Rabu, 03 April 2019

12 Istri Nabi Seluruhnya Janda, Kecuali Aisyah, yang Nomor 11 Orang Yahudi

Kampanye poligami sangat populer di kalangan masyarakat “hijrah”. Hal ini biasanya didasarkan kepada setidaknya tiga alasan. Pertama, dalil tentang ta’addud al-zaujat dalam surah An-Nisa’ ayat 3, kedua tentang informasi bahwa jumlah perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah laki-laki, dan yang terakhir adalah karena alasan ittiba’ rasulillah saw. (mengikuti sunah Rasulullah saw). 
Menurut sejarah, Rasulullah saw memiliki 11 istri meskipun dikatakan bahwa itu adalah khusushiyat bagi beliau, dan versi lain menyebut mereka berjumlah 12 orang.
Berdasarkan keterangan ‘Abd al-Rahim al-‘Iraqi dalam Alfiyyah al-Sirah al-Nabawiyyah terkait perbedaan jumlah istri Nabi saw., menurutnya hal ini disebabkan karena perbedaan ulama antara memasukkan Mariyah al-Mishyriyyah al-Qibtiyyah sebagai budak ataukah sebagai istri Nabi saw.? Namun pendapat yang paling banyak diikuti menyebut bahwa Mariyah merupakan budak Nabi, sehingga istri sah Nabi hanyalah 11 orang. Masing-masing sebanyak enam orang berasal dari suku Quraisy, empat orang dari suku Arab selain Quraisy dan satu orang berasal dari Bani Isra’il.
Hal lain yang perlu diketahui di sini adalah bahwa seluruh istri Nabi Muhammad adalah janda dan satu-satunya yang dinikahi Nabi dalam keadaan perawan adalah ‘Aisyah bintu Abi Bakr -radhiyallahu ‘anha-, dan Nabi tidak berpoligami kecuali setelah meninggalnya istri pertama beliau, Khadijah Bintu Khuwailid ra.. Berikut adalah istri-istri Nabi Muhammad saw. atau yang lebih dikenal dengan Ummahatul Mukminin:
  1. Khadijah -radhiyallahu ‘anha-
Nama lengkapnya adalah Khadijah bintu Khuwailid bin Asad al-Quraisyiyyah. Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad saw. pada kakeknya Ibn Kilab. Khadijah adalah istri pertama Nabi Muhammad yang menikah dengan Nabi Muhammad pada usia 40 tahun sedangkan Nabi saat itu berusia 25 tahun. Pernikahan mereka terjadi sebelum Nabi diangkat menjadi seorang Rasul. Semenjak menikah dengan Khadijah, Nabi tidak menikah dengan perempuan lain sampai Khadijah wafat. Dari rahim Khadijah, lahir seluruh keturunan Nabi Muhammad selain dari pada Ibrahim yang merupakan anak dari Mariyah al-Qibthiyyah.
  1. Saudah -radhiyallahu ‘anha-
Nama lengkapnya adalah Saudah bintu Zam’ah bin Qais. Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad pada kakeknya yang bernama Luaiy bin Ghalib. Sebelumnya, Saudah adalah istri dari Sukran bin ‘Amr. Saudah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Khadijah wafat. Keduanya melangsungkan akad di Mekah dan mahar yang diberikan Nabi kepada Saudah saat itu adalah 400 dirham.

  1. ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha-
Adalah putri dari Abu Bakar al-Shiddiq. ‘Aisyah sudah masuk Islam semenjak Rasulullah Saw diangkat sebagai Rasul. Ayahnya sendiri yang menikahkannya dengan Nabi Muhammad di usianya yang baru berumur 6 tahun meskipun begitu Nabi berkumpul dengan ‘Aisyah di umurnya yang ke-9 tahun.  Mahar yang diberikan oleh Nabi kepada ‘Aisyah sebanyak 400 dirham dan ia menjadi satu-satunya perawan yang dinikahi Nabi semasa hidupnya.
Terdapat keterangan yang menyebut bahwa ‘Aisyah pernah dilamar oleh Muth’im bin ‘Ady namun lamaran tersebut ditolak. Keterangan ini masih diperdebatkan kebenarannya oleh ulama.
  1. Hafshah bintu ‘Umar -radhiyallahu ‘anha-
Hafshah adalah putri sahabat Nabi, ‘Umar bin al-Khaththab. Sebelumnya, Hafshah pernah menikah dengan Khunais bin Khudzafah al-Sahmi. Nabi menikahinya pada tahun ke-2 atau ke-3 Hijriyah. Hafshah meninggal di usia ke-45 tahun.
  1. Zainab bintu Khuzaimah -radhiyallahu ‘anha-
Namanya adalah Zainab bintu Khuzaimah. Pada zaman Jahiliyah, Zainab dikenal dengan sebutan Umm al-Masakin. Ia bergabung dengan Nabi Muhammad untuk hijrah ke Madinah. Pada saat perang Uhud, suaminya yang bernama ‘Abdullah bin Jahys gugur di medan perang, sehingga ia menjanda. Lalu Rasulullah melamar Zainab melalui utusannya, dan keduanya menikah pada bulan Ramadan tahun ke-3 atau ke-4 Hijriyah. Namun setelah 2, 3, atau 8 bulan kemudian Zainab wafat.
  1. Ummu Salamah -radhiyallahu ‘anha-
Namanya adalah Ummu Salamah Bintu Abi Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumiyyah. Ia lebih dikenal dengan nama Hindun. Sebelumnya, ia adalah istri dari Abu Salamah bin ‘Abd al-Asad. Nabi menikahinya setelah suaminya meninggal pada tahun ke-4 Hijriyah. Mahar yang diberikan oleh Nabi kepada Hindun adalah seekor kuda, periuk, alat penggiling dan shahifah
  1. Zainab bintu Jahys -radhiyallahu ‘anha-
Zainab Bintu Jahys bin Riab al-Asadi. Sebelumnya ia adalah istri dari Zaid bin Haritsah, salah seorang anak angkat Rasulullah saw. Zainab diberikan mahar oleh Rasulullah saw. sebanyak 400 dirham. Rasulullah saw. menikahinya pada tahun 3/4/5 Hijriyah. Pernikahan Nabi dengan Zainab disebutkan di dalam al-Qur’an  surah al-Ahzab ayat 37:
فَلَمَّا قَضَىٰ زَيۡدٞ مِّنۡهَا وَطَرٗا زَوَّجۡنَٰكَهَا لِكَيۡ لَا يَكُونَ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ حَرَجٞ فِيٓ أَزۡوَٰجِ أَدۡعِيَآئِهِمۡ إِذَا قَضَوۡاْ مِنۡهُنَّ وَطَرٗاۚ وَكَانَ أَمۡرُ ٱللَّهِ مَفۡعُولٗا ٣٧
“Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu menceriakan isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”
  1. Juwairiyyah Bintu al-Harits -radhiyallahu ‘anha-
Nama lengkapnya adalah Juwairiyah bntu al-Harits bin Dharar bin Habib bin Jadzimah al-Khaza’iyyah al-Mushtaliqiyyah. Waktu Nabi saw. memerangi bani Mushtaliq karena suatu alasan, dan Juwairiyah menjadi salah satu tawanan pada peperangan tersebut.
Juwairiyyah dulunya adalah istri dari sepupunya yang bernama Musafi’ bin Shafwan al-Mushtalaqi yang telah meninggal dunia dalam sebuah peristiwa. Ketika menjadi tawanan Nabi, ia memohon kepada beliau agar dibebaskan. Dan akhirnya Nabi mengabulkannya dengan syarat ia mau dinikahi oleh Nabi saw. dan mahar pernikahan keduanya adalah kebebasannya.
Ketika orang-orang Islam tau bahwa tawanan lain dari Bani Mushtaliq adalah masih keluarga Rasul, yang baru saja menikahi Juwairiyah, maka mereka semua dibebaskan.
  1. Mariah al-Qibthiyyah
Mariah al-Qibthiyyah adalah seorang budak yang dihadiahkan oleh Raja Mesir kepada Nabi Muhammad saw. Dari Mariah, Rasulullah saw dikarunia seorang anak bernama Ibrahim yang meninggal di waktu kecil. Mariah wafat pada tahun ke-12 atau 16 Hijriyah.
  1. Ummu Habibah -radhiyallahu ‘anha-
Nama lengkapnya adalah Ramlah Bintu Abi Shafyan bin Harb. Sebelumnya ia adalah istri dari ‘Ubaidillah bin Jahys al-Asadi. Rasulullah menikahinya dengan mahar sebesar 400 dinar. Ummu Habibah wafat pada tahun ke-44 Hijriyah.
  1. Shafiyyah bintu Huyai bin Akhthab -radhiyallahu ‘anha-
Adalah seorang perempuan keturunan Yahudi Bani Nadhir. Merupakan tawanan pada perang Khaibar. Nabi menebusnya dan menikahinya pada tahun ke-7 Hijriyah. Dalam walimah pernikahan beliau, disebutkan bahwa yang dihidangkan kala itu adalah daging, lemak, gandum dan kurma kering. Sebelumnya Shafiyyah adalah istri dari Kinanah bin al-Rabi’. Dan Shafiyyah wafat pada tahun 50 H.
  1. Maimunah Bintu al-Harits -radhiyallahu ‘anha-
Adalah Maimunah Bintu al-Harits bin Huzn bin Buhair bin Hazm. Dinikahkan dengan Rasulullah saw. pada tahun ke-7 Hijriyah dalam perjalanan Umrah. Mahar untuk Maimunah adalah sebesar 400 Dirham. Sebelumnya, Maimunah adalah istri dari Abu Rahm bin ‘Abd al-Uza. Dialah yang disebutkan di dalam Alquran sebagai perempuan yang menghibahkan jiwa dan raganya untuk Nabi saw. ia akhirnya wafat pada tahun 51 H.
Dari seluruh istri Nabi, dapat dilihat bahwa alasan utama Nabi menikahi istri-istrinya bukan saja karena nasfu semata. Seandainya Nabi mengedepankan hawa nafsunya, maka yang dinikahi Nabi adalah para gadis. Di sana juga ada urusan politik, pemberdayaan janda, tawanan perang, atau yang atas perintah Allah Swt. langsung, Rasulullah diminta untuk menikahi perempuan, seperti dalam kasus Zainab bintu Jahys. Wallahu a’lam

Ilusi Negara Khilafah

Gara-gara ILC (Indonesia Lawyers Club) tempo hari, orang ribut lagi soal Khilâfah. Untuk sementara, kita tidak usah bantahan dalil. Anggap saja kita setuju Khilâfah karena dalil-nya qath’î, tak terbantahkan. Begitu juga riwayat soal panji dan bendera Nabi, semua cocok dengan keyakinan Hizbut Tahrîr (HT).

Langkah berikutnya, bagaimana Khilâfah diwujudkan? Agar diskusinya tidak mengawang-awang, mari kita perhitungkan kemungkinan caranya.
Pertama, agenda HT adalah menegakkan sistem politik, karena itu—meski bermotif agama—perjuangan HT adalah perjuangan politik. Tahun 1953, Syeikh Taqyuddin Nabhani sudah merintis jalan yang tepat: bikin partai. Namanya Partai Pembebasan atau bahasa Arabnya Hizbut Tahrîr (HT). (Note: jangan caci pendiri HT karena beliau cucu Syeikh Yusuf bin Ismail Nabhani, ulama sunni Syâfi’î—menurut salah satu sumber—salah seorang guru Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari).
HT memang partai dengan tujuan politik yaitu menegakkan sistem politik Islam bernama Khilâfah. Namanya partai harus ikut pemilu. Tetapi aneh, HT dan cabang-cabangnya, termasuk Hizbut Tahrîr Indonesia (HTI), menolak pemilu karena anggapan pemilu adalah produk demokrasi sekuler-kafir.
Kalau partai tidak mau ikut pemilu, apa bedanya dengan Karang Taruna? Kalau menolak pemilu, mandat bikin Khilâfah dari mana? Jatuh dari langit?
Dulu, para Nabi, seperti Nabi Dawud, diangkat sebagai Khalîfah, SK-nya langsung dari langit:
يا داود إنّا جعلناك خليفة في الأرض
Sejarah mencatat, Nabi Dawud adalah Nabi sekaligus Raja. Nabi Ibrahim juga diangkat sebagai imam, SK-nya dari langit: إِنِّي جاعلك للنّاس إماما (QS. al-Baqarah/2: 124), tetapi Ibrahim Nabi yang bukan Raja.

Sekarang kalau HT mau angkat Khalîfah, misalnya Syeikh Ata Abu Rashta, Amir HT yang bermukim di London, sarjana teknik sipil lulusan Universitas Kairo, mandatnya dari mana? Wahyu sudah tidak lagi turun. Satu-satunya mandat dari bumi.

Kalau mandatnya dari bumi, jalannya adalah syûra dalam berbagai bentuk. Jalan syûra ini pula yang ditempuh khulafâ’ rasyidûn. Kitab al-Ahkâm as-Sulthâniyah karya al-Mâwardî mencatat pembaruan mandat dari satu Khalîfah ke Khalîfah lain mengambil beragam bentuk: mula-mula syûrâ, kemudian wasiat, lantas ahlul hall wal ‘aqd, kemudian baiat. Meski beragam, tetapi simpulnya adalah cara sipil beradab: musyawarah.
Setelah periode Khulafâ’ Rasyidûn, kekuasaan diperebutkan dengan cara berdarah, kudeta, kemudian diwariskan turun temurun melalui dinasti. Prinsip syûra ditinggalkan.
Sekarang HT mau pilih mana? Bentuk syûra zaman now adalah demokrasi parlementer. Rekrutmen kepemimpinannya melalui pemilu. Kalau menolak pemilu, terus cara mengangkat Khalîfah-nya bagaimana? Apa para pemimpin negara-negara Islam itu mau berunding dan kemudian demi Khilâfah mereka rela ‘turun kelas’ menjadi Amîr atau gubernur dan mengangkat Khalîfah sebagai pemimpin tertinggi? Mana mungkin!

Menetapkan siapa Khalîfah-nya dan di mana ibu kotanya sudah bisa bikin orang ‘berkelahi.’ Karena itu pula, Kongres Khilâfah di Kairo Mei 1926 kandas. Upaya restorasi Khilâfah dalam Kongres Islam di Jerusalem, Desember 1931, juga tidak menghasilkan apa-apa.
Kalau HTI menolak pemilu, cara lainnya adalah kudeta. Ini juga mustahil, karena HTI tidak punya milisi. Kalau tidak punya milisi, cara lainnya adalah menggandeng militer. Nampaknya cara ini paling masuk akal. Beberapa waktu lalu, sebelum dibubarkan, HTI meminta TNI mengambil alih kekuasaan. Corong propaganda mereka menyanjung-nyanjung Panglima TNI sebagai prajurit pro-Islam. Yang paling masuk akal ini juga sulit. Saya yakin, TNI pro NKRI harga mati! Berbagai jalan nampaknya buntu. Cara lain ditempuh: kampanye anti-rezim sekuler.
Tujuannya membusukkan rezim dan memancing tensi sosial. Begitu masyarakat terbelah, orang siap berkelahi dan menghunus pedang. Lantas terjadi kerusuhan, saling bunuh sesama ahlul qiblat. Ini yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika. Lumat, luluh lantak! Dan begitu skenario ini dilakukan, politik semacam ini sudah sangat tidak Islami. Mengambil alih kekuasaan secara berdarah mengingkari prinsip syûra di dalam Islam.
Kedua, andai saja kekuasaan Khilâfah berhasil ditegakkan, lantas dibentuk pemerintahan Islam, terus diterapkan hukum Islam, hukum Islam versi siapa? 

Al-Qur’an adalah kitab petunjuk, sebagian di antaranya berisi hukum. Hukum yang tertuang di dalam al-Qur’an bersifat mujmal (pokok-pokok), tidak rinci (mufasshalât).

Sunnah berfungsi menjelaskan al-Qur’an (QS. an-Nahl/16: 44). Ucapan, tindakan, dan penetapan Nabi dikodifikasi di dalam kitab hadis. Para ulama berselisih tentang validitas hadis, karena itu muncul musthalahul hadîts, disiplin ilmu untuk menyaring kesahihan hadis.
Para ulama berselisih tentang kedudukan hadis di dalam hukum. Imam Hanafi, yang hidup di Persia dan jauh dari pusat Islam di Mekkah-Madinah, lebih memilih menggunakan akal (mashlahah) ketimbang hadis yang tidak betul-betul sahih dengan derajat periwayatan mutawâtir.

Imam Syafi’i menerima hadis âhâd sebagai sumber hukum, asal rawinya tidak cacat (tsiqah, âdil, dlâbith) dan tidak bertentangan dengan al-Qur’an. Qunut subuh, misalnya, adalah produk ijtihad Imam Syafi’i dari hadis âhâd.

Ternyata para ulama berbeda pendapat tentang syariah. Jangan bayangkan syariah itu seperti KUHP yang tunggal dan monolitik. Kenapa? Karena sebagian besar adalah produk ijtihad ulama.

Imam Juwayni dalam kitab al-Burhân fi Ushûl al-Fiqh menyatakan: أن معظم الشريعة صدر عن الاجتهاد، والنصوص لا تفي بالعشر من معشار الشريعة (Sebagian besar hukum Islam (syariah) itu produk ijtihad, karena nash yang berkaitan dengan hukum tidak sampai sepersepuluh).
Ternyata hukum Islam banyak versi, tertuang dalam ribuan jilid kitab fikih dari berbagai madzhab. Terus HTI mau pakai yang mana?

Madzhab Hanbali yang lebih tekstualis? Apa umat Islam lain mau, seperti mayoritas Muslim Indonesia yang mengikuti madzhab Syafi’î? Kalau tidak mau, apa bisa dipaksa? Bisa, seperti di Arab Saudi. Tetapi, begitu dipaksa, cara ini sudah keluar dari semangat Islam yang menghargai perbedaan pendapat di antara para Imam. Buntu lagi!

Kalau begitu, bikin kompilasi hukum Islam dari berbagai madzhab. Apa mungkin? Mungkin saja, tetapi sulit. Berbagai madzhab lahir karena metode ijtihad yang berbeda di dalam memahami al-Qur’an-Hadis. Ijmâ’ dalam perkara furu’ sulit tercapai. Karena itu, para imam memilih menghormati perbedaan ketimbang menyeragamkan pandangan.
Dari dua cara ini saja HT, termasuk HTI, kesulitan menemukan jalan keluar. Mungkin derajatnya lebih tinggi lagi: kemustahilan.
Perkara tata cara salat saja orang Islam berbeda, apa lagi urusan tata negara yang pelik, yang berhubungan dengan siapa dapat apa. Karena itu, saya mengajak para pemuka HTI untuk realistis.

Anggap saja peserta gerakan 212 itu jumlahnya 7,2 juta dan semunya pro-Khilafah. Jumlah itu, anggap saja benar, besar sekali. Jika dikonversi dengan perolehan suara partai pada pemilu 2014, HTI bisa lolos threshold, menempati posisi di bawah PPP (8,1 juta), di atas Hanura (6,6 juta). Mungkin HTI bisa menguasai 30 kursi, tergantung sebaran suara.
Dengan cara itu, HTI bisa secara lebih gentle memperjuangkan syariat Islam melalui legislasi di DPR. Jika dukungan rakyat makin besar, dan seluruh kursi parlemen berhasil direbut, tinggal perintah MPR untuk amandemen konstitusi. Beres! Soal bagaimana di DPR, itu dinamika politik.

Begitu jadi parpol dan punya kursi di DPR, mungkin HTI bisa lebih terbuka seperti PKS. Partai dakwah ini saya dengar mulai mengumandangkan politik kebangsaan, lebih realistis, dan pragmatis. Ini tentu saja jika HTI yakin umat Islam mendukung mereka, sekaligus alat ukur seberapa besar mereka didukung umat Islam.
Sebagai informasi, dari sekian kontestan pemilu 2014, partai pengusung formalisasi syariah Islam tinggal satu: PBB (Partai Bulan Bintang). Berapa perolehan suaranya? 1,8 juta (1,46 persen). Dia tidak lolos threshold.
Jika HTI menolak cara demokrasi ini, kita tidak punya batu uji lain untuk menilai klaim HTI tentang umat Islam. Selama ini, HTI, FPI, dan kelompok sejawat selalu mengklaim umat Islam. Yang tidak setuju dengan mereka dianggap anti-Islam.
Pertanyaannya, Islam yang mana? Jumlah orang Islam Indonesia sekitar 200 juta. Hanya sebagian kecil yang berangkat ke 212 atau setuju Khilâfah. Kalau HTI realistis dan bikin parpol—namanya tentu saja bukan HTI karena sudah dilarang—menjadi jelas peta kekuatan mereka. Address Islam-nya membumi. Jika mereka sebut orang anti-Islam, maksudnya berarti anti-Islam yang jumlahnya 7,2 juta itu, bukan seluruh umat Islam.
Jika HTI menolak saran ini, lebih baik berhenti ‘menjual’ ilusi yang tidak tidak realistis. Daripada memikirkan Khilâfah yang jauh di angan, mending berpikir memajukan Indonesia dengan ilmu dan amal. Kita tetap bisa menjalankan syariat Islam, meskipun tanpa negara Islam atau Khilâfah Islâmiyah.

Selasa, 02 April 2019

Tragedi Kanigoro, PKI Serang Pesantren

Masih lekat di ingatan Masdoeqi Moeslim peristiwa di Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kediri, pada 13 Januari 1965. Kala itu, jarum jam baru menunjukkan pukul 04.30. Ia dan 127 peserta pelatihan mental Pelajar Islam Indonesia sedang asyik membaca Al-Quran dan bersiap untuk salat subuh. Tiba-tiba sekitar seribu anggota PKI membawa berbagai senjata datang menyerbu. Sebagian massa PKI masuk masjid, mengambil Al-Quran dan memasukkannya ke karung. "Selanjutnya dilempar ke halaman masjid dan diinjak-injak," kata Masdoeqi saat ditemui Tempo di rumahnya di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, pekan lalu.
Para peserta pelatihan digiring dan dikumpulkan di depan masjid. "Saya melihat semua panitia diikat dan ditempeli senjata," tutur Masdoeqi, yang kala itu masuk kepanitiaan pelatihan.
Dia menyaksikan massa PKI juga menyerang rumah Kiai Jauhari, pengasuh Pondok Pesantren Al-Jauhar dan adik ipar pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Makhrus Aly. Ayah Gus Maksum itu diseret dan ditendang ke luar rumah. 
Selanjutnya, massa PKI mengikat dan menggiring 98 orang, termasuk Kiai Jauhari, ke markas kepolisian Kras dan menyerahkannya kepada polisi. Menurut Masdoeqi, di sepanjang perjalanan, sekelompok anggota PKI itu mencaci maki dan mengancam akan membunuh. Mereka mengatakan ingin menuntut balas atas kematian kader PKI di Madiun dan Jombang yang tewas dibunuh anggota NU sebulan sebelumnya. Akhir 1964, memang terjadi pembunuhan atas sejumlah kader PKI di Madiun dan Jombang. "Utang Jombang dan Madiun dibayar di sini saja," ujar Masdoeqi, menirukan teriakan salah satu anggota PKI yang menggiringnya. 
Kejadian itu dikenal sebagai Tragedi Kanigoro pertama kalinya PKI melakukan penyerangan besar-besaran di Kediri. Sebelumnya, meski hubungan kelompok santri dan PKI tegang, tak pernah ada konflik terbuka. 
Meski tak sampai ada korban jiwa, penyerbuan di Kanigoro menimbulkan trauma sekaligus kemarahan kalangan pesantren dan anggota Ansor Kediri, yang sebagian besar santri pesantren. Memang kala itu para santri belum bergerak membalas. Namun, seperti api dalam sekam, ketegangan antara PKI dan santri makin membara. 
Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kiai Idris Marzuki, mengakui atmosfer permusuhan antara santri dan PKI telah berlangsung jauh sebelum pembantaian. "Bila berpapasan, kami saling melotot dan menggertak," katanya. Kubu NU dan PKI juga sering unjuk kekuatan dalam setiap kegiatan publik. Misalnya ketika pawai memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus, rombongan PKI dan rombongan NU saling ejek bahkan sampai melibatkan simpatisan kedua kelompok. Kondisi itu semakin diperparah oleh penyerbuan PKI ke Kanigoro.
Peristiwa di Kanigoro itu pula yang memperkuat tekad kaum pesantren dan anggota Ansor di Kediri, termasuk Abdul, membantai anggota PKI. Pembantaian mencapai puncaknya ketika pemerintah mengumumkan bahwa PKI adalah organisasi terlarang. Abdul dan para anggota Ansor lainnya semakin yakin bahwa perbuatan mereka benar. "Seperti api yang disiram bensin, kami semakin mendapat angin untuk memusnahkan PKI," ujarnya. 
https://nasional.tempo.co/read/432924/tragedi-kanigoro-pki-serang-pesantren/full&view=ok

&&&&


PERISTIWA KANIORO, SAAT MASSA PKI MENYERANG MASJID SELEPAS SUBUH

Di era 1960an, gesekan antara massa pendukung Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan kelompok-kelompok penentangnya terus memanas. Tak jarang berujung bentrok antara kedua pihak. Saat PKI di atas angin, mereka yang menindas lawan-lawannya. Saat angin politik berubah, massa antikomunis ganti membantai orang-orang PKI.

Para pelaku sejarah tak bisa melupakan tragedi di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, yang terjadi pada tahun 1965. 

"Kami sudah berusaha mencoba melupakannya, tapi tragedi itu tetap saja tak bisa sirna dari ingatan masa lalu yang kelam itu," kata Akhyar, salah seorang saksi mataTragedi Kanigoro saat ditemui di MTs Negeri Kanigoro. Demikian dikutip dari Kantor Berita Antara.

Pria yang sehari-sehari bekerja sebagai tenaga pesuruh di Madrasah Tsanawiyah Negeri tertua di Kediri itu menuturkan, tragedi yang terjadi pada 19 Januari 1965 masih terekam jelas dalam ingatannya.

"Saat itu ada sekitar 100 orang PII (Pelajar Islam Indonesia) dari seluruh daerah di Jawa Timur yang sedang mengikuti rapat bersama di Masjid At Taqwa usai salat subuh. Tiba-tiba datang segerombolan orang berpakaian hitam-hitam menyerang mereka," kata Akhyar yang saat itu bertugas mengamankan kegiatan tersebut.

Dia dan beberapa panitia keamanan acara tersebut tak berdaya menghadapi aktivis dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) berpakaian hitam-hitam dengan jumlah mencapai ribuan orang pimpinan Suryadi yang langsung menyeruak ke dalam masjid membubarkan acara PII itu.

"Saya dan beberapa teman langsung digelandang ke kantor kecamatan dan kantorpolisi yang ada di Kras. Kalau saat itu kami melawan, sudah barang tentu banyak jatuh korban jiwa di pihak kami," kata pria delapan anak dan tujuh cucu itu mengenang.

Karena masih tetangga dekat dengan Suryadi, Akhyar mengaku lebih beruntung dibandingkan dengan rekan-rekannya yang mengalami penyiksaan. 

Dia menyebutkan, saat peristiwa itu terjadi, PKI telah menguasai seluruh pelosok Kediri, bahkan pejabat pemerintahan, kepolisian, dan tentara dikuasai oleh orang-orang dari partai pimpinan DN Aidit itu. Di Desa Kanigoro sendiri, perbandingan kalangan santri seperti Akhyar dengan orang komunis adalah 1:25.

"Sedangkan saat Tragedi Kanigoro itu terjadi, memang PKI sedang giat-giatnya memberangus orang-orang Masyumi. Mereka ini melihat PII sebagai underbouw dari Masyumi," katanya menuturkan.

Dia mengakui, setelah meletus Gerakan 30 September 1965 atau G-30S/PKI, warga masyarakat Kediri berhasil melakukan serangan balik dengan melucuti para pengikut PKI.

Desa Kanigoro dijadikan ajang pembantaian orang-orang PKI, dan mayat mereka dimasukkan ke dalam sebuah tanah galian besar yang saat ini dikenal oleh warga masyarakat sekitar dengan sebutan Makam Parik.

Demikian dengan Moningah (60) yang juga masih teringat dengan peristiwa pembantaian 1965 di Desa Kanigoro. "Kami ini sebenarnya orang kecil yang tidak tahu apa-apa dengan peristiwa itu," kata istri Sukani (63), salah satu pengurus PKI di Desa Kanigoro itu.

Dia mengaku, telah kehilangan sejumlah kerabatnya dalam peristiwa berdarah yang terjadi dalam rentang September hingga Oktober 1965. 

"Tentu saya masih ingat peristiwa berdarah itu," kata perempuan dengan pandangan menerawang mengingat peristiwa yang terjadi saat dia masih berusia 18 tahun itu.

Tidak hanya kerabat dan anggota keluarganya yang menjadi korban, namun haknya sebagai warga negara diberangus.

Sampai-sampai, anak semata wayangnya tak mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sehingga sehari-hari kerjanya hanya membantu Sukani mencetak gorong-gorong di rumahnya di Desa Kanigoro.

Tragis memang konflik di akar rumput yang menyisakan air mata dan kesedihan. Semoga tak perlu lagi terulang di Indonesia.

&&&&&


Senin, 01 April 2019

Pelajaran Inte*ijen dari Is*ael


PADA 2004, terjadi ledakan kereta di Korea Utara. Anehnya, ledakan ini sangat besar, sama dengan gempa bermagnitudo 3,6. Terbukti, dari 10.000 penduduk di Cyonchon, 2.000 orang terluka.

Pemerintah Korut berdalih bahwa kereta membawa minyak sehingga ledakan besar sangat dapat dipahami. Namun, Korut tak ingin berlama-lama dengan isu kecelakaan kereta tersebut. Tanpa tedeng aling-aling, segala jenis publikasi dilarang setelah itu. Bahkan, penggunaan ponsel dilarang sampai lima tahun ke depan.

Lebih mecurigakan lagi, beberapa saat setelah ledakan, salah satu pesawat Suriah datang ke Korut. Ini hal yang sangat jarang terjadi, bahkan terkesan aneh.

Intelijen Israel, Mossad, mendapat bukti bahwa pesawat tersebut ternyata membawa mayat 12 ilmuwan Suriah yang meninggal, lengkap dengan pakaian laboratoriumnya. Ada pula beberapa foto pertemuan ilmuwan Suriah dan Korut.

Meir Dagan, Kepala Mossad kala itu, terkaget. Ia sempat berkesimpulan bahwa kereta yang meledak tersebut berisikan bahan nuklir dalam jumlah besar.

Karena muncul keterkaitan dengan Suriah, tahun 2006, Mossad mengikuti salah satu petinggi badan nuklir Suriah ke London, yang kebetulan sedang ada acara.

Pada malam sebelum acara, sang pejabat menyempatkan diri bersantai di salah satu bar di London. Tak mau kehilangan momen, Mossad mengutus seorang anggota wanita cantiknya untuk mengajak Pejabat tersebut berinteraksi.

Sang pejabat Suriah tertarik dengan umpan yang diberikan. Pembicaraan hangat pun terjadi sampai tengah malam, minuman beralkohol makin banyak yang diminum.

Di luar pengetahuan pejabat tersebut, pada waktu yang sama, dua orang pasukan khusus Mossad menyelinap ke dalam hotel di mana si pejabat menginap.

Divisi khusus penyadapan Mossad, Neviot, sedang beraksi. Mossad beruntung, laptop sang pejabat tak terkunci.

Tak menuggu lama, semua isi harddisk drive di laptop itu disalin oleh Mossad, dikirim langsung ke Tel Aviv. Tak lupa, mereka juga menanam alat pemyadap di laptop tersebut.

Setelah sang wanita mendapat pemberitahuan bahwa misi telah selesai, si wanita pergi begitu saja meninggalkan si pejabat.

Di Tel Aviv, Meir Dagan menerima kiriman file dari laptop pejabat nuklir Suriah. Dia mengutak-atik isi harddisk si pejabat.

Dari sekian banyak data rahasia, ada satu yang menonjol, yakni foto udara sebuah bangunan besar, kira-kira 39 x 39 meter dengan tinggi sekitar 21 meter, tapi tak diketahui lokasinya.

Meir Dagan, intelijen Mossad yang sudah tersohor sekaligus Direktur Mossad kala itu, seperti tak asing dengan gambar tersebut. Gambarnya persis sama alias replika dari bangunan reaktor nuklir milik Korea Utara.

Kesimpulan pun diambil bahwa Korut sedang membangun reaktor nuklir di Suriah atau Suriah dibantu Korut membangun reaktor nuklir.

Sebagaimana biasanya saat mengetahui situasi demikian, semua kemampuan teknologi dikerahkan untuk mencari lokasi gedung tadi. Semua teknologi satelit dan infiltrasi informasi dikeluarkan oleh Israel.

Akhirnya ketemulah satu bangunan yang sangat mirip dengan gambar. Lokasinya terpencil jauh dari ibu kota Suriah, Damaskus, yakni di Al Kibar.

Tak menunggu lama, Dagan melaporkan langsung kepada Ehud Olmert, Perdana Menteri kala itu. Semua gambar diperlihatkan. Olmert terlihat sangat khawatir, namun belum berani mengambil sikap progresif.

Olmert meminta Dagan memastikan apakah reaktor tersebut sudah beroperasi atau belum. Karena kalau reaktor nuklir telah aktif beroperasi, maka akan menimbulkan ledakan sangat besar saat dihancurkan.

Dagan langsung bersikap. Perlu tim khusus untuk memperjelas status reaktor nuklir tersebut. Sebagaimana diduga, pilihan jatuh pada Sayeret Matkal, pasukan elite khusus Israel.

Sayaret Matkal termasuk salah satu pasukan elite dunia dengan mengadopsi banyak gaya dari pasukan khusus SAS Inggris dan US Navy Seal Team Six.

Keahlian utama Sayeret Matkal adalah infiltrasi ke lokasi musuh, tanpa diketahui. Dengan helikopter yang nyaris kedap suara, Sayeret Matkal bisa datang dan pergi tanpa keributan. 

Hampir semua negara di Timur Tengah pernah diinfiltrasi oleh mereka dan nyaris tak berjejak.
Maka dikirimlah tim kecil Sayeret Matkal ke lokasi reaktor. Seperti biasa, pasukan ini berhasil mendekati lokasi, sampai hanya berjarak beberapa meter. Mereka mengambil banyak foto dan sampel tanah di sekitar reaktor untuk dianalisis.

Penyusup kembali ke Tel Aviv dengan selamat. Dari hasil tes laboraturium, terbukti bahwa kandungan radioaktif di tanah reaktor Al Kibar menunjukkan bahwa reaktor tersebut belum beroperasi penuh dan masih dimungkinkan untuk dihancurkan.

Dengan hasil itu, Olmert memutuskan untuk melakukan penghancuran. Opsi operasi khusus yang ada adalah serangan tim kecil melalui darat atau hantaman langsung dari udara.

Pilihan jatuh pada opsi kedua, serangan diam-diam dari udara. Dagan pun segera bertindak. Skuadron 69 dari Angkatan Udara Israel ditunjuk sebagai eksekutor. Divisi ini dikenal dengan sebutan Ha'patishim.

Skuadron 69 dianggap tepat karena pernah melakukan operasi yang sama dan terbukti berhasil. Pada 1981, Skuadron 69 berhasil meluluhlantakkan reaktor nuklir Irak. Waktu operasi hanya dua jam kurang dan semua pesawat kembali dengan selamat ke Tel Aviv.

Latihan pun dilakukan secara rutin dan terus-menerus, terutama latihan untuk menjatuhkan bom di lokasi bangunan kecil. Rute juga telah disiapkan, khusus untuk menghindari pantauan Suriah.

Para pilot andal dan terbaik dipilih. Latihan dilakukan tidak berarti para awak pesawat tempur tersebut mengetahui lokasi yang akan dihancurkan. Waktu dan lokasi sama sekali belum ditentukan, tugas mereka sementara waktu baru berupa latihan untuk menjatuhkan bom pada objek bangunan kecil.

Sampai pada satu waktu, Olmert mendapat kabar dari pasukan Mossad di lapangan di Suriah bahwa kapal dari Korea Utara telah merapat ke pelabuhan Suriah, membawa materal terakhir untuk reaktor. Dengan datangnya bahan penutup tersebut, otomatis reaktor akan segera aktif.

Olmert tak mau lagi menunggu. Waktu ditentukan, yakni jam 23.59 tanggal 6 september 2007 jelang tanggal 7 September. Sepuluh pesawat yang terdiri dari F-15 dan F-16 berangkat.
Pemilihan jenis pesawat tersebut telah melalui pertimbangan panjang. Suriah adalah negara yang memiliki sistem pertahanan udara yang tangguh.

Mereka memiliki senjata antipesawat Tom-M1 buatan Rusia dan rudal-rudal antiaircraft yang siap melahap pesawat musuh. Kedua jenis pesawat buatan Amerika tersebut adalah pilihan tepat karena memiliki teknologi antiradar, antikuncian rudal, teknologi pengalih objek rudal, dan banyak lagi.

Saat sepuluh pesawat tersebut berangkat, tak satu pun pilot yang mengetahui targetnya. Mereka hanya mengikuti rute yang telah dibuat. Sebelum mendekati lokasi target, barulah koordinat diinput ke dalam komputer pesawat.

Serangan pun siap diluncurkan. Dari pusat kendali udara di Tel Aviv terdengar, sebelum para pesawat menghantam target, terdengar salah satu pilot berkata bahwa mereka ditembak satu rudal antiudara. Lalu kondisi terdiam.

Tak lama berselang, muncul kata-kata Arizona di radio, yang berarti target telah dilumpuhkan. Tel Aviv mendadak lega. Tujuh pesawat kembali dengan selamat (karena tiga di antaranya ditarik pulang sebelum koordinat target diberikan).

Olmert menelpon George W Bush, Presiden Amerika Serikat waktu itu, dan mengatakan bahwa target yang tak pernah ada sekarang telah tiada. Tampaknya Bush mengetahui operasi Israel ini dan terus dikabari oleh Olmert, namun memercayakan kepada Israel untuk mengeksekusinya.

Olmert kemudian mengirim pesan kepada Presiden Suriah Basyar Hafizh al-Assad bahwa Israel tidak akan mengakui terjadinya peledakan tersebut dan akan mengatakan kepada media bahwa Israel tidak tahu-menahu tentang itu.

Olmert sedikit berspekulasi atas kemungkinan reaksi Assad bahwa Assad akan menyepakatinya karena takut akan dipermalukan di pelataran Timur Tengah.

Yang lebih penting, jika Assad memperpanjang masalah, maka akan diketahui oleh publik global bahwa Assad memiliki reaktor nuklir.

Spekulasi Olmert ternyata berhasil. Televisi Suriah kemudian memberitakan bahwa pasukan Suriah telah menembaki beberapa pesawat Israel yang memasuki area mereka dan berhasil mengusirnya.

Satu pertanyaan muncul di kepala Olmert dan Dagan, bagaimana Suriah bisa menyembunyikan reaktor nuklir selama beberapa tahun belakangan?

Setelah informasi dikumpulkan, ternyata Suriah mengembangkan sistem jaringan komunikasi khusus yang tak tersentuh oleh jaringan elektronik. Komunikasi surat-menyurat langsung melalui dokumen tercetak dengan dukungan jaringan kurir yang rapi.

Otaknya adalah Jederal Muhamad Sulaeman. Jenderal ini adalah tangan kanan Asaad, bahkan sering diibaratkan sebagai bayangan Asaad.

Tahun 2008, Mossad mendapat kabar bahwa Asaad berniat membangun kembali reaktor nuklir dan Sang Jenderal langsung yang menanganinya.

Tak ada pilihan lain bagi Olmert dan Dagan, Sulaeman harus dilenyapkan. Tetapi tak mudah mengejar jenderal yang satu ini. Jadwalnya sangat rahasia, hanya diketahui beberapa orang. Dan di Damaskus, Sulaeman selalu dikawal ketat. Sangat tidak mungkin menghabisinya.

Pada pertengahan tahun 2008, Sulaeman diketahui sedang berada di rumah keduanya, sebuah vila di dekat pantai Kota Tirtous, Suriah.

Di sanalah Sulaeman berakhir dengan hantaman dua peluru pasukan super khusus Israel, Kidon, yang spesialisasinya memang untuk urusan bunuh-membunuh semua tokoh yang dianggap musuh Israel.

Boleh jadi, cerita di atas, yang belum lama ini dipublikasikan secara publik oleh intelijen Israel dan AS dan sempat diangkat menjadi salah satu cerita dalam salah satu acara di National Geographic bertajuk "Black Operation", sangatlah "Israel sentris".

Namun, banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari sana, terutama tentang sebuah negara yang dihuni oleh suku bangsa yang sempat mengalami mimpi buruk bernama Hollocaust dan berjuang untuk tetap terdepan dalam aksi-aksi preventif yang dibutuhkan untuk memberi kepastian pada keberlanjutan negaranya.

Terlepas dari rasa kebencian dan ketidaksukaan pada negara yang satu ini, pun terlepas dari rasa tak menerima dengan apa yang mereka lakukan pada banyak negara tetangganya, apa yang mereka lakukan terkait dengan cerita di atas adalah gambaran bagaimana seharusnya sebuah negara memberi peran kepada badan intelijen dan pasukan khususnya.

Intelijen bukanlah mainan untuk menakut-nakuti rakyat sendiri, bukan pula institusi untuk menambah daya ungkit elektoral penguasa dalam kontestasi, apalagi menjadi instrumen untuk ikut-ikutan latah dalam memperburuk semburan informasi menyesatkan di ruang publik.

Justru inilah catatan penting untuk negara kita di mana pembenahan badan intelijen mau tak mau harus segera dilakukan, agar selaras dengan kepentingan negara bangsa, bukan dengan kepentingan sesaat kelompok-kelompok tertentu.

Artikel ini telah tayang di 
Kompas.com dengan judul "Pelajaran Intelijen dari Israel", https://internasional.kompas.com/read/2019/04/01/16470471/pelajaran-intelijen-dari-israel

Editor : Laksono Hari Wiwoho

Senin, 25 Maret 2019

Silsilah Lengkap Prabowo Subianto: Ayah Seorang Ekonom hingga Keturunan Bangsawan

Dilansir TribunWow.com dari laman Wikipedia Prabowo Subianto lahir di Jakarta pada 17 Okotober 1951 dan memiliki nama asli Prabowo Subianto Djojohadikusumo.

Ia menyelesaikan pendidikan dasar dalam waktu 3 tahun di Victoria Institution Kuala Lumpur, Sekolah Menengah di Zurich International School, Zurich, pada tahun 1963-1964, dan SMA di American School, London pada kurun waktu 1964-1967.

Pada tahun 1970, barulah ia masuk ke Akademi Militer Nasional, Magelang.



Ayah Prabowo Subianto adalah Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo yang merupakan ekonom terkenal Indonesia, dikenal sebagai Begawan Ekonomi Indonesia.

Seomitro pernah menjabat beberapa menteri di era Soekarno dan Soeharto, yaitu sebagai Menteri Negara Riset Indonesia, Menteri Perdagangan Indonesia, Menteri Keuangan Indonesia, dan Menteri Perindustran dan Perdagangan Indonesia.

Semasa hidupnya, Soemitro telah menorehkan buah pikirnya dalam 130 buku dan makalah dalam bahasa Inggris.  Ia juga mendapat sejumlah penghargaan bergengsi baik dari dalam maupun luar negeri.


Kakek Prabowo, R.M Margono Djojohadikusumo

Margono Djojohadikusumo adalah orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo.  Margono merupakan pendiri Bank Indonesia (BI).


Margono Djojohadikusumo juga merupakan ayah dari dua pemuda yang gugur dalam peristiwa Pertempuran Lengkong, yakni Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo.

Nama-nama mereka kemudian disematkan kepada nama cucunya, Prabowo Subianto dan pengusaha Hashim Sujono.

Karena pengabdian dan jasa2nya, nama Margono diabadikan dalam sebuah gedung di Universitas Gajah mada yakni Gedung R.M Margono Djojohadikusumo.  Nama itu juga dijadikan nama jalan di Jakarta dan menjadi inspirasi pembuatan film Merah Putih.

Margono merupakan cucu buyut dari Raden Tumenggung Banyakwide atau Panglima Banyakwide, seorang panglima laskar Diponegoro.

Sedangkan ayah dari Margono adalah Tumenggung Mangkuprodjo.
Garis keturunan itu juga disebut dalam buku yang mengulas sejarah Pangeran Diponegoro, berjudul Kuasa Ramalan.

Pada buku karya penulis asal Skotlandia, Dr Peter Carey (Carey selama 30 tahun meneliti sejarah Diponegoro), penjelasan tentang Banyakwide adalah moyang keluarga Djojohadikusumo terdapat pada lembar prakata buku jilid I halaman XXIV.

Dikutip dari Tribun Jogja, Banyakwide dan Mangkuprojo disemayamkan dalam saku komplek pemakaman di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.



Garis Keturunan Banyakwide

Raden Tumenggung Banyakwide memiliki garis keturunan dari pejabat wilayah Banyumas.
Seperti Raden Tumenggung Mertayuda (Adipati Banyumas ke-4), hingga Raden Joko Kaiman atau Adipati Mrapat (Adipati pertama Banyumas).

Raden Joko Kaiman merupakan menantu Bupati Wirasaba, yang bernama Adipati Warga Hutomo.
Beliau digelari "Mrapat", disebabkan keberhasilannya untuk mendamaikan Sultan Hadiwijaya (Pajang) dengan ahli waris Adipati Warga Hutomo.

Salah seorang keturunan Adipati Mrapat yang terkemuka adalah Raden Tumenggung Mangkupradja, yang merupakan Patih Ndalem Kartasura di masa Sunan Pakubuwono II.
Begitu selanjutnya turun temurun hingga ke Banyakwide dan bergenerasi seterusnya.
Pada kesempatan peluncuran buku Kuasa Ramalan di Tegalrejo Yogyakarta dua tahun lalu, Hashim Djojohadikusumo juga menyatakan trah tersebut.

Saat itu Hashim menyebutkan Raden Tumenggung Kertanegara alias Banyakwide adalah kakek cicitnya.

Ibu Prabowo Subianto adalah Dora Marie Sigar, yang lahir di Manado, Sulawesi Utara pada 21 September 1921.

Dora merupakan keturunan Manado-Jerman. Keluarga Dora Sigar berasal dari Manado.
Ayahnya bernama Philip FL Sigar, dan ibunya bernama N. Maengkom.

Ayahnya yang merupakan seorang anggota Gementeraad Manado (1920-1922) dan pejabat Sekretaris Residen (Gewestelijk Secretaris) Manado (1922-1924) merupakan putra dari Laurents A Sigar (meninggal 1910) dan E. Aling.

Kakek Dora merupakan Majoor (1870-1884) di Manado.
Salah satu nenek moyangnya adalah Benyamin Thomas Sigar (Tawaijln Sigar), yaitu kapitein atau pemimpin pasukan Tulungan atau Hulptroepen (pasukan bantuan) yang dikontrak pemerintah Hindia Belanda guna membantu mengatasi Perang Jawa (1825-1830).

Trah Kerajaan Mataram

Prabowo Subianto dan saudaranya memiliki darah bangsawan dari kerajaan Mataram dari garis sang nenek.

Raden Nganten Suratmi Siswodihardjo, yang tak lain istri RM Margono Djojohadikusumo, kakek buyut Prabowo merupakan putra keenam Raden Wirawidjaja.

Raden Wirawidjaja yang tak lain adalah mertua RM Margono merupakan putra kedua Raden Wirawidjaja III.

Jika ditarik ke atas, nama terakhir adalah putra Raden Wirawijoyo II yang makamnya ada di Gunungsari. Gulon, Salam, Muntilan, Magelang.

Ditarik ke atas bergenerasi, ujung dari leluhur trah ini adalah BRA Djuminartani, yang konon merupakan putri Ki Ageng Pemanahan, pendiri dinasti Mataram Islam.
Raden Wirawidjaja II, bangsawan Mataram yang juga ikut berperang di pihak Diponegoro.
Dalam komplek pemakaman tersebut turut disemayamkan Raden Panji Wirowidjaja I, Raden Pandji Wirojuda, dan Raden Pandji Wiroboemi yang kesemuanya mengarah Raden Wiradigda atau Ki Ageng Wiroreno.

"Eyang Wirodigdo atau Ki Ageng Wiroreno dimakamkan di sini," ujar Juru Kunci pemakaman saat dikunjungi wartawan Tribun Jogja pada 2014 silam.

Seorang keturunan Wirawidjaja di Gulon, Ibu Ani juga membenarkan jika garis nenek Prabowo nyambung ke dinasti Mataram.

Mendiang Ketua Umum Partai Gerindra Prof Dr Suhardi pernah mengatakan pada 2014 lalu jika Prabowo masih keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono II.
"Iya, benar. Memang Pak Prabowo keturunan Mataram, tepatnya HB II," kata Suhardi di Lapangan Gading, Playen, Gunungkidul, Sabtu (29/3/2014).

Meski demikian, Suhardi mengaku tak tahu pasti penarikan garis silsilahnya.
"Kalau keturunan yang ke berapa, saya kurang paham. Yang jelas, beliau keturunan Hamengkubuwono II," imbuhnya. 

(TribunWow.com/Lailatun Niqmah)



KELUARGA PRABOWO SUBIANTO MEMILIKI SILSILAH DARAH BIRU 

Prabowo Subianto adalah keturunan ke-8 Trah Sultan Agung Mataram dan Kesultanan Yogyakarta Sultan Hamengkubuwono (HB) I.

Silsilahnya dimulai dari Sultan Agung ke Rdn. Adipati Mangkuprojo, Rdn. Tumenggung Indrajik Kartonegoro, Rdn. Tumenggung Kertanegara atau Banyak Wide (salah satu Panglima dan tangan kanan Pangeran Diponegoro), Rdn. Kartoatmojo.

Rdn Kartoatmojo ini kemudian menikah dengan bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta RA Djojoatmojo. RA Djojoatmojo keturunan ke-4 dari Sultan HB I.

Selanjutnya hasil pernikahan itu menghasilkan keturunan Rdn Tumenggung Mangkuprojo dan berikutnya adalah Margono Djojohadikusumo.

Margono adalah salah satu Pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia bersama Ir Soekarno.
Margono memiliki keturunan Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo. Soemitro adalah ayah kandung Prabowo Subianto Djojohadikusumo.


SILSILAH PRABOWO DARI KETURUNAN IBU

Hashim Djojohadikusumo : “Keluarga kami itu beragam. Kami empat bersaudara, dua islam, dua pengikut Kristus”

Ibu kami (ibu saya dan Prabowo), bernama Dora Marie Sigar, dari suku Minahasa. Lahir dan meninggal sebagai Kristen Protestan.  Sementara ayah kami (ayah saya dan Prabowo), Soemitro Djojohadikoesoemo, adalah seorang muslim.

Dari kedua pasangan Soemitro dan Dora, lahir empat bersaudara. Anak pertama adalah Biantiningsih Miderawati Djiwandono, anak kedua adalah Marjani Ekowati le Maistre, anak ketiga adalah Prabowo Subianto, dan anak keempat adalah Hashim Djojohadikusumo.

Soemitro Djojohadikoesoemo merupakan anak dari Menteri Negara Riset Indonesia ke-3 dan Menteri Keuangan Indonesia ke-8, Soemitro Djojohadikoesoemo.