Jumat, 26 Oktober 2018

Filosofi Hidup Orang Jawa


DALAM berfilosofi, orang Jawa seringkali menggunakan unen-unen untuk menata hidup manusia. Makna dari ungkapan-ungkapan Jawa ini seringkali tidak dipahami oleh sebagian besar keturunan etnis Jawa di era modern ini. Maka tidak salah, jika muncul sebutan, “Wong Jowo sing ora njawani”.
Filosofi Jawa dinilai sebagai hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Padahal, filosofi leluhur tersebut berlaku terus sepanjang hidup. Warisan budaya pemikiran orang Jawa ini bahkan mampu menambah wawasan kebijaksanaan.
Berikut 25 dari sekian banyak falsafah yang menjadi pedoman hidup orang Jawa:

1
Urip Iku Urup
Hidup itu Nyala, Hidup itu haruslah menerangi bagaikan lentera. Maknanya hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik.

2
Ngunduh wohing pakarti
Mendapatkan hasil dari setiap perbuatan.  Maknanya semua orang akan mendapatkan akibat dari segala perilakunya sendiri. Jadi, kita tidak perlu menyalahkan dan mencari kesalahan orang lain karena bisa saja itu adalah akibat dari apa yang kita lakukan sendiri. Jadi, kita harus ingat untuk berhati-hati dalam betindak.

3
Ajining raga saka busana, Ajining diri saka lathi lan budi.
Kehormatan raga berasal dari pakaian. Sedangkan kehormatan diri berasal dari lisan dan akhlak. Bagi orang Jawa cara berpakaian itu menentukan kehormatan raga dan cara berbicara menunjukkan kehormatan diri seseorang. Penampilan dan ucapan kita mempengaruhi bagaimana orang bereaksi dan menghargai kita. Sedangkan kehormatan diri ditentukan oleh bagaimana seseorang berucap dan budi pekertinya.

4
Sepi ing pamrih rame ing gawe, memayu hayuning bawana
Giat bekerja dengan ikhlas tanpa pamrih, memelihara kedamaian alam semesta.

5
 Nerima ing pandum
Menerima segala pemberian. Mengandung makna ikhlas dengan segala keadaan atau hasil, meskipun sudah berupaya semaksimal mungkin. Sebab manusia hanyalah berkewajiban untuk berusaha, namun hasilnya Tuhanlah yang berkuasa menentukan .

6
Sapa nandur, bakalan ngunduh
Siapa yang menanam bakal menuai hasilnya. Maksudnya barang siapa yang menanam kebaikan maka suatu saat akan mendapatkan hasilnya. Kita diajarkan untuk berlomba menanam kebaikan dimanapun kita berada. Ini juga bermakna kerja keras kita yang akan berhasil kelak.

7
Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara
Manusia hidup di dunia harus
memelihara kedamaian alam semesta; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.

8
Becik kethitik ala ketara
Kebaikan akan terlihat dan kejahatan juga akan nampak. Semua perbuatan akan nampak tidak peduli itu baik maupun buruk. Ini adalah ajaran untuk kita agar memperbanyak perbuatan yang baik. Jika berbuat buruk dan disembunyikan, maka suatu saat perbuatan itu juga akan terbongkar.

9
Ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha
Menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan, menjadi sakti tanpa ajian, menjadi kaya tanpa harta kekayaan.

10
Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan
Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri. Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu.

11
Cakra manggilingan. 
Kehidupan manusia akan seperti roda yang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Hukum sebab akibat dan memungkinkan terjadi penitisan.

12
Jer basuki mawa beya 
Setiap kesuksesan/kebahagiaan memerlukan biaya atau usaha yang keras.

13
Aja Gumunan, Aja Kagetan, Aja Getunan, Aja Aleman.
Jangan mudah terheran-heran, Jangan mudah terkejut-kejut, Jangan mudah menyesal, Jangan manja dan mudah ngambeg.

14
Aja Adigang, Adigung, Adiguna
Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti. Maksudnya adalah Jaga kelakuan / tatakrama, jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latarbelakangmu.

15
Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka
Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah. Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka.

16
Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo
Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat.

17
Alon-alon waton kelakon
Pelan-pelan asal selamat. Kedengarannya simpel ya tetapi sebenarnya filosofi ini memiliki makna yang mendalam. Disini kita diajak untuk selalu berhati-hati, ulet, waspada, dan berusaha dalam menjalani hidup.

18
Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti
segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

19
Sekti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha
Menjadi sakti tanpa ajian, menjadi kaya tanpa harta kekayaan.

20
Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman
Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi.

21
Sing sapa temen tinemu 
Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil

22
Andhap asor.  
Bersikap sopan dan santun

23
Ala ketara becik ketitik. 
Yang jahat maupun yang baik pasti akan terungkap juga

24
Mulat salira, tansah eling kalawan waspada
Jadi orang harus selalu mawas diri, eling dan waspadha

25
Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. 
Menyerbu tanpa pasukan, menang tanpa merendahkan


Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun


Setiap kali ada yang berpulang kita pasti akan mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun artinya "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."    sebagai tanda duka cita.  Bacaan tersebut dikenal dengan sebutan bacaan "istirja" atau "tarji".  Istirja' merupakan frase umat Islam apabila seseorang tertimpa musibah dan biasanya diucapkan apabila menerima kabar duka cita seseorang.
Dalam Quran Innalillahi wa inna ilaihi rajiun disebutkan dalam ayat:
"Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun." Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Al-Baqarah: 155-157)
Kalau dari ayat ini, bisa dilihat bahwa ucapan ini adalah ucapan orang yang sabar, dan diucapkan saat mereka tertimpa musibah, bukan hanya kalau ada yang meninggal.
Orang yang mengucap hal ini saat tertimpa musibah hendak mengatakan bahwa sebagai kepunyaan Allah, yang diciptakan dan dimiliki sepenuhnya oleh Allah, maka mereka berserah diri saja. Mau diapain, mau dikasih ujian anak begini, suami begitu, pekerjaan begini, keluarga begitu, teman-teman begini, dikasih sakit, dikasih kejadian bencana, malapetaka... ya sudah ... memang kita milikNya kok, kenapa harus mengeluh? Begitu saja kok repot?
Yakin percaya penuh bahwa semua itu diberikan atas dasar cinta, kasih sayang, yang mungkin belum tentu kita semua tahu hikmah indah di baliknya, percaya saja pasti indah. Dan percaya penuh bahwa Sang Pemilik ini tahu kemampuan kita. Sebagai Kepala Sekolah dan Guru Semesta, Allah tahu benar "kelas" kita dan tingkat kesulitan yang harus kita lalui untuk naik kelas.
Terus kenapa harus mengeluh? Mbok ya malah bersyukur.
Allah berjanji bahwa manusia yang sabar dan selalu mengucap Innalillahi saat ikhlas tersenyum menerima musibah akan mendapat keberkahan sempurna, naik kelas dan lulus dengan gemilang dari ujian tersebut. Mereka itulah yang mendapat petunjuk, ibarat di kelas, mereka sudah belajar duluan pakai bank soal.
Jadi ucapkanlah innalillahi dalam setiap kondisi yang tidak enak, karena banyak sekali ujian setiap detik yang tidak kita sadari bahwa itu ujian. Ucapkan ini sebagai tanda penyerahan diri total, kepercayaan penuh, prasangka terbaik, pada Sang Pemberi Kehidupan.
Ada yang menyalip di jalan? Innalillahi. Musibah, meskipun kecil. Kita lagi diuji sabar dan mendoakan agar yang menyalip selamat sejahtera, sadar bahwa mereka tidak perlu menyalip lagi. 
Ada yang kita senyumi tidak membalas senyum. Innalillahi. Musibah kecil lagi, kita sedang dikasih pelajaran bahwa kita senyum itu hanya untuk Allah, bukan untuk tujuan dibalas oleh makhluk. 
Ada yang mengeluh panjang lebar tanpa batas. Innalillahi. Musibah kecil lagi. Salah-salah kita ikutan galau dan lepas tawakal pada Allah, bahwa Allah selalu membantu makhlukNya. Kita sedang diuji bagaimana bisa mengingatkan orang lain untuk tetap berserah diri padaNya, dan semua ujian diberikan sebagai cintaNya. Mintakan pengganti yang lebih baik dari Allah untuknya.
Didiagnosa kanker? Innalillahi. Bagi banyak orang ini musibah besar. Kita sedang diuji untuk terus mendekat padaNya, mensucikan diri, membuang segala keburukan dalam hati, pikiran dan jiwa dalam memurnikan kembali tubuh yang sakit. Mintakan pengganti yang lebih baik dari Allah.
Tak ada kejadian yang bisa membutuhkan kesabaran yang bisa kita lalui tanpa ucapan Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Teruslah ucapkan hal ini, bangun ikhlas dalam hati tanpa harus mengucap ikhlas. Karena hanya orang ikhlas yang setan tak mampu ganggu.
Jadi sekarang, untuk musibah yang mana yang perlu kita ucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun? Yang mana lagi? Yang mana lagi?
Semoga dengan menyerahkan semua itu kepada Sang Pencipta Musibah, yang juga Maha Pemberi Jawaban, jawaban akan segera datang agar kita bisa segera menemukan jalan keluarnya. Dan kalaupun belum... semoga kita semua tetap sabar dan bahagia, karena semua dariNya pasti indah.
Bismillah..

Empat Keutamaan Mengucap Inalillahi Wainailaihi Rojiun 

1. Ikhlas dan Tawakal Kepada Allah
Dengan menguncapkan kalimat “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” maka kita telah mengerti bahwa apa yang ada dalam diri kita, merasa kita miliki adalah milik Allah SWT. Seorang pemilik bisa kapan saja mengambil hartanya, mengambil apa yang jadi miliknya kapanpun ia berkehendak. Sedangkan kita, tidak memiliki hak apapun atas yang terjadi, dan semuanya milik Allah.
Jika kita telah menyadari hal tersebut maka kita akan ikhlas dan tawakal, tidak akan mudah untuk bersedih apalagi emosional menghadapi segala yang terjadi. Karena kita sadar, bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatunya dan akan kembali lagi kepada Allah.

2. Tidak Memberatkan Hati
Dengan mengucap “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” kita pun bisa meringankan hati kita. Kita tidak akan terbebani atau berat hati atas apa yang telah terjadi. Hati kita lebih tenang dan dingin, karena apapun yang terjadi Allah pasti lebih mengetahui dan memberikan kelak yang terbaik. Jika tidak di dunia maka kelak di akhirat akan mendapatkan balasan yang lebih baik lagi.
Terkadang manusia harus berat hati dalam menyikapi keadaan atau masalah. Padahal sejatinya ada Allah yang selalu memberikan pertolongan bagi hamba-Nya yang percaya akan kebesaran Allah. Orang-orang yang meragukan pasti akan memberatkan diri atau hatinya. Padahal semua itu milik Allah, kapanpun bisa diberikan oleh Allah atau ditarik kembali oleh Allah.

3. Bersabar atas Ujian Hidup
Jika semuanya telah dipersepsi dan memiliki paradigma yang sama, maka kita akan bisa bersabar atas ujian hidup. Ujian hidup bisa datang kapan saja tanpa kita harus tahu dan diduga-duga. Semuanya tentu untuk menguji seberapa besar kesabaran dan keimanan kita terhadap Allah SWT. Untuk itu, dengan mengucapkan kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” kita bisa lebih sabar dan menerima ujian hidup.
Sabar dan menerima bukan berarti kita pasrah. Akan tetapi, kita akan lebih siap dan mempersiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya diri. Menghadpainya lebih ringan dan tanpa harus berkeluh kesah yang menambah beban hidup kita. Untuk itu, dengan kesabaran maka bisa lebih sesuai dengan
4. Tidak Perlu Meratapi Nasib dan Emosional Berlebihan
Mengucap kalimat thoyibah “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” membuat kita tidak akan terlalu emosional dan berlebihan menghadapi ujian. Semuanya telah diatur Allah dan tidak perlu kita meratapi nasib. Jika frame hidup kita segalanya milik Allah, tentu kita tidak perlu marah apalagi emosi. Semuanya bukan milik kita dan hanya Allah yang menentukan rezeki kita.
Meratapi nasib ini tidak akan memecahkan masalah dalam hidup. Untuk itu, kesabaran dan ikhlas akan membantu kita untuk lebih tegar serta kuat. Maka ucapkanlah kalimat thoyibah ini dengan sering dan dimaknai secara mendalam.

Sangkan Paraning Dumadi (2)

Sangkan Paraning Dumadi, merupakan filosofi atau ajaran dalam ilmu Kejawen (kepercayaan tradisional Jawa) tentang bagaimana cara manusia menyikapi kehidupan.
Dalam bahasa Jawa kuno, sangkan  berarti asal muasal, paran adalah tujuan, dan dumadi artinya menjadi, yang menjadikan atau pencipta.  Dengan begitu bahwa yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi  adalah pengetahuan tentang Dari mana manusia berasal dan akan kemana ia akan kembali.“
Keberadaan manusia dan alam semesta merupakan ciptaan Sang Hyang Widhi, yaitu Dzat Pencipta Alam Semesta, Tuhan Yang Maha Esa.   Kelak pada akhirnya seluruh alam semesta akan kembali kepada-Nya.
Sangkan Paraning Dumadi  dalam filosofi Kejawen mengajarkan bahwa tujuan akhir dari kehidupan manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dalam menjalani kehidupan ini kita harus mendekati nilai-nilai luhur ketuhanan.  Nilai-nilai luhur ketuhanan antara lain adalah jujur, adil, tanggung-jawab, peduli, sederhana, ramah, disiplin dan komitmen.
Karena itu, ada sebagian orang yang mengidentikkan pengetahuan Sangkan Paraning Dumadi dengan filosofi ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Roji’un, yang artinya "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."   Bacaan tersebut biasa diucapka oleh umat Islam apabila mendengar kabar duka cita kematian atau musibah. 
Dalam al-Quran kalimat tersebut terdapat pada surat Al-Baqarah: 155-157,  "Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun." Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk."

Filosofi Sangkan Paraning Dumadi
Tubuh manusia terdiri dari dua unsur, yaitu jasmaniah berupa badan tubuh, dan ruhaniah sebagai isinya.
a.  Jasmani sebagai materi benda diciptakan dari unsur alam, yaitu tanah, air, udara dan api (panas). Karena asalnya dari bahan sari pati alam, maka kelak jasmani akan kembali ke alam lagi. Yang tanah kembali kepada tanah, yang udara kembali kepada udara, yang api kembali kepada api, dan yang air akan menyatu kembali kepada air.
b.  Ruh yang didalamnya terkandung Jiwa, merupakan sesuatu yang tidak berwujud materi, terdiri dari tiga unsur ruhaniah yaitu akal, nafsu dan hati/perasaan.  Dari unsur2 itulah diri manusia bisa melihat, mendengar, sedih, gembira, marah, benci, cinta, iba, kasih sayang,  berfikir dan sebagainya.
Dalam kitab suci Al-Qur’an, Allah berfirman: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh (ciptaan) Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagi kamu”.(Q.S. As-Sajdah, 32: 9).
Ruh atau jiwa tidak akan bisa hancur seperti jasmani. Ia akan tetap utuh sampai kapanpun. Lantas kemana kembalinya ruh apabila seseorang telah meninggal dunia?  Ilmu Jawa Kuno mempercayai bahwa bila manusia telah meninggalkan kehidupan dunia maka ruhnya akan kembali lagi kepada Sang Hyang Widhi, yaitu Tuhan YME.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Wahai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang ridha dan di-ridhai-Nya. Kemudian masuklah ke dalam (golongan) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku” (QS. Al-Fajr: 27-30)
Ruh dan jiwa memang sejatinya hanya milik Allah semata dan Dia-lah yang menjaganya. Hal ini bisa kita lihat pada kondisi tertidur. Dalam tidur jiwa kita pergi mengembara meninggalkan jasad, sementara ruh tetap tinggal bersama jasad untuk menghidupinya. Kemudian jiwa kembali lagi saat kita terbangun.
Jiwa bisa menjadi kuat dan sehat jika dilatih dan dirawat dengan baik, namun ia juga bisa menjadi rusak, sakit dan lemah jika tidak dirawat dengan baik.  Jiwa bisa mencapai derajat yang tinggi dan mulia, bisa juga jatuh kederajat yang amat hina, lemah tidak berdaya. 

Sepuluh Filosofi Kejawen
Dalam ajaran ilmu falsafah tradisional Jawa kuno, Sangkan Paraning Dumadi  merupakan ungkapan filosofi tertinggi dan sebagai muara dari seluruh ungkapan falsafah jawa yang jumlahnya mencapai ratusan.
Dari ratusan ungkapan falsafah Jawa kuno, terdapat sepuluh falsafah yang menjadi pedoman bagi orang jawa dalam mensikapi kehidupan, yaitu :
1.  Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Menebar kebaikan dan memberantas kemungkaran untuk kemakmuran dunia).  Maknanya, dalam kehidupan dunia manusia harus menebarkan kemakmuran (kedamaian dan kesejahteraan) bagi alam semesta; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak.  Dalam agama Islam, dikenal dengan Amar makruf nahi munkar.
2. Urip iku urup (hidup itu menyala).  Maksudnya adalah hidup itu haruslah menjadi penerang   bagaikan lentera. Maknanya dalam hidup orang hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik. Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, khairunnas anfa’uhum linnas ”manusia yang paling baik  ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. 

3.  Ajining raga saka busana, Ajining diri saka lathi lan budi (Kehormatan raga berasal dari busana, Kehormatan diri berasal dari lisan dan prilaku).  Maknanya, kehormatan luar seseorang bisa dilihat dari cara berpakaiannya. Sedangkan kehormatan diri (akhlak) dilihat dari cara berkomunikasi dan moral prilakunya.   Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, “Hiyaa Rukum ’Akhaa Sinukum AkhlaaqSebaik-baik orang diantara kalian ialah orang yg baik akhlaknya. (HR. Bukhari & Muslim).
4.  Ngunduh wohing pakarti (Menuai hasil dari perbuatan).  Bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) pasti akan mendapat balasan yang sesuai.  Maknanya semua orang akan mendapatkan akibat dari segala perilakunya (kebaikan atau keburukan) sendiri. Jadi kita harus selalu berhati-hati dalam bersikap dan bertindak, terutama harus menghindari tindakan-tindakan yang tidak terpuji dan merugikan orang lain.  Allah SWT berfirman: “Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah - Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah  artinya barangsiapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan meski sebesar zahrah (debu/atom), niscaya ia akan memperoleh balasannya (QS. Al-Zalzalah: 7-8)
5.  Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Landhep tanpa natoni.  (Menyerbu tanpa pasukan, Menang tanpa merendahkan, dan Tajam tapi tak melukai). Maknanya, dalam menghadapi lawan, manusia yang baik adalah yang mampu mengalahkan dengan cara luhur penuh kebajikan.  Mereka mampu melawan tanpa membawa massa atau pasukan. Dan mampu memenangkan perang tanpa merendahkan atau mempermalukan lawan, bahkan lawanpun mengakui kekalahannya tanpa terluka.
6.  Sugih Tanpa Bandha, Sekti Tanpa Aji-Aji (Menjadi kaya tanpa harta kekayaan. Menjadi sakti tanpa ajian).  Maknanya bahwa orang kaya itu bukanlah orang yang banyak harta tetapi orang yang besar jiwanya. Sedangkan orang bisa menjadi hebat tidaklah dengan mantra dan jimat, tetapi dengan ilmu.  Rasulullah bersabda, Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

7. Lembah manah lan Andhap asor.  Dalam bahasa jawa pengertian  "lembah manah” dan “andhap asor”   mempunyai pengertian yang mirip, yaitu bersikap rendah hati dan sopan santun.  Filosofi ini bagai pepatah: "Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk" artinya: semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya; kalau sudah pandai jangan sombong, selalulah rendah hati.  Dalam Islam sikap luhur seperti itu dikenal dengan istilah "tawadhu".
8.  Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
9.  Becik ketitik - Ala ketara (Perbuatan baik akan ketahuan, perbuatan buruk akan terungkap).  Maknanya bahwa bagaimanapun juga perbuatan yang baik maupun yang jahat pasti akan terungkap juga. Maka selalulah untuk berbuat baik.
10.  Mati sajeroning urip (Mati di dalam hidup). Mati di dalam hidup maksudnya bukan mati secara jasad tetapi mematikan hawa nafsu (buruk) dalam menjalani kehidupan. Dalam diri manusia terdapat empat macam nafsu. Keempatnya disebut Amarah, Lauwwamah,  Mulhimah (supiah) dan Mutmainah.
Nafsu amarah disebut juga ego adalah nafsu yang paling rendah, paling buruk dan paling jahat.  Nafsu ini cenderung mengarah pada keirihatian. Nafsu lauwwamah memperturuti keinginan duniawi sehingga cenderung rakus dan tak mempunyai kepedulian terhadap orang lain. Adapun nafsu mulhiyah (sufiyah) mengarah pada dorongan syahwat biologis. 
Berbeda dari ketiga macam nafsu tersebut, nafsu Mutmainah merupakan nafsu mulia yang bertempat di dasar sanubari. Mutmainah bersifat sabar, beriman dan beritikat selamat serta tawakal.
Nafsu mutmainah inilah yang senantiasa berperang melawan ketiga nafsu lainnya. Bila mutmainah menang, selamatlah sang hamba Tuhan. Tetapi bila pada akhirnya ketiga nafsu duniawi yang lebih dipentingkan , maka orang tersebut akan tersungkur dalam kesengsaraan.

Ada satu nasehat dari Rasulullah yang berbunyi “Muutu qabla an tamuutu” yang artinya “matilah sebelum mati” Mati pada hakikatnya adalah terbebasnya ruh (ruhani) dari jasad (jasmani). Jadi upayakanlah dalam kehidupan ini ruh (ruhani) kita tidak terkukung oleh jasmani atau hawa nafsu. Upayakanlah ruh (ruhani) kita mengendalikan hawa nafsu bukan hawa nafsu yang mengendalikan ruh (ruhani) kita.

Kecerdasan Manusia


Alat Ukur Kecerdasan Manusia
Dahulu pada sekitar tahun 1890-an, kecerdasan seseorang diukur melalui ukuran IQ (Intelligence Quotient). Konsep IQ ditemukan oleh Francis Galton, dan selama bertahun-tahun tes IQ diyakini sebagai satu-satunya ukuran standar untuk mengukur kecerdasan manusia.
Namun pada tahun 1983 Howard Gardner, seorang psikolog dan ahli pendidikan dari Universitas Harvard AS merumuskan sebuah teori Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk). Menurutnya kecerdasan manusia tidaklah tunggal, tetapi jamak yang setidaknya terdiri dari 9 komponen, yaitu kecerdasan matematis, linguistik, musikal, visual, kinetis, naturalis, interpersonal, intrapersonal dan spiritual.
Pada tahun 1987, Keith Beasley mengemukakan jenis kecerdasan lain yang tak kalah penting dalam mempengaruhi kesuksesan seseorang, yaitu EQ (Emotional Quotient). Istilah EQ menjadi popular setelah Daniel Golman mempopulerkan  pada bukunya “Emotional Intelligence - Why it can matter more than IQ” pada tahun 1995. 
Kemudian pada tahun 1997, Danah Zohar menemukan jenis kecerdasan baru selain IQ dan EQ, yaitu SQ (Spiritual Quotient).  SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif sehingga bisa mencapai titik maksimalnya, dan berdampak pada kesuksesan dan keberhasilan seseorang.
Selanjutnya akhir-akhir ini ditemukan pula kecerdasan lain yaitu Trancendental Quotient (TQ) yang merupakan pengembangan dari kecerdasan spiritual. TQ merupakan kecerdasan seseorang dalam memaknai hidup dan kehidupannya dalam perspektif  Ketuhanan.
Dengan begitu maka bisa dikatakan bahwa manusia mempunyai kecerdasan yang jamak (multiple quotient).  Setidaknya ada empat kecerdasan utama pada diri manusia, yaitu kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan kemosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). dan kecerdasan transendental (TQ). 

Empat Kecerdasan Utama Manusia
Secara singkat keempat kecerdasan itu dijelaskan sebaai berikut:
1.    Kecerdasan Intelektual (Intellegence Qoutient = IQ).  IQ merupakan kecerdasan kognitif (aktivitas berpikir), yang erat kaitannya dengan kemampuan mengingat, memahami, menganalisa, mengevaluasi, dan memecahkan masalah.
2.    Kecerdasan Emosional (Emotional Qoutient = EQ). EQ merupakan kecerdasan emosi, yang erat kaitannya dengan kemampuan mengontrol perasaan diri sendiri, mengenali perasaan orang lain, adaptasi, kerjasama, disiplin, tanggung jawab, dan komitmen.
3.    Kecerdasan Spiritual (Spiritual Qoutient = SQ). SQ merupakan kecerdasan jiwa yang erat kaitannya dengan kemampuan untuk bertindak jujur, adil, menghargai, kasih sayang, toleransi, empati, rendah hati, sikap ramah, dan sebagainya. SQ juga berarti kemampuan seseorang untuk mengerti dan memberi makna pada apa yang di hadapi dalam kehidupan.  SQ merupakan sumber bimbingan atau pengarahan bagi dua kecerdasan lainnya (IQ dan EQ).
4.    Kecerdasan transendental (Trancendental Quotient = TQ).  TQ bisa dikatakan sebagai kecerdasan ruhaniah/ilahiyah, yang erat kaitannya dengan kemampuan seseorang memaknai hidup dan kehidupannya dalam perspektif agama. TQ merupakan pengembangan dari kecerdasan spiritual, yang mempunyai konsep visioner jauh ke depan dengan pertanyaan, “siapa aku, darimana aku (berasal), dan mau ke mana nanti aku (setelah mati)?”

Hubungan Keempat Kecerdasan
Berkaitan dengan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dalam dunia kerja, menurut Goleman kesuksesan karir seseorang banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ). Yang mana EQ mempunyai konstribusi sebesar 85%, sementara IQ hanya 15%.  Dengan begitu maka dapat disimpulkan peran EQ sangatlah signifikan dibanding IQ.
Jika IQ adalah parameter kecerdasan kognitif (berpikir), dan EQ adalah parameter kemampuan pengendalian rasa (emosi), maka kecerdasan spiritual (SQ) dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mentranspose dua aspek kecerdasan IQ dan EQ menuju kebijaksanaan dan pemahaman yg lebih mendalam. Hal ini dikarenakan ketika orang sudah memiliki kecerdasan spiritual (SQ), orang itu mampu memaknai kehidupan sehingga dapat hidup dengan penuh kebijaksanaan.
Sedangkan kecerdasan transendental (TQ) sesungguhnya merupakan kecerdasan tertinggi yang dimiliki manusia karunia terindah dari Tuhan Yang Maha Pemurah.
Kecerdasan ini sejatinya telah diterapkan oleh para tokoh besar dunia sejak dahulu, utamanya para tokoh agama yang mempunyai pandangan visioner jauh ke depan.  Mereka menjalani hidup dan kehidupan dengan mengikuti tuntunan ajaran agama, yaitu hidup dengan bekerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas, serta berbuat kebajikan bagi sesama dalam rangka menggapai kebahagiaan hakiki di dunia maupun di akhirat.

&&&&&

MACAM KECERDASAN MENURUT GARDNER
Menurut Gardner dalam bukunya yang berjudul Frames of Mind: Teori Multiple Intelegences tahun 1983 mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan suatu masalah, menciptakan suatu (produk) yang bernilai dalam suatu budaya.
Adapun macam-macam kecerdasan tersebut yaitu:
1. Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk menyusun pikiran dengan jelas dan mampu mengungkapkannya melalui kata-kata seperti berbicara, membaca atau menulis.
2. Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan untuk menangani bilangan dan perhitungan, serta pola pemikiran logis dan ilmiah.
3. Kecerdasan visual adalah kemampuan melihat suatu objek dengan detail.
4. Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan musik, irama, nada dan suara.
5. Kecerdasan kinestetik adalah kemampuan menggabungkan gerakan fisik dan pikiran sehingga menghasilkan gerakan yang sempurna.
6. Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain.
7. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
8. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan untuk mengerti alam lingkungan dengan baik, kemampuan untuk memahami dan menikmati alam, dan mengenali berbagai jenis flora fauna dan fenomena alam lainnya.
9. Kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk merasakan keberagaman atau macam-macam seseorang.
Kesembilan kecerdasan tersebut perlu dikembangkan secara maksimal sejak usia dini agar bermanfaat bagi setiap anak tersebut.

Faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan
Adapun kecerdasan majemuk terbentuk karena faktor : Hereditas, Lingkungan dan Nutrisi.
a.   Hereditas yaitu faktor bawaan dari keturunan.
b.   Lingkungan merupakan faktor yang berpengaruh besar untuk menghasilkan kemampuan fungsionalitas organ kecerdasan pada anak.
c.   Nutrisi, asupan nutrisi merupakan salah satu faktor yang mendukung kecerdasan anak.