Jumat, 26 April 2024

Perbedaan Ushul dan Furu'

Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq. Ketiganya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, satu sama lainnya saling terkait dan saling menyempurnakan.
Ketiganya terhimpun dalam ajaran Islam melalui dua ruang ilmu, yaitu : USHULUDDIN dan FURU’UDDIN.
Ushuluddin biasa disingkat Ushul, yaitu ajaran Islam yang pokok utama, prinsip, dan sangat mendasar.
Umat Islam wajib sepakat dalam perkara Ushul dan tidak boleh berbeda, karena perbedaan dalam masalah ushul adalah penyimpangan yang jelas mengantarkan kepada kesesatan.
Sedangkan Furu’uddin biasa disingkat Furu bisa berarti cabang, yaitu ajaran Islam yang juga sangat penting namun bukan prinsip dan tidak mendasar, sehingga Umat Islam boleh berbeda dalam masalah furu’.
Karena perbedaan dalam Furu’ bukan penyimpangan dan tidak mengantarkan kepada kesesatan, tapi dengan satu syarat yakni: Ada dalil yang bisa dipertanggungjawabkan secara syari.
Penyimpangan dalam Ushul tidak boleh ditoleran, tapi wajib diluruskan.
Sedang perbedaan dalam Furu’ wajib ditoleran dengan besar hati dan lapang dada serta sikap saling menghargai dan menghormati.
.
Contoh Ushul dan Furu
1. Dalam Aqidah.
Kebenaran peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah masalah Ushul, karena dalilnya Qothi, baik dari segi Wurud maupun Dilalah.
Namun masalah apakah Nabi Muhammad SAW mengalami Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad atau dengan Ruh saja, maka ini masuk masalah Furu’. Karena dalilnya Zhonni, baik dari segi Wurud maupun Dialalah.
Itu sebabnya, barangsiapa menolak kebenaran peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW maka ia telah sesat, karena menyimpang dari Ushul Aqidah.
Namun barangsiapa yang mengatakan Rasulullah SAW mengalami Isra’ Mi’raj dengan Ruh dan Jasad atau Ruh saja, maka selama memiliki Dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah Furu Aqidah.
2. Dalam Syariat
Kewajiban Shalat 5 Waktu adalah masalah Ushul, karena Dalilnya Qothi, baik dari segi Wurud maupun Dilalah.
Namun masalah apakah boleh dijama’ tanpa udzur, maka masuk masalah Furu’, karena dalilnya Zhoni, baik dari segi Wurud mau pun Dialalah.
Jadi jelas, barangsiapa menolak kewajiban shalat lima waktu maka ia telah sesat karena menyimpang dari Ushul Syariat. Namun barangsiapa yang berpendapat bahwa boleh menjama’ shalat tanpa ’udzur atau sebaliknya, maka selama memiliki dalil Syar’i ia tidak sesat, karena masalah Furu Syariat.
3. Dalam Akhlaq.
Berjabat tangan sesama muslim adalah sikap terpuji adalah masalah Ushul, karena salilnya Qothi, baik dari segi Wurud mau pun Dilalah.
Namun masalah bolehkah jabat tangan setelah shalat berjama’ah, maka masuk masalah Furu’, karena dalilnya Zhonni, baik dari segi Wurud maupun Dilalah.
Itu sebabnya, barangsiapa menolak kesunnahan jabat tangan antar sesama muslim, maka ia telah sesat, karena menyimpang dari Ushul Akhlak. Namun perkara kebolehan berjabat tangan setelah shalat berjama’ah itu masalah Furu Akhlak.
Nah dari sini sebetulnya bisa kita ketahui pentingnya ilmu yang memadai, jiwa yang tegas dan hati yang bersih dalam memahami suatu masalah. Sehingga furu’iyah atau perbedaan pendapat dikalangan kaum Muslimin bisa lebih teratasi dengan sikap saling menghormati. Bukan malah membid’ahkan dan mengkafirkan antar sesama.

Wallaahua’lam bisshawab. 

Kamis, 25 April 2024

Muhammadiyah Selayang Pandang

Mengenal sekilas Muhammadiyah (MD) melalui 4 karakter atau ciri khasnya, yaitu: Tajdid, Nirmazhab, Toleran dan Terbuka. 

1. TAJDID 

Salah satu ciri khas MD yang menonjol adalah “Tajdid” yaitu purifikasi (pemurnian) dan modernisasi (pembaharuan). Sementara ciri khas NU adl Aswaja (ahlus sunnah wal jamaah); Persis adl gerakan berantas TBC (takhayul, bid’ah & khurafat); Al-Irsyad  adl gerakan reformis; dan Jama'ah Tabligh adl dakwah khuruj (keliling).

Purifikasi MD adalah gerakan pembaharuan untuk memurnikan agama dari tahayul dan khurafat (syirik) yang berhubungan dg mitos dalam budaya tradisional. Sedangkan modernisasi MD berkaitan dengan pembaharuan dalam hal pemikiran dan amal utk memajukan umat Islam. MD memahami teks-teks Islam secara kontekstual sesuai perkembg zaman, hal itu berbeda dg manhaj Salafi/Wahabi yg memahami hadis nabi secara tekstual tanpa adanya penafsiran.

MD sering diidentikkan dengan manhaj Salafi/Wahabi dalam hal pemahaman agama, padahal ada beberapa kesamaan tetapi juga ada beberapa perbedaan. 

2. NIRMAZHAB

MD tidak terikat oleh satu mazhab (nirmazhab), tapi memadukan pemikiran antar mazhab dg memilih satu yang paling layak dan kuat. Hal itu berbeda dg NU yg bermazhab Syafi’i, Ahmadiyah bermazhab Ahmadi, atau Syiah bermazhab Ahlul-bait.

Dalam hal penetapan hukum, MD selalu berpegang pada Al Qur’an dan hadis shahih, serta ijtihad jama’i yg dilakukan melalui proses tarjih (memilih pendapat paling kuat) oleh Majelis Tarjih Muhammadiyah.

MD memahami teks-teks al-Qur'an dan hadis secara kontekstual sesuai perkembg zaman dan kebutuhan umat Islam. Berbeda dengan manhaj Salafi/Wahabi yg memahami hadis nabi secara tekstual dan menolak berbagai praktik ritual lain yang tidak ada tuntunan dari nabi shg dianggap sebagai perbuatan bid'ah, seperti tahlilan, zikir berjamaah, ziarah kubur, peringatan maulid nabi, halal bi halal, dsb.

3. TOLERAN dan LUWES

MD sangat toleran, terutama terhadap perbedaan pendapat dalam perkara furu' (cabang, bukan prisip). Hal itu ditegaskan pada Muktamar ke-46 tahun 2010 di Yogyakarta, dimana MD menghormati perbedaan pendapat, tidak memaksakan kehendak, dan tidak menganggap pendapatnya paling benar. Hal itu  sangat berbeda dg Salafi/Wahabi yg tidak toleransi terhadap ritual-ritual yang menurutnya bid’ah.

Muhammadiyah sangat luwes, artinya bersifat dinamis dan fleksibel serta selalu beradaptasi dengan situasi kondisi.  Para tokoh dan jamiah Muhammadiyah tidak menolak untuk menghadiri undangan tahlilan, seperti yg dilakukan Buya Hamka dan Din Syamsudin. Jamiah MD juga mengikuti doa qunut subuh bila berada ditengah-tengah jamaah Nahdliyin, bahkan Amin Rais selaku ketua umum MD pernah didaulat oleh jamaah Nahdliyin menjadi imam shalat subuh dan membacakan doa qunut yang cukup panjang. MD juga memperingati Maulid Nabi dengan dakwah, yang oleh manhaj Salafi/Wahabi diklaim bid’ah. 

4. TERBUKA

MD bukanlah Dahlanisme, artinya tidak terpaku pada pemikiran KH. Ahmad Dahlan. MD selalu terbuka terhadap pemikiran baru dan ijtihad dalam memahami agama Islam. Hal ini memungkinkan MD untuk merespon isu-isu kontemporer dg cara yang relevan dan kontekstual. 

MD juga terbuka untuk mejalin kerjasama dg berbagai pihak, baik dg organisasi Islam lain, maupun non-Islam dalam hal muamalah sosial untuk kesejahteraan sosial. 


# Lain-lain

Tasawuf dalam pandangan MD dimaknai sebagai keseimbangan material dan spiritual atau duniawi dan ukhrawi, yang didasarkan pada al-Qur'an dan Sunnah, dan menafikan tasawuf yang terorientasi pada khalwat dan penyingkiran terhadap kehidupan dunia. Sehingga Buya Hamka, tokoh Muhammadiyah menyampaikan pandangannya tentang tasawuf dalam sebuah buku yang ditulisnya dengan istilah Tasawuf Modern. 

MD merupakan organisasi terkaya di dunia, yang tersebar di 35 Provinsi di Indonesia dan memiliki cabang di 30 negara. MD telah berhasil mendirikan: 176 universitas, 457 rumah sakit/klinik, 437 baitul mal, 19.951 sekolah, 102 pondok pesantren, 13.000 masjid, 635 panti asuhan, dan lahan seluas 214.742.677 m2. 


https://www.kompasiana.com/.../mengenal-sekilas... 

https://muhammadiyah.or.id/2023/08/takhayul-dan-khurafat-dalam-pandangan-muhammadiyah/

https://timesindonesia.co.id/peristiwa-nasional/476955/jadi-organisasi-terkaya-di-dunia-ini-jumlah-amal-usaha-muhammadiyah

Kamis, 18 April 2024

Puasa Ulat, Bukan Puasa Ular

1. MAHLUK BERPUASA 

Puasa tidak hanya dilakukan oleh umat muslim saja, tetapi juga dilakukan oleh pemeluk agama lain. 

QS. Al-Baqarah: 183, “Yaa ayuhal ladziina  aamanuu,  kutiba ’alaikumush shiyaam  -  Kamaa kutiba ’alal ladzina min qablikum -  La’allakum tattaquun” , 

artinya ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.

Dan ternyata puasa juga dilakukan oleh binatang. Beberapa jenis binatang, seperti: buaya, kura-kura, ayam betina, ular dan ulat juga berpuasa tidak makan dan minum bahkan sampai berbulan-bulan lamanya. 

Di beberapa wilayah tropis yang ekstrem, adanya musim kemarau panjang membuat sungai, danau, dan tanaman menjadi kering, dan membuat sumber makanan berkurang atau habis, sehingga membuat binatang di daerah itupun harus berpindah tempat atau berpuasa.

Untuk beradaptasi terhadap perubahan musim dan kekurangan sumber makanan, Allah SWT melengkapinya dengan kemampuan untuk melakukan hibernasi, yaitu tidur panjang tanpa makan dan minum.

Binatang-binatang yang melakukan hibernasi antara lain adalah: beruang, singa laut, buaya, ular, bekicot, ulat bulu, penguin, dan sebagainya. 

Sementara induk ayam saat mengeram telur agar berubah menjadi anak ayam maka ia harus berpuasa.

Dan diantara sekian banyak puasa hewan yang dapat kita ambil pelajaran agar puasa kita mencapai derajat takwa, ialah puasanya ULAR dan puasanya ULAT.


2. PUASA ULAR
Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan adalah harus mengganti kulitnya secara berkala. Tidak serta merta ular bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus berpuasa tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah puasanya tunai, kulit luar terlepas dan muncullah kulit baru.
Hikmahnya ular menjadi muda kembali, tetapi dampaknya :
1. Wujud ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama.
2. Makanan ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama.
3. Cara Bergerak sebelum dan sesudah puasa tetap sama.
4. Tabiat dan Sifat sebelum dan sesudah puasa tetap sama.

3. PUASA ULAT
Ulat termasuk hewan paling rakus. Karena hampir sepanjang waktunya dihabiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan makan, ia lakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasa yang benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya. Karenanya ia asingkan diri, badannya dibungkus rapat dan tertutup dalam kokon sehingga tak mungkin lagi melampiaskan hawa nafsu makannya.
Setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kokon seekor makhluk baru yang sangat indah bernama kupu-kupu.
Hikmahnya:
1. Wujud ulat sesudah puasa berubah menjadi kupu-kupu (indah mempesona)
2. Makanan ulat sesudah puasa berubah mengisap madu
3. Cara Bergerak ketika masih jadi ulat menjalar, stlh puasa berubah terbang di awang-awang.
4. Tabiat dan Sifat berubah total.
Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu penyerbukan bunga.

4. KESIMPULAN :

Tujuan diperintahkannya berpuasa adalah agar menjadi taqwa. La’allakum tattaquun, yaitu agar kamu bertaqwa.

Apabila puasa yang dilaksanakan tidak membawa perubahan menuju kepada derajat yang lebih baik yaitu taqwa, maka puasa itu tak ubahnya seperti puasanya ular. Tetapi apabila puasa itu dilakukan seperti puasanya ulat yang membawa perubahan menjadi kupu-kupu yang indah mempesona dapat terbang dan mengsihap sari pati bunga, maka itulah tujuan puasa agar menjadi bertaqwa.
Agar kita dapat berpuasa seperti kupu-kupu maka kita harus mengetahui hakekat puasa, yaitu mengendalikan diri terhadap dorongan-dorongan nafsu yang datang dari dalam maupun dari luar.
Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Puasa itu bukanlah sekadar menahan diri dari makan dan minum, akan tetapi sesungguhnya puasa itu adalah mencegah diri dari segala perbuatan sia-sia serta menjauhi perbuatan yang kotor dan keji.” (HR. Al-Hakim)
Untuk menjaga kekhusukan ibadah puasa, Imam Al-Ghazali mengingatkan agar kita menjaga empat hal, yaitu: Lisan, Pendengaran, Penglihatan, dan seluruh anggota badan dari perbuatan sia-sia, serta dari perbuatan yang keji dan kotor.

Semoga ibadah puasa kita mampu menghijrahkan diri kita agar semakin. Amin YRA. 

Limo Perkoro

Perlu diketahui, filosofi Jawa mengatakan bahwa ada lima perkara dimana manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti peran dan nasib perjalanan hidupnya.

Kelima hal atau perkara tersebut adalah:
1. Siji, pesthi (mati),
2. Loro, jodho (jodoh),
3. Telu, wahyu (anugerah),
4. Papa, kodrat (nasib),
5. Lima, bandha (rizki). 

Sembahyang & Semedi

SEMBAHYANG
Istilah "Sembahyang" berasal dari bahasa Jawa kuno, yaitu "Sembah" dan "Yang".
Kata "sembah" berarti "menundukkan diri" atau "merendah diri". Sedangkan "yang" berarti "dewa" atau "sang pencipta". Jadi, secara harfiah, "sembahyang" berarti "menundukkan diri kepada Sang Pencipta".
Istilah "sembahyang" kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dan digunakan sebagai istilah umum untuk menyebut berbagai bentuk ibadah, baik dalam agama Islam maupun agama-agama lain.
Dalam Islam, sembahyang dilakukan lima kali sehari, yaitu pada waktu subuh, zuhur, ashar, maghrib, dan isya.
Sembahyang dalam perspektif Jawa memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar ibadah. Sembahyang dalam perspektif Jawa juga sering dikaitkan dengan konsep manunggaling kawula Gusti, yaitu menyatunya antara manusia dan Tuhan.

SEMEDI
Semedi adalah salah satu bentuk laku spiritual dalam agama Jawa. Semedi memiliki arti "merenung" atau "mengolah batin". Semedi biasanya dilakukan di tempat yang sepi dan hening, seperti di gunung, makam keramat, atau ruang khusus yang dikeramatkan.
Semedi dalam perspektif Jawa memiliki tujuan untuk mencapai ketenangan batin, meningkatkan spiritualitas, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Semedi juga dapat dilakukan untuk mendapatkan petunjuk atau wahyu dari Tuhan.

Kesimpulan

Sembahyang dan semedi adalah dua bentuk ibadah atau laku spiritual yang memiliki makna yang penting dalam kehidupan orang Jawa. Sembahyang merupakan bentuk ibadah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim, sedangkan semedi merupakan bentuk laku spiritual yang dilakukan untuk mencapai ketenangan batin dan mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Pribahasa & Falsafah Hidup Orang Jawa

DALAM berfalsafah, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, “Wong Jowo sing ora njawani”.
Falsafah Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.

Tigapuluh Lima Pribahasa & Falsafah Jawa
Dari sekian banyak pribahasa dan falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa, berikut 35 diantaranya:

1. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
2. Urip Iku Urup
3. Ngunduh Wohing Pakarti
4. Sugih Tanpa Bandha, Sekti Tanpa Aji-Aji
5. Ajining raga saka ing busana…
6. Lembah Manah lan Andhap Asor (tawadhu')
7. Mulat Sarira Hangrasa Wani
8. Becik ketitik - Ala ketara
9. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Landhep tanpa natoni.
10. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan

11. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani
12. Mati Sajroning Urip
13. Menang ora kondang kalah gawe wirang
14. Wani Ngalah luhur wekasane
15. Adigang, adigung, adiguna
16. Jer Basuki Mawa Beya
17. Sawang Sinawang
18. Aja Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa
19. Aja rumangsa bisa, ...
20. Aja Gumunan, Aja Kagetan, lan Aja Getunan

21. Aja Dumeh
22. Sapa sira sapa ingsun
23. Sapa temen bakal tinemu
24. Sapa nandur bakal ngunduh
25. Wani Ngalah Luhur Wekasane
26. Mikul dhuwur, mendhem jero
27. Asu gedhe menang kerahe
28. Anak polah bapa kepradah
29. Desa mawa cara Negara mawa tata
30. Nerima ing pandum

31. Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti
32. Cakra panggilingan
33. Aja milik barang kang melok, ...
34. Aja ketungkul marang kalungguhan, ....
35. Andhap ashar
36. Alaon alon asal kelakon

*****
PENJELASAN:
1. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
Artinya, menebar kebaikan untuk kemakmuran dunia, memberantas kemungkaran. Maknanya, dalam kehidupan dunia manusia harus menebarkan kemakmuran (kedamaian dan kesejahteraan) bagi alam semesta; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Dalam agama Islam, dikenal dengan "Rahmatan lil alamin" dan "Amar makruf nahi munkar".
2. Urip Iku Urup
Hidup itu nyala, maksudnya adalah hidup itu haruslah menjadi penerang bagaikan lentera. Maknanya dalam hidup orang hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, "khairunnas anfa'uhum linnas", artinya manusia yang paling baik ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.
3. Ngunduh Wohing Pakarti
Artinya, menuai hasil dari setiap perbuatan, maksudnya bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) pasti akan mendapat balasan. Maknanya semua orang akan mendapatkan akibat dari setiap prilakunya sendiri (kebaikan maupun keburukan). Jadi, kita tidak perlu menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain karena bisa saja itu adalah akibat dari apa yang kita lakukan sendiri. Jadi, kita harus ingat untuk berhati-hati dalam betindak. Allah SWT berfirman: "Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah - Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah" artinya barangsiapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan, meski sebesar zahrah (debu/atom) niscaya akan memperoleh balasan (QS. Al-Zalzalah: 7-8)
4. Sugih Tanpa Bandha, Sekti Tanpa Aji-Aji
Terjemahan literalnya adalah "kaya tanpa harta kekayaan, sakti/kuat tanpa ajian mistis". Maknanya bahwa kekayaan batin itu lebih berharga daripada harta benda, dan kekuatan karakter lebih penting daripada kekuatan fisik. Makna lain adalah orang kaya itu bukanlah orang yang banyak harta tetapi orang yang kaya hati atau besar jiwanya. Sedangkan orang bisa menjadi hebat dan kuat itu tidaklah dengan mantra tetapi dengan ilmu.
5. Ajining raga saka busana, Ajining diri saka lathi lan budi
Arti literalnya adalah "Kehormatan raga berasal dari busana, sedangkan kehormatan diri berasal dari lisan dan prilaku". Maknanya, kehormatan luar seseorang bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Sedangkan kehormatan diri (marwah) dilihat dari cara berkomunikasi dan moral prilakunya. Cara berpakaian itu menentukan kehormatan raga dan cara berbicara menunjukkan kehormatan diri seseorang. Penampilan dan ucapan kita mempengaruhi bagaimana orang bereaksi dan menghargai kita. Sedangkan kehormatan diri ditentukan oleh bagaimana seseorang berucap dan budi pekertinya. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, "Hiyaa Rukum 'Akhaa Sinukum Akhlaaq", Sebaik-baik orang diantara kalian ialah orang yg baik akhlaknya. (HR. Bukhari & Muslim).

6. Lembah Manah lan Andhap Asor (tawadhu')
Dalam bahasa jawa pengertian "lembah manah" dan "andhap asor" mempunyai pengertian yang mirip, yaitu bersikap rendah hati dan sopan santun. Filosofi ini bagai pepatah: "Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk" artinya: semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya; kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati. Dalam Islam sikap luhur seperti itu dikenal dengan istilah "tawadhu".
7. Mulat Sarira Hangrasa Wani
Arti mulat berarti melihat dan sarira berarti badan, maknanya "introspeksi diri atau merenungkan diri sendiri". Sedangkan hangrasa berarti merasa, dan wani berarti berani., maknanya "berani dengan penuh kesadaran". Makna keseluruhan adalah "berani dengan kesungguhan hati melihat kekurangan diri". Jadi harus ada keberanian, artinya kesungguhan hati untuk melihat kekurangan diri. Dalam Bahasa Arab atau khasanah Islam dikenal dengan frase: muhasabah atau tafakur.
8. Becik ketitik - Ala ketara
Secara harfiah dapat diterjemahkan "perbuatan baik akan nampak, dan perbuatan buruk akan terungkap". Maknanya bahwa perbuatan baik yang meskipun tidak diperlihatkan atau diketahui orang lain, pada akhirnya pasti akan tampak atau diketahui orang. Sebaliknya bahwa perbuatan buruk meskipun ditutup-tutupi pada akhirnya pasti akan tercium atau terungkap. Pesan moralnya adalah tidak usah pamrih dan jangan berbuat curang, karena semua perbuatan baik atau buruk pada akhirnya akan ada balasannya.
9. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Landhep tanpa natoni.
Arti literalnya adalah "Menyerbu tanpa bala bantuan, Memenangkan tanpa merendahkan, dan Tajam tapi tak melukai". Maknanya, dalam menghadapi lawan, manusia yang baik adalah yang mampu mengalahkan dengan cara luhur penuh kebajikan. Mereka mampu melawan sendiri tanpa bantuan kawan atau membawa massa. Dan mampu memenangkan peperangan tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan, bahkan lawanpun kalah secara terhormat merasa tak terluka.
10. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Arti literalnya adalah "Jangan sakit hati bila tertimpa musibah, dan jangan bersedih bila kehilangan". Maknanya adalah kita harus senantiasa bersabar dan tegar menghadapi segala macam musibah, dan pasrahkan segala sesuatunya kepada Allah karena Tuhan yang mengatutr segala sesuatunya.

11. Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri andayani


12. Mati Sajroning Urip
Maknanya, jalan menuju pulang (kematian) itu adalah jalan yang harus ditapaki oleh seseorang sejak sekarang. Sejak hidup di dunia ini, kita sudah diseru untuk merenungi (dan mempersiapkan bekal) kematian. Hal itu bisa dilakukan dengan cara bersemedi, atau dalam khasanah Islam adalah berkhalwat dan berdzikir, yaitu memutuskan hubungan dengan masalah masalah duniawi untuk bertafakur, tadabur dan tasyakur.

13. Menang ora kondang kalah gawe wirang

14. Wani Ngalah luhur wekasane

15. Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti. Maksudnya adalah Jaga kelakuan / tatakrama, jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latarbelakangmu.

16. Jer Basuki Mawa Beya
Setiap kesuksesan/kebahagiaan memerlukan biaya atau usaha yang keras.

17. Sawang Sinawang

18. Aja Rumangsa Bisa, Nanging Bisa Rumangsa

19. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.
20. Aja Gumunan, Aja Kagetan, Aja Getunan, Aja Aleman.
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah terkejut-kejut, Jangan mudah menyesal, Jangan manja dan mudah ngambeg.

21. Aja Dumeh
22. Sapa sira sapa ingsun
23. Sapa sing temen bakal tinemu
Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil
24. Sapa nandur bakal ngunduh
Siapa yang menanam bakal menuai hasilnya. Maksudnya barang siapa yang menanam kebaikan maka suatu saat akan mendapatkan hasilnya. Kita diajarkan untuk berlomba menanam kebaikan dimanapun kita berada. Ini juga bermakna kerja keras kita yang akan berhasil kelak.
25. Wani Ngalah Luhur Wekasane

26. Mikul dhuwur, mendhem jero
27. Asu gedhe menang kerahe
28. Anak polah bapa kepradah
29. Desa mawa cara Negara mawa tata

30. Nerima ing pandum
Menerima segala pemberian. Mengandung makna ikhlas dengan segala keadaan atau hasil, meskipun sudah berupaya semaksimal mungkin. Sebab manusia hanyalah berkewajiban untuk berusaha, namun hasilnya Tuhanlah yang berkuasa menentukan .

31. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

32. Cakra manggilingan.
Kehidupan manusia akan seperti roda yang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Hukum sebab akibat dan memungkinkan terjadi penitisan.

33. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

34. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

35. Andhap asor.
Bersikap sopan dan santun
36. Alon-alon waton kelakon
Pelan-pelan asal selamat. Kedengarannya simpel ya tetapi sebenarnya filosofi ini memiliki makna yang mendalam. Disini kita diajak untuk selalu berhati-hati, ulet, waspada, dan berusaha dalam menjalani hidup.

*****