Sabtu, 15 Oktober 2016

Doa & Perenungan


Ya Allah tuhan penguasa langit dan bumi …

Jadikanlah kami, manusia-manusia yang selalu ingat akan Engkau
yang selalu bersyukur dan berterimakasih
atas segala rahmat dan nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami
Janganlah sekali-kali kami menjadi orang yang lupa dan kufur                          
tak pandai bersyukur kepada-Mu ya Allah

Wahai Tuhan, Dzat  yang Maha Rahman …

Sungguh kami ini lemah tanpa pertolongan-Mu
Kami ini miskin tanpa rizki-Mu
Kami ini bodoh tanpa ilmu dari-Mu
Dan kami ini sesat tanpa petunjuk dan hidayah-Mu

Berilah kami kekuatan iman, ilmu dan kesabaran
Agar kami dapat melaksanakan segala perintah dan                               
menjauhi segala larangan-Mu
Agar hidup kami bisa menjadi manfaat
bagi keluarga, tetangga, masyarakat bangsa dan agam

Tetapkanlah hati kami
karena hanya Engkau sajalah yang kuasa menetapkan hati

Wahai Rabb yang maha Rahiem …

Bukakanlah pintu hati dan jiwa kami, agar kami dapat membedakan
Mana yang haq dan mana yang bathil
Mana yang benar dan mana yang keliru
Mana yang baik dan mana yang cela
Mana yang mulia dan mana pula yang hina

Bimbing dan pimpinlah kami,
agar kami dapat selalu berada di jalan yang lurus dan benar
Sebagaimana jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai
Bukan pula jalan orang-orang yang sesat

Wahai Dzat yang maha Pengampun

Kami sadar, banyak khilaf dan dosa yang telah kami perbuat
Engkau maha pengampun dan maha menerima taubat
Ampunilah dosa dan kesalahan kami
Dosa dan kesalahan ibu bapak kami
Dosa dan kesalahan seluruh keluarga kami
Dosa dan kesalahan kaum muslimin dan muslimat
Baik yang masih ada maupun yang telah tiada

Dan akhirilah umur kami ya Allah
Dalam keadaan kami penuh iman dan taqwa
Sehingga kami termasuk golongan orang-orang yang baik dan shalihin

Ya Allah, tuhan yang maha Pemurah

Berilah kami kehidupan yang baik di dunia
Dan kehidupan yang baik pula di akhirat kelak
Dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka

Amin ya Robbala alamin.

Orang Tua

Seorang lelaki mendatangi Rasulullah SAW mengadukan bahwa ayahnya telah mencuri hartanya.  Rasulullah kemudian berkata kepadanya, “Pergilah dan datanglah kemari bersama ayahmu.” 
Ketika lelaki tadi pergi, malaikat Jibril datang menemui Rasulullah dan bersabda, “Wahai Muhammad, ‘Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan berfirman, Jika orang tua anak tersebut tiba, maka tanyakanlah apa yang telah dia ucapkan dalam hatinya yang tidak terdengar oleh kedua telinganya’.”  Setelah berkata demikian malaikat Jibril pergi.
Tidak lama kemudian, lelaki tadi datang bersama ayahnya.  Nabi SAW kemudian bertanya kepada ayah lelaki tadi,  ”Mengapa anakmu mengadu bahwa engkau mencuri hartanya?”
”Ya Rasulullah, tanyakan kepadanya, harta itu aku dermakan kepada siapa; kepada salah seorang bibinya atau untuk diriku sendiri?” jawab ayah lelaki tadi.
”Perkenankanlah aku untuk tidak membahas masalah ini, tetapi ceritakanlah kepadaku apa yang kau ucapkan dalam hatimu yang tidak didengar oleh kedua telingamu?” pinta Rasulullah seperti yang diajarkan oleh malaikat Jibril sebelumnya.
”Demi Allah wahai Rasulullah, Allah selalu membuat kami semakin yakin kepadamu.  Aku memang telah mengucapkan sesuatu dalam hatiku yang tidak didengar oleh kedua telingaku,” jawabnya.
”Sampaikanlah, aku akan mendengarkannya,” jawab Rasulullah.
Tidak diduga, ternyata ayah lelaki itu kemudian membaca sebuah syair yang bagus yang ditujukan kepada sang anak, buah hatinya:

Ketika engkau lahir, aku menjagamu
Jika malam hari engkau sakit
Maka, sepanjang malam bersama ibumu aku tidak tidur
Memikirkan penyakitmu
Hingga tubuhku sempoyongan karena kantuk
Seakan aku yang sakit, bukan engkau
Air matakupun mengalir deras, mencemaskan dirimu
Dan jiwaku khawatir engkau akan mati
Padahal aku tahu bahwa ajal akan tiba sesuai dengan waktunya

Engkau makan dan minum dari jerih payahku
Aku rela bersusah payah, demi kegembiraanmu
Dan ketika engkau tumbuh dewasa, aku selalu membimbing dan mengajari mu
Aku selalu mendambakan, bagi dirimu suatu kebahagiaan kelak

Saat engkau mencapai usia yang tepat
Saat diriku sudah mulai renta karena usia
Saat dimana kuharapkan dirimu
Kau balas diriku dengan kekasaran dan kekejaman
Seakan-akan engkau pemberi nikmat
Dan menjadi sang dermawan
Ketika tak dapat kaupenuhi hakku sebagai ayah
Kau perlakukan aku sebagai tetangga
Yang hidup berdampingan

Mendengar syair yang dibacakan oleh ayah lelaki tadi, tidak terasa Rasulullah pun meneteskan air mata dan berkata pada anak tersebut, ”Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu”

Laki-laki itupun tertunduk lesu dan merasa malu.  Ia kini menyadari betapa besar curahan kasih sayang orang tuanya kepada dirinya.  Karena kesadarannya telah terbuka, maka hartanya itu diikhlaskan kepada ayahnya.  Dan, lelaki beserta orang tuanyapun akhirnya minta izin pergi meninggalkan Rasulullah dengan perasaan damai.

Enam Pertanyaan Al Ghazali (MT)

Suatu hari, Imam Al Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan. Keenam pertanyaan itu tidak mampu dijawab oleh murid-muridnya  dengan tepat.

Pertanyaan pertama, "APA YANG PALING BESAR di dunia ini?"  Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari.
Semua jawaban itu benar kata Imam Ghazali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "NAFSU". 
Hawa nafsu nyaris bisa mengalahkan segalanya di dunia ini. Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya. Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu.  Banyak pejabat yang tertangkap KPK karena ia mengikuti hawa nafsunya, yaitu nafsu dunia dengan mengumpulkan harta dengan cara yang tidak halal, korupsi. Tidak sedikit orang terhormat yang jatuh menjadi hina lantaran tidak kuasa menahan nafsu syahwatnya. Karena menuruti nafsu syahwatnya ia melupakan kedudukannya, bahkan ia rela mengorbankan rumah tangganya.
Apabila kita membiarkan apa adanya nafsu yang ada pada diri kita dan kita tidak mengelolanya dengan baik, maka kita akan dikuasai oleh nafsu.   Rasulullah SAW bersabda : ''Seandainya manusia telah memiliki dua bukit emas, karena nafsunya niscaya ia masih menginginkan bukit emas yang ketiga. Perut manusia  tidak akan pernah penuh, kecuali ditutup dalam tanah (mati).'' (HR Ahmad).
Imam Al-Ghazali memperingatkan kepada kita agar senantiasa mewaspadai terhadap apa yang dinamakan dengan nafsu.  Menurut beliau nafsu adalah pangkal dari segala bencana, serta sumber dari segala aib.   Nafsu merupakan markas iblis yaitu tempat berlindungnya setiap kejahatan (yang tidak ada satupun mahluk yang mengetahui, kecuali Allah SWT yang menciptakannya). 
Ketika perang Badar baru saja usai, Rasulullah bersabda: “Raja’naa  Min Jihaadil Ashghar - Ila  Jihaadil Akbar.” ('Kita baru menyelesaikan peperangan yang kecil dan akan menghadapi peperangan yang besar.) Lalu para sahabat bertanya, “Perang apa ya rasulullah?”. Rasulullah menjawab, “Jihaadun Naafsi” (Perang melawan hawa nafsu).

Pertanyaan kedua, "APA YANG PALING BERAT DI DUNIA INI?" Di antara muridnya ada yang menjawab dengan besi, dan gajah.
Semua jawaban hampir benar, kata Imam Ghazali, tapi yang paling berat adalah "MENGEMBAN AMANAH."  
Tak jarang pemimpin dibenci rakyatnya sendiri karena tidak kuat mengemban amanah dengan baik.  Tidak sedikit orang menyelewengkan kewenangannya karena tak kuat mengemban amanah.
Rasulullah SAW bersabda, “Asyaddunnaasi ‘Adhaaban Yaumal Qiyaamati Imaamun  Jaairun” (Manusia yang paling berat siksaannya di hari kiamat nanti adalah (siksaan) bagi pemimpin yang zalim)  (HR. Tabrani)
Dalam sebuah hadis lain, Rasulullah bersabda bahwa salah satu golongan yang pertama masuk neraka adalah pemimpin yang menipu (tidak amanah). “tiga golongan yang paling pertama masuk neraka ialah (1) pemimpin yang menipu, (2) hartawan yang tidak pernah memberikan kewajiban (zakat), dan (3) orang yang fakir yang sombong.'' (HR Ahmad).
 Ketika Allah SWT meminta kepada tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini, semua menjawab tidak mampu. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak dapat memegang amanahnya.
Sesungguhnya Kami  telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72) (Al Ahzab 72).

Pertanyaan Ketiga, "APA YANG PALING RINGAN di dunia ini?" Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan.
Semua itu benar kata Imam Ghazali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah “MENINGGALKAN SHALAT".
Apabila seseorang sudah terlena dengan kenikmatan dunia, maka mengabaikan kewajiban shalat terasa ringan sekali.
Kita harus ingat bahwa sholat adalah hal pertama yang ditanyakan Allah kepada manusia. Dan sholat adalah kewajiban terpenting di dunia ini. Namun anehnya, meski demikian sholat adalah hal termudah yang sering dilewatkan oleh orang-orang muslim? Ringan sekali melewatinya.

Pertanyaan Keempat , "APAKAH YANG PALING TAJAM di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang...?"
Benar kata Imam Ghazali, tetapi yang paling tajam adalah "LIDAH MANUSIA".
Yang dimaksudkan dengan lidah disini adalah lisan atau perkataan. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri. Karena lidah antar manusia bisa saling membunuh. Dan karena lisan pula suatu bangsa menjadi perang dengan bangsa lainnya.
Ingatlah sebuah hadits yang menerangkan: “seorang muslim adalah orang bisa menjaga orang muslim lainnya dari lisannya dan tangannya.

Pertanyaan Kelima , "APA YANG PALING JAUH dari diri kita di dunia ini?"   Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang.
Lalu Imam Ghazali menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "MASA LALU".
Siapa pun kita, bagaimana pun kita, dan betapa kayanya kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Kesalahan di masa lalu tidak dapat direvisi lagi, kecuali dengan taubat dan istighfar. Sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya.


Pertanyaan Keenam, "APA YANG PALING DEKAT dengan diri kita di dunia ini?".  Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. 
Imam Ghazali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "KEMATIAN".
Terkadang kita merasa kematian begitu jauh sehingga , padahal ia dekat dalam kenyataannya. Kehidupan di dunia bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat adalah sangat-sangat sebentar, ibarat air yang menggelantung di ujung jari dibanding air samudra.  Kematian adalah batas antara hidup dunia dan akhirat.  
Sebab kematian adalah janji Allah SWT yang kita tidak akan pernah tau kapan datangnya. "Setiap yang bernyawa (pasti) akan merasakan mati." (QS Ali Imran [3]: 185).

Janganlah kita lengah dalam memahami hal ini, jangan sekali-kali merasa diri jauh dari mati, karena itu membuat kita lengah. Justru kerahasiaannya harus kita maknai bahwa mati bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa adanya peringatan dari-Nya. 



Sekilas tentang Al Ghazali
Imam Al-Ghazali (Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al-Ghazali) adalah salah satu tokoh tasawuf Islam yang sangat terkenal.   Beliau terkenal dengan hujjatul Islam (argumentator islam) karena jasanya yang besar di dalam menjaga islam dari pengaruh ajaran bid’ah dan aliran rasionalisme yunani.
Karya Al-Ghazali yang terkenal adalah Ihya’ U’lum al-Din. Dalam kitabnya itu al-Ghazali menjelaskan dengan detail hubungan antara syariat dengan tasawuf.  Karya ini dianggap sebagai jembatan yang mendamaikan syari’at dengan tasawuf yang sempat mengalami clash pada zaman itu.
Ia juga dikenal sebagai tokoh filsafat dengan karyanya Tahafut al-Falasifah yang mengkritik konsep berfikir para filosof saat itu.
Abu Hamid al-Ghazali dilahirkan pada tahun 405 H/ 1058 M di kota Tush yaitu kota kedua setelah Naisabur di daerah Khurasan atau pada saat ini berada pada bagian timur laut negara Iran.
Diantara gelar yang paling terkenal adalah Hujjah al-Islam dan Zain al-‘Arifin. Ia diberikan gelar Hujjah al- Islam karena ia menjadikan tasawuf sebagai hujjahnya dalam berbagai perbincangan kesufian.

Al-Ghazali membersihkan ajaran tasawuf dari pengaruh faham-faham asing yang masuk mengotori kemurnian ajaran Islam. 

Legenda Kuda Troya (Perang Troya)


Perang Troya, adalah penyerbuan tentara Sparta dan Yunani terhadap kota Troya (terletak di Asia Kecil), yang terjadi setelah Paris (putra mahkota kerajaan Troya) menculik Helena (istri raja Sparta).  Karena mempunyai benteng yang tangguh maka Troya sulit ditembus oleh prajurit Sparta dan Yunani.  Namun akhirnya benteng Troya dapat ditembus karena para prajurit Troya tertipu oleh hadiah berupa kuda kayu raksasa yang didalamnya bersembunyi sejumlah prajurit Sparta.  Pada malam hari prajurit Sparta keluar dari perut kuda kayu tersebut dan akhirnya membuat kota Troya menjadi lautan api.  Taktik ini kemudian dikenal dengan Legenda Kuda Troya.
       Legenda ini berasal dari kisah nyata Perang Troya (Trojan War). Bermula ketika Putra Mahkota Kerajaan Troya (Pangeran Paris) jatuh cinta berat kepada Helena.    Sayangnya, Helena adalah istri raja Sparta (Menelaus),  sebuah kerajaan kecil dibawah naungan kerajaan Yunani. Singkat  cerita, entah bagaimana kejadian persisnya, Helena yang cantik jelita itu, berhasil dilarikan Pangeran Paris ke Troya. Hal ini membuat Agamemnon raja Yunani yang juga saudara Menelaus marah besar, dan menurutnya kerajaan Yunani merasa dipermalukan, sudah barang tentu dengan dendam kesumat dan bersumpah menuntut balas sampai tetesan darah terakhir dengan memerintahkan pengiriman ekspidisi penghancuran Troya yang dipimpin Achiles. Maka perang besar antara Sparta dan Yunani disatu pihak melawan Troya dilain pihak tidak bisa dihindarkan.
        Bala tentara kerajaan Sparta dan Yunani dikerahkan untuk menyerbu Troya, ternyata Troya sangat sulit ditaklukkan karena bentengnya yang kokoh dan prajurit-prajuritnya yang gagah berani. Troya akhirnya dikepung selama 10 tahun. Ketika hampir putus asa karena gagal memasuki kota, tentara Yunani menemukan sebuah taktik. Mereka berpura-pura mundur menjauhi Troya, dengan meninggalkan sebuah kuda raksasa yang terbuat dari kayu diluar kota Troya, tetapi dalam perut kuda ini telah bersembunyi beberapa tentara Yunani. Melihat pasukan Yunani telah mundur, tanpa perasaan curiga kuda kayu tersebut diangkut oleh orang-orang Troya masuk kedalam kota. Inilah kekhilafan Troya.
        Dimalam hari yang kelam, keluarlah tentara Yunani yang bersembunyi diperut kuda itu. Mereka kemudian membuka gerbang kota, sehingga pasukan Yunani yang berpura-pura mundur dalam jumlah besar, leluasa memasuki kota. Ibukota Troya akhirnya diserbu dan dijadikan lautan api dan takluk. Helena akhirnya berhasil direbut kembali.
        Bagi bangsa Yunani modern, cerita tentang kuda Troya agaknya tinggal sebuah kenangan manis. Sementara dibelahan dunia lainnya, berabad-abad kemudian, legenda kuda Troya tidak pernah dilupakan. Kuda kayu itu merupakan tipu muslihat.
        Kuda Troya dalam tatanan konsep, sebagai suatu kendaraan, diakui atau tidak, justru seringkali diadopsi. Kuda Troya dalam legenda itu adalah "kendaraan" untuk membungkus maksud-maksud tertentu untuk tujuan tertentu pula, namun seringkali berkonotasi negatif.  Istilah kuda Troya banyak dipergunakan sebagai perumpamaan dalam berbagai macam situasi dan kondisi. Bahkan modus operandi kuda Troya ini semakin hari semakin bervariasi dan semakin kaya improvisasi. Banyak yang dapat disebut sebagai kuda Troya kehidupan berpolitik, banyak pula kuda Troya dalam tatanan perekonomian dan beberapa aspek kehidupan.    Syarwan Hamid, ketika masih menjabat sebagai Kasospol ABRI, menggunakan istilah kuda troya untuk mengingatkan masyarakat dari kemungkinan ditunggangi partai politik tertentu oleh sisa-sisa eks PKI.
        Masih hangat Pemilihan Umum untuk memilih anggota DPR, DPRD I, DPRD II dan memilih Presiden dan Wakilnya..... kita lihat Komisi pemilihan Umum (KPU) juga dijadikan kuda troya oleh partai-partai gurem. Bahkan partai politik juga bisa dijadikan kuda troya bagi kaum oportunis. Organisasi-organisasi yang bermunculan bak jamur dimusim penghujan dalam era reformasi ini bisa juga dijadikan kuda troya. Banyak aktivis partai mencari-cari "kendaraan" baru, setelah "kendaraan" lama tidak lagi menjanjika dan tidak lagi bisa mereka manfaatkan untuk tujuan-tujuan tertentu seperti masa-masa sebelumnya.

        Dengan jaringan yang semakin rapi dan canggih, aktor intelektual yang diselimuti secara rapi, surat kabar juga acapkali dijadikan kuda troya bagi kelompok kepentingan atau elit tertentu. Sudah menjadi rahasia umum, disadari atau tidak oleh redaktur dan pengasuhnya dengan berpayung pada kebebasan pers yang merdeka, surat kabar setiap hari meniupkan terompet untuk kelompok tertentu dalam rangka penggiringan opini.              Kuda Troya pada dasarnya adalah perangkap. Kalangan yang awas akan dapat merasakan jebakan yang mengancam. Susahnya, kuda Troya diabad informasi ini tidak lagi memiliki wujud seperti yang diangkut warga Troya itu. dia abstrak.

Alexander The Great (IskandarZulkarnaen)

·         Pemimpin militer paling jenius sepanjang zaman
·         Kekuasannya membentang di tiga benua. inilah kota alexandria.

Alexander Agung (bahasa Inggris: Alexander the Great) adalah seorang penakluk asal Makedonia. Ia diakui sebagai salah seorang pemimpin militer paling jenius sepanjang zaman. Ia juga menjadi inspirasi bagi penakluk-penakluk seperti Hannibal, Pompey, Napoleon dan Caesar dari Romawi. Dalam masa pemerintahannya yang singkat, Alexander mampu menjadikan Makedonia sebagai salah satu kekaisaran terbesar di dunia.
Ia tak terkalahkan di medan perang, ditasbihkan menjadi komandan perang terhebat sepanjang masa. Di usia tiga puluh tahun, Alexander The Great, Alexander Agung, atau Iskandar Zulkarnain memimpin sebuah kekaisaran terbesar pada masa sejarah kuno, membentang mulai dari Laut Ionia sampai pegunungan Himalaya, mencakup tiga benua, Eropa, Afrika, dan Asia: Makedonia.
Tak hanya mewariskan akulturasi budaya Hellenisme dan strategi perang yang masih dipelajari para perwira hingga saat ini, peninggalan Alexander juga masih tersisa di sebuah kota di Mesir yang menyandang namanya. Alexandria.

Riwayat
Alexander dilahirkan pada tanggal 20 Juni 356 SM di Pella, ibu kota Makedonia, sebagai anak dari Raja Makedonia, Fillipus II. Ketika kecil, ia menyaksikan bagaimana ayahnya memperkuat pasukan Makedonia dan memenangkan berbagai pertempuran di wilayah Balkan. Ketika berumur 13 tahun, Raja Filipus mempekerjakan filsuf Yunani terkenal, Aristoteles, untuk menjadi guru pribadi bagi Alexander. Dalam tiga tahun, Aristoteles mengajarkan berbagai hal serta mendorong Alexander untuk mencintai ilmu pengetahuan, kedokteran, dan filosofi.  Sebagai imbalan atas pengajarannya, Filipus bersedia untuk membangun kembali kampung halaman Aristoteles di Stageira, yang pernah dihancurkan olehnya. Filipus merepopulasi kota itu dengan cara membeli dan memerdekakan para bekas warga yang sempat menjadi budak, atau dengan mengampuni para warga yang berada di pengasingan
Ketika Aleksander berusia sepuluh tahun, seorang pedagang kuda dari Thessalia menawarkan seekor kuda pada Filipus. Kuda tersebut diberi harga senilai tiga belas talen. Kuda itu tidak mau ditunggangi oleh siapapun, dan Filipus memerintahkannya untuk dibawa pergi. Akan tetapi, Aleksander berkata bahwa rasa takut kuda itu adalah bayangannya sendiri dan meminta kesempatan untuk memunggangi kuda itu. Aleksander berhasil melakukannya.[15] Menurut Plutarch, Filipus, yang merasa sangat senang melihat keberanian dan ambisi Aleksander, langsung mencium putranya itu dan menyatakan: "Putraku, kau harus menemukan kerajaan yang cukup besar untuk ambisimu. Makedonia terlalu kecil untukmu". Setelah itu Filipus membelikan kuda itu untuk Aleksander.[16] Aleksander menamai kuda itu Bukephalas, bermakna "kepala lembu". Bukephalas akan menjadi teman perjalanan Aleksander dalam penaklukannya sampai ke India. Ketika Bukephalas mati (akibat usia tua, menurut Plutarch, karena sudah berusia tiga puluh tahun), Aleksander menamai sebuah kota sesuai nama kudanya (Bukephala).
Ketika Aleksander menginjak usia enam belas tahun, masa belajarnya pada Aristoteles selesai. Pada tahun 340 SM, Filipus mengumpulkan sepasukan besar tentara Makedonia untuk berperang melawan Byzantium, dan Aleksander, yang ketika itu berumur 16 tahun ditugaskan untuk memimpin kerajaan Makedonia. Selama Filipus pergi, suku Maedi Thrakia memberontak menentang kekuasaan Makedonia. Aleksander merespon dengan cepat, dia meredam pemberontakan suku Maedi, mengusir mereka dari wilayah mereka, mengisinya dengan orang-orang Yunani, dan mendirikan kota yang dia namai Alexandropolis.
Setelah Filipus kembali dari Byzantion, dia memberi Aleksander sejumlah kecil pasukan dan mengutusnya untuk mnghentikan suatu pemberontakan di Thrakia selatan. Dalam kampanye lainnya melawa kota Perinthos di Yunani, Aleksander disebutkan menyelamatkan nyawa ayahnya.
Raja Filipus II meninggal tahun 336 SM oleh pembunuh gelap pada saat pernikahan putrinya. Alexander pun naik tahta menggantikan ayahnya pada usia 20 tahun. Kabar kematian Filipus memicu banyak kota memberontak, termasuk Thebes, Athena, Thessalia, dan suku-suku Thrakia di utara Makedonia. Ketika kabar pemberontakan di Yunani diketahui oleh Aleksander, dia merespon dengan cepat. Meskipun para penasihatnya menyarankannya untuk mempergunakan diplomasi, namun Aleksander memutuskan untuk mengumpulkan 3.000 tentara kavaleri dan bergerak menuju Thessalia, daerah tetangga Makedonia di sebelah selatan. Di sana dia mengetahui bahwa pasukan Thessalia telah menempati jalan di antara Gunung Olimpus dan Gunung Ossa. Aleksander lalu menyuruh pasukannya menaiki Gunung Ossa. Ketika pasukan Thessalia terbangun, mereka melihat bahwa pasukan Aleksander telah berada di sisi belakang mereka. Pasukan Thessalia pun menyerah dan pasukan kavaleri Aleksander bertambah dengan masuknya pasukan Thessalia. Aleksander lalu bergerak menuju Peloponnesos.
Namun, tahun berikutnya terjadi pemberontakan kembali, dia memutuskan untuk bertindak tegas dengan mengahancurkan Thebes dan menjual seluruh penduduknya sebagai budak. Kejadian ini berhasil memadamkan keinginan kota-kota lain untuk memberontak.
Tahun 335 SM, Alexander menyerang Persia dengan membawa sekitar 42.000 pasukan. Selama dua tahun berikutnya Alexander memenangkan berbagai pertempuran melawan pasukan Persia hingga akhirnya dia berhasil mengalahkan pasukan yang dipimpin oleh Raja Persia Darius III pada 333 SM. Darius yang kabur berusaha untuk damai dengan menawarkan Alexander wilayah dan harta namun ditolak. Alexander mengatakan bahwa dia sekarang adalah Raja Asia dan hanya dia yang berhak menentukan pembagian wilayah. Alexander kemudian meneruskan ekspansi militernya hingga berhasil menaklukkan wilayah Mesir hingga ke perbatasan India sebelum terpaksa berhenti karena prajuritnya yang kelelahan karena pertempuran terus-menerus selama sepuluh tahun.
Alexander kemudian kembali ke kerajaanya untuk merencanakan ekspansi baru. Selama perjalanan ia mengeksekusi banyak satrap (semacam gubernur) dan pejabat yang bertindak melenceng sebagai contoh bagi yang lain. Kemudian sebagai wujud terima kasih pada para prajuritnya, Alexander memberi sejumlah uang pada mereka dan menyatakan bahwa ia akan mengirim para veteran dan cacat kembali ke Makedonia. Namun tindakan ini justru diartikan sebaliknya oleh prajurit Alexander. Selain itu, mereka juga menentang sejumlah keputusan Alexander, seperti mengadopsi budaya Persia dan dimasukkanya pasukan dari Persia ke dalam barisan prajurit dari Makedonia. Sejumlah Prajurit kemudian memberontak di kota Opis. Alexander mengeksekusi para pemimpin pemberontakan tersebut, namun mengampuni para prajuritnya.
Dalam upaya menciptakan perdamaian yang bertahan antara orang-orang Makedonia dan rakyat Persia, Alexander mengadakan pernikahan massal antara para perwiranya dengan wanita bangsawan dari Persia. Akan tetapi, hanya sedikit pernikahan yang bertahan lebih dari setahun.
Penyatuan wilayah dari makedonia hingga persia oleh Alexander Agung menyebabkan terbetuknya perpaduaan kebudayaan Yunani, Mediterrrania, Mesir, dan Persia yang disebut dengan kebudayaan Hellenisme. Pengaruh Hellenisme ini bahkan sampai ke India dan Cina. Khusus di Cina, pengaruh kebudayaan ini dapat ditelusuri di antaranya dengan artefak yang ditemukan di Tunhuang.
Alexander selama ekspansinya juga mendirikan beberapa kota yang semuanya dinamai berdasakan namanya, seperti Alexandria atau Alexandropolis. Salah satu dari kota bernama Alexandria yang berada di Mesir, kelak menjadi terkenal karena perpustakaannya yang lengkap dan bertahan hingga seribu tahun lamanya serta berkembang menjadi pusat pembelajaran terhebat di dunia pada masa itu.
Sewaktu di Babilonia, Alexander tiba-tiba terkena sakit parah dan mengalami demam selama 11 hari sebelumnya akhirnya meninggal pada tanggal 10 Juni 323 SM, dalam usia sekitar 33 tahun. Penyebab kematian yang sesungguhnya tidak jelas. Catatan Plutarch menceritakan bahwa sekitar 14 hari sebelum kematiannya, Aleksander menjamu admiralnya, Nearkhos, dan menghabiskan malam serta hari berikutnya dengan minum-minum bersama Medios dari Larissa. Aleksander lalu mengalami demam, yang semakin lama semakin parah, sampai-sampai dia tak dapat lagi berbicara. Para tentara menjadi sangat cemas ketika Aleksande hanya dapat mengabaikan tangannya pada mereka.  Dua hari kemudian, Aleksander meninggal dunia. Sementara Diodoros menceritakan bahwa Aleksander menderita rasa sakit setelah meneggak semangkuk besar angur yang tidak dicampur untuk menghormati Herakles, dan wafat setelah mengalami semacam rasa sakit, yang juga disebutkan sebagai alternatif oleh Arrian, namun Plutarch secara khusus membantah klaim ini.

Mengingat aristokrasi Makedonia punya kecenderungan untuk melakukan pembunuhan, maka muncul dugaan bahwa Aleksander meninggal dunia akibat dibunuh. Diodoros, Plutarch, Arrian dan Yustinus semuanya menyebutkan teori bahwa Aleksander diracun. Plutarch menganggapnya sebagai pemalsuan, sedangkan Diodoros dan Arrian berkata bahwa mereka menyebutkannya hanya demi kelengkapan.  Meskipun demikian, catatan-catatan mereka cukup konsisten dalam menduga para tersangka di balik pembunuhan Aleksander, di antaranya adalah Antipatros, yang baru saja diberhentikan dari jabatannya sebagai raja muda Makedonia, dan tersangka lainnya anehnya adalah Olympias.
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/33/Map_Macedonia_336_BC-en.svg/300px-Map_Macedonia_336_BC-en.svg.png
Kekaisaran Makedonia pada tahun 336 SM.
Setelah kematian Alexander, tidak adanya ahli waris menyebabkan terjadi perpecahan dan pertempuran antara para bawahannya. Akhirnya, setelah perselisihan bertahun-bertahun, sekitar tahun 300 SM, kekuasaan atas bekas kerajaan Alexander terbagi menjadi 4 wilayah yang masing dikuasai salah satu jendral Alexander. yaitu Kerajaan Ptolemaik , Kekaisaran Seleukia, Kerajaan Pergamon, dan Kerajaan Makedonia.
Dunia pada saat kematian Alexander, menunjukkan kemaharajaannya dalam konteks geopolitik yang lebih besar.   Walaupun hanya memerintah selama 13 tahun, semasa kepemimpinannya ia mampu membangun sebuah imperium yang lebih besar dari setiap imperium yang pernah ada sebelumnya. Pada saat ia meninggal, luas wilayah yang diperintah Alexander berukuran 50 kali lebih besar daripada yang diwariskan kepadanya serta mencakup tiga benua (Eropa, Afrika, dan Asia).

Gelar The Great atau Agung di belakang namanya diberikan karena kehebatannya sebagai seorang raja dan pemimpin perang lain serta keberhasilanya menaklukkan wilayah yang sangat luas hanya dalam waktu 10 tahun.