
Sejarah mencatat tidak kurang dari sepuluh peranan yang telah di emban oleh
mesjid nabawi yaitu sebagai berikut:
1. Tempat ibadah.
2. Tempat pendidikan.
3. Tempat santunan sosial.
4. Pusat penerangan atau pembelaan agama.
5. Tempat konsultasi dan komunikasi.
6. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.
7. Aula dan tempat menerima tamu.
8. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.
9. Tempat pengobatan para korban perang.
10. Tempat menawan tahanan.
Fungsi
Masjid. Secara
garis besar Masjid mempunyai 4 fungsi, yaitu :
1.
Fungsi Keagamaan : Ritual Shalat, I’tikaf, dzikir, membaca al-Qur,an, dsb
2.
Fungsi Pendidikan : khotbah, Tausiah, diskusi, seminar, pelatihan, perpustakaan,
dsb.
3.
Fungsi Sosial : masjid sebagai pusat kegiatan sosial, seperti pengumpulan
dan penyaluran dana (ZIS) bagi dhuafa, tempat singgah bagi musafir, asrama (tidak tepat jika dilakukan
saat ini), serta sarana silaturahmi persaudaraan,
dsb
4.
Fungsi Polkam : diskusi, musyawarah, rapat dan menyusun
kekuatan umat Islam.
Ket : Beberapa masjid juga sering
berpartisipasi dalam demonstrasi, penandatanganan petisi, dan kegiatan politik lainnya.
Memfungsikan Masjid
Sebagai Basis Kajian Politik
Salah satu pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH
Cholil Ridwan mewakili banyak ulama menyampaikan keprihatinannya terhadap semakin
terdegradasi fungsi masjid yang hanya digunakan sebagai tempat aktivitas ibadah
di Tanah Air.
Karena itu, Cholil bersama sejumlah tokoh masyarakat berupaya
menghidupkan kembali fungsi masjid seperti masa Rasulullah sebagai basis kajian
politik masyakat Islam. Kesadaran partisipasi politik umat Islam kian lemah.
Akibatnya, setiap perjuangan politik umat Islam selalu kalah dan tidak
diperhitungkan. Pengajian politik Islam
yang berbasis di masjid ini adalah upaya untuk memberikan pemahaman politik
Islam yang benar kepada umat.
Saat ini, aktivitas pengajian politik Islam yang diprakarsainya
masih terpusat di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, setiap hari
Ahad. Dibentuknya pengajian politik
Islam ini (pada 2012) karena kekecewaan selalu kalahnya perjuangan politik umat
Islam.
Tujuan pengajian politik ini bukan untuk mengarahkan umat ke
salah satu kelompok dan partai politik tertentu, tetapi untuk menyatukan pandangan akan pentingnya
umat Islam berpartisipasi memilih calon pemimpin yang benar sesuai anjuran
Alquran dan hadis.
Dalam Islam, memilih pemimpin adalah tanggung jawab yang harus
dilakukan demi kepentingan umat. “Umat harus memiliki pemahaman yang benar
bagaimana memilih pemimpin sesuai ajaran Islam.”
Namun, masjid sebagai tempat ibadah umat Islam harus tetap
menjaga netralitasnya dari kepentingan politik praktis.
Kamis, 08 Maret 2018
Tasawuf Bid'ah ???
Dalam ceramahnya,
Ustadz Yazid Bin Abdul Qodir Jawas mengatakan:
> Nabi
tidak pernah mengajarkan tariqah/ tasawuf
(berarti tasawuf bidah dan sesat)
> Orang2
tasawuf/Sufi bebas dari beban syariat (tdk wajib shalat, puasa dsb)
> Orang2
Sufi merupakan walinya syaiton.
> Dsb.
Sepengetahuan saya tasawuf tidak seperti yg disampaikan oleh ustadz Yazid
Jawas. Saya rasa ustadz Yazid tidak paham dengan ilmu tasawuf.
Tasawuf merupakan salah satu dari 3 cabang ilmu dalam agama
Islam, yaitu Tauhid (akidah), Fiqih (syariah) dan Tasawuf (akhlaq). Tasawuf adalah
ilmu yang bertujuan untuk membersihkan hati (Qalbun Salim) dan mensucikan jiwa (Tazkiyatun Nafs)
melalui berbagai amalan (seperti dzikrullah,
muraqabah, zuhud, dsb) guna mencapai kedekatan bathin dengan Allah SWT (Makrifat).
Secara
umum tasawuf sering dipahami sebagai akhlak untuk mendekati Tuhan,
artinya, apabila seseorang berkeinginan mendekati Tuhan, maka serangkaian
akhlak yang harus dikerjakan itu dinamakan tasawuf.
Seperti ilmu tauhid dan fiqih, istilah tasawuf tidak dikenal pada zaman Rasulullah Saw,
tetapi pada masa itu dikenal istilah-istilah amalan seperti zuhud, wara’, muraqabah,
dan beberapa kata kunci lain dalam ilmu tasawuf.
Istilah tasawuf muncul setelah generasi ketiga (setelah generasi
sahabat Nabi, Tabi'in, dan Itabi'in), pada
Abad ke 11 (5 H). Setelah generasi
ketiga itulah muncul para sufi yang mengembangkan ilmu tasawuf. Abu Hasan al-Fusyandi mengatakan, "Dahulu
di zaman Rasulullah tasawuf tidak ada namanya, tetapi ada buktinya"
Dalam ilmu tasawuf terdapat 3
tingkatan perjalanan spiritual, yaitu SYARI’AT (hukum/aturan), HAKIKAT (kebenaran
esensial), dan MAKRIFAT (mengenal
Allah senyatanya). Tingkatan ini searah dengan tiga tingkatan keimanan
dalam pengetahuan agama Islam secara umum, yaitu ISLAM, IMAN dan IHSAN.
Sedangkan istilah TAREKAT (tariqah) adalah jalan atau cara yang
ditempuh untuk mencapai Makrifat yaitu kedekatan secara batiniah kepada Allah, yang juga dikenal dengan istilah Wahdatul Wujud. Istilah tarekat juga menjadi nama lain dari aliran tasawuf.
Berbagai
amalan tarekat yang dilakukan oleh seorang Salik (murid) atas panduan seorang
mursyid (guru spiritual) adalah berupa dzikir, wirid (riyadhah), puasa dan
prilaku spiritual lainnya (seperti tidak bicara kalau tidak bermanfaat).
Dalam praktek tariqah, meski telah beranjak dari satu tingkatan
(misal syari’ah) menuju pada tingkat berikutnya (haqiqah) bukan berarti boleh meninggalkan/mengabaikan
amalan terdahulu, tetapi tetap harus menjalankan kewajiban-kewajiban pada
tingkatan sebelumnya.
Prinsip maqam dalam Tariqah :
a. Zikrullah, artinya mengingat Allah dengan
cara menyebut nama-nama Allah (asma’ al-husna).
b. Muraqabah: kesadaran bahwa seseorang tidak
lepas dari pengawasan Allah,
c. Zuhud: membebaskan diri dari pengaruh dan
godaan keduniawian.
Itulah sekilas pengetahuan tentang Tasawuf, semoga bisa
menjadi penjelas bagi yang belum paham dengan ilmu tasawuf. Wallahu a’lam bish shawab.
&&&&&
&&&&&
JANGAN
MEMFITNAH TASAWUF
Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama
besar yang dikenal sebagai ulama tasawuf sekaligus juga sebagai ulama usul
fiqih. Karya terbesarnya bidang fiqih adalah al-mustashfa.
Sedangkan karya tasawufnya adalah Ihya’ U’lum al-Din.
Meski
tinggi ilmunya di bidang tasawuf, tetapi beliau tetap menjalankan syariat Islam
sesuai usul fiqih.
Pemikiran
beliau dalam Ihya’ U’lum
al-Din dianggap sebagai jembatan yang mendamaikan syari’at dengan tasawuf yang
sempat mengalami clash pada zaman itu.
Beliau juga dikenal sebagai tokoh
filsafat dengan karyanya Tahafut al-Falasifah yang mengkritik konsep berfikir para
filosof saat itu.
Rabu, 07 Maret 2018
Satu Dari Tiga Doa Rasulullah Yang Ditolak Allah.
Amir bin Said dari
bapaknya meriwayatkan:
Satu hari Rasulullah SAW datang dari
daerah berbukit. Setelah Rasulullah SAW sampai di masjid Bani Mu'awiyah, beliau
masuk ke dalam masjid dan menunaikan shalat dua rakaat. Kami pun turut shalat
bersama dengan Rasulullah SAW.
Kemudian Rasulullah SAW
berdoa dengan agak panjang kepada Allah SWT.
Setelah selesai berdoa,
Rasulullah SAW pun berpaling kepada kami lalu berkata:
"Aku telah memohon
kepada Allah SWT tiga hal. Dari tiga hal itu, hanya dua hal yang Dia kabulkan
sementar yang satu lagi ditolak. Tiga hal itu adalah:
1. Aku memohon kepada Allah
SWT agar Dia tidak membinasakan umatku dengan musim susah (paceklik) yang
berkepanjangan. Permohonanku ini dikabulkan oleh Allah SWT.
2. Aku memohon kepada Allah
SWT agar umatku ini jangan dibinasakan dengan bencana tenggelam (seperti banjir
besar yang telah melanda umat Nabi Nuh a.s.). Permohonanku yang ini pun
dikabulkan oleh-Nya.
3. Aku memohon kepada Allah
SWT agar umatku terbebas dari pertikaian sesama mereka (peperangan, percekcokan
antara sesama umat Islam). Tetapi permohonanku yang ini tidak dikabulkan (telah
ditolak) oleh-Nya."
Riwayat hadis di atas
hingga kini masih menjadi bahan perdebatan di antara ahli hadis tentang
kesahihannya. Beberapa ulama menyatakan hadis ini sahih, namun tak sedikit yang
meragukan keasliannya dari Nabi SAW.
Namun, jika hal ini
benar-benar pernah terjadi pada masa Rasulullah, tentunya kita butuh pemahaman
yang pas tentang makna hadis ini.
Ditolaknya permohonan Nabi
tidak harus dimaknai bahwa umat ini memang telah ditakdirkan harus berperang.
Karena kalau seprti itu, maka hanya akan menjadi pembenar terhadap perilaku
brutal sebagian umat yang sebenaranya hanya pemenuhan ego dan fanatisme
golongan dan pemahaman belaka.
Kasus dalam hadis ini
mungkin hampir mirip dengan kisah diijinkannya iblis untuk menggoda anak
keturunan Adam a.s. hingga akhir masa. Hal ini tentu tidak bisa dimaknai bahwa
anak keturunan Adam memang sudah ditakdirkan tergoda oleh tipu daya Iblis.
Kedua kasus di atas
merupakan ujian bagi umat untuk belajar bagaimana mengendalikan ego dan
nafsu-nafsu rendah. linabluwakum ayyukum ahsanu amala: Untuk menguji siapa di
antara manusia yang melakukan kebajikan.
Wa Allah A'lam bi
Ash-Shawab.taq/berbagai sumber
Langganan:
Postingan (Atom)