Sabtu, 18 Januari 2020

Bumbu 10


BUMBU B-10 (8 Ltr)

1.
Tumbar halus
: 50 gram

Dimasak dg air 8 Ltr selama 30 menit.

Tambahkan Daun Salam 7 lembar + Daun Jeruk 7 lembar.
2.
Kunyit halus
: 100 gram
3.
Kemiri halus
: 50 gram
4.
Lengkuas parut
: 20 gram
5.
Lengkuas halus
: 100 gram
6.
Bawang Putih halus
: 60 gram
7.
Bawang Merah halus
: 100 gram
8.
Garam cap kapal
: 200 gram
9.
Sasa
: 50 gram
10.
Jahe halus
: 100 gram
11.
Sereh
: 5 batang
12.
Bawang Putih kupas
: 50 gram (20s)
13.
Jinten
: 2 Sdm

BUMBU A-10 (3 Ltr)

1.
Tumbar halus
: 50 gram

Dimasak dg air 3 Ltr selama 20 menit.

Tambahkan Daun Salam 4 lembar + Daun Jeruk 4 lembar.
2.
Kunyit halus
: 100 gram
3.
Kemiri halus
: 50 gram
4.
Lengkuas halus
: 100 gram
5.
Lengkuas parut
: 20 gram
6.
Bawang Putih halus
: 60 gram
7.
Bawang Merah halus
: 100 gram
8.
Garam cap kapal
: 75 gram
9.
Sasa
: 30 gram
10.
Jahe halus
: 50 gram
11.
Sereh
: 5 batang
12.
Bawang Putih kupas
: 25 gram (10s)
13.
Jinten
: 1 Sdm



BUMBU BAKAR

1.
Bawang Merah halus
: 100 gram
4.000
2.
Bawang Putih halus
: 100 gram
13.000
3.
Cabe Merah halus
: 100 gram
4.000
4.
Jahe halus
:
2.000
5.
Kemiri halus
: 200 gram

6.
Kunyit
:
2.000
7.
Garam cap kapal
: 3 sdm

8.
Minyak Goreng Tropical
: ½  Ltr
7.000
9.
Gula Jawa
:
5.000
10.
Kecap Bangau
: 2 saset kecil
6.000
11.
Kara kecil
: 3 bks
9.000
Jumlah  =  --- .000


BELANJA 10A + 10B

1.
Tumbar halus
: 1 Ons
2.
Kunyit halus
: 2 Ons
3.
Kemiri halus
: 1 Ons
4.
Lengkuas parut
: ½ Ons
5.
Lengkuas halus
: 2 Ons
6.
Bawang Putih halus
: 1 Ons
7.
Bawang Merah halus
: 2 Ons
8.
Garam cap kapal
: 1 Bks
9.
Sasa
: 100 gram
10.
Jahe halus
: 1 Ons
11.
Sereh
: 5 batang
12.
Bawang Putih kupas
: 1 Ons (40 s)
13.
Jinten
: 5000,-




Minggu, 12 Januari 2020

Resep Cak Danu


Bahan-bahan
1. Bebek (1 ekor, potong jadi 4).
2. Bawang Merah, 8 butir.
3. Bawang Putih, 10 siung 
4. Kemiri, 6 butir 
5. Ketumbar bubuk, 2 sdt.
6. Kunyit, 1 ½ ruas
7. Jahe, 1 ruas.
8. Lengkuas besar, 1 ruas.
9. Jintan, ½ sdt.
10. Serai (ambil putihnya saja), 2 batang.
11. Garam, secukupnya
12. Bumbu penyedap, secukupnya
13. Daun jeruk, 6 lembar.
14. Air, 500 ml.
15. Bumbu wungkul : 2 batang serai (digeprek), 1 ruas lengkuas (digeprek), daun jeruk (6 lembar)


Langkah :


a. Lumuri potongan bebek dengan air jeruk nipis, diamkan selama 30 menit di lemari es, setelah itu cuci bersih.
b. Masukan potongan bebek kedalam air dengan semua bumbu halus. (air kira2 bebek hampir terendam). Rebus selama 25 menit.
c. Setelah panci sudah agak dingin dan bs dibuka, rebus kembali selama kurang lebih 5 menit agar lebih meresap (rebus dlm keadaan panci terbuka).
d. Angkat bebek dan taruh dalam wadah terpisah (tiriskan). Dan siap digoreng kapan saja, sisanya masukan ke kulkas.
e. Pisahkan potongan bebek dengan sisa bumbu hasil rebusan, kemudian goreng bebek hingga kecoklatan.
f.  Kuah dari bebek td di rebus sampai agak set dan keluar minyak..kuah minyak ini untuk penyajian setelah bebek di goreng.

Bumbu kuning : Siapkan wajan dengan sedikit minyak, ambil secukupnya sisa bumbu hasil rebusan, aduk terus sampai air nya asat dan bumbunya menggumpal dan meletup2.
Siap dihidangkan bersama bebek goring.

Minggu, 29 Desember 2019

Ketakutan Sudah Menenggelamkan Kejujuran

Al Kisah, Abu Nawas berjalan di tengah pasar, sambil melihat ke dalam topinya, lalu tersenyum bahagia. Orang-orang pun heran, lalu bertanya;
“Wahai saudaraku Abu Nawas apa gerangan yang engkau lihat ke dalam topimu yang membuatmu tersenyum bahagia?”
“Aku sedang melihat surga yang dihiasi barisan bidadari.” Kata Abu Nawas dengan ekspresi meyakinkan.
“Coba aku lihat?” Kata salah seorang yang penasaran melihat tingkah Abu Nawas.
“Tapi saya tidak yakin kamu bisa melihat seperti apa yang saya lihat.” Kata Abu Nawas.
“Mengapa?” Tanya orang-orang di sekitar Abu Nawas yang serempak, karena sama-sama semakin penasaran.
“Karena hanya orang beriman dan sholeh saja, yang bisa melihat surga dengan bidadarinya di topi ini.” Kata Abu Nawas meyakinkan.
Salah seorang mendekat, lalu berkata; “Coba aku lihat.”
“Silahkan” kata Abu Nawas”
Orang itu pun bersegera melihat ke dalam topi, lalu sejenak menatap ke arah Abu Nawas, kemudian menengok ke orang di sekelilingnya.
“Benar kamu, Aku melihat surga di topi ini dan juga bidadari. Subhanallah!” Kata orang itu berteriak.
Orang-orang pun heboh ingin menyaksikan surga dan bidadari di dalam topi Abu Nawas, tetapi Abu Nawas mewanti-wanti, bahwa hanya orang beriman yang bisa melihatnya, tetapi tidak bagi yang kafir.
Dari sekian banyak yang melihat ke dalam topi, banyak yang mengaku melihat surga dan bidadari tetapi ada beberapa di antaranya yang tidak melihat sama sekali, dan berkesimpulan Abu Nawas telah berbohong. Mereka pun melaporkan Abu Nawas ke Raja, dengan tuduhan telah menebarkan kebohongan di tengah masyarakat.
Akhirnya, Abu Nawas dipanggil menghadap Raja untuk diadili.
“Benarkah di dalam topimu bisa terlihat surga dengan bidadarinya?”
“Benar paduka Raja, tetapi hanya orang beriman dan sholeh saja yang bisa melihatnya. Sementara yang tidak bisa melihatnya, berarti dia belum beriman dan masih kafir. Kalau paduka Raja mau menyaksikannya sendiri, silahkan..” Kata Abu Nawas.
“Baiklah, kalau begitu saya mau menyaksikannya sendiri.” Kata Raja. Tentu, Raja tidak melihat surga apalagi bidadari di dalam Topi Abu Nawas. Tapi Raja lalu berpikir, kalau ia mengatakan tidak melihat surga dan bidadari, berarti ia termasuk tidak beriman.
Akibatnya bisa merusak reputasinya sebagai Raja. Maka, Raja itu pun berteriak girang: “Engkau benar Abu Nawas aku menyaksikan surga dan bidadari di dalam topimu.
Rakyat yang menyaksikan reaksi Rajanya itu, lalu diam seribu bahasa dan tak ada lagi yang berani membantah Abu Nawas. Mereka takut berbeda dengan Raja, karena khawatir dianggap dan di cap kafir atau belum beriman.
Akhirnya, konspirasi kebohongan yang ditebar oleh Abu Nawas, mendapat legitimasi dari Raja. Boleh jadi, dalam hati, Abu Nawas tertawa sinis sambil bergumam; beginilah akibatnya kalau ketakutan sudah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan pun akan merajalela.
Ketika keberanian lenyap dan ketakutan telah menenggelamkan kejujuran, maka kebohongan akan melenggang kangkung sebagai sesuatu yang “benar.”
Ketakutan untuk berbicara jujur, juga karena faktor gengsi. Gengsi dianggap belum beriman, atau dengan alibi/alasan lainnya. Padahal, label gengsi itu hanyalah rekayasa opini publik yang dipenuh kebohongan.
Kepercayaan diri sebagai pribadi yang mandiri untuk berkomitmen pada kebenaran berdasarkan prinsip kejujuran, telah dirontokkan oleh kekhawatiran label status yang sesungguhnya sangat subyektif dan semu. Kecerdikan konspirasi (kebohongan) opini publik Abu Nawas, telah menumbangkan kebenaran dan kejujuran.
Akhirnya, kecerdasan tanpa kejujuran dan keberanian, takluk di bawah kecerdikan yang dilakonkan dengan penuh keberanian dan kepercayaan diri meski pun itu adalah kebohongan yang nyata.
Kasus legitimasi kebohongan versi Abu Nawas, bisa saja telah terjadi disekitar kita. Tentu, dengan aneka versinya.

Senin, 04 November 2019

Dagelan Jagat


Ngger anakku ...
Sawangen kae dagelan jagat
Sing lagi padha rebutan ndonya lan pangkat
Rumangsane wis paling kuat
Nganti lali yen ndhonya iki bakale kiamat

Ngger anakku ...
Sawangen kae dagelan jagat
Sing padha lali ngrumat wasiat
Gaman aji kanggo ndonya akhirat

Ngger anakku ...
Sing kok sawang kae ojo ditiru
Rungakna lan elinga marang pituturku
Kanggo ugeman lakon uripmu

Ngger anakku ...
Ayumu dudu saka wedhak pupur
Kang gampang luntur
Ananging saka resike ati sing nampa pitutur luhur

Sugihmu dudu emas picis raja brana
Sing gampang sirna
Ananging jembare ati sing kaya segara
Sing isa nampa pesthining Kang Maha Kuwasa

Ngger anakku ...
Eling ta dieling-eling
Ojo nganti imanmu ngguling

Sekarat pati iku banget larane
Nalika jaman uripe akeh dosa lan lali marang tobate
Ngumbar terus hawa nafsu lan angkara murkane

Ngger anakku ...
Saiki cedakna atimu marang Gusti Kang Murbehing Dumadi
Mesti ing ndhonya lan akherat uripmu bakal mukti
Dalam khasanah agama Islam, pitutur ini sesuai dengan firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 185: “Wamaa Alhayawaa Tuddun-Yaa Illa Mataa’ul Ghuruur ” artinya ”Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Nabi Muhammad juga pernah bersabda, “Akan datang pada umatku suatu masa, dimana mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara. (1) Mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat. (2) Mereka mencintai kehidupan dan melupakan kematian. (3) Mereka mencintai gedung-gedung dan melupakan kubur. (4) Mereka mencintai harta benda dan melupakan hisab (perhitungan di hari kiamat). (5) Mereka mencintai mahluk dan melupakan penciptanya.” (Hadits Riwayat Ibnu Hajar)

Sabtu, 02 November 2019

Pitutur Leluhur; Dadiya

Dadiya gedhe sing ora ngebot-boti. (jadilah besar yang tidak membebani)
Dadiya santosa sing ora gawe wedi. (
jadilah perkasa yang tidak menakutkan)
Dadiya lancip sing ora nglarani. (
jadilah runcing yang tidak menyakiti)
Dadiya landhep sing ora natoni. (jadilah tajam yang tidak melukai)
Dadiya sugih sing ora gawe rugi. (jadilah kaya yang tidak merugikan)
Dadiya pinunjul sing ora gawe meri. (
jadilah unggul namun tidak menimbulkan iri hati)
Dadiya padhang sing ora mblerengi. (
jadilah terang namun tidak mengaburkan)
Dadiya sumunar sing ora nyulapi. (
jadilah bersinar namun tidak menyilaukan)
Dadiya talanging banyu rahmating Gusti Allah kanggo sasamaning titah
(Jadilah talang air bagi rahmat Tuhan untuk sesama hambaNya)
Falsafah jawa lain yang sangat masyhur adalah, "Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara."  Yang artinya: "Menebar kebaikan untuk kemakmuran dunia, serta memberantas kemungkaran."
Maknanya, dalam kehidupan dunia manusia harus menebarkan kemakmuran (kedamaian dan kesejahteraan) bagi alam semesta; serta memberantas sifat angkara murka, keserakahan dan ketamakan.