Jumat, 13 Oktober 2017

Nasehat Syeikh Lukman Hakim

895

1. Beribadah itu bukan bertujuan mencari manisnya iman namun beribadah itu menyembah, menuju dan bertemu Allah.
2. Meneliti cacat2 jiwa kita itu lebih baik dibanding meneliti hal2 rahasia dibalik yang tak nampak.
3. Rasa cinta kita kepada Nabi Muhammad saw, berarti kecintaan kita kepada Allah Rabbul ‘Izzah. Jangan sampai membaca sholawat Nabi sekedar dijadikan perantara agar masalah beres, rejeki tambah, selamat dari bencana dan fadhilah2 lainnya. Justru bagi kaum sufi, bersholawat Nabi berarti bergabung dengan cahayanya, karena cahaya Rasul adalah wujud dari cahaya diatas cahaya.
4. Carilah Istiqomah, jangan cari karomah. Cepat2 kembali kepada Allah, jangan kembali kepada dirimu dan pengalaman ruhanimu, karena sesungguhnya semuanya dari Allah bersama Allah menuju Allah bukan bersama dirimu, menuju kepentinganmu, demi kamu.
5. Sesungguhnya yang merasakan tugas Ilahiyah sebagai beban dan kepedihan hanyalah lenguhan nafsu kita. Nafsu hanya menginginkan bebasnya beban, menginginkan yang serba instan dan enak2, bahkan nafsu inginnya tidak perlu ibadah, tidak perlu taqarrub, tidak perlu ma’rifatullah karena bagi nafsu semua itu adalah rasa pedih yang menyiksa.
6. Jangan senang mengingat-ingat kebaikan anda, ibadah anda, puasa anda.Lupakan semua kebaikan anda kepada Allah, dan lupakan pula kebaikan anda pada orang lain. Kalau anda mengingat-ingat itu pertanda anda tidak Ikhlas.
7. Bercita-citalah jadi orang cukup karena Allah Ta’ala, agar anda bisa mendistribusikan titipan Allah kepada yang berhak menerimanya. Kalau sekarang masih belum kaya, tetaplah bersedekah dan berinfaq menurut kemampuan maksimal anda, jangan menunggu kaya dulu. Begitu juga kalau berinfaq dan bersedekah jangan minta ganti rugi kepada Allah swt, apalagi biar berlipat ganda hartanya, itu sama saja menjual akhirat untuk dunia !. Hina sekali……..
8. Kalau berdzikir yang ikhlas Lillahi Ta’ala, jangan berdzikir untuk mencari ketenangan, mencari ketentraman, apalagi mencari dunia. Berdzikirlah hanya karena Allah, dan anda berdzikirpun karena dzikirnya Allah kepadamu. Lihat terus ke depan dengan pandangan hatimu. Di depan ada siapa ??? ada Allah bukan ??? kenapa anda masih terus berselingkuh dengan makhluk dan selain Allah ??? padahal Allah terus menerus memandangmu ??? Perbanyak istighfar kepada Allah Ta’ala, sementara anda beristighfar, hatimu tetap berdzikir Allah….Allah….Allah….
9. Anda harus selalu optimis, songsong masa depan anda bersama Allah dan menuju Allah swt. Tetaplah berbaik sangka kepadaNya karena Allah swt itu sangat mencintai orang yang berbaik sangka padaNya dan tidak menyukai orang yang berburuk sangka padaNya.
10. Jadikan rindu anda kepada Allah sebagai titik awal anda mencintaiNya. Karena itu sebagai pertanda mencintaiNya,andapun akan mengingatNya selamanya, dimanapun anda berada dan dalam situasi apapun, tanpa pretensi atau tujuan apapun kecuali hanya cinta.
Probolinggo, 18 juli 2013
Dirangkum oleh:
BAMBANG SULISTYONO
Disarikan dari:
1. Cahaya Sufi Maret 2008
2. Cahaya Sufi Edisi No. 59 tahun 2009
3. Cahaya Sufi Edisi No. 78 tahun 2012

Kamis, 12 Oktober 2017

Negara-Negara dengan Durasi Puasa Terlama dan Tersingkat

Durasi waktu berpuasa tiap-tiap daerah berbeda-beda, tergantung letak geografis setiap daerah, yang juga akan berpengaruh terhadap waktu terbit dan terbenamnya matahari.
Beberapa daerah di negara Skandinavia (Islandia, Greenland, Swedia, Norwegia & Finlandia) yang berada di dekat lingkar Kutub Utara, ada satu musim dalam setahun dimana waktu siangnya menjadi sangat panjang (21 jam) dan waktu malamnya menjadi sangat pendek (3 jam). Apabila bulan Ramadhan, umat Islam disana berpuasa lebih dari 21 jam.

Bahkan di Lapland (bagian provinsi Finlandia) merupakan daerah paling utara, mempunyai musim yang sama-sama ekstrim.  Pada musim dingin tahun 2012 yll, matahari tidak terbit selama 51 hari (malam terus).  Sedangkan dimusim panas/hangat, matahari tidak terbenam selama 73 hari (siang terus).
Ketika bulan Ramadhan bertepatan pada musim dingin, puasa di Lapland berlangsung 23 jam 5 menit, dimulai pada 01.35 (Subuh) dan berbuka puasa pada 00.48 (Maghrib) keesokan harinya. Matahari hanya terbenam selama 55 menit saja.  Mereka hanya memiliki waktu 55 menit untuk berbuka, tarawih, hingga akhirnya subuh kembali.

Tahun 2015, umat muslim di Islandia menjalani puasa dengan waktu terlama (22 jam). Matahari terbit pukul 02.30 dinihari dan terbenam pada 00.00 tengah malam. Akibatnya muslim di Islandia hanya memiliki waktu 2 jam untuk berbuka, shalat magrib, shalat tarawih, shalat isya dan akhirnya harus makan sahur sebelum waktu subuh tiba.
Ramadhan tahun 2017 yll, Kedubes di Finlandia  mengadakan acara buka puasa bersama pukul 22.30.  Shalat Isya dilaksanakan pukul 00.10 dan waktu sahur pukul 02.00.  Durasi puasa 21 jam (02.00 – 22.30). 

Namun, di belahan dunia yang lain (Chili, Argentina, dll), sejumlah umat Islam menjalankan ibadahnya cukup pendek di bawah 11 jam.  Karena di sebagian besar negara-negara Arab, waktu berpuasa rata-rata mencapai 13-16 jam sehari.  Indonesia rata-rata 13,5 jam.
Tahun 2016, umat Muslim Chili berpuasa dengan durasi terpendek. Umat Muslim disana berpuasa selama 9 jam, sejak pukul 05.31 dan berbuka puasa pukul 15.00.

Fatwa ECFR bagi Umat Muslim di Eropa Utara.
Sheikh Hussein Muhammad Halawa, Sekjen Majelis Eropa untuk Fatwa dan Riset (The European Council for Fatwa and Research/ECFR):
·         Umat Islam yang berada di negara di mana matahari tidak pernah tenggelam (Kota Tromso, Norwegia Utara), adalah agar mereka mengambil waktu di hari-hari yang siang dan malam sama panjang, sebagai ukuran menentukan waktu puasa dan shalat di bulan Ramadhan. 
·         Sedangkan di negara-negara yang malamnya sangat pendek di mana tanda fajar tidak jelas dan tidak cukup untuk shalat Isya, tarawih, sahur. Dimungkinkan untuk shalat Maghrib dan kemudian langsung shalat tarawih sebelum Isya dengan tenggat waktu 45 menit. 


Di kota Tromso terdapat  sekitar 1000 muslim.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tarekat Syadziliyah

TAREKAT SYADZILIYAH
Tarekat ini didirikan oleh Abu Hasan Ali asy-Syadzili.
Pusat Tarekat Syadziliyah di Indonesia berada di Tulung Agung (Jawa Timur)
Tarekat Syadziliyah dikenal sebagai tarekat yang sederhana dalam ajarannya, tidak berbelit-belit,
Tarekat ini banyak diminati oleh kalangan kelas menengah, pengusaha, pejabat dan pegawai negeri.
Di antara tarekat-tarekat yang ada, Tarekat Syadziliyah memiliki pandangan-pandangan yang sedikit berbeda dibanding lainnya.
Tarekat Syadziliyah sangat berbeda dengan aliran-aliran Tasawuf Falsafi semodel ajaran tasawuf Ibn Arabi tentang Wahdatul wujudnya.
Dalam fiqih, Imam Syadzili mengikuti Madzhab Maliki. Dalam tasawuf ajaran tasawuf Syadzili sangat dekat dengan ajaran tasawuf al-Ghazali.
Tidak menuliskan ajaran-ajarannya dalam sebuah kitab yang tertulis, namun karya-karyanya adalah kitab yang berjalan.

Ajaran-ajaran Tarekat Al-Syadziliyah, yaitu :
·         Tidak menekankan perlunya Tapabrata atau kehidupan menyendiri.
·         Tidak juga menganjurkan bentuk-bentuk dzikir tertentu yang disuarakan dengan keras/lantang.
·         Tidak mengabaikan dalam menjalankan syari’at islam.
·         Menonjol dalam kerapian pakaian dan penampilan.
·         Tidak menganjurkan murid-muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka.
·         Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner (kaya raya), asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimilikinya.
·         Tidak diperkenankan mengemis dan tidak mendukung kemiskinan.
·         Berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat.
·         Selalu membantu penderitaan kaum muslim dan memudahkan orang-orang yang berada dalam kesulitan.
·         Zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia, karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati dari selain Tuhan.
  
Tasawuf Syadziliyah:
Tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah.
Ma’rifat adalah salah satu tujuan ahli tarekat atau tasawuf yang dapat di peroleh dengan dua jalan, yaitu Riyadhah al-Abdan  (al-Ghazali) atau Riyadhah al-Qulub. (al-Syadzili).
Antara al-Ghazali dan al-Syadzili di samping memiliki beberapa kesamaan, juga memiliki sedikit perbedaan yaitu dalam hal upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Apabila al-Ghazali lebih menekankan Riyadhah al-Abdan atau latihan yang berhubungan dengan fisik yang mengharuskan adanya musyaqqah, misalnya bangun malam, lapar dan lain-lain,
maka al-Syadzili lebih menekankan para Riyadhah al-Qulub tanpa adanya Musyaqah al-Abdan, misalnya menekankan SENANG (al-Fash), RELA (al-Ridha) dan selalu BERSYUKUR atas rahmat dan nikmat Allah Swt.
Dunia yang dibenci kaum sufi, adalah dunia yang memalingkan seorang hamba dari Tuhannya, yang melengahkan dan memperbudak manusia karena kesenangan yang berlebihan terhadapnya.

Pengetahuan Umum ttg Tasawuf.
Tasawuf  atau Sufisme  adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin serta untuk memperoleh kebahagian yang abadi.
Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. 
Bagi kalangan pengikut tasawwuf, terdapat 4 tingkatan spiritual/keimanan dalam agama Islam, yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat, dan Ma’rifat.
1. Syariat adalah hukum dan peraturan-peraturan yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat Muslim,
2. Tarekat adalah kumpulan amalan-amalan lahir dan batin yang bertujuan untuk membawa seseorang untuk menjadi orang bertaqwa (ma’rifat). Istilah tarekat juga menjadi nama lain dari aliran tasawuf.
3. Hakikat artinya i`tikad atau kepercayaan sejati (mengenai Tuhan). Hakikat merupakan pekerjaan hati, sehingga tidak ada yang dilihat didengar selain Allah.
4. Ma’rifat artinya mengenal Allah secara sangat dekat, dengan telah tersingkapnya rahasia-rahasia ketuhanan, atau kemampuan melihat Allah dengan mata hati.  Ma’rifat  merupakan inti dari wilayah hakikat yang 'tak terlihat'.  Ma’rifat dicapai ketika Shufi mencapai maqam tertinggi dalam Tasawuf.

Istilah Tasawuf sebelumnya tidak dikenal dimasa Rasulullah. Sesudah abad ke-2 Hijriyah muncul golongan sufi yang mengamalkan amalan-amalan dengan tujuan kesucian jiwa untuk taqarrub kepada Allah.
Para sufi kemudian membedakan pengertian-pengertian Syari’ah, Thariqat, Haqiqat, dan Makrifat.
Pengetahuan mengenai Tarekat sesungguhnya adalah pengetahuan mengenai hakikat, yang dalam banyak hal tidak akan mampu dijangkau oleh akal. Seperti halnya dicontohkan dalam kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa As.
Kebanyakan Tarekat pada umumnya hanya berorientasi akhirat, tidak mementingkan dunia. Sehingga banyak orang menentang dan meninggalkan tarekat atau tasawuf. Alasannya karena tarekat membawa kemunduran pada umat islam.
Akan tetapi, akhir-akhir ini perhatian pada tasawuf timbul kembali karena dipengaruhi oleh paham materalisme. Orang-orang Barat melihat bahwa materalisme memerlukan sesuatu yang bersifat rohani, yang bersifat immateri sehingga banyak orang yang kembali memerhatikan tasawuf.

Berkas:Syariah-thariqah-hakikah2.jpg

4 Aliran Utama Tarekat:
Tarekat (Thariqah) berarti : jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.
Tarekat adalah jalan yang mengacu pada suatu sisten latihan meditasi maupun amalan-amalan (muraqabah, dzikir, wirid, dan sebagainya) yang dihubungkan dengan sederet guru sufi. Tarekat juga berarti organisasi yang tumbuh seputar metode sufi yang khosh.
Beberapa aliran Tarekat:
Tarekat Qadiriyah             à Abd. Qadir ai-Jaelani
Tarekat Naqsyabandiyah à Bahauddin An-Naqsabandi
Tarekat Suhrawardiyah    à Zianudin Jahib Suhrawardi
Tarekat Syadziliyah          à Ahmad Asy-Syadzili

LIMA SENDI ajaran Tarekat Syadziliyah:
1. TAQWA kepada Allah SWT lahir bathin, yang diwujudkan dengan jalan bersikap WARA’ dan ISTIQAMAH dalam menjalankan perintah Allah.
2. Konsisten mengikuti SUNNAH RASUL, baik dalam ucapan maupun perbuatan, yang direalisasikan dengan selalu bersikap waspada dan bertingkah laku yang luhur.
3. TAWAKAL yaitu berpaling (hatinya) dari makhluk, baik dalam penerimaan maupun penolakan, dengan berlaku sadar dan berserah diri kepada Allah SWT.
4. RIDHA terhadap Allah, baik dalam kecukupan maupun kekurangan, yang diwujudkan dengan apa adanya (qana’ah/tidak rakus] dan menyerah.
5. Kembali kepada Allah, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan susah, yang diwujudkan dengan jalan BERSYKUR dalam keadaan senang dan BERSABAR / berlindung kepada-Nya dalam keadaan susah.

Hizib (Do’a dan Dzikir) Tarekat Syadziliyah
Sebelum seseorang mengikuti baiat atau talqin zikir, biasanya ia dianjurkan untuk membaca hizb al-syifa’.
cara mengamalkan adalah apabila disertai puasa maka hizb as-Syifa’ dibaca setiap selesai shalat fardhu dan puasa dilaksanakan selama tiga hari, tujuh hari, sepuluh hari, atau empat puluh hari, sesuai dengan petunjuk mursyid.

Puasa dimulai hari Selasa, Rabu, dan Kamis.

Kamis, 05 Oktober 2017

Waktu Shalat Subuh Perlu Dikoreksi (Hasil Kajian Ilmuwan Muhammadiyah)

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-
Pelaksanaan ibadah mahdlah, bagi Muhammadiyah, termasuk dalam wilayah purifikasi. Dalam wilayah ini, selalu dilakukan kajian dan penelitian secara mendalam dan berkelanjutan. Salah satunya terkait dengan penetapan waktu pelaksanaan ibadah-ibadah mahdlah seperti shalat dan puasa, Muhammadiyah menggunakan ukuran dan standar yang paling mendekati akurat, dengan pertimbangan teknologi paling mutakhir.
Dalam hal penetapan waktu shalat subuh, hasil kajian beberapa pakar dan ilmuwan menunjukkan fakta yang tidak sesuai dengan yang umum digunakan selama ini. Ketua Himpunan Ilmuwan Muhammadiyah Prof Tono Saksono menegaskan bahwa waktu masuknya awal Shalat Subuh yang digunakan di Indonesia selama ini terlalu dini 20 hingga 30 menit dari seharusnya sehingga perlu dikoreksi.
“Ini hasil riset kami dengan alat Sky Quality Meter (SQM), pengukur kecerlangan benda langit,” kata Ketua Islamic Science Research Network (ISRN) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) itu dalam Seminar Evaluasi Awal Waktu Shalat Subuh Menurut Sains dan Fikih di Jakarta, Selasa (9/5).
Selama ini, kata Tono, fajar dianggap telah terbit saat matahari pada posisi sudut depresi 20 derajat di bawah ufuk yang setara dengan 80 menit sebelum matahari terbit. Padahal, menurutnya, dari hasil observasi sementara, fajar dimulainya Shalat Subuh bagi umat Islam Indonesia baru terjadi saat sudut depresi matahari pada kisaran 11 hingga 15 derajat di bawah ufuk atau bila dikonversi dalam domain waktu setara dengan 44 sampai dengan 60 menit sebelum matahari terbit.
“Tidak ada satupun indikasi yang menunjukkan bahwa sinar fajar sebagai tanda awal subuh telah muncul saat matahari berada pada sudut depresi 20 derajat,” kata Tono sebagaimana dikutip Antara.Penentuan 20 derajat di bawah ufuk merupakan keputusan ulama Melayu di masa lalu untuk menentukan awal masuknya waktu Shalat Subuh dan dimulainya puasa, termasuk digunakan pula oleh ulama Malaysia.
“Tapi, zaman dulu memang belum ada peralatan secanggih saat ini, dan masih mengandalkan pengamatan dengan mata telanjang, jadi wajar jika tidak akurat,” katanya. Oleh karena itu, seiring zaman, maka sudah semestinya umat Islam beralih dengan ditemukannya fakta ini.
Senada, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin mengatakan penggunaan standar 20 derajat di bawah ufuk itu memang sudah waktunya dikoreksi, namun perlu pengamatan dari lokasi yang gangguan atmosfernya minimal sehingga tidak akan mendistorsi hasil data yang diperoleh.
Menurut Thomas yang menjadi salah satu pembicara dalam acara itu, ketetapan minus 20 derajat tersebut tampaknya diperoleh ulama masa lalu dari standar yang digunakan di Mesir 19,5 derajat atau dari Saudi 18 derajat di bawah ufuk, padahal posisi negara-negara tersebut ada di lintang tinggi, dan Indonesia di khatulistiwa.
Sementara itu, Wakil Rektor Uhamka Zamah Sari mengatakan bahwa untuk mengoreksi standar yang digunakan selama ini masih membutuhkan pengujian lanjutan baik dari sisi astronomi juga dari pemahaman fikih. “Masih perlu waktu panjang, seperti kesepakatan organisasi Islam lainnya, lalu kemudian diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia untuk dibuatkan fatwanya,” kata tokoh Muhammadiyah itu.
Temuan itu disambut positif Wakil Ketua Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Sirril Wafa. Menurutnya, NU siap membuka peluang untuk berubah dan mengusulkan perlunya kerja sama riset terkait astronomi antara NU, Muhammadiyah, MUI, Lapan dan lainnya. (Ribas)

Wukuf di Padang Arafah

Tanggal 9 Dzulhijah adalah puncak ritual ibadah haji di tanah suci. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sebuah kawasan bebatuan seluas 3,5 x 5,5 km persegi, yang kita kenal sebagai padang Arafah.
Di padang tandus inilah jamaah haji memulai ritualnya dengan cara berdiam diri melakukan perenungan dan bertafakur tentang substansi kehidupannya sebagai khalifah Tuhan di bumi. Perenungan yang memakan waktu sekitar 5 – 6 jam (Dzuhur sampai Maghrib)  itu kita kenal sebagai ritual Wukuf.
Ia berasal dari kata Waqafa yang bermakna ‘berhenti’.  Maka, Wukuf adalah ritual haji yang mengajari umat Islam untuk sejenak meninggalkan aktivitasnya selama beberapa jam itu. Berhenti dari kegiatan apapun agar bisa melakukan perenungan jati diri.
Sengaja, wukuf di Arafah itu dipilih sebagai permulaan ritual haji. Dan sekaligus sebagai puncaknya, yang tanpanya ibadah haji kita menjadi tidak syah. Begitulah Rasulullah mengajarkan kepada kita. “Tak ada haji tanpa Wukuf”, sebuah statemen yang menunjukkan betapa pentingnya ritual wukuf itu bagi jamaah haji.
Sebenarnya, tidak ada yang spesifik tentang kewajiban berwukuf, kecuali berdiam di kawasan Arafah antara waktu dzuhur sampai maghrib. Demikian pula aktivitasnya, tidak ada yang khusus, asalkan tidak keluar dari kawasan itu dan tidak melanggar ketentuan ibadah haji secara umum maka wukufnya dianggap syah. Dan, dengan sendirinya sudah memenuhi rukun haji.
Ada beberapa hikmah yang terkandung didalamnya. Namun yang utama adalah, bahwa sebelum melakukan ibadah fisik selanjutnya di dalam rukun haji, seorang muslim harus melakukan persiapan mental dan perenungan jati diri ke dalam jiwanya sendiri.
Sebenarnya, hal ini menjadi dasar bagi semua ibadah di dalam Islam. Bahwa setiap langkah ibadah kita harus berlandaskan ilmu dan niat yang benar. Yang itu hanya bisa dicapai kalau kita telah melakukan pemahaman, penghayatan dan komitmen untuk melangkah ke depan secara berkualitas. Tanpa proses semacam itu, ibadah kita tak lebih hanyalah sebuah ritual tanpa makna. Dan tak membebaskan apa apa dalam jiwa.
Semua ibadah harus dimulai dari niat. Tetapi Wukuf ini lebih mendalam sekedar niat. Karena ia berisi perenungan, pemikiran, pemahaman dan komitmen terhadap “niat”. Bukan hanya untuk keabsahan ritual haji yang sedang kita jalani, melainkan lebih jauh dari itu, untuk menjalani realitas hidup kita, sepulang dari tanah suci.
Arafah, sesuai namanya, adalah ‘Padang Pengetahuan’ tempat Nabi Adam bertaubat, dan kemudian memperoleh kalimat-kalimat ilahiyah sebagai bekal mengarungi kehidupan bumi. Dimana, ia dan anak keturunannya ditugasi sebagai khalifatu fil ardhi – pemimpin di muka bumi.
Arafah, juga menjadi titik menancapnya keyakinan Nabi Ibrahim untuk menaati perintah Allah dalam berkorban dengan penuh keikhlasan dan ketaatan kepada Allah. Disinilah, beliau meneguhkan penyerahan diri yang tiada terukur kualitasnya, dalam bentuk mengorbankan anak saleh yang sangat dicintainya, dan diharapkan menjadi penerus syiar agama Islam yang dibawanya.
Maka, Wukuf di Arafah adalah momen yang sangat penting bagi setiap jamaah haji untuk memperoleh pengampunan Allah sebagaimana Nabi Adam, dan dilanjutkan dengan komitmen berserah diri kepada Allah sebagaimana nabi Ibrahim.
Inilah ‘Padang Pengampunan’ dan ‘Padang Pencerahan’ bagi setiap diri yang ingin meningkatkan kualitas keislamannya. Padang Arafah adalah padang pengetahuan ma’rifat bagi perjalanan spiritual seorang hamba Allah yang ingin mendekatkan diri kepada- Nya.
Tidak ada haji tanpa perenungan Arafah. Tidak akan pernah ada pencapaian puncak keislaman seorang muslim, tanpa ma’rifatullah di Padang Pengetahuan ini. Karena sesungguhnya, ini baru permulaan bagi perjalanan spiritual berikutnya. Yang di dalam ritual haji disimbolkan dengan lempar jumrah di Mina, thawaf diseputar Ka’bah, dan diakhiri dengan Sa’i antara Shafa dan Marwah.
Setiap jamaah haji, atau bahkan muslim harus paham benar substansi ritual haji itu. Bukan hanya ikut-ikutan. Setiap kita harus memulai segala ritual ibadah dengan pengetahuan yang mendalam. Bukan hanya ritualnya melainkan lebih kepada substansinya. Agar kita memperoleh makna dan dampak sesungguhnya dari ibadah yang kita lakukan. Karena, jika tidak mengerti, maka ibadah haji kita itu hanya akan menjadi amalan-amalan kosong belaka.
Coba bayangkan, untuk apa kita merenung berjam-jam di dalam tenda di Padang Arafah itu jika tidak paham maksudnya. Jangan-jangan hanya akan menjadi ‘melamun berjamaah’ belaka.   Atau, ada juga yang sekedar ‘ngobrol berjamaah’ karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, setelah bosan’dipaksa melamun’ tanpa makna.
Demikian pula, ketika melempari Jamarat alias ‘Tugu Setan’ di Mina. Jika kita tidak paham maksudnya, jangan-jangan ‘ritual maut’ yang sering membawa korban jiwa itun hanya akan menjadi momen unjuk kekuatan dan kebengisan berebut tempat untuk bisa melempari tugu buatan manusia yang sekarang sudah dibuat tingkat 5 itu.
Dan tak ada bedanya, saat kita bertawaf putar-putar Ka’bah atau mondar-mandir antara Shafa dan Marwah. Jangan-jangan juga tak memberi dampak berarti buat jiwa kita, disebabkan oleh tidak pahamnya terhadap apa yang kita lakukan. Nah, semua itu harus sudah ditancapkan kuat-kuat saat kita berada di Padang Arafah. Persis seperti ketika Nabi Ibrahim memutuskan untuk melakukan perintah Allah mengorbankan anaknya, seusai melakukan perenungan di Arafah.
Karena itu, filosofi ritual haji itu sambung menyambung membentuk substansi keislaman yang utuh. Dimulai dari perenungan di Arafah yang mewujud menjadi niat kokoh untuk berkorban kepada Allah, dalam bentuk kebajikan buat sesama.
Dilanjutkan dengan melempari sifat-sifat setaniyah di dalam diri setiap kita, yang disimbolkan dengan lempar Jumrah. Sebuah sikap ‘permusuhan’ yang sangat jelas terhadap setan yang bersemayam di dalam jiwa manuisa, sejak Adam dan Hawa diciptakan Allah.
Kemudian dilanjutkan lagi dengan Tawaf mengelilingi Ka’bah sebagai ungkapan untuk memusatkan seluruh aktivitas kehidupan kita hanya kepada Allah. Bukan berputar-putar di sekitar harta benda, kukasaan, dan segala kecintaan dunia belaka. Melainkan, berpusat ke Baitullah.
Seluruh gerakan tawaf kita adalah sebuah kebersamaan hablum minan naas (hubungan antara manusia) untuk dipusatkan kepada Allah, sebagai menivestasi hablum minallah (hubungan dengan Allah). Manusia dari segala bangsa berputar-putar di sekeliling Baitullah. Tidak boleh saling mengganggu apalagi menyakiti. Sambal berdzikir hanya mengingat Allah, sebagai inti gerakan seluruh alam semesta.

Sedangkan Sa’i adalah manifestasi dari perjuangan tiada henti untuk mencapai kesuksesan dalam hidup. Sebuah kesuksesan duniawi yang kemudian dijadikan sebagai pijakan sekaligus modal untuk mencapai kebahagiaan Ukhrawi. Mengacu pada perjuanagn Siti Hajar dalam mempertahankan hidupnya dan hidup anaknya (Ismail) tanpa putus asa, sambil berserah diri kepada Allah semata. Hasilnya, Allah memberikan kesuksesan di akhir perjuangan tanpa kenal lelah itu. 

Senin, 02 Oktober 2017

Para Sahabat Berbuat Bid'ah ????

Fenomena membidahkan orang lain sering sekali kita dengar, baik secara langsung maupun di media sosial. Fenomena tersebut terjadi karena pelakunya mempersempit definisi bidah pada sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya.
Tentu, kehati-hatian berlebihan ini mempersulit kita dalam mengamalkan ajaran agama. Selain itu, sikap tersebut dapat menjerumuskan pada fanatisme dan menganggap bidah, sesat, syirik orang lain yang tidak sepaham.
Padahal, bila agama mengakomodir budaya-budaya masyarakat setempat yang tidak bertentangan dengan syariah, tentu akan memperkaya khazanah keislaman.
Acara keagamaan seperti maulid nabi, istigasah, tawasul, ziarah kubur, dan lain sebagainya menjadi sasaran empuk mereka. Padahal, beberapa sahabat Nabi pernah melakukan apa yang mereka anggap bidah tersebut. Jangan-jangan, apa yang dikatakan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. Ali Mustafa Yaqub, benar.   Bidah menurut mereka adalah ma lam ta’rifhu huwa (setiap ibadah yang mereka tidak ketahui dalilnya). Jadi, ibadah yang tidak mereka ketahui dalilnya itulah bidah.
Pemahaman terhadap Alquran dan hadis harus dilakukan secara komprehenshif. Artinya, kita tidak dibolehkan menghalalkan atau mengharamkan permasalahan tertentu dengan satu atau dua ayat. Belum lagi, kita harus mengetahui konsep ijmak ulama dan qiyas. Oleh karena itu, perlu mengikuti ulama-ulama kita yang biasa mentradisikan maulid, ziarah kubur, dan lain sebagainya. Bisa jadi, perilaku membidahkan ini karena pemahaman terhadap agama yang tidak menyeluruh.
Para sahabat sering melakukan perbuatan yang bisa digolongkan ke dalam bid'ah hasanah atau perbuatan baru yang terpuji yang sesuai dengan cakupan sabda Rasulullah SAW:

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang memberikan contoh perbuatan baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan<> tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun. (HR Muslim)

Karena itu, apa yang dilakukan para sahabat memiliki landasan hukum dalam syariat.  

Berikut ini perbuatan-perbuatan terpuji para Sahabat yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah sebelumnya (bid’ah hasanah), bahkan sebagian justru diapresiasi oleh Rasulullah ;
1. Shalat tarawih berjamaah.
Umar ibn Khattab melihat orang2 orang sedang shalat di Masjid Nabawi secara berpencar.  Umar berkata kepada Abdurrahman bin Abdil Qaary: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” Maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”
Rasulullah SAW shalat bersama para sahabat di bulan Ramadhan lebih dari semalam. Kemudian beliau enggan melaksanakannya lagi karena khawatir shalat tarawih itu wajib. Beliau pun tidak merutinkannya setelah itu.
Dahulu di masa Nabi SAW, orang-orang melaksanakan shalat tarawih secara jama’ah namun terpisah-pisah atau berkelompok-kelompok.

2. Pembukuan Al-Qur'an .
Pembukuan Al-Qur'an pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq atas usulan Umar ibn Khattab, yang merasa khawatir kalau-kalau dikemudian hari ayat-ayat Al-Qur’an akan lenyap karena wafatnya para sahabat Nabi saw. yang hafal ayat-ayat Al-Qur’an.
Namun Abu Bakar menolak usul ‘Umar dan berkata kepada ‘Umar; “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw.?”.  Umar menjawab; “Itu merupakan hal yang baik”.
Namun, tidak berapa lama kemudian Allah SWT. membukakan pikiran Khalifah Abu Bakar ra dan akhirnya bersepakatlah dua orang sahabat Nabi itu untuk mengitabkaan ayat-ayat Al-Qur’an.
Demikian pula ketika Zaid bin Tsabit diperintahkan supaya melaksanakan pengitabatan ayat-ayat Al-Qur’an itu.  Zaid bin Tsabit berkata; “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Rasulullah saw.?”  Abu Bakar menjawab kepadanya; ”Itu pekerjaan yang baik!” Akhirnya pembukuan Al-Qur’an dilaksanakan.
(Hadits riwayat Imam Bukhori dalam Shohih-nya juz 4 halaman 243 mengenai pembukuan ayat-ayat suci Al-Qur’an).

3. Bilal selalu menjaga Wudhu.
Hadits dari Abu Hurairah: “Rasulullah saw. bertanya pada Bilal ra seusai sholat Shubuh : ‘Hai Bilal, katakanlah padaku apa yang paling engkau harapkan dari amal yang telah engkau perbuat, sebab aku mendengar suara terompahmu didalam surga’. Bilal menjawab : Bagiku amal yang paling kuharapkan ialah aku selalu suci tiap waktu (yakni selalu dalam keadaan berwudhu) siang-malam sebagaimana aku menunaikan shalat “. (HR Bukhori, Muslim dan Ahmad bin Hanbal).

4. Bilal Melakukan Salat Sunah Setiap Usai Bersuci
Bilal mencoba membiasakan salat setelah usai melakukan wudu. Padahal, secara pribadi Nabi tidak pernah menganjurkan salat tersebut. Akan tetapi, Nabi menghargai dan membenarkan kreatifitas Bilal. Bahkan, gara-gara kreatifitasnya tersebut, Bilal dijanjikan masuk surga. Penjelasan ini dijelaskan dalam Shahih Bukhari (Bab Fadhl Thuhur bil Lail wan Nahar) dan Shahih Muslim (Bab Min Fadhail Bilal).

5. Adzan Shalat Jumat 2 kali.
Utsman ibn Affan menambah adzan untuk hari Jumat menjadi dua kali. Imam Bukhari meriwatkan kisah tersebut dalam kitab Shahih-­nya bahwa penambahan adzan tersebut karena umat Islam semakin banyak. Selain itu, Sayyidina Utsman juga memerintahkan untuk mengumandangkan iqamat di atas az-Zawra', yaitu sebuah bangunan yang berada di pasar Madinah.

6. Shalat dua raka’at sebelum dihukum mati.
Khubaib bin Ady adalah seorang sahabat Nabi yang menjadi tawanan kaum kafir Quraisy karena sakit hati atas kekalahan mereka pada perang Badar.  Seorang pemuka Makkah, Harits bin Amir terbunuh oleh pedang Khubaib.  Khubaib melakukan shalat dua raka’at sebelum beliau dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy.  Yang dilakukan Khubaib kemudian disetujui oleh Rasulullah.  (H.R Bukhari).

7. Shalat dua raka’at sebagai pernyata’an bela sungkawa.
Khabbab melakukan shalat dua raka’at sebagai pernyata’an sabar (bela sungkawa) disa’at menghadapi orang muslim yang mati terbunuh. * Rasulullah membenarkan apa yang dilakukan sahabatnya tersebut.  (Shahih Bukhori- Fathul Bari jilid 8/313).

8. Baca Surat Al-Fatihah untuk menyembuhkan penyakit.
Sekelompok sahabat singgah pada pemukiman suku arab badui sewaktu mereka dalam perjalanan. Pada saat itu kepala suku arab badui itu disengat binatang berbisa sehingga tidak dapat jalan. Salah seorang sahabat segera mendatangi kepala suku lalu membacakannya surah al-Fatihah, seketika itu juga dia sembuh dan langsung bisa berjalan.
Setiba dihadapan Rasulullah saw., mereka menceriterakan apa yang telah mereka lakukan terhadap kepala suku itu. Rasulullah saw. bertanya ; ‘Bagaimana engkau tahu bahwa surah al-Fatihah itu dapat menyembuhkan’? Rasulullah saw. membenarkan apa yang dilakukan para Sahabatnya tersebut “. (HR.Bukhori)

9. Membaca Surat Al-Ikhlas di samping Surah lainnya sesudah Al-Fatihah
Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan : “Pada suatu sa’at Rasulullah SAW menugaskan seorang dengan beberapa temannya ke suatu daerah untuk menangkal serangan kaum musyrikin. Tiap sholat berjama’ah, selaku imam ia selalu membaca Surat Al-Ikhlas di samping Surah lainnya sesudah Al-Fatihah.
Setelah mereka pulang ke Madinah, seorang diantaranya memberitahukan persoalan itu kepada Rasulullah. Beliau menjawab : ‘Tanyakanlah kepadanya apa yang dimaksud’. Atas pertanyaan temannya itu orang yang bersangkutan menjawab : ‘Karena Surat Al-Ikhlas itu menerangkan sifat ar-Rahman, dan aku suka sekali membacanya’. Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulullah, Beliau berpesan : ‘Sampaikan kepadanya bahwa Allah menyukainya’ “. (Kitabut-Tauhid Al-Bukhori).

10. Mengucapkan : “Rabbana lakal hamdu” 
Seorang sahabat mengucapkan : “Rabbana lakal hamdu” (Wahai Tuhanku, untuk-Mu segala puja-puji), setelah bangkit dari ruku’ dan berkata “Sami’allahu liman hamidah” (Semoga Allah mendengar siapapun yang memuji­Nya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya : ‘Siapa tadi yang berdo’a ?’. Orang yang bersangkutan menjawab : Aku, ya Rasulullah- Allah. Rasulullah saw. berkata : ‘Aku melihat lebih dari 30 malaikat berebut ingin mencatat do’a itu lebih dulu’ “. (H.R Bukhari dalam shohihnya II :284, hadits berasal dari Rifa’ah bin Rafi’ az-Zuraqi).

11. Mengucapkan ‘Allahu Akbaru Kabiiran Wal Hamdu Lillahi Katsiiran”

Ibnu Umar berkata, “Ketika kami sedang melakukan shalat bersama Nabi saw, ada seorang lelaki dari yang hadir yang mengucapkan ‘Allahu Akbaru Kabiiran Wal Hamdu Lillahi Katsiiran Wa Subhaanallahi Bukratan Wa Ashiila’. Setelah selesai sholatnya, maka Rasulullah saw. bertanya; ‘Siapakah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi ? Jawab seseorang dari kaum; Wahai Rasulullah, akulah yang mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Sabda beliau saw.; ‘Aku sangat kagum dengan kalimat-kalimat tadi sesungguhnya langit telah dibuka pintu-pintunya karenanya’. . .” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Sabtu, 30 September 2017

Saling Mencintai

Hiduplah seorang laki² yg sangat miskin bersama istrinya. Suatu sore, sang istri meminta dibelikan sisir untuk rambutnya yg panjang agar terlihat rapih dan anggun.
Sang suami memandangnya dengan sedih, dan berkata: "Aku belum bisa memenuhi permintaanmu. Bahkan untuk jam tanganku saja aku belum bisa membeli talinya".
Istrinya tidak membantah, bahkan tampak senyum di wajahnya.
Keesokan harinya, setelah selesai dari pekerjaannya, sang suami pergi ke pasar dan menjual jam tangannya yg tanpa tali itu, dengan harga murah. Kemudian membeli sisir permintaan istrinya.
Ketika sampai di rumah sore hari sambil membawa sisir yg dibelinya itu, ia melihat rambut istrinya sudah sangat pendek, dan tangan istrinya memegang tali jam tangan. Rupanya sang istri telah memotong rambutnya yang panjang dan menjualnya untuk membeli tali jam tangan.
Lalu keduanya saling memandang dengan mata yg sama-sama meleleh.
Bukan karena apa yang mereka lakukan sia-sia!! Tapi karena keduanya merasa saling mencintai.
Keduanya sama-sama ingin memenuhi apa yg diinginkan satu sama lain.
*****
Dan ingatlah ...
Ketika suami istri saling memandang satu sama lain dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka Allah memandang keduanya dengan tatapan kasih sayang (al Hadits).
Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah istri yang shalihah. (HR. Muslim)
Sebaik-baik suami adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya. (HR. At Tirmidzi)
Semahal apa pun harga sebuah bantal, tak akan mampu menggantikan nyaman dan damainya bahu seorang suami yang baik untuk bersandar.
Ya Allah jadikanlah kami pasangan suami istri yang selalu bersyukur dan bersabar, serta saling mencintai karena-Mu. Dan pertemukanlah kami di Surga Firdaus-Mu di akhirat kelak. Aamiin.
🌹🌹
***