Tidak berlebihan kalau warga DKI suka sama gubernurnya, Anies memang smart.
Tidak berlebihan juga kalau rakyat indonesia suka sama pak Anies lalu sering disebut sebagai Gubernur indonesia atau Gubernur rasa presiden, sangat layak.
Anies adalah tokoh baru dalam ranah eksekutif level gubernur, narasi politiknya menunjukkan kelasnya.
Anies sadar bahwa dia sedang memimpin ibukota negara muslim terbesar di dunia. Yang dibutuhkan bukan hanya kapasitas intelektual, tapi harus memiliki hati juga yang peka.
Anies dalam kapasitasnya sebagai gubernur, menghargai dan menghormati setiap warga DKI, tidak ada tebang pilih kaya atau miskin. Beda sama kebijakan pendahulunya Ahok.
Anies memanusiakan manusia, dia paham bahwa dia sedang memimpin manusia yang bisa berpikir bukan sedang mengemudi sebuah traktor mesin.
Baru kali ini pemprov DKI menyelenggarakan mudik gratis skala besar untuk warga DKI yang akan pulang kampung, saat ini masih pulau jawa dahulu karena memang kas APBD DKI tidak sebesar kas yang ada di tangan Jokowi.
Lebih dari 300 bus dengan jumlah pemudik yang terdaftar gratis saat ini 17.000 an orang. Anies ingin memberikan sinyal sebagai pemimpin yang selalu hadir dimomen istimewa seperti lebaran.
Lebih dari itu, anies sudah meneken surat membolehkan takbir keliling, bahkan anies membolehkan warga luar untuk datang ke jakarta pasca lebaran. Tidak akan ada razia yustisi. Takbir keliling dan operasi yustisi. Dua hal yang dulu sangat ketat dimasa Ahok.
Narasi anies memang level negarawan, dengan bahasa sederhana"jakarta adalak kota kita semua" jakarta adalah milik seluruh rakyat indonesia. Ini namanya presidential narrative. Narasi level presiden.
Anies tidak mengkotak kotakkan warga, tidak tebang pilih warga VIP dan mana warga biasa. Anies bukan gubernur pro pemodal dan pro mafia, aturan dia tegakkan kepada semua golongan. Tanpa pandang bulu.
Saat pemerintah pusat saling sembunyi tangan atas demo berdarah tanggal 25 mei lalu didepan bawaslu, Anies tampil menemui rakyat, melihat langsung, dan mengumumkan korban yang jatuh. Walaupun kuping istana sangat kepanasan.
Saat pejabat pusat bahkan presiden sendiri mangkir dan menghindar, anies tampil menghibur rakyat jakarta dan mendengar aspirasinya. Padahal presiden saja sempat kabur ke bandara saat ada yang demo di jakarta beberapa tahun lalu.
Anies dengan kapasitas intelektual yang dimiliki. S3 lulusan luar negeri, seperti ingin mengajarkan rakyat indonesia akan standar demokrasi yang benar, pelajaran yang rakyat tidak pernah dapatkan bahkan dari seorang presiden yang memang buta demokrasi.
Anies mengurus jakarta dengan hati, prestasinya tidak bisa lagi dihitung dengan lembaran lembaran piagam. Datanglah ke jakarta langsung, anda akan melihat jakarta yang jauh lebih teduh dan humanis dari sebelumnya.
Narasi anies adalah narasi negarawan, anies merangkul semua golongan tapi dengan tetap tegas bertindak sesuai standar operasional demokrasi yang rapi dan manusiawi.
Tegas bagi anies adalah nafas kerjanya. Anies gak pernah takut dibully dan caci apalagi hanya sekedar petisi online untuk melengserkan dirinya yang baru baru ini digagas oleh gerombolan kaum dungu yang gagal paham esensi demokrasi.
Anies berupaya menjadikan jakarta sebagai ril miniatur indonesia. Kota yang teratur dengan aturan main, kota yang tidak bisa dibeli oleh yang para taipan yang suka main belakang. Kota yang didedikasikan untuk kebahagiaan warganya semua. Bayangkan kalau anies punya wewenang mengatur dan merapikan seluruh indonesia?
Anies gubernur yang memiliki kapasitas leadership yang kuat, teguh, kokoh, cerdas,bijak dan diplomatif. Sebuah kapasitas yang sangat cocok memimpin negeri ini kedepan.
Narasi politik anies adalah antitesis jokowi, Ahok, Luhut, Wiranto, dkk yang segala sesuatu pakai otot dan urat saraf. yang ujung ujungnya kontroversi, diprotes rakyat dan dicaci maki. Anies bukan tipikal pejabat yang suka ralat kebijakan, suka polemik dan pencitraan media dan suka menyesatkan publik. Anies antitesis dari mereka semua.
Anies bukan tipikal pemimpin takut medsos, takut demo, takut kaos, takut tagar, takut ketemu pendemo, takut ulama, takut rakyatnya sendiri dan takut diancam bunuh.
Anies bukan pemimpin yang playing victim untuk menutupi ketidakbecusannya dalam mengatur negeri seperti apa yang selama ini dipertontonkan rezim jokowi.
SANGKAN PARANING DUMADI ; Telah menjelajahi kehidupan lebih dari 50 tahun, saatnya merenungi dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk "hari kemudian"
Minggu, 02 Juni 2019
Kamis, 30 Mei 2019
Ijtihad
Ijtihad adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh untuk
memutuskan suatu perkara yang tidak tercantum dalam Al Quran maupun hadis (dilakukan
oleh orang yg berilmu).
Tidak semua persoalan dalam muamalah diatur dlm Al-quran maupun hadis.
Al-quran dan hadis hanya mengatur hukum secara garis besar, sedangkan masalah teknis
pelaksanaannya diatur dlm
ijtihad para ulama.
Fungsi utama dari
Ijtihad adalah untuk menetapkan suatu solusi hukum atas suatu masalah yang belum ada dalilnya di dalam Al-quran dan hadits.
Jadi ijtihad merupakan sumber hukum ketiga setelah Al-quran dan hadis.
Misal:
1. Penentuan I Syawal
dan awal Ramadhan dg teknologi yg canggih
2. Persoalan hukum terhadap
bayi tabung
3. Bagaimana cara
manusia melaksanakan shalat dan puasa di wilayah yg waktu siang dan malam tdk
menentu (negara2 skandinavia)
4. Bisakah membayar
zakat fitrah dg beras atau uang
5. Berapakah besaran
zakat penghasilan bagi advokat atau pebisnis on line.
6. Sahkah membersihkan
najis yg menempel di badan dg sabun
7. Hukum minuman
beralkohol, spt bir, minuman soda, air tape, dsb.
8. Dan masih banyak lagi
Orang yang melaksanakan
Ijtihad disebut dengan Mujtahid dimana orang
tersebut adalah orang yang ahli tentang Al-quran dan hadits.
Adapun
beberapa manfaat Ijtihad adalah sebagai berikut ini:
• Ketika umat Islam menghadapi masalah baru,
maka akan diketahui hukumnya.
• Menyesuaikan hukum yang berlaku dalam Islam
sesuai dengan keadaan, waktu, dan perkembangan zaman.
• Menentukan dan menetapkan fatwa atas segala
permasalahan yang tidak berhubungan dengan halal-haram.
Selasa, 28 Mei 2019
Perusak Islam
Umar bin Khatab: ”Maa yahdinul Islam tsalasah”, yang merusak islam ada 3, yaitu:
1. Zallatul ’alim, Tergelincirnya ulama (tetapi tetap diikuti walaupun dia dalam keadaan salah).
2. Jidalul munafik bil Quran , Orang munafik tetapi mendebat orang yang diatas kebenaran dg memakai al-Quran (yang menguntungkan orang kafir)
3. Hakama ’aimatul mudillin (Berkuasanya pemimpin2 yg menyesatkan)
1. Zallatul ’alim, Tergelincirnya ulama (tetapi tetap diikuti walaupun dia dalam keadaan salah).
2. Jidalul munafik bil Quran , Orang munafik tetapi mendebat orang yang diatas kebenaran dg memakai al-Quran (yang menguntungkan orang kafir)
3. Hakama ’aimatul mudillin (Berkuasanya pemimpin2 yg menyesatkan)
Note : Pendusta Agama
1. Kisah Syarifah Janda Miskin.
2. Pendusta Agama
Diceritakan
di dalam kitab Rasyafatus Shoodi, karya Alhabib Muhammad Alhaddar. Ada seorang Syarifah janda ditinggal wafat
suaminya dan meninggalkan 3 orang anak perempuan.
Syarifah
meminta pertolongan seorang guru besar Islam beserta para
muridnya. Sang guru berucap: "berikan aku
bukti bahwa kau janda miskin yang sengsara,"
Syarifah minta bantuan saudagar kaya, seorang Majusi (penyembah matahari).
Pada
malam itu sang guru besar Islam bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat hari
kiamat, dan melihat ada istana megah luar biasa di surga. Kaum muslimin masuk surga atas perintah
Rasulullah SAW. Akan tetapi Rasul berpaling muka atas sang guru besar Islam.
Maka
Nabi SAW menjawab: "berikan aku bukti bahwa kau
memang muslim!" Kemudian Rasul SAW berucap: "Ingatkah engkau di dunia pernah berkata sedemikian pada
cucuku".
Sang
guru besarpun menangis terisak-isak dan sangat menyesali perbuatannya.
Barangkali ia merasa bahwa dirinya adalah “Pendusta Agama”
2. Pendusta Agama
Pendusta
agama dijelaskan oleh Al Qur’an pada surah Al-Ma’un,
yaitu surat yang ke-107. Tiga ayat
pertama surah ini menjelaskan siapa yang termasuk sebagai pendusta agama,
yaitu: (1) Araitalladzi yukaddzibu biddiin, (2) Fa’dzaalikal
ladzii yadu’ul yatiim, (3) Wa laa yahudhdhu alaa tho’amil
miskin. Artinya: (1) Tahukah kamu
(orang) yang mendustakan agama?, (2) Itulah orang yang menghardik anak
yatim, (3) Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Pendusta agama adalah orang yang tidak peduli atau apatis terhadap anak yatim, dan
fakir miskin (kaum dhuafa).
Kebanyakan
orang hanya berhenti pada pemahaman “siapa pelaku” pendusta
agama, tetapi tidak sampai pada pemahaman “apa konsekuensi” bagi
pendusta agama.
3. Konsekuensi bagi
Pendusta Agama
Menurut
Prof. Dr. Hamka, hakekat pendusta agama adalah orang-orang yang “mendustai
agamanya” atau “mengingkari pilar-pilar agama”.
Pilar agama Islam itu ada 5. Rasulullah
Saw : “buniyal Islamu ‘ala khomsin.” bahwa
Islam dibangun di atas lima pilar utama, yaitu syahadat, shalat,
zakat, puasa, dan haji.
Jadi pendusta agama adalah orang yang
mendustai pilar-pilar agama.
Bagi orang-orang yang tidak peduli (apatis) terhadap nasib anak-anak yatim dan
orang-orang miskin (meskipun ia rajin shalat, rajin puasa, rajin dzikir,
dsb) maka mereka adalah pendusta agama.
Ibadah shalatnya, zakatnya, puasanya, dan hajinya menjadi sia-sia,
4. Banyak kita yang
pendusta Agama
Berdasarkan survei kebanyakan orang Islam sudah tahu dan
hafal surat Al-Maun. Tetapi ternyata hanya sedikit orang yang memahami dan
mengamalkannya.
Indikator tentang kepedulian terhadap nasib anak-2 yatim dan
orang-orang miskin adalah dari pengeluaran Zakat Mal (harta), bukan zakat
fitrah. Zakat Mal merupakan sedekah harta yang wajib dikeluarkan sebesar
2,5 persen dari penghasilan.
Hasil survei yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa di
kota Medan, menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat menunaikan zakat (mal)
hanya sebesar 3,21 persen. Berarti orang
yang tidak mengeluarkan zakat mal adalah 96, 79 persen.
Dengan kata lain, diantara 100 orang hanya 3 orang yang menunaikan zakat
(mal).
Bahkan Imam Besar Masjid Istighlal Jakarta, Prof. DR. KH
Nasaruddin Umar menyebut bahwa terlalu pelit jika orang
Islam hanya mengeluarkan zakat yang 2,5 persen, tanpa sedekah lainnya.
5. Kesimpulan
Surat Al-Ma’un menjadi pelengkap bagi
ayat-ayat dari surat yang lain dalam Al-Qur’an berkaitan dengan kewajiban
manusia untuk peduli terhadap nasib anak yatim, dan fakir miskin
(kaum dhuafa).
Orang
yang tidak peduli atau apatis terhadap nasib kaum
dhuafa disebut sebagai “Pendusta Agama”.
Konsekuensi bagi pendusta agama adalah
ibadah shalatnya, zakatnya, puasanya, dan hajinya menjadi sia-sia, karena tak
berdampak baik bagi akhlaknya.
Salah satu indikator
tentang pendusta agama adalah seberapa besar seseorang mengeluarkan sedekah
harta, yaitu zakat mal yang 2,5% dari rizki yang diperolehnya.
Hasil survei menunjukkan kebanyakan kita (96 persen) adalah
pendusta agama, yaitu orang yang tidak menunaikan zakat mal.
Imam Besar Masjid Istighlal Jakarta, Prof. DR. KH Nasaruddin Umar menyebut bahwa jika orang Islam hanya mengeluarkan zakat yang 2,5 persen, tanpa
sedekah lainnya ia terolong orang yang pelit.
Semoga
uraian diatas bisa menjadikan renungan bagi kita. Apakah kita termasuk ke dalam
golongan orang peduli terhadap nasib anak yatim dan kaum dhuafa, atau justru
sebaliknya termasuk kedalam golongan orang yang mendustakan agama.
Astaghfirullah hal adzim.
*******
“Pendusta agama” : Tahukah kamu orang yang mendustakan agama; Itulah orang yg menghardik anak yatim ; Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
(QS. Al Maun, 107 : 1-3)
Prof. Dr. Hamka menjelaskan makna “pendusta agama” adalah meskipun ia rajin shalat, ia rajin puasa dan ia rajin melaksanakan ibadah lainnya, namun apabila ia yang tidak peduli terhadap nasib anak yatim dan orang miskin maka ketaqwaannya diragukan.
Tingkat ketaqwaan seseorang diukur dari seberapa besar kepeduliannya terhadap anak yatim dan fakir miskin. Banyak hadis nabi yang menyatakan bahwa untuk mengukur ketaqwaan seseorang adalah dari akhlaknya (prilaku sosial).
Rasulullah bersabda, khairunnas anfa’uhum linnas , ”Manusia yang paling baik (dicintai Allah Ta’ala), ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. (HR. Ibnu Hajar Al-Asqalani)
Salah satu ciri orang yang bertaqwa antara lain adalah menafkahkan sebagian rizki. Mereka yang bertaqwa, yaitu yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 2-3)
Ketika Rasulullah ditanya, ”Amal apa yang paling utama?”. Nabi menjawab, ”Seutama-utama amal ialah memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman, yaitu melepaskannya dari rasa lapar, membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan hutang-hutangnya.” (HR. Ibnu Hajar Al-Asqalani)
Kamis, 23 Mei 2019
Panduan Iktikaf
1. Pengertian
Iktikaf.
a. Iktikaf adalah berdiam
diri dalam masjid dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.
b. Orang yang beriktikaf disebut MUTAKIF
2.
Rukun iktikaf
a. Niat (apabila
hanya berdiam diri di masjid tanpa berniat itikaf, maka ia tidak i’tikaf)
b. Berdiam diri di dalam masjid (selain di
masjid bukan iktikaf)
3.
Waktu Iktikaf
a. Waktu iktikaf : Tidak ada ketentuan
(bisa dilakukan di malam atau di siang hari)
b. Lama waktu iktikaf : Menurut
mayoritas ulama, i’tikaf tidak ada batasan waktu minimalnya (lahzhoh), artinya boleh
cuma sesaat.
c.
Waktu i’tikaf yang lebih afdhal, (sebagaimana yang dilakukan
oleh Rasulullah) adalah pada10 hari terakhir bulan
Ramadhan, disaat turunnya Lailatul Qadar.
4. Adab I’tikaf
Hendaknya
ketika beri’tikaf, mutakif menyibukkan diri dengan melakukan amalan ibadah, seperti:
a. Berdzikir (tasbih, tahmid, takbir &
tahlil),
b. Beristighfar (memohon ampun kepada Allah)
c. Berdo’a /bermunajad
d. Membaca /tadarus Alquran
e. Mengkaji Al Qur’an dan hadits.
f. Membaca buku-buku agama.
g. Shalat sunah
f.
Dimakruhkan : melakukan perbuatan dan perkataan yang tidak bermanfaat
apalagi tercela.
5. Hal-hal yang membatalkan iktikaf
a. Keluar masjid dengan sengaja tanpa keperluan
yang dikecualikan walaupun sebentar.
b. Jima’ (Berhubungan biologis suami istri)
c. Haid dan nifas.
6. Hal-hal yang diperbolehkan bagi mutakif
a. Makan, minum, dan tidur di masjid dengan
senantiasa menjaga ketenangan, kesucian dan kebersihan masjid.
b. Menemui tamu di masjid untuk hal-hal yang
diperbolehkan dalam agama
c.
Keluar dari tempat iktikaf untuk keperluan yang harus dipenuhi, seperti
membuang air besar dan kecil ke toilet.
Ajaran Islam tentang Hubungan Sosial
Ajaran-ajaran
Islam yang berkaitan dengan hubungan sosial antar umat manusia, antara lain
adalah:
·
Islam memerintahkan untuk hidup
berdampingan dan menghormati pemeluk agama lain. (Qur’an 3: 159)
·
Islam tidak memaksakan kehendak kepada
penganut agama lain. (Qur’an 2: 256 ; 109: 6 ; 34: 25 ; 16: 125)
·
Islam memerintahkan untuk taat pada hukum
aturan pemerintah (Qur’an 4: 59)
·
Islam memerintahkan bersikap toleran
kepada sesama manusia (Qur’an 60: 8 & Qur’an 109: 6)
·
Islam memerintahkan bersikap baik
terhadap tetangga, orang miskin, dan fakir miskin (Qur’an 4: 36).
·
Islam memerintahkan untuk senantiasa
memperhatikan keadaan/nasib tetangga (hadits nabi).
·
Islam memerintahkan peduli terhadap
nasib kaum ‘dhuafa’, yaitu fakir
miskin, orang lemah dan yatim piatu (Qur’an 107: 1-3)
·
Islam menilai kemuliaan manusia bukan
pada status sosial tetapi pada ketaqwaan (Qur’an 49:13).
·
Islam melarang sikap sombong dan
angkuh (Qur’an 31: 18)
·
Islam melarang manusia hidup secara
berlebih-lebihan (Qur’an 7: 31)
·
Islam melarang menumpuk harta (Qur’an 9: 34-35).
Rabu, 22 Mei 2019
Beribadah Sampai Ikhlas
Beribadahlah sampai ikhlas, bukan menunggu ikhlas untuk beribadah
Bersedekahlah sampai kaya, bukan menunu kaya baru bersedekah
Pergilah ke masjid sampai tua, bukan menungu tua untuk pergi ke masjid
Bersedekahlah sampai kaya, bukan menunu kaya baru bersedekah
Pergilah ke masjid sampai tua, bukan menungu tua untuk pergi ke masjid
Langganan:
Postingan (Atom)