Senin, 22 Juni 2020

Ngunduh Wohing Pakarti

Ngunduh wohing pakarti arti harfiahnya adalah menuai hasil dari perbuatannya.  Makna gramatikalnya adalah bahwa setiap perbuatan (baik atau buruk) pasti akan mendapat balasan atau akibat yang sesuai apa yang telah diperbuatnya.  
Dalam pribahasa melayu kita kenal dengan pepatah, “Siapa menabur angin, akan menuai badai” artinya siapa yang melakukan perbuatan (buruk), maka ia akan menanggung akibatnya.  Dan tentu berlaku kebalikannya, siapa yang melakukan perbuatan baik, maka ia akan mendapatkan hasilnya.
Maka dari itu hendaknya setiap orang senantiasa berbuat kebajikan secara ikhlas tanpa pamrih, karena harus diyakini bahwa setiap kebajikan itu pasti akan berbuah manis sebagai balasan atas perbuatannya.
Sebaliknya semua orang hendaknya menghindari tindakan-tindakan yang tidak terpuji dan merugikan orang lain, karena cepat atau lambat ia pasti akan mendapatkan balasan tidak menyenangkan dari apa yang telah ia perbuat. 
Allah SWT berfirman: “Faman ya'mal mitsqaala dzarratin khairan yarah - Wa man Ya'mal mitsqaala dzarratin syarran yarah  artinya barangsiapa yang mengerjakan kebaikan atau keburukan meski sebesar zahrah (debu/atom), niscaya ia akan memperoleh balasannya (QS. Al-Zalzalah: 7-8)
Becik ketitik - Ala ketara
Ungkapan selaras dengan ngunduh wohing pakarti adalah Becik ketitik - Ala ketara, yang artinya perbuatan baik akan tampak, dan perbuatan buruk akan terungkap
Maknanya, setiap perbuatan yang baik pasti akan diketahui oleh orang meskipun ia tidak menampakkannya. Pepatah asing mengatakan, “Kebaikan adalah bahasa yang dapat didengar oleh orang tuli dan dapat dilihat oleh orang buta.”
Pun sebaliknya, perilaku busuk cepat atau lambat juga pasti terungkap. Serapat atau seketat apa pun seseorang menutupi prilaku busuknya, pada akhirnya pasti akan ketahuan juga.

Maka ungkapan “Becik Ketitik Ala Ketara” ini mengingatkan manusia untuk senantiasa berbuat baik dan menghindari prilaku busuk, karena perbuatan yang baik dan buruk semua akan nampak dan mendapatkan ganjaran yang setimpal sesuai dengan perbuatannya sendiri.

Ajining Salira Saka Busana, Ajining Diri Saka Lathi lan Budi

Ajining salira saka busana, ajining diri saka lathi lan budi artinya : Kehormatan raga berasal dari busana, Kehormatan diri berasal dari lisan dan prilaku. 
Maknanya, kehormatan sosial seseorang bisa dilihat dari cara berpakaian, apakah bersih, rapih, dan sopan atau sebaliknya. Sedangkan kehormatan diri (akhlak) bisa diketahui dari cara berkomunikasi serta cara bersikap dan berperilaku. 
Ajining salira saka busana
Kehormatan fisikal (sosial) seseorang bisa dilihat dari cara ia berpakaian. Semakin tinggi kelas sosial seseorang biasanya ia berpakaian yang lebih baik.
Pakaian seseorang bukan dinilai dari mewah tidaknya, atau mahal murahnya, tetapi dari kebersihan, kerapihan, kesopanan, dan kepantasan. Apabila seseorang mengenakan pakaian yang mewah dengan harga mahal, tetapi apabila tidak baik dipandang dari etika kesopanan, maka disitulah orang akan mengaitkan dengan nilai etika moral.
Seseorang yang mengenakan pakaian mewah dan mahal tetapi tidak sesuai dengan tempatnya, misal di arisan ibu-ibu RT atau ke pasar, maka orang akan menilai bahwa ia adalah orang yang sombong.
Demikian pula sebaliknya, seseorang yang menghadiri pesta perkawinan, namun hanya mengenakan sandal jepit dan pakaian ala kadarnya, tentu ia bisa menjadi perhatian dan pembicaraan negatif. Tentu ia bisa dianggap tidak menghargai atau meremehkan tuan rumah pengundang dan tamu lainnya.
Dalam hal berpakaian, Allah SWT berfirman, "Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik.” (QS. Al-A’raf ayat 26) 
Selanjutnya pada surat yang sama ayat 31 Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan."
Ajining diri saka ing lathi lan budi
Kehormatan diri (akhlak) seseorang bisa diketahui dari cara ia berkomunikasi serta cara ia bersikap dan berprilaku
Orang yang berakhlaq mulia (berilmu), dalam berkomunikasi ia akan menggunakan bahasa yang santun dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Sedangkan orang yang berakhlaq rendah biasanya bicaranya kasar, suka bergunjing, dan menyakiti perasaan orang lain.
Pepatah Jawa lain mengatakan “Wong apik seneng ngomongke apike liyan, Wong ala seneng ngomongke alane liyan
Pepatah melayu juga mengatakan “mulutmu harimaumu”, artinya ucapan-ucapan buruk dan salah akan berakibat buruk (menerkam) diri orang yang mengucapkannya.
Dalam agama Islam, Rasulullah bersabda, “orang beriman itu hendaklah berkata yang baik-baik, apabila tidak maka hendaklah ia diam” (HR. Bukhari).

Rasulullah bersabda, “Hiyaa Rukum ’Akhaa Sinukum akhlaaq”, Sebaik-baik orang diantara kalian ialah orang yg baik akhlaknya. (HR. Bukhari & Muslim).

Gula Merah Sekilo

(Renungan diri)

Alkisah, Seorang lelaki miskin menjual gula merah yang dibuat isterinya ke kota.

Isterinya selalu membuat gula merah dengan bentuk bulat dan beratnya 1 kg. Dia selalu menjual gula merah  itu ke salah satu toko dan membeli kebutuhan-kebutuhan harian mereka untuk sekadar makan.

Suatu ketika pemilik toko itu curiga dengan berat gula merah itu dan dia pun menimbangnya. Ternyata beratnya tidak sampai 1 Kg, hanya 900 Gram. Tangannya gemetar dan dadanya terasa seperti ingin meledak. “Jadi selama ini dia membohongiku. Berapa banyak kerugian yang aku alami. Penipu !” teriaknya dalam hati.

Hari itu lelaki miskin itu di datanginya dengan membawa gula merahnya. “Kamu telah menipu saya ! Kamu bilang gula merah ini 1 Kg ternyata hanya 900 Gram saja !” teriak penjual toko.

Lelaki miskin itu menundukkan kepalanya dan berkata: “ Kami orang miskin. Kami tidak punya timbangan di rumah. Kami membeli beras di toko Bapak seberat 1 Kg dan itulah yang kami jadikan timbangan untuk menimbang gula merah”

Semoga bisa kita petik hikmahnya!!🙏🙏

Orang Ketiga Itu Bernama Aidit

Siti Rahmiati binti Rachim, itu namaku. Usiaku sudah sembilan belas tahun. Malam itu betul-betul malam tak terlupakan dalam hidupku.

Bapak dan ibu sedang menerima tamu, tampaknya orang penting. Tak lama ibu masuk ke kamarku.

"Ada tamu, Bu? Siapa?" Tanyaku.
"Bung Karno." Ucap ibu pendek.

Aku pun terlonjak. "Bung Karno, presiden?" Tanyaku mengulang.

Ibu mengangguk. "Ya, Bung Karno presiden, beliau datang untuk melamarkan kamu, Rahmi."

Aku nyaris terpelanting dari kursi karena begitu kaget. "Pemuda sinting mana yang mau menikah denganku?" Ucapku sambil tertawa. Aku menganggap perkataan ibu hanya candaan saja.

"Dia bukan pemuda biasa, dia Mohammad Hatta." Tukas ibu tegas.

Akupun tersedak. "Mo... Mohammad Hatta, Bung Hatta wakil presiden kita, Bu? Ta... tapi beliau sudah tua, Bu. Lebih pantas jadi bapak atau paman Rahmi?"

"Pikirkan matang-matang, Rahmi." Ucap ibu lagi.

Akupun terdiam.

"Orang bilang, diam itu pertanda setuju." Ucap ibu tak lucu.

18 November 1945

"Dengan ini kami nikahkan Rahmi binti Rachim dengan Bung Mohammad Hatta dengan mas kawin sebuah buku berjudul: Alam Pikiran Yunani."

Sah!

1956

Keperhatikan setiap inci sosok yang sedang terpekur khusyuk di atas sajadah biru tua. Kak Hatta baru selesai shalat Maghrib, sujudnya lama sekali. Dua tangannya terangkat di depan dada, lirih merapal doa, sama panjang dengan sujudnya yang lama. Matanya menerawang, berkali-kali menghela napas panjang.

Aku tahu, ini adalah keputusan yang teramat berat. 11 tahun dua sahabat itu saling berjabat erat mengurus rakyat tanpa rehat. Aku juga tahu pergumulan batin yang menyiksanya begitu hebat ketika dia harus mengambil keputusan berat, meninggalkan Soekarno dengan segala keinginannya.

Dwitunggal Indonesia itu berharap mengawal Indonesia sepenanggungan berdua. Tidak berat sebelah, walau nyatanya Kak Hatta-ku terlalu banyak mengalah.

Kutatap kakak terkasih ini lekat-lekat. "Sembahyangnya lama sekali, Kak?" Ucapku sambil mencium tangan keriputnya. Ia segera meraih bahuku, mencium syahdu puncak kepalaku, melantunkan doa khusus untukku.
"Banyak yang Kakak minta kepada Allah Swt., semoga ke depan rakyat Indonesia semakin sejahtera.

1960

Deru mobil Buick bernomor B-17845 terdengar memasuki gerbang. Aku tergopoh menyambut kedatangan Kak Hatta yang baru pulang dari tugas mengajar di UGM, Yogyakarta. Pak Wangsa membukakan pintu mobil, Kak Hatta keluar dengan wajah yang tampak lelah.

"Kakak tampak lelah, silakan diminum dulu." Kuraih tangan kanan Kak Hatta, menciumnya dengan takzim.

"Alhamdulillah. Aku bisa beristirahat lebih banyak. Bukankah ini kabar baik untuk Mutia dan Gemala? Mulai minggu depan aku sudah tidak bolak-balik Jakarta - Yogyakarta lagi." Ucapnya tegar, walaupun suaranya terdengar bergetar.

Aku menghela napas. Empat tahun sudah Kak Hatta meninggalkan istana. Waktunya lebih banyak tercurah pada bidang akademis. Mengajar dan mendidik adalah napas bagi Kak Hatta.

Aku hanya bisa mencuri pandang ke pak Wangsa sekertaris setianya. Pak Wangsa gugup lalu menunduk. "Wakil rektor UGM menemui Bung Hatta setelah mengajar. Beliau menyampaikan keinginan Soekarno agar Hatta berhenti dari kegiatan mengajar di UGM." Ujarnya pelan takut terdengar.

Napas panjang kembali kuembuskan. Teringat sebuah surat yang Kak Hatta kirimkan awal tahun lalu ke Wakil Ketua Dewan Kurator UGM, yang berbunyi:

Nama Universitas Gadjah Mada terlalu baik untuk dicemarkan dengan pengajaran yang salah dasarnya, hanya untuk memuaskan aliran politik seseorang. Bukan yang sementara yang harus dibela oleh Universitas Gadjah Mada, melainkan kebenaran dan tujuan yang kekal.*

1962

Aku mengetuk pintu dengan ragu. Kulihat Kak Hatta begitu serius menekuri buku yang dibacanya. Tapi ini sangat penting, aku sudah tidak dapat lagi menyimpannya sendiri.

"Kak Hatta, aku sudah menyimpan surat ini selama dua hari." Ragu-ragu aku menyerahkan beberapa lembar tagihan kebutuhan dasar bulanan.

"Ini sudah keterlaluan. Lihat jumlahnya! Beberapa kali lipat dari uang pensiun wakil presiden yang aku terima. Bagaimana dengan rakyat?" Kak Hatta pun kemudian terdiam.

Tarif listrik, gas, transport, dan kebutuhan dasar lainnya naik gila-gilaan. Kak Hatta pun bangkit dari ruang perpustakaan, kudengar ia bergumam. "Inikah masa depan Indonesia?"

1 Oktober 1965

Aku tahu betul ketidakharmonisan Kak Hatta dengan Partai Komunis Indonesia. Sejak meninggalkan istana, Kak Hatta menjadi incaran PKI.

Teringat satu waktu ketika kami menjemput Kak Hatta yang baru dari luar negeri. Saat turun dari pesawat menuju ruang tunggu, puluhan orang menyerbu. Suasana sangat mencekam, untunglah kami selamat sampai tujuan.

Setelah mendengar peristiwa penculikan tujuh jenderal, kami tak pernah merasa tenang.

Beberapa hari setelah G-30 S/PKI Jakarta sunyi sepi bagai kota mati.

Anganku pun mendaratkan ingatan tahun 1958. Di ruang tamu ini, aku mendengar Kak Hatta bicara empat mata dengan Soekarno. Belum pernah aku mendengar Kak Hatta begitu marah. Suaranya menggelegar melepas marah. "Kalau begini terus, berikan saja negara ini kepada PKI. Kau sudah hilang akal, kau masukkan PKI dalam kabinet."

Kudengar Bung Karno pun tak kalah sengit menjawab. "Ah, PKI di sini berbeda dengan partai komunis di negeri lain, Bung!"

"Beda bagaimana?" Tukas Kak Hatta. "Sama saja! Tunduk kepada Moskow dan mengikuti semua kemauannya?" Kak Hatta mencecar Soekarno tanpa ampun.

Saat itu Kak Hatta bercerita bahwa ia baru menyadari kesalahannya.

Di masa awal kemerdekaan, Soekarno selalu mengajaknya berunding tentang masalah apapun. Namun setelah KMB 1949, Soekarno menjadi presiden yang bebas, tidak bertanggung jawab pada parlemen. Ia tak perlu berunding dengan kabinet.

Aidit dan paham komunisme hadir sebagai pelakor dalam hubungan Soekano - Hatta. Soekarno yang senang dipuji mendapatkan pasangan cocok yang suka menjilat dan memuji. Soekarno menyukai Aidit. Lebih dari itu, Aidit mampu merenggangkan hubungan keduanya. Yah, Aidit dan paham komunismenya hadir sebagai orang ketiga yang mampu merusak bukan hanya hubungan sahabat, tapi tatanan sebuah negara.
  
Tamat

Catatan:
*Dialog yang berupa surat dikutip verbatim dari buku Hatta: Aku Datang Karena Sejarah, Tafsir, Memoar, Catatan, Surat-surat, dan Kisah Hidup Bung Hatta.

*Cerita dibuat dengan POV Rahmi Hatta

Daftar Pustaka:
Sutanto, Sergius. 2017. Hatta: Aku Datang Karena Sejarah. Bandung: Qanita.

Ismail, Taufik dan Moeljanto, DS. 1995. Prahara Budaya: Kilas Balik Defensif Lekra/PKI Dkk. Bandung: Mizan.

https://historia.id/article/tag/Mohammad-Hatta/

https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/m/mohammad-hatta-io

Minggu, 21 Juni 2020

Tembang Macapat MIJIL (Pitutur Luhur)



Dedalane guna lawan sekti,
kudu andhap asor, 
wani ngalah luhur wekasane,
tumungkula yen dipun dukani, 
bapang den simpangi,
ana catur mungkur

Jalannya orang agar berguna menuju kemuliaan
Haruslah merendah diri (menghargai orang lain)
Berani mengalah untuk menang pada akhirnya
Menunduklah (Terimalah/jangan membantah) jika dimarahi (dikritik)
Jauhilah segala bentuk foya-foya (kemewahan)
Tinggalkan pergunjingan (catur) dan prasangka buruk.

Tambang : https://mhfindo15.blogspot.com/2016/10/mijil-yang-sarat-makna.html

Apa itu Kejawen ?


Kejawen bukanlah sebuah agama. Hal ini perlu kita pahami terlebih dahulu sebelum membahasnya lebih jauh. Kejawen hanyalah sebuah ajaran yang ada jauh sebelum agama monotheis masuk ke Indonesia. Ajaran ini menekankan pada tata krama yang menjadi dasar hubungan antar manusia.

Selain itu, Kejawen juga hidup dan berdampingan dengan agama yang dianut oleh pengikutnya. Artinya ajaran ini akan selaras dengan agama apa saja yang saat ini dianut pengikutnya. Akhirnya muncul apa yang dinamakan Islam Kejawen, Kristen Kejawen, hingga Hindu Kejawen.

Misi-Misi yang Harus Dilakukan Pengikut Kejawen

Pengikut Kejawen memiliki misi dalam hidupnya. Misi ini bukanlah sesuatu yang diwajibkan hingga terkesan memberatkan. Misi ini sejatinya bisa dilakukan selaras dengan kehidupan sehari-harinya. Misi itu bertumpu pada menyatukannya manusia pada Tuhan dalam dirinya. Setelah penyatuan ini manusia akan melakukan misi yang salah satunya adalah menjadi rahmat bagi dirinya sendiri. Manusia tidak akan membuat dirinya menjadi hancur karena kelakuannya yang buruk.
Misi selanjutnya adalah menjadi rahmat bagi keluarga. Kita tidak boleh membuat keluarga menanggung aib yang kita buat. Selanjutnya adalah menjadi rahmat kepada sesama manusia dan alam semesta. Artinya kita harus berbuat baik kepada orang lain dan seluruh makhluk hidup di muka bumi ini. Misi ini berjalan seiring dengan tumbuhnya manusia dari anak-anak hingga dewasa.

Mengakui Keesaan Tuhan dan Menghormati Semua Ajaran Agama

Meski menganut Kejawen, semua pengikut dari ajaran ini masih meyakini Tuhan Yang Esa. Artinya tidak ada perubahan dengan keyakinan seseorang. Jika ia seorang Muslim maka ia tetap melakukan ibadahnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan.
Kejawen menghormati semua ajaran agama. Tidak ada intervensi ke dalam agama untuk melarang atau menyuruh sesuatu. Karena Kejawen dan juga agama yang dianut berjalan berdampingan. Melengkapi satu sama lain hingga membentuk sebuah keharmonisan.

Kejawen dan Seni Budaya, Ritual, dan Tradisi Jawa

Kejawen selalu diidentikkan dengan seni budaya, ritual, dan juga tradisi yang telah mengakar di Indonesia. Seperti seni budaya wayang yang sangat kental dengan unsur Jawa. Selain itu juga ada beberapa ritual seperti ruwatan, dan suran. Tradisi-tradisi seperti slametan, dan bersih desa juga ada hingga sekarang.
Hal-hal semacam itu ada bukan bertujuan untuk menyesatkan manusia. Namun bertujuan agar manusia bisa selaras dengan alam. Selaras dengan masyarakat dan bersyukur dari apa yang telah Tuhan berikan. Beberapa hal seperti seni yang ada di Jawa bahkan digunakan sebagai metode dakwah oleh Wali Songo di masa lalu.

Hari Penting dan Kitab Ajaran

Kejawen juga memiliki beberapa hari yang dianggap sakral dan juga penting. Hal ini sama halnya hari besar dalam agama monotheis yang dianut hampir sebagian besar orang Jawa. Hari-hari itu meliputi Suran, Sepasaran, Mantenan, Mangkat, Unggahan (Puasa dan Syawal), dan Hari Raya Kupat. Karena di Jawa telah ada asimilasi dengan Islam maka hari besar seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan Mauludan juga dimasukkan ke daftar hari penting.
Selain ari penting, Kejawen juga memiliki beberapa Kitab. Kitab ini bukanlah kitab suci yang dimiliki agama besar. Kitab ini hanyalah pedoman hidup yang disajikan dengan cara yang lebih unik. Beberapa kitab yang dimiliki oleh Kejawen adalah Kakawin, Babad, Serat, Suluk, Kidungan, dan Primbon.

Kejawen dan Klenik

Apakah ada hubungannya antara Kejawen dan Klenik? Well, sebenarnya dalam ajaran Kejawen tidak ada yang namanya klenik, mistik, dan perdukunan. Memang dalam beberapa prosesi ada yang namanya keris, mantra, dan bunga. Namun hal itu hanya digunakan sebagai simbol saja. Selebihnya tidak ada.
Jadi jika ada yang mengatakan Kejawen adalah sesuatu yang berbau klenik, dan dukun perlu diluruskan. Sejatinya ajaran ini hanya menekankan pada keselarasan hidup. Mematuhi aturan dan juga membuat manusia jadi makhluk yang sangat baik. Kejawen tidak mengajarkan ilmu hitam yang banyak digunakan untuk membuat orang lain jadi menderita. 
Itulah beberapa hal yang harus kita ketahui tentang Kejawen. Semoga setelah mengetahuinya kita jadi semakin paham jika ajaran ini bukan untuk keburukan. Bahkan tidak untuk menjerumuskan manusia beragama ke jalan yang sesat. Kejawen justru mengajarkan keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, dan lingkungan sekitarnya.

Dalam Bayang-bayang Lenin (Komunis)

Sumber : Buku "Dalam Bayang-Bayang Lenin" (2016)
Pengarang : Franz Magnis Suseno

Lenin dan Marx = Atheis (Tidak Beragama)
Makna Pernyataan Karl Marx bahwa “agama adalah candu masyarakat”, juga digunakan oleh Lenin namun dalam pemahaman yg ber
Marx --> Agama : berfungsi sbg hiburan dlm situasi buruk

Karl Marx justru menganggap agama sebagai candu/ opium yang maksudnya sebagai sarana meringankan beban bagi manusia, alih-alih menuduhnya sebagai sebagai candu yang menyebabkan ketergantungan. Konteks opium adalah sebagai obat peringan beban pikiran.


Lenin -->Agama : sarana kelas berkuasa utk tipu kelas bawah
Sejak Lenin, "kebencian" thd Agama jd "Ciri Khas" semua rezim Komunis di kemudian hari

Lenin bersikap pragmatis, dan tidak menyusun susunan masy sosialis pasca Revolusi

Pertanyaannya: Setelah Revolusi Sosialis (Oktober), negara mau diapakan?
A. 1st: kaum sosdem berharap sosialisme diwujudkan mll mekanisme demokratis
B. 2nd: kaum anarkhis menuntut agar negara lgsg dihapus pasca revolusi.

A. Pandangan 1st: cukup luas diterima sosdem.
di satu pihak makin banyak penganut sosialisme yang meyakini demokrasi krn dg banyaknya proletar, ketika pemilu, bakal menang dan ambil alih kekuasaan scr demokratis.

akhir PD I, Sosdem pecah --> sayap mayoritas (moderat dan demokratis) dan sayap komunis
Lenin tolak Demokrasi krn demokrasi cita2 borjuasi yang menyelamatkan kapitalisme.

B. Pandangan 2nd: ditolak Lenin krn Negara dihapus ketika sosialisme seluruhnya mantap (tidak tahu kapan) dan jika negara sudah tidak dibutuhkan
Saat ini negara msh dibutuhkan karna --> pembangunan sosialisme terancam dihancurkan kapitalis, msh ada kls sosial lain yang ancam kemenangan sosialis.

Aristoteles dan Hegel berpendapat . . .
Adanya Negara itu jg positif. Tatanan rasional yang ditaati krn sesuai kebutuhan masy di mana ancaman dan paksaan sbg penunjang.

Tahap perwujudan Sosialisme:
Tatanan hak milik diubah scr radikal (toko2, pabrik, jd milik negara/koperasi). tapi masih menurut kecakapannya, jd msh banyak kekurangan.
Negara masih dibutuhkan dalam waktu lama.
Proletar hny rebut kekuasaan negara, tapi aparat negara dibiarkan berjalan terus, jd aparat msh bisa menghalangi krn msh bisa dikendalian birokrasi yang lama. Shg, negara harus benar2 dihancurkan.

Tujuan Revolusi Sosialis
Hilangkan negara samasekali, bentuk negara baru di tangan proletariat
Jd, hasil revolusi Sosialis = Kediktatoran Proletariat (= totaliter)

LEON TROTSKY
Arsitek Rev.Oktober & membentuk dan pimpin tentara merah yang nyerang tentara putih & 18 negara imperalis.
Mendirikan : Komintern / Komunis Internasional
Dalam tradisi Marx, tolak : tolok ukur moral dalam politik.
Tindakan baik/buruk --> tergantung efektifitasnya utk mantapkan kekuasaan kelas buruh
Trotskyisme = teori Marxis ortodoks dan Bolshevik-Leninis, dan mendukung pendirian sebuah partai pelopor dari kelas pekerja

Trotsky masuk Kaum Sosdem
15 Maret 1917, demo terus menerus buruh Petrograd (nama St.Petersburg dulu) memaksa Raja Tsar turun tahta.
6 Okt = Trotsky dipilih jd Ketua Soviet, Wakil Buruh, dan Prajurit Petrograd

Pada Revolusi Oktober (7 Nov 2917), Ambil alih stasiun2, pembangkit listrik, bank sentral, dll.

Setelah revolusi Oktober, Trotsky jabat Komisar Rakyat utk LN (Luar Negeri)
Gabung Partai Komunis Uni Soviet
membentuk Oposisi Kiri utk lawan kaum Stalinis, lalu Trotsky dipecat dan diasingkan

Marx
kesadaran proletariat hny tumbuh dr perjuangannya yang harus dipompakan dr luar

EDUARD BERNSTEIN
Marxisme : transisi dr kapitalisme ke sosialisme bisa terjadi scr demokratis (tanpa revolusi) dg langkah sedikit demi sedikit

KARL KAUTSKY (si penjaga Marxisme Ortodokes)
revolusi sosialis = harus. Tapi menolak usaha revolusioner sebelum kapitalisme sendiri sudah "matang" (udh diambang kehancuran/krisis)

ROSA LUXEMBURG
setuju dg Kautsky. tapi tolak usaha revolusioner buruh.
krn revolusi hrs ada kesadaran (yang berkembang dg sendirinya dr pengalaman2 yang dialami)

LENIN
setuju dg Luxemburg, hrs ada kesadaran. tapi gabisa spontan. hrs didorong mll partai revolusioner

Stalin berkuasa : kepala negara Rusia (1920an-1952)
tahun 1921 kesehatan Lenin memburuk, Konite Sentral angkat Stalin jd sekjen Partai & meletakkan kepemimpinan partai dan negara ke tangannya.

Surat wasiat Lenin: menghimbau Stalin digantikan dg orang yang lebih sabar, setia, dan manusiawi, berhasil dicegah pengumumannya oleh Stalin.
Menobatkan diri jd pewaris Lenin : ketika membakukan ajaran2 lenin jadi "Leninisme" dalam memberikan kuliah di suatu Universitas.
Kemudian, masuklah ke dalam sejarah sbg "Stalinisme"

Sejak itu, komunisme --> jd sinonim dg kediktatoran totaliter tanpa kebebasan sbg sistem penindasan, teror, dan kekejaman tanpa tanding
Jml korban komunisme = >100 juta orang mati dalam 62 tahun (1917-1979) dr zaman Lenin sampai Stalin
itu terjadi aras nama sebuah ideologi yang mengklaim akan membawa kebebasan & kebahagiaan bagi umat manusia.
Berbeda --> Revolusi Prancis yang menewaskan puluhan ribu orang tapi melahirkan raranan kenegaraan yang jauh lebih beradab

Stalinisme = sanggahan Leninisme
Stalin batalkan --> pelanjutan revolusi ke Eropa Barat
--> paksa petani lepaskan tanah mereka yang diubah menjadi koperasi (6jt dibunuh)
fasisme = reaksi borjuasi
komunisme = kekerasan yang diperlukan proletariat : benar

Lenin & Trotsky tidak haus kekuasaan seperti Stalin = pembentuk Sistem Soviet
Menurut Trotsky, Komunisme jd sistem penindasan totaliter krn "diselewengkan" oleh Stalin
Stalinisme = Penyelewengan Leninisme. Bukan perkembangan logis Leninisme.

Kritik penulis : penindasan totaliter tsb karna sistemnya sendiri, bukan pada tokohnya.
Karna di negara2 komunis lainnya (Eropa, Asia, Afrika) belum tentu teror totaliternya sama

Akhir tahun 1921 (Lenin sakit), sistem kediktatoran partai sudah mapan
Lenin ambil tindakan keras bukan karna haus kekuasaan, tapi krn satu2nya cara utk mengamankan Revolusi Oktober.
shg ambil kebijakan2 yang berakibat jutaan petani mati kelaparan, pengkritik ditangkap dan ditempatkan di kam-kam kerja, proses hukum dikesampingkan, dll.
Politbiro: komite eksekutif Komite Sentral Partai Komunis - didirikan Lenin 1920
Kekuasaan mutlak ada di tangan sekelompok orang : Politbiro, di mana pandangan sekelompok orang di pusat akan menentukan segalanya.
Jd, yang berkuasa mereka, bukan "proletariat" yang mereka atasnamakan
Kediktatoran partai dilakukan scr kolektif oleh Politbiro

Ciri totaliter rezim-rezim komunis berakar pada peremehan Lenin terhadap kaum Buruh (krn dianggap intelektualnya rendah, shg tidak bisa memimpin revolusi, shg butuh wali yaitu partai). hal ini berlaku jg setelah revolusi.
Selain itu, jg karna "penyelewengan ideologis" = bahwa partai mahatahu

Marxisme ortodoks (pola berpikir Marx dan Hegel) --> selalu meremehkan pertimbangan moral sbg tipuan ideologis. Pragmatisme kekuasaan memperkuat sikap meremehkan tsb. Shg partai meremehkan jatuhnya korban dalam "membangun sosialisme"
shg, Fokus Lenin : kekuasaan

Marxisme-Leninistik : meruntuhkan apa yang pernah dicita2kannya, yaitu perwujudan masy yang sama2 bebas, sama2 sejahtera, sama2 terhormat, dan solider satu sama lain.

Buku (2nd Book) : "Dalam Bayang-Bayang Lenin" (2016)
Author : Franz Magnis Suseno (Romo Magnis)

Buku 1st : "Pemikiran Karl Marx : Dari Sosialisme Utopis ke Perselisian Revisionisme" (1999)

Buku 3rd : "Dari Mao ke Marcuse : Percikan Filsafat Marxis Pasca-Lenin" (2013)