Rabu, 06 Januari 2021

Agama Hindu

Pada awalnya Hindu merupakan kebudayaan bukan agama seiring dengan perubahan yang dilakukan maka terjadi agama. Semuanya dimulai saat bangsa Arya (indo-jerman) datang ke India melalui celah khaibar. Pada saat itu sangat sulit untuk menemukan jalur untuk masuk ke India oleh sebab itu dulu India juga disebut sebagai anak benua.

Hal ini terjadi pada
tahun 1000 - 2000 SM. Lalu bangsa Arya menetap di lembah sungai Sindu (sekarang Sungai indus, tanah Punjab). Bangsa Arya melakukan akulturasi budaya dengan bangsa Dravida (penduduk asli) menghasilkan suatu kebudayaan yang dinamakan dengan Bangsa Hindu. 

Weda merupakan kitab suci agama Hindu, dan sejak ada kitab ini Hindu menjadi agama.

Dalam agama hindu juga dikenal kasta / sistem pembeda golongan / tingkat.

Dalam Agama Hindu di India terbagi atas 5 kasta :
1. Brahmana = pendeta
2. Ksatria = prajurit, raja, bangsawan
3. Waisya = pedagang
4. Sudra = buruh / rakyat jelata
5. Varya = gelandangan, pengemis
antara satu tingkat dengan tingkat yang lain dilarang menikah.
Di indonesia sendiri, hanya mengenal 4 sistem kasta dimana yang ke 5 digabung dengan yang ke 4.

Hindu mulai masuk ke indonesia pada tahun 4 Masehi, oleh para brahmana dari india dengan motif berdagang dan menyebarkan agama. Sekarang daerah yang menjadi mayoritas agama Hindu ada di Bali.

Kepercayaan Bangsa Hindu bersifat politeisme (memuja banyak dewa). Di dalam pemujaan terhadap dewa itu sering dibuatkan patung-patung yang disesuaikan dengan peranan dewa tersebut di dalam kehidupan manusia.

Patung-patung itu merupakan simbol dari dewa-dewa yang disembahnya seperti misalnya Dewa Brahma sebagai Dewa Pencipta, Dewa Wisnu sebagai Dewa Pelindung, dan Dewa Siwa sebagai Dewa Pelebur atau Pembinasa. Ketiga dewa itu diberi nama Tri Murti.

Tri Murti sendiri berarti yang Maha Kuasa. Sedangkan dewa-dewa lainnya yang dipuja seperti Dewi Saraswati sebagai Dewi Kesenian dan Ilmu Pengetahuan, Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan, dan lain sebagainya.

Umat Hindu beranggapan bahwa, tempat suci adalah tempat bersemayamnya para dewa, sehingga umat Hindu terbiasa mengadakan ziarah ke tempat-tempat suci untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi umat di dunia.

Umat Hindu berziarah ke tempat-tempat suci seperti Kota Benares, sebuah kota yang dianggap sebagai kota tempat bersemayamnya Dewa Pelabur (Dewa Siwa).

Di samping itu, Sungai Gangga juga dianggap suci dan keramat oleh umat Hindu. Menurut kepercayaan merka, air dari Sungai Gangga akan dapat menyucikan segala dosa betapapun besarnya. Begitu pula tulang dan abu orang mati yang sudah dibakar dibuang ke dalam Sungai Gangga, agar orang yang meninggal masuk ke dalam surga.

 

Reinkarnasi

Dalam filsafat agama Hindu, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Pada saat manusia hidup, mereka banyak melakukan perbuatan dan selalu membuahkan hasil yang setimpal. Jika manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya yang belum sempat dinikmati.

Selain diberi kesempatan menikmati, manusia juga diberi kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya (kualitas). Jadi, lahir kembali berarti lahir untuk menanggung hasil perbuatan yang sudah dilakukan. Dalam filsafat ini, bisa dikatakan bahwa manusia dapat menentukan baik-buruk nasib yang ditanggungnya pada kehidupan yang selanjutnya. Ajaran ini juga memberi optimisme kepada manusia. Bahwa semua perbuatannya akan mendatangkan hasil, yang akan dinikmatinya sendiri, bukan orang lain.

Menurut Hinduisme, yang bisa berinkarnasi itu bukanlah hanya jiwa manusia saja. Semua jiwa mahluk hidup memiliki kesempatan untuk berinkarnasi dengan tujuan menikmati hasil perbuatannya pada masa lalu dan memperbaiki kulaitas hidupnya.

Dalam kehidupan di dunia, manusia menempati strata yang paling tinggi sehingga reinkarnasi yang tertinggi adalah hidup sebagai manusia, bahkan dewa atau malaikat yang ingin sempurna hidupnya, harus turun ke dunia untuk menyempurnakan jiwatman-nya sehingga mencapai moksa, bersatu dengan Brahman.

Makhluk hidup selain manusia memiliki jiwatman yang sama. Jiwatman memiliki memori untuk mencatat dan mengenang peristiwa yang dilakukan atau dialami dalam kehidupan sewaktu masih bersatu dengan raga. Memori tersebut menghasilkan kemelekatan terdadap dunia yang terus dibawa walaupun terjadi kematian yang menyebabkan jiwatman berpisah dengan badan.

Suatu saat jiwatman tersebut akan mencari raga baru yang sesuai dengan kemelekatannya pada konsepsi (janin) yang siap dimasuki roh (atman). Bila manusia mampu meniadakan kemelekatannya terhadap kehidupan dunia, maka ia akan mencapai moksa dan bersatu dengan Brahman. 

Sidarta "Budha" Gautama

Agama Buddha adalah agama yang memiliki dasar ajaran yang berusia lebih dari 2000 tahun dan berasal dari India. Sekitar 350-550 juta orang di seluruh dunia saat ini menjadi penganut agama Buddha.

Arti dari Buddha sendiri yaitu “Yang Telah Sadar”, “Yang Telah Terjaga”, atau “Yang Telah Cerah”. Asal kata Buddha yaitu dari kata Budh yang artinya terjaga, menyadari, dan memahami dan juga menjadi akar dari kata – kata seperti bodhi, bodha, bodhati, dan buddhi.

Di Indonesia juga terdapat beberapa bukti penyebaran agama Buddha, seperti candi peninggalan Budha dan candi Budha di Indonesia.

Buddha adalah sebuah gelar untuk seseorang yang telah mencapai pencerahan sempurna. Ajaran agama ini mengedepankan mengenai cinta kasih dan kebijaksanaan, yang dianggap sesuai dengan pengertian filsafat atau jalan hidup oleh sebagian orang. Karena itulah istilah “isme” yang sering ditambahkan pada ajaran filsafat juga kerap disandingkan dengan kata Buddha, sehingga kata Buddhisme menjadi sebutan lain untuk agama Buddha.

 

Sejarah Buddha Gautama

Membahas tentang keberadaan agama Buddha tidak dapat dilepaskan dari sosok Siddharta Gautama sebagai penemu dan juga penyebar ajaran Buddha. Siddharta Gautama menemukan dan mengajarkan agama Buddha setelah mencapai suatu pencerahan secara sempurna atau disebut penyadaran penuh. Tahun kelahirannya bervariasi dan tidak ada sumber yang pasti.

Siddharta Gautama atau Buddha lahir sekitar abad 4 hingga 6 SM di kerajaan kecil yang terletak di bawah kaki gunung Himalaya, tepatnya di Lumbini, Nepal. Ayahnya, Raja Suddhodana, adalah seorang kepala suku klan Shakya. Ibunya meninggal tidak lama setelah Siddharta lahir.

Dikatakan bahwa 12 tahun sebelum kelahirannya, para Brahmana telah meramalkan bahwa ia akan menjadi pendeta legendaris atau seorang raja yang agung. Ia akan menjadi pertapa apabila melihat orang sakit, orang tua, orang meninggal dan seorang pertapa. Karena ia termasuk ke dalam wangsa Ksatriya, maka ayahnya tidak ingin Siddharta menjadi pertapa dan tidak meneruskan tahta sang ayah.

Untuk mencegahnya menjadi seorang pertapa, ayahnya menjaga agar Siddharta tetap berada di dalam lingkungan istana sehingga Gautama hidup di lingkungan kemewahan sebagai seorang pangeran dari sukunya, dilindungi dari dunia luar, diajar oleh para Brahmana, serta dilatih dalam bidang panahan, keahlian berpedang, gulat, berenang, dan lari.

Ketika sudah cukup umur, ia menikah dan mempunyai seorang anak lelaki. Walaupun memiliki segalanya, beliau tidak pernah merasa cukup. Selalu ada sesuatu yang menariknya untuk keluar ke dunia dibalik dinding istananya.

Pada suatu saat di jalanan Kapilavastu di usianya yang berada di akhir 20an, Ia menemukan tiga hal sederhana: seorang lelaki yang sakit, seorang lelaki tua, dan mayat yang sedang dibawa ke tempat pembakaran.

Tidak ada hal yang mempersiapkannya untuk pengalaman semacam ini selama hidupnya. Ia baru mengetahui bahwa semua orang akan menjadi tua, sakit dan bisa meninggal. Hal tersebut memicu berbagai pertanyaan yang membawanya terus mengeksplorasi dan melihat seorang pertapa yang mengundurkan diri dari kehidupan duniawi dan mencari pembebasan dari ketakutan manusia akan kematian dan penderitaan.

Pada usia 29 tahun, Siddharta meninggalkan kerajaannya, istri dan anaknya yang baru lahir untuk menjadi seorang pertapa dan bertujuan untuk menemukan cara untuk menghilangkan penderitaan universal yang dipahaminya sebagai salah satu ciri kehidupan manusia. Simak juga mengenai sejarah patung buddha tidursejarah candi sewusejarah kerajaan Mataram kuno yang berkaitan dengan penyebaran agama Buddha di Indonesia di zaman lampau.

 

Kehidupan Pertapaan dan Pencerahan

Selama enam tahun berikutnya Siddharta menjalani kehidupan pertapaan dan mengambil bagian dalam prakteknya, belajar dan bermeditasi menggunakan ajaran berbagai guru spiritual yang membimbingnya yaitu pertapa Alara Kalama dan Udaka Ramputra. Ia belajar cara baru untuk hidup dengan sekelompok yang terdiri dari lima pertapa yang kemudian menjadi pengikutnya berkat dedikasinya yang sangat tinggi.

Ketika jawaban untuk pertanyaan – pertanyaannya tidak juga muncul, ia menggandakan usahanya, menahan rasa sakit, berpuasa hingga hampir kelaparan, dan menolak minum air.

Apapun yang dicobanya, Siddharta tidak dapat mencapai tingkat kepuasan yang dicarinya, sampai suatu saat ketika seorang gadis muda menawarinya semangkuk susu. Ketika ia menerima, kemudian menyadari bahwa menahan diri secara jasmani bukanlah cara untuk mencapai kemerdekaan diri, dan bahwa hidup dibawah kekangan fisik yang keras tidak akan membantunya mencapai pelepasan spiritual. Jadi ia menerima susu tersebut, minum air dan mandi di sungai.  

Sejak saat itu, Siddharta mendorong orang – orang untuk mengikuti jalan keseimbangan daripada mengikuti jalan yang ekstrim. Jalan tersebut dinamakannya The Middle Way. Berkaitan dengan sejarah penyebaran agama Buddha di Indonesia, simak juga  peninggalan kerajaan Majapahit dan peninggalan kerajaan Sriwijaya.

 

Kemunculan Sang Buddha

Sejarah Buddha Gautama mencapai waktunya ketika suatu malam Siddharta duduk di bawah pohon Bodhi, bersumpah tidak akan bangun sampai kebenaran yang dicarinya datang dan bermeditasi sampai matahari terbit keesokan harinya. Ia tetap disana selama beberapa hari untuk memurnikan pikirannya, menelaah seluruh hidupnya dan kehidupan sebelumnya di dalam pikiran.

Pada pertapaan ini ia diganggu oleh Mara, dewa penggoda yang berkekuatan dahsyat. Ia menaklukkan dan melawan Mara ketika bintang pagi tampak di ufuk timur dengan kemauan yang keras dan keyakinan yang kukuh.

Sehingga pada saat itu Ia mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam Buddha, tepat ketika waktu bulan Purnama Siddhi di usianya yang ke 35 tahun di bulan Waisak. Dari tubuhnya memancar enam sinar Buddha ketika mencapai pencerahan sempurna. Keenam sinar Buddharasmi tersebut adalah warna biru/nila yang artinya bhakti, kuning/pita yang artinya kebijaksanaan dan pengetahuan, merah/lohita artinya kasih sayang dan belas kasih, putih/avadata yang berarti suci, jingga/mangasta yang artinya semangat, dan campuran semua sinar tersebut yang dinamakan prabhasvara.

 

Penyebaran Ajaran Buddha

Sejarah Buddha Gautama kemudian mendapatkan gelar setelah mencapai pencerahan sempurna, antara lain Buddha Gautama, Sakyamuni, Tathagata (Ia Yang Telah Datang, Ia Yang Telah Pergi), Sugata (Yang Maha Tahu), Bhagava (Yang Agung) dan masih banyak lagi gelar lainnya. Khotbah pertamanya yang disebut Dhammacakka Pavattana Sutta didengarkan oleh kelima pertapa pengikutnya. Isi khotbah tersebut adalah penjelasan mengenai Jalan Tengah yang ditemukannya, yaitu berupa Delapan Ruas Jalan Kemuliaan dan juga Empat Kebenaran Mulia yang menjadi pilar dari ajaran Buddha.

Kemudian Siddharta membentuk Sangha, suatu komunitas untuk para pertapa yang tidak mengacuhkan semua pembatas antara kelas, ras, jenis kelamin dan latar belakang manusia dengan hanya satu tujuan untuk mencapai pencerahan. Pada akhirnya ia bertemu kembali dengan ayahnya. Istrinya, Yasodhara, menjadi murid dan pertapa juga, sementara anaknya Rahula menjadi rahib di usia 7 tahun dan tinggal bersama ayahnya seumur hidup.

Selama empat puluh lima tahun kemudian Buddha Gautama menyebarkan Dharma dengan berkelana, kepada umat manusia lainnya dan menyebarkan dengan cinta dan kasih sayang hingga usianya 80 tahun dan menyadari bahwa tiga bulan setelahnya ia akan mencapai Parinibbana atau Parinirvana yaitu meninggalkan bentuk fisik tubuhnya.

Tubuh Buddha kemudian dikremasi, dan sisa abunya ditempatkan di kubah berbentuk stupa yang merupakan bentuk umum dalam agama Buddha, dan disebarkan dalam banyak lokasi termasuk China, Myanmar dan Srilanka.

Selama 2500 tahun kemudian ajaran Buddha tetap diikuti oleh banyak orang di dunia, terus menarik banyak pengikut dan merupakan salah satu agama yang tumbuh dengan cepat, walaupun banyak yang tidak menganggapnya sebagai agama namun sebagai ajaran hidup atau filosofi. 

Suku Jawa (Kejawen)

Suku Jawa adalah suku terbesar yang mendiami Indonesia. Keberadaan suku Jawa memang hanya di pulau Jawa saja, tetapi telah menyebar merata di seluruh wilayah Indonesia. Suku ini dikenal dengan kehalusan dan keramahtamahannya. Karena wilayah Indonesia yang luas, maka adat istiadat Jawa pun sangat banyak dan beragam.


Asal Usul Suku Jawa :

Besarnya Suku Jawa pasti tidak bisa dilepaskan dengan sejarah yang panjang. Peradaban Suku Jawa menghasilkan kebudayaan yang paling maju dibandingkan dengan suku lainnya. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya kerajaan-kerajaan adidaya yang berdiri di tanah Jawa beserta berbagai warisan yang dapat dilihat hingga saat ini. Asal-usul adanya Suku Jawa pun menemukan banyak versi dikarenakan banyaknya penemuan – penemuan bersejarah yang mendukung. Berikut ini sejarah Suku Jawa dari pendapat beberapa Sumber :

1. Babad Tanah Jawa.

Suku Jawa menurut Babad Tanah Jawa berasal dari kerajaan Keling dimana kerajaan dalam situasi kacau karena terjadi perbuatan kekuasaan. Kerajaan Keling atau Kalingga berada di daerah India Selatan. Ada salah satu pangeran yang kerajaan Kling yang tersisih dan pergi meninggalkan kerajaan bersama pengikut yang setia.

Pangeran Kling bersama pengikut setianya mengembara hingga pangeran menemukan sebuah pulau terpencil yang belum berpenghuni. Mereka saling bahu membahu dalam membangun pemukiman. Selain pemukiman, mereka juga mendirikan kerajaan dengan diberi nama Java Cekwara. Nah, keturunan pangeran tersebut dianggap sebagai nenek moyang suku Jawa menurut Babad Tanah Jawa.

2. Surat Kuno Keraton Malang.

Asal-usul Jawa berdasarkan surat kuno keraton Malang yaitu penduduk Jawa berasal dari kerajaan Turki tepatnya pada tahun 450 SM. Raja Turki mengirim surat untuk perjalanan jauh dan membentuk daerah kekuasaan seperti daerah/wilayah yang belum pernah dihuni. Migrasi yang dilakukan oleh kerajaan secara bertahap selama beberapa waktu.

Dalam melakukan pengembaraan, utusan raja sampai di daerah dengan tanah yang subur dan banyak ditemukan aneka bahan pangan. Utusan bersama prajurit pun tidak mengalami kesulitan ketika beradaptasi dan membantun pemukiman di sana. Migrasi yang dilakukan semakin lama semakin banyak yang datang. Karena banyak ditemukannya tanaman Jawi, maka tanah atau daerah tersebut diberi nama Tanah Jawi oleh orang-orang yang datang.

3. Tulisan Kuno India.

Tulisan kuno India yang ditemukan menyebutkan bahwa zaman dulu ada banyak pulau di Kepulauan Nusantara pernah menyatu dengan benua Australia dan Asia. Pada suatu waktu terjadi musibah yang menyebabkan meningkatnya permukaan air laut. Beberapa daratan terendam air sehingga pulau-pulau tersebut terpisah dengan daratan utama.

Tulisan kuno India tersebut menyebutkan seorang pengembara yang bernama Aji Saka. Ia berhasil mengembara ke beberapa penjuru hingga menemukan pulau Jawa. Tulisan tersebut juga mengungkapkan bahwa Aji Saka adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di tanah Jawa. Ia bersama pengikutnya dianggap sebagai nenek moyang suku Jawa.

4. Menurut Arkeolog.

Asal usul penduduk Jawa juga diteliti oleh ahli arkeolog. Menurut mereka, penduduk Jawa tidak terlepas dari asal-usul orang Indonesia sendiri. Mereka meyakini bahwa nenek moyang Jawa asalnya dari penduduk pribumi. Pendapat tersebut diperkuat dengan sebuah penemuan fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan Homor Erectus.

Menurut Eugene Dubois yang merupakan seorang ahli anatomi asal Belanda menemukan fosil Homo Erectus. Fosil ditemukan di Trinil pada tahun 1891. Fosil tersebut pun lebih dikenal dengan sebutan manusia Jawa. Untuk menguatkan pendapatnya, maka dilakukan perbandingan DNA fosil manusia kuno dengan manusia zaman sekarang. Hasilnya pun cukup menarik bahwa DNA yang dilakukan tidak memiliki perbedaan yang jauh antara satu sama lain. Dengan penelitian yang dilakukan, beberapa ahli arkeologi pun perca dan dijadikan sebagai teori asal-usul keberadaan suku Jawa.

5. Menurut Sejarawan.

Berbeda lagi dengan pendapat para sejarawan. Von Hein Geldern menyebutkan bahwa suku Jawa hadir karena terjadi migrasi penduduk Tiongkok bagian selatan atau Yunan di kepulauan Nusantara. Proses migrasi tersebut dimulai sejak zaman Neolitikum sekitar 2000 SM hingga zaman Perunggu pada tahun 500 SM. Migrasi yang dilakukan pun secara besar-besaran dan bertahap menggunakan perahu cadik.

Pada tahun 1899, Dr. H. Kern mengungkapkan penelitian yang dilakukannya. Ia menyebutkan bahwa bahasa daerah di Indonesia mirip satu sama yang lainnya. Sehingga dr. Kern menyimpulkan bahwa jika bahasa tersebut berasal dari akar yang sama, maka rumpun tersebut adalah Austronesia. Pernyataan Dr. H. Kern berhasil menguatkan Geldern tentang teori mengenai asal-usul suku Jawa dan bangsa Indonesia.

Kebudayaan Suku Jawa :

Meskipun asal-usul tentang Suku Jawa banyak sekali versinya, tetapi suku ini tetap memiliki kebudayaan yang beragam dan menarik untuk dipelajari. Berbagai jenis kebudayaan Suku Jawa mungkin sudah banyak diketahui. Mengingat bahwa suku Jawa menjadi suku terbesar yang mendiami Indonesia.

1. Wayang Kulit

Wayang Kulit menjadi ikon suku Jawa dimana pertunjukan yang dilakukan selama semalaman suntuk. Pertunjukan wayang kulit yang dimainkan memiliki cerita khas suku Jawa, seperti Ramayana, Mahabharata dan lain-lain. Cerita wayang tersebut berkisah mengenai pelajaran dalam kehidupan. Berbagai cerita yang ditunjukkan di wayang kulit telah melalui banyak perubahan sesuai dengan kultur Jawa.

Setiap tokoh yang ada dalam pewayangan memiliki karakter dan ciri khas yang berbeda-beda. Agar wayang kulit semakin meriah, pertunjukan ini dimainkan oleh dalang dengan diiringi musik gamelan khas Jawa. Tidak ketinggalan ada sinden untuk menyanyikan lagu-lagu Jawa. Beberapa alat yang digunakan lainnya yaitu wayang, kain putih, lampu sorot dan batang pisang yang digunakan untuk menancapkan wayang kulit tersebut.

Wayang kulit dipercaya sebagai ciptaan dan disebarkan oleh walisongo untuk membantu menyebarkan agama Islam. Wali songo merupakan tokoh ulama yang menyebar Islam di pulau Jawa. Wayang kulit menjadi salah satu media dakwah untuk menjangkau seluruh kalangan. Karena pada zaman dulu, wayang kulit sangat populer dan terkenal di kalangan suku Jawa.

2. Senjata Tradisional.

Suku Jawa juga dikenal dengan senjata yang dimilikinya. Tidak hanya bentuknya yang unik, setiap macam senjata tradisional memiliki makna tersendiri. Misalnya keris yang merupakan alat pusaka penting dan dipercaya memiliki kesaktian. Keris sengaja dibuat oleh para mpu yang ditempa dan diberi mantra-mantra.

Keris merupakan senjata yang tidak sembarangan dimana sebagian keris selalu dikaitkan dengan dunia mistis. Percaya tidak percaya, senjata keris ini banyak penunggunya sehingga orang yang memiliki harus merawatnya dengan sangat teliti. Ada beberapa keris yang hingga saat ini pun rutin dimandikan dan dibersihkan. Misalnya dengan memandikan keris bersama bunga 7 rupa, wewangian dan disimpan dalam kain mori maupun peci khusus.

Keris yang melegenda yaitu Keris Mpu Gandring yang ada dalam kisah Ken Arok. Dengan bantuan keris tersebut, Ken Arok Berhasil menjadi penguasa Singasari. Mpu Gandring mampu menciptakan keris yang sakti dimana membawa malapetaka bagi keturunan Raja-raja Singasari.

3. Seni Musik.

Alat musik tradisional yang dimiliki oleh Suku Jawa yaitu gamelan. Gamelan dapat menghasilkan bunyi yang beraneka ragam. Gamelan merupakan seni yang beasal dari gabungan bermacam macam alat musik meliputi gong, kendang, kenong, selentem,bonang, kempul, gambang dan alat musik lainnya.

Meskipun bentuk gamelan cukup sederhana, tetapi daya tarik dari gamelan sangat luar biasa. Orang yang memainkan gamelan disebut wiyaga. Wiyaga merupakan nama pemain dari gamelan yang selalu ada dalam pagelaran campur sari, wayang kulit dan kesenian suku Jawa lainnya. Gamelan juga digunakan oleh Wali Songo untuk menyebarkan agama Islam.

Ketika Wali Songo hadir di Jawa dan menyebarkan ajaran Islam, seni musik Jawa yaitu gamelan digunakan sebagai salah satu media dakwah. Sehingga tanpa mengurangi atau menyuruh suku Jawa berhenti dengan adat istiadatnya, Islam tetap bisa diterima dengan baik oleh suku Jawa. Tidak heran jika penyebaran agama Islam di tanah Jawa sangat cepat dan diterima dengan baik.

4. Seni Tari

Suku Jawa memiliki tari tradisional yang sangat banyak. Seluruh bagian Jawa memiliki tarian khas masing-masing, seperti sintren, bedaya, reog, jaipong, kuda lumping dan lain-lain. Setiap tarian memiliki gerakan yang beraneka ragam baik yang lemah gemulai maupun gerakan yang cepat.

Tari tradisional Jawa biasanya tidak terlepas dari unsur-unsur magic . Tarian ini dimainkan ketika ada upacara adat atau kegiatan lain seperti penyambutan tamu penting. Tetapi dengan perkembangan zaman sekarang, tari tradisional sering digelar untuk berbagai acara yang ada di wilayah tersebut.

5. Bahasa dan Aksara Jawa.

Suku Jawa telah memiliki bahasa dan aksara sejak ratusan tahun yang lalu. Bahasa Jawa sendiri mempunyai beberapa level untuk berkomunikasi sehari-hari yaitu ngoko, krama madya dan kromo inggil. Tingkatan ngoko merupakan tingkatan bahasa yang sedikit kasar dimana orang Jawa menggunakannya untuk orang yang lebih muda atau tingkatan berada di bawah.

Krama madya atau bahasa Jawa alus yaitu bahasa yang digunakan kepada orang yang sederajat. Sedangkan untuk krama inggil adalah bahasa yang digunakan kepada orang yang dihormati maupun orang yang lebih tua.
Aksara Jawa terdiri dari 20 huruf yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la dan seterusnya. Arti dari aksara Jawa yang berjumlah 20 adalah ada dua utusan yang setia tetapi mereka saling bertarung dengan kesaktian yang sama. Kemudian dua utusan tersebut juga sama-sama meninggal.

6. Falsafah Hidup.

Suku Jawa juga kental dengan falsafah hidup atau pedoman hidup bagi masyarakat. Misalnya “mangan ora mangan sing penting kumpul” artinya kebersamaan menjadi hal yang sangat penting dibanding yang lainnya. Ada juga “urip kui urup” artinya seseorang yang hidup harus bermanfaat bagi sesamanya maupun lingkungannya.

Salah satu karakter suku Jawa yaitu menjalani hidup dengan filosofi seperti air mengalir. Filosofi ini pun meliputi pemikiran sederhana seperti hidup itu yang penting bisa beribadah, makan, menghidupi keluarga dan lain-lain. Suku Jawa juga memiliki sikap “nrima ing pandum” yang artinya menerima apapun pemberian dari Sang Pencipta.

7. Budaya Kejawen.

Budaya kejawen sangat melekat pada suku Jawa. Budaya ini pun cukup terkenal dimana budaya kejawen mengajarkan tentang budaya, adat istiadat, pandangan sosial dan filosofis orang Jawa. Hingga saat ini pun budaya kejawen masih ada dan melekat pada orang Jawa. Ajaran kejawen mirip dengan agama yang mengajarkan spiritual masyarakat Jawa kepada Penciptanya.

8. Rumah Adat Suku Jawa.

Rumah adat yang ada di Pulau Jawa sebenarnya banyak seperti Rumah Kebaya yang merupakan rumah adat Betawi, rumah Badui yang merupakan rumah khas suku Baduy dari Provinsi Banten serta Rumah adat Kasepuh yang berasal dari Cirebon. Namun yang khas dan umum untuk Rumah adat suku Jawa adalah rumah Joglo.

  • Rumah Joglo.
    Bangunan ini merupakan tempat tinggal suku Jawa sejak dahulu, namun dengan seiringnya perkembangan teknologi, rumah ini sangat jarang dijumpai apalagi di wilayah perkotaan.

9. Mata Pencaharian.

Sebelum perkembangan teknologi yang seperti saat ini Mayoritas Mata pencaharian Suku Jawa adalah di bidang:

  • Pertanian.
  • Perkebunan.
  • Perdagangan.
  • Perikanan.

Selain keramahan dan kesederhanaan Suku Jawa, Salah satu karakter yang sangat melekat yaitu lebih suka mengalah dibanding mencari masalah. Banyak orang yang beranggapan bahwa Suku Jawa itu luwes. Karena keramahan dan kesederhanaannya menjadikan orang Jawa mudah bergaul dan memiliki teman dari berbagai suku.

 

Senin, 04 Januari 2021

Vaksin, WHO dan Rakyat

TEST

Hal ini membuat para penganut ajaran kejawen tidak memandang ajaranya sebagai sebuah agama tetapi lebih sebagai cara pandang atau pandangan hidup.

Maka ajaran ini akan berkembang mengikuti agama yang dianut oleh penganutnya, sehingga kemudian timbul berbagai terminologi seperti Hindu kejawen, Budha kejawen, Kristen kejawen, atau Islam kejawen.

Mereka tetap mempertahankan adat dan budaya kejawen yang tidak bertentangan dengan prinsip agama yang dipeluknya. 

Dewan Pakar ICMI :

*TAK ADA AKTOR TUNGGAL YANG BOLEH GUNAKAN TENTARA.*  (Sekecil apapun pelibatan Tentara ke otoritas sipil harus dengan keputusan politik)

 

Rakyat bingung *Pangdam Jakarta tiba-tiba mencopoti baleho HRS*, entah dengan alasan apa pun apalagi hanya tidak bayar pajak.?

 

Rakyat makin pening *kenapa TNI urusi pajak baliho?* Kini beredar rumor juga presiden akan gerakkan pasukan khusus untuk atasi keadaan.??

 

Redaksi minta tanggapan Dewan Pakar ICMI *Anton Tabah Digdoyo* via telepon Sabtu malam 21/11/20;

 

Apapun kalo tidak taat hukum/aturan pasti kacau. Semua harus taati UU. Tanpa kecuali, TNI.

 

Dalam UU 34/ 2004 tentang TNI, juga di UUD45 dan konvensi dunia, *gerak tentara diatur rinci*. Sekecil apa pun pelibatan tentara ke otoritas sipil *harus dengan keputusan politik*. Ya sekecil apapun 

Minggu, 03 Januari 2021

Lebih Dekat Dengan Kejawen, Pandangan Hidup Masyarakat Jawa

Kejawen atau dikenal juga dengan kebatinan adalah sebuah kepercayaan dari masyarakat Jawa.

Secara etimologi kata "kejawen" berasal dari kata "Jawa", sehingga kejawen dapat diartikan segala sesuatu yang berkenaan dengan Jawa, seperti adat dan kepercayaan.

Walaupun disebut kepercayaan, kejawen pada dasarnya adalah sebuah filsafat atau pandangan hidup.

Ini dibuktikan dari naskah-naskah kuno kejawen, terlihat bahwa kejawen lebih berupa kegiatan adat istiadat, ritual, seni, sikap, budaya, dan filosofi orang Jawa.

Semua hal tersebut pada dasarnya tidak terlepas dari aspek spiritualitas dari masyarakat Jawa yang mempraktiknya dalam tindakan sehari-hari.

Kejawen sendiri muncul akibat adanya akulturasi nilai dan pandangan dari agama-agama pendatang yang masuk ke pulau Jawa dan kepercayaan asli dari masyarakat Jawa itu sendiri.

Agama-agama tersebut di antaranya seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam yang datang dari luar kawasan nusantara. Sebelum agama-agama tersebut masuk masyarakat Jawa memiliki kepercayaan seperti animisme, dinamisme, atau praktik perdukunan.

Pada umumnya mereka (orang Jawa) yang menganut kejawen dalam praktik keagamaanya entah itu Hindu, Budha, Kristen, atau Islam akan cenderung lebih taat.

Akan tetapi para penganut kejawen ini dalam praktik keagamaanya akan tetap mempertahankan jati dirinya sebagai orang Jawa, karena pada dasarnya ajaran kejawen yang dianut oleh masyarakat Jawa mendorong untuk para penganutnya percaya akan eksistensi dari Tuhan.

Oleh karenanya konsep ini tidak bertentangan dengan konsep dari agama-agama seperti sebelumnya disebutkan.

Karena memang sudah sejak lama, masyarakat Jawa telah mengenal konsep keesaan Tuhan atau monoteisme.

Hal ini seperti yang ada pada salah satu konsep ajaran kejawen yang sering dikenal dengan "Sangkan Paraning Dumadhi" atau dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah asal dari semua kejadian atau kehidupan.

Kedua adalah "Manunggaling Kawula Lan Gusthi" yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah kesatuan antara hamba dan Tuhan.

Konsep kesatuan di sini tidak berarti Tuhan itu sendiri, melainkan bahwa manusia itu adalah bagian dari Tuhan sang pencipta alam semesta dan seisinya.

Dari konsep ini, ajaran kejawen memiliki tujuan, bahwa setiap mereka yang menganut akan menjadi:

Mamayu Hayuning Pribadhi (rahmat bagi diri sendiri atau pribadi)

Mamayu Hayuning Kaluwarga (rahmat bagi keluarga)

Mamayu Hayuning Sasama (rahmat bagi sesama manusia)

Mamayu Hayuning Bhuwana (rahmat bagi alam semesta)

Empat poin ini membuat ajaran kejawen tidak terpaku pada aturan-aturan yang ketat dan lebih berfokus pada konsep tentang keseimbangan kehidupan. Dan mereka yang menganut kejawen hampir tidak pernah melakukan perluasan ajaran tapi lebih ke membuat pembinaan secara rutin.

Hal ini membuat para penganut ajaran kejawen tidak memandang ajaranya sebagai sebuah agama tetapi lebih sebagai cara pandang atau pandangan hidup.

Maka ajaran ini akan berkembang mengikuti agama yang dianut oleh penganutnya, sehingga kemudian timbul berbagai terminologi seperti Hindu kejawen, Budha kejawen, Kristen kejawen, atau Islam kejawen.

Mereka tetap mempertahankan adat dan budaya kejawen yang tidak bertentangan dengan prinsip agama yang dipeluknya. 

Mengenal Aliran Kepercayaan Kejawen

Kepercayaan akan Sang Pencipta banyak di tafsirkan banyak cara dan arti oleh masyarakat. Selain aliran kepercayaan yang di sebut Agama, juga terdapat aliran kepercayaan lain.

Salah satunya yakni “Kejawen”. Kejawen (bahasa Jawa Kejawèn) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di pulau Jawa oleh suku Jawa dan suku bangsa lainnya yang menetap di Jawa. Kejawen hakikatnya adalah suatu filsafat di mana keberadaanya ada sejak orang Jawa itu ada.

Hal tersebut dapat dilihat dari ajarannya yang universal dan selalu melekat berdampingan dengan agama yang dianut pada zamannya. Kitab-kitab dan naskah kuno Kejawen tidak menegaskan ajarannya sebagai sebuah agama meskipun memiliki laku.

Kejawen juga tidak dapat dilepaskan dari agama yang dianut karena filsafat Kejawen dilandaskankan pada ajaran agama yang dianut oleh filsuf Jawa.

Sejak dulu, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sehingga menjadi inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan insan : Sangkan Paraning Dumadhi (“Dari mana datang dan kembalinya hamba tuhan”). Membentuk insan se-iya se-kata dengan tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusthi (“Bersatunya Hamba dan Tuhan”).

Berbeda dengan kaum abangan kaum kejawen relatif taat dengan agamanya. Dengan menjauhi larangan agamanya dan melaksanakan perintah agamanya, namun tetap menjaga jatidirinya sebagai orang pribumi.

Hal tersebut karena ajaran filsafat kejawen memang mendorong untuk taat terhadap tuhannya. jadi tidak mengherankan jika ada banyak aliran filsafat kejawen menurut agamanya yang dianut seperti : Islam Kejawen, Hindu Kejawen, Kristen Kejawen, Budha Kejawen, Kejawen Kapitayan (Kepercayaan) dengan tetap melaksanakan adat dan budayanya yang tidak bertentangan dengan agamanya.

Kata “Kejawen” berasal dari kata “Jawa”, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)”. Penamaan “kejawen” bersifat umum, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa.

Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia). Kejawen sebagai agama itu dikembangkan oleh pemeluk Agama Kapitayan jadi sangat tidak arif jika mengatasnamakan Kejawen sebagai agama di mana semua agama yang dianut oleh orang jawa memiliki sifat-sifat kejawaan yang kental.

Penganut ajaran kejawen biasanya tidak menganggap ajarannya sebagai agama dalam pengertian seperti agama monoteistik, seperti Islam atau Kristen. Tetapi lebih melihatnya sebagai seperangkat cara pandang dan nilai-nilai yang dibarengi dengan sejumlah laku (mirip dengan “ibadah”).

Ajaran kejawen biasanya tidak terpaku pada aturan yang ketat dan menekankan pada konsep “keseimbangan”. Sifat Kejawen yang demikian memiliki kemiripan dengan Konfusianisme (bukan dalam konteks ajarannya). Penganut Kejawen hampir tidak pernah mengadakan kegiatan perluasan ajaran, tetapi melakukan pembinaan secara rutin.

Simbol-simbol “laku” berupa perangkat adat asli Jawa, seperti keris, wayang, pembacaan mantera, penggunaan bunga-bunga tertentu yang memiliki arti simbolik, dan sebagainya. Simbol-simbol itu menampakan kewingitan (wibawa magis) sehingga banyak orang (termasuk penghayat kejawen sendiri). Hal tersebut yang dengan mudah memanfaatkan kejawen dengan praktik klenik dan perdukunan yang padahal hal tersebut tidak pernah ada dalam ajaran filsafat kejawen.

Ajaran-ajaran kejawen bervariasi, dan sejumlah aliran dapat mengadopsi ajaran agama pendatang, baik Hindu, Buddha, Islam, maupun Kristen. Gejala sinkretisme ini sendiri dipandang bukan sesuatu yang aneh karena dianggap memperkaya cara pandang terhadap tantangan perubahan zaman.

Kejawen tidak memiliki Kitab Suci, tetapi orang Jawa memiliki bahasa sandi yang dilambangkan dan disiratkan dalam semua sendi kehidupannya dan mempercayai ajaran-ajaran Kejawen. Ajaran tersebut tentunya yang tertuang di dalamnya tanpa mengalami perubahan sedikitpun karena memiliki pakem (aturan yang dijaga ketat). (bsn)

 



Sangkan Presentasi

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4080078448675203&id=100000192644428&sfnsn=wiwspwa

Sangkan FB

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4080078448675203&id=100000192644428&sfnsn=wiwspwa