Senin, 19 Februari 2024

Potret Buruk Islam; Sepuluh Tesis Anti Kebencian

(Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass)

------------------------------------------------------

Seorang politikus dari partai CDU (Kristen-Demokrat) yang pernah 18 tahun duduk di parlemen Jerman, Jürgen Todenhöfer, telah membaca Quran.

Setelah membaca, mengamati dan berpikir, ia menulis. Hasilnya: sebuah buku “Feinbild Islam – Zehn Thesen gegen Hass” (Potret Buruk Islam - Sepuluh Tesis Anti Kebencian), yang terbit di akhir tahun 2011. 

Berikut Ringkasannya:

1. Barat Lebih “Brutal“ dari Dunia Islam

Todenhöfer, dalam tesis pertama, mengingatkan fakta sejarah yang sering terlupa di dua abad terakhir. Barat jauh lebih brutal daripada dunia Muslim. Jutaan warga sipil Arab tewas sejak kolonialisme dimulai. Atas nama kolonialisasi, Prancis pernah membunuh lebih dari dua juta penduduk sipil di Aljazair, dalam kurun waktu 130 tahun. Atas nama kolonialisasi, Italia pernah menggunakan phosphor dan gas mustard untuk menghabisi penduduk sipil di Libya. Atas nama kolonialisasi, Spanyol juga pernah menggunakan senajata kimia di Marokko.

Tidak berbeda di era setelah perang dunia kedua. Dalam invansi Perang Teluk kedua, semenjak tahun 2003, UNICEF menyebutkan, 1,5 juta penduduk sipil Irak terbunuh. Sepertiganya anak-anak. Tidak sedikit dari korban terkontaminasi amunisi uranium. Di Baghdad, hampir setiap rumah kehilangan satu anggota keluarganya.

Sebaliknya, di dua abad terakhir, tidak satu pun negara islam menyerang, mengintervensi, mengkolonialisasi Barat. Perbandingan jumlah korban mati (dunia Islam: dunia Barat) adalah 10:1. Problema besar dunia, di dua abad belakangan ini, bukan kebrutalan Islam, tapi kebrutalan beberapa negara-negara Barat.

2. Mempromosikan Anti-Terorisme, Melahirkan Terorisme

Terorisme jelas tidak dibenarkan. Menilik secara objektiv, terorisme justru lahir dari politik anti-terorisme Barat yang keliru. "Seorang pemuda muslim," tulis Todenhöfer, "yang secara rutin memantau berita di televisi, hari demi hari, tahun demi tahun, akan situasi di Irak, Afghanistan, Pakistan, Palestina dan di tempat lain, di mana perempuan, anak-anak dan penduduk sipil, dihabisi oleh Barat dengan brutal, justru diprovokasi untuk menjadi seorang teroris."

Beruntung saja, sebagian besar pemuda islam tidak terpancing. Mereka memilih jalan yang berbeda. Di Tunisia, Mesir, Libya, Marokko, dan negara-negara muslim lainnya, mereka menjawab ketidak-adilan yang menimpa mereka melalui jalan demokrasi dan teriakan kebebasan, bukan teror dan kekerasan.

3. Terorisme: Fenomena Dunia, Bukan Fenomena Islam

Pemeo favorit di setiap diskursi bertemakan terorisme: “Tidak setiap muslim teroris, tapi seluruh teroris adalah muslim.” Selain jauh dari benar, dengan data dan fakta, propaganda ini mudah dipatahkan.

Data resmi Badan Kepolisian Eropa, Europol, menyebutkan: Dari 249 aksi teror di tahun 2010, hanya tiga yang pelakunya berlatar belakang Islam. Bukan 200, bukan 100 – tapi tiga! Data di tahun-tahun sebelumnya, juga tidak kalah mengejutkan: Dari 294 aksi terror di tahun 2009, hanya satu yang berlatar belakang Islam. Hanya satu dari 515 aksi teror di tahun 2008. Hanya empat dari 583 di tahun 2007.

4. Hukum Internasional untuk Semua

Di hadapan hukum internasional, dunia Barat selalu mentematisir, dan merekam dengan baik, 3500 korban terorisme yang jatuh atas nama “teror-Islam“ semenjak pertengahan 1990-an (termasuk korban WTC, pada 11/9). Tapi mengapa ratusan-ribu warga sipil yang terbunuh dalam intervensi di Irak tidak pernah ditematisir?

Lebih jauh, Todenhöfer bertanya kritis: “mengapa elite Barat, tidak pernah sekalipun menimbang; membawa George W. Bush dan Tony Blair ke hadapan mahkamah internasional, atas serangan sepihaknya ke Irak? Apakah hukum internasional hanya berlaku untuk orang-orang non-Barat?“

Perang, bukan jawaban untuk aksi-aksi terorisme. Perang, hanya manis untuk mereka yang tidak mengenalnya. Teroris yang membunuh orang-orang tidak berdosa, bukanlah pejuang kebebasan, bukan pahlawan, bukan pula syuhada. Mereka mengkhianati agama mereka. Mereka adalah pembunuh.

5. Muslim, Toleransi dan “Perang Suci“

Bukan Muslim, yang atas nama kolonialisasi membunuh 50 juta nyawa di seantero Afrika dan Asia. Bukan Muslim, yang atas nama perang dunia pertama dan kedua menghabiskan 70 juta nyawa. Bukan pula Muslim, yang menggencarkan genosida terhadap 6 juta orang-orang Yahudi.

Islam tidak mengenal kata suci dalam kaitannya dengan perang. Jihad bermakna sungguh-sungguh di jalan Tuhan. Tidak ada satu tempat pun di Quran yang memaknakan jihad dengan perang suci. Karena perang tidak pernah suci, dan kesucian hanya ada di jalan perdamaian.

6. Kontekstual Quran dan Islam-Teroris

Permasalahan besar dalam perdebatan Quran di dunia Barat, adalah setiap orang bernafsu membicarakannya, sangat-sangat sedikit yang pernah membacanya.

Sebagian besar mereka tidak lagi rasional dan ilmiah. Hanya mengutip beberapa tekstual yang mengesankan islam pro “perang” tanpa pernah mau tahu konteksnya. Padahal pesan-pesan Quran yang dikesankan seperti itu, spesifik diterima Muhammad, dalam konteks perlawanan antara penduduk Mekkah dan Madinah, waktu itu.

Seperti Musa dan Isa, Muhammad tidak dilahirkan pada situasi dunia yang sedang vakum, apalagi damai. Mereka hadir pada saat moralitas dunia bobrok, penuh perang, perjuangan dan perlawanan. Adalah sangat lumrah beberapa tekstual yang terkesan pro “perang” itu bisa ditemukan di Quran, semudah bisa ditemukan di kitab Perjanjian Lama dan kitab Perjanjian Baru.

Secara semantis, diksi “islam-teroris”, “kristen-teroris” atau “yahudi-teroris” adalah sebuah penyesatan bahasa. Terorisme, menurut Todenhöfer, berdiri di atas instrumen setan, tidak boleh dikaitkan dengan kesucian Tuhan dan keagamaan. Memang benar, di dalam Islam, Kristen, atau Yahudi ada ideologi teror - tapi bukan ajaran agamanya. Ideologi ini tidak mengantarkan mereka ke surga, tapi ke neraka.

7. Fakta atau fake ?

Kalimat andalan kritikus anti-Islam di barat: “siapa yang menginginkan panggilan azan terdengar di kota-kota kami, harus membiarkan juga lonceng gereja berbunyi di kota-kota mereka!" Padahal nyatanya: Di Teheran, semisal, berdiri banyak gereja. Loncengnya berbunyi tidak jarang, dan tidak pelan. Lebih jauh, anak-anak kristen memiliki pelajaran agamanya sendiri (sesuatu yang luxus untuk anak-anak muslim di Barat).

Barat megidentifikasi jilbab sebagai simbol pengekangan dan ketertindasan. Dari survey resmi, wanita-wanita pemakai jilbab, yang begitu dipedulikan barat itu, justru berkata bukan (tetapi atas kesadaran pribadi). Sinisme jilbab, sebagian besar justru datang dari mereka yang tidak berjilbab dan anti-jilbab. Memaksa seseorang berjilbab, jelas menyalahi hak asasi. Tidak jauh berbeda, dari prosesi pemaksaan untuk melepasnya.

Barat menuduh perempuan-perempuan islam tidak berpendidikan. Fakta dari dunia islam menjawab lain. Secara statistis, perempuan di negara-negara mayoritas islam, justru lebih berpendidikan dibanding Barat: 30% Profesor di Mesir perempuan, padahal di Jerman jumlahnya hanya sekitar 20%. Lebih dari 60% mahasiswa di Iran adalah perempuan. Di Uni Emirat Arab, sudah semenjak tahun 2007, mahasiswa perempuan menginjak angka yang sulit dipercaya: 77%.

8. Seorang Muslim = Seorang Yahudi = Seorang Kristen

Tidak ada seorang bayi pun terlahir sebagai seorang teroris. Barat harus memperlakukan seorang Muslim, persis seperti seperti mereka memperlakukan seorang Kristen atau Yahudi.

Tidak jarang kita dengar politikus dan aktivis Barat, demonstratif, mengumbar kalimat penuh kebencian terhadap Islam. Frank Graham, penasehat George W. Bush, menyebut Islam sebagai “agama iblis dan sihir”. Politikus kanan Belanda, Geert Wilders, menyebut Islam sebagai “agama fasis”. Thilo Sarrazin, politikus Jerman memberikan thesis: “secara genetis, anak-anak dari keluarga Islam, dilahirkan di bawah tingkat kecerdasan rata-rata.”

Bayangkan sejenak, jika Frank Graham, Greet Wilders, dan Thilo Sarrazin mengganti objek tesis-nya bukan kepada "Islam", tetapi menjadi "Yahudi" atau “Kristen”. Tidakkah ucapan seperti itu akan menjadi badai kemarahan yang dahsyat? Mengapa Barat boleh mengatakan hal-hal penuh fasistik dan rassist terhadap Islam, yang justru di kalangan orang-orang Kristen dan Yahudi sesuatu yang tabu? Barat harus mengakhiri demonisasi Islam dan Muslim.

9. Muslim Melawan Teror

Di tesis kesembilan, Todenhöfer mengajak umat Islam, melalui sebuah reformasi sosial, menjejak Nabi Muhammad yang berjuang untuk sebuah Islam yang beradab dan toleran. Untuk tatanan ekonomi dan politik yang dinamis, bukan statis – sambil mempertahankan identitas keagamaannya. Untuk persamaan yang penuh, pria dan wanita. Untuk kebebasan beragama yang nyata.

Tidak seperti politikus umumnya, Muhammad, bukan seorang reaksioner. Dia adalah seorang revolusioner, berani berpikir dan berani mematahkan belenggu tradisi. Islam di masa Muhammad bukanlah agama stagnan, apalagi regresif, tetapi pembaruan dan perubahan. Muhammad berjuang untuk perubahan sosial, ia pahlawan orang miskin dan orang lemah. Dia mengangkat hak-hak kaum perempuan, yang di periode sebelumnya nyaris tidak ada.

Muhammad bukan seorang fanatik atau seorang ekstrimis. Dia hanya ingin membawa orang-orang Arab, yang kala itu terjebak pada belenggu politeistik, untuk kembali ke sumber aslinya yang murni, agama Ibrahim, persis seperti yang disuarakan Musa dan Isa.

Terorisme, yang berada di sekelumit dunia Islam pada hari ini adalah distorsi ajaran Muhammad. Ini adalah kejahatan melawan Islam. Dunia Islam tidak boleh membiarkan citra baik Islam, yang dibangun Muhammad 14 abad yang lalu, dihancurkan seketika oleh ideologi kriminal ini. Dunia Islam perlu memerangi ideologi terorisme ini, persis seperti Muhammad memerangi berhala-berhala dari periode pra-Islam.

10. Politik Bukan Perang

Kalimat bijak pernah mengajarkan: "ketika kamu tidak bisa menaklukan musuhmu, peluk dia!"

Masalah kompleks di Timur tengah, hanya bisa diselesaikan dengan jalur politik, bukan dengan perang. Barat harus membuka pintu diskusi yang lebih lebar untuk dunia Islam. Barat harus membuka ruang bilateral dan unilateral lebih besar untuk negara-negara Arab. Kesatuan dan stabilitas yang perah terjadi di Uni Eropa, nyatanya, tidak berdiri di atas invansi senjata, tapi di atas politik diplomatisasi yang penuh visi.

Sebuah visi akan sebuah dunia, yang setiap negara di dalamnya dihargai. Sebuah penghargaan yang tanpa diskriminasi. Politik anti-diskriminasi yang dibangun di atas keadilan dan kebebasan, bukan perang, apalagi penindasan.***

-----

ditulis Yudi Nurul Ihsan, Mahasiswa Indonesia S3 di Jerman. 

Minggu, 11 Februari 2024

Dirty Vote

Dirty Vote merupakan film dokumenter yang dibintangi oleh *tiga ahli hukum tata negara*. Mereka adalah Dr. Zainal Arifin Mochtar (Pakar Hukum UGM), Bivitri Susanti, SH, LLM (Akademisi UI), dan Feri Amsari, SH, MH, LLM (Univ. Andalas).

 

Tiga Ahli Hukum Tata Negara ini mengungkap *desain kecurangan Pemilu 2024* dengan memaparkan berbagai modus kecurangan yang terjadi dalam pemilu, *berdasarkan data dan fakta* yang mereka kumpulkan. Penggunaan infrastruktur kekuasaan yang kuat, *tanpa malu-malu dipertontonkan secara telanjang* demi mempertahankan kekuasaan dinasti dan oligarki.

.

*MODUS KECURANGAN YANG TERUNGKAP*

Film Dirty Vote mengupas berbagai modus kecurangan yang *terstruktur dan sistematis* diurai dengan *analisa hukum tata negara*, di antaranya:

 

*1. Penggunaan Instrumen Negara.* Kekuatan dan kekuasaan instrumen negara, seperti aparat keamanan dan birokrasi dimanfaatkan untuk memenangkan kandidat tertentu. Contohnya, intimidasi terhadap pemilih, *penyalahgunaan wewenang*, dan penggunaan fasilitas negara untuk kampanye.

 

*2. Politik Uang dan Gratifikasi.* Politik uang, mahar politik, dan gratifikasi marak terjadi, memanipulasi suara rakyat dengan iming-iming materi. Contohnya, pemberian uang kepada pemilih, *pembagian sembako/BLT bukan atas nama negara*, dan janji-janji politik yang tidak realistis.

 

*3. Manipulasi Data dan Informasi.* Manipulasi data pemilih, seperti KTP elektronik ganda, dan penyebaran hoaks menjadi senjata untuk meraup suara. Contohnya, *penambahan data pemilih fiktif*, pencoblosan kertas suara sebelum waktunya, dan penyebaran berita bohong melalui media sosial.

 

*4. Penyalahgunaan Media Sosial* Media sosial dibajak untuk menyebarkan propaganda, ujaran kebencian, informasi menyesatkan, dan memecah belah masyarakat yang dilakukan oleh *para buzzer bayaran*. Contohnya, ujaran kebencian terhadap kandidat tertentu, propaganda SARA, dan berita bohong yang provokatif.

 

*5. Keterlibatan Oligarki* Kekuatan oligarki dengan *pengaruh finansial* dan politiknya berusaha mengendalikan jalannya pemilu demi keuntungan pribadi. Contohnya, pendanaan kampanye yang tidak transparan, *kongkalikong dengan tokoh partai politik (yang tersandera)*, dan penggunaan media massa untuk kepentingan politik.

.

*DAMPAK DAN KEKHAWATIRAN*

Film Dirty Vote menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia di ambang jurang kehancuran. *Kecurangan yang sistematis dan terstruktur mengancam integritas pemilu, memicu ketidakpercayaan publik, dan berpotensi melahirkan konflik*.

.

*PESAN DAN SERUAN*

Film ini menjadi alarm bagi rakyat Indonesia untuk *bangun dan melawan kecurangan*. Dirty Vote mengajak masyarakat untuk mengawal penyelenggaraan pesta demokrasi secara jujur, adil dan bermartabat, dengan cara:

 

*1. Kritis*: Mengawasi jalannya pemilu dengan kritis dan tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar.

 

*2. Mengawasi*: Melaporkan pelanggaran yang terjadi kepada Bawaslu dan lembaga terkait.

 

*3. Berani*: Berani melawan kecurangan dan tidak takut untuk menyuarakan kebenaran.

.

*KESIMPULAN*

Dirty Vote merupakan film dokumenter yang dibuat oleh tiga ahli hukum tata negara tentang *catatan kecurangan dalam proses perjalanan penyelenggaraan Pemilu 2024* yang apabila tidak bisa diatasi maka akan menjadi *“sejarah kelam demokrasi Indonesia”*. Film ini menjadi pengingat bahwa demokrasi hanya bisa dijaga dengan partisipasi aktif rakyat yang kritis dan berani melawan kecurangan.

 

*CATATAN*

Film Dirty Vote menuai kontroversi dari berbagai pihak, terutama dari *kubu petahana*. Mereka menuding film ini sebagai propaganda untuk mendiskreditkan pemerintah dan memicu kerusuhan.

 

Meskipun menuai kontroversi, Dirty Vote *berhasil memicu diskusi public* yang luas tentang demokrasi dan potensi kecurangan dalam Pemilu 2024. Film ini menjadi pengingat bagi rakyat Indonesia untuk kritis dan aktif dalam menjaga demokrasi.

 

***


Jumat, 02 Februari 2024

Tauladan Kepemimpinan Khalifah Umar Bin Khatab

1. Khalifah Umar bin Khatab

Umar Bin Khatab RA adalah khalifah kedua pengganti Khalifah Abubakar As-shidiq dalam mengemban amanah menjadi pemimpin umat Islam.

Beliau merupakan salah satu pemimpin terbaik yang menjadi tauladan dan inspirasi bagi para pemimpin dunia.

Selama kepemimpinan beliau, selama kurang lebih 10 tahun 6 bulan wilayah Islam meluas ke timur sampai ke perbatasan India dan ke barat sampai ke Afrika Utara.

Beberapa wilayah yang berhasil ditaklukkan oleh Umar bin Khattab RA adalah Damaskus, Yordania, Al-Madain, Al-Ahwaz, Tikrit, Mesir, Alexandria, Azerbaijan, sampai dengan Kota Karman Sajistan Makran.

Berkat kecerdasan, keberanian, kejujuran, keadilan, dan kebijakannya, beliau menjadi pemimpin yang disegani dan dicintai rakyatnya.

 

2. Kisah Blusukan

Suatu ketika khalifah Umar bin Khattab melakukan blusukan di malam hari. Beliau ingin mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali Aslam sahabat setianya.

Di tengah jalan beliau mendengar suara tangis seorang gadis kecil yang berasal dari sebuah gubuk kecil yang lusuh. Khalifah Umar lantas menintip dari celah gubuk dan dilihatnya seorang wanita yang sedang mengaduk-aduk bejanaDisampingnya ada dua orang gadis kecil sedang telentang sambil menangis.

Beliau mengetuk pintu, mengucapkan salam dan masuk gubuk. Khalifah Umar bertanya kepada wanita itu,

Kenapa anak-anakmu menangisApakah dia sakit?”

”Tidak, mereka lapar,” jawab wanita itu dengan agak ketus.

Apa yang kau masak?” tanya Khalifah.

”Kau lihatlah sendiri!” jawab wanita itu.

Betapa terkejut Khalifah Umar dan Aslam aetelah melihat isi bejana tersebut, ternyata isinya batu.

Kenapa engkau memasak batu?” tanya Khalifah Umar dengan tercengang.

”Untuk menghibur anakku.”

Wanita itu melanjutkan:

Inilah kejahatan Khalifah UmarDia tidak mau melihat ke bawah, tidak tahu rakyatnya menderita kelaparan”.

”Aku seorang janda, suamiku telah lama meninggal. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan aku isi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan,” ucap wanita itu.

”Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak peduli dengan penderitaan rakyatnya.

 

Wanita itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita ituTetapi, Khalifah Umar mencegahnya.

Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya. Segera lah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah.

 

Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum. Tanpa memedulikan rasa lelah, Khalifah Umar mengangkat sendiri karung gandum tersebut di punggungnya.

Aslam segera mencegah.

Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu,” kata Aslam.

Kalimat Aslam tidak mampu membuat Umar tenang. Wajahnya merah padam mendengar perkataan Aslam.

Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam nerakaApakah kau bisa memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?” kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke gubuk reot tempat tinggal wanita itu.

Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri yang memasak makanan disuguhkan kepada wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

 

Makanan habis dan sebelum berpamitan Khalifah Umar berkata:

Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sanaInsya Allah dia akan mencukupimu,” kata Khalifah Umar.

 

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

”Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum,” kata wanita itu.

”Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggung jawabkan ini di hadapan Allah kelak? Maafkan aku, ibu,” kata Khalifah Umar.

 

3. Pemimpin Yang Menjadi Tauladan

Begitulah sekelumit kisah blusukan Khalifah Umar. Beliau melakukan blusukan secara diam-diam, di malam hari, tanpa diketahui oleh siapapun, kecuali satu orang sahabatnya. Tujuan blusukan beliau adalah untuk mengetahui kondisi nyata rakyatnya tanpa ada rekayasa, bukan pencitraan.

Umar bin Khatab dikenal oleh sebagai sosok yang tegas dan berani. Keberaniannya itu membuat beliau dijuluki sebagai “Singa padang pasir

Umar bin Khatab merupakan sosok yang kaya, tetapi hidup secara sederhana. Sebagian besar harta kekayaannya dipergunakan untuk perjuangan dakwah pengembangan Islam. Khalifah Umar pernah pergi ke daerah Khaibar, karena lelah kantuk beliau tidur istirahat di bawah pohon kurma dan tidur beralaskan tikar dan berbantalkan batu bata.

Umar bin Khatab adalah seorang Amirul mukminin, pemimpin umat Islam yang dicintai oleh rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya.

Rasulullah SAW bersabda, Sebaik-baiknya pemimpin adalah yang mencintai rakyatnya, dan rakyatnyapun mencintainya. Dia selalu mendoakan kebaikan untuk rakyatnya.”

Sebagai Amirul mukminin, pemimpin umat Islam Umar bin Khatab dikenal mempunyai karakter yang cerdas, jujur, adil, peduli, berani, dan sederhana.

 

4. Pemilihan Umum

Saat ini kita tengah berada pada situasi pesta demokrasi, yaitu Pemilu untuk memilih pemimpin, baik itu pemilihan kepala negara maupun kepala daerah.

Bagi umat Muslim Indonesia, partisipasi dalam Pemilu hukumnya wajib, karena Pemilu merupakan proses pemilihan pemimpin yang agenda aturan mainnya telah ditetapkan oleh Ulil Amri, pemerintah dalam undang-undang.

Dalam al Qur’an surat An-Nisa ayat 59, Allah berfirman: “Yaa ayyuhal ladziina aamanuu athii’ullooha wa athii’ur rosulla wa ulil amri mingkum.” artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya serta para pemimpin di antara kalian.

Dalam proses Pemilu untuk mendapatkan pemimpin yang ideal, yang berintegritas, yaitu yang mumpuni  (kompeten) dan amanah, tentu harus dilakukan melalui dua proses yang baik dan benar, yaitu:  proses penyelenggaraan , dan cara pemilihan.

1) Penyelenggaraan Pemilu yang baik dan benar adalah penyelenggaraan yang jujur, adil dan bermartabat

2) Cara pemilihan yang baik dan benar harus dilakukan secara obyektif dan pertimbangan akal sehat.


5. Kriteria Pemimpin Ideal

Untuk mendapatkan pemimpin yangideal, yaitu yang berintegritas, atau yang kompeten dan amanah, maka harus dilakukan secara obyektif dan pertimbangan nalar sehat.

Tidaklah dibenarkan memilih pemimpin berdasarkan pertimbangan subyektivitas, yaitu:

> Faktor kekerabatan, kesukuan atau golongan, bisa disebut dengan nepotisme.

> Tidak boleh juga didasarkan atas faktor popularitas atau elektabilitas.

> Tidak boleh juga didasarkan atas factor rayuan dalam bentuk money politik, seperti serangan fajar, bantuan sosial sembako, dsb.


Cara menentukan pilihan atau memilih pemimpin yang benar sesuai pandangan Islam harus didasarkan pada kriteria sifat-sifat mulia Rasulullah, yaitu: siddiq (jujur), amanah (terpercaya), fathonah (cerdas) dan tabligh (menyampaikan) … SAFT.

a. Sidiq (Jujur)

Jujur adalah sikap kesesuaian antara perkataan (ucapan) dengan fakta kenyataan dan tindakan yang seharusnya dilakukan.  Contoh sikap jujur adalah berterus terang, tidak menutupi, tidak manipulasi, dan tidak dusta. 

b. Amanah (terpercaya)

Amanah mempunyai pengertian mampu menjaga segala sesuatu yang dipercayakan secara konsekuen dan penuh rasa tanggung jawab. Pengertian amanah yang lebih luas adalah integritas, yaitu memegang teguh nilai-nilai moral etika yang baik. Integritas meliputi sifat adil, tanggung jawab, berani dan konsekuen.

c. Fathonah (cerdas)

Fathonah mempunyai pengertian mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi, memiliki pengetahuan yang luas, serta kreatif dan inovatif.

e. Tabligh (transparan & akuntable)

Tabligh mempunyai pengertian terbuka/transparan dan kesediaan untuk mempertanggung jawabkan atas tugas yang dilakukannya.

Untuk mendapatkan informasi dan data tentang karakter SAFT itu bisa didapatkan melalui track record (riwayat kinerja) atau jejak digital yang telah dipublikasikan melalui media massa, atau media sosial yang terpercaya, atau perbincangan para cerdik pandai.


5. Kesimpulan

a. Pemimpin ideal adalah pemimpin yang kompeten dan amanah yaitu punya kemampuan dan berintegritas (dapat dipercaya).

b. Memilih pemimpin yang kompeten dan amanah HARUS didasari oleh pertimbangan yang sesuai akal sehat, yaitu sesuai dengan kriteria sifat-sifat mulia Rasulullah, yaitu SAFTSiddiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh. BUKAN atas dasar nepotisme (kekerabatan), popularitas (elektabilitas) ataupun rayuan (money politik).

c. Rasulullah bersabda: “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari – 6015)


Wassalam ...


*****

Ket:

Integritas adalah suatu kualitas yang berkaitan dengan kepribadian dan karakter seseorang sehingga ia dapat dipercaya untuk mengemban suatu tugas.

Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang sesuai dengan standardisasi yang diharapkan.


> https://finance.detik.com/sosok/d-6683759/kesederhanaan-umar-bin-khattab-kaya-raya-tapi-tidur-beralaskan-tikar

> https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7092200/meneladani-6-sifat-umar-bin-khattab-sahabat-nabi-dan-khalifah-kedua  

> https://www.republika.co.id/berita/pq1lne349/pemimpin-melayani-bukan-dilayani

> https://blogkalimana.blogspot.com/2024/02/

·     Empat Sifat Mulia Rasulullah SAW

     ·     Panduan Memilih Pemimpin (dalam Islam)