Selasa, 22 Desember 2020

Muhammadiyah Koreksi Waktu Subuh

Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Musyawarah Nasional (Munas) ke-31 di Universitas Muhammadiyah, Gresik, Jawa Timur, Minggu (20/12/20) telah memberikan koreksi waktu subuh untuk negara Indonesia, dari yang semula posisi matahari di ketinggian minus 20 derajat menjadi minus 18 di bawah ufuk.

Dengan adanya keputusan tersebut, maka waktu subuh di Indonesia diundur sekitar 8 menit. Misalnya, bila waktu Subuh di Indonesia Bagian Barat (WIB) menunjukkan pukul 03.50 WIB, maka awal waktu subuh mundur 8 menit menjadi 03.58 WIB.

Keputusan PP Muhammadiyah itu berdasarkan pada temuan riset ilmiah yang dilakukan Islamic Science Research Network (ISRN) UHAMKA, Pusat Astronomi Universitas Ahmad Dahlan (Pastron UAD), dan Observatorium Ilmu Falak Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (OIF UMSU).

Berdasarkan Alquran dan Hadis penentuan waktu subuh adalah berdasarkan fenomena alam, yaitu saat terbit fajar sampai menjelang matahari terbit.

Selama ini fajar dianggap telah terbit saat matahari pada posisi sudut depresi 20 derajat di bawah ufuk yang setara dengan 80 menit sebelum matahari terbit (1 derajat equal dengan 4 menit).

Padahal dari hasil observasi sementara, fajar dimulainya Shalat Subuh bagi umat Islam Indonesia baru terjadi saat sudut depresi matahari pada kisaran 18 derajat di bawah ufuk atau bila dikonversi dalam domain waktu setara dengan 72 menit sebelum matahari terbit.

Ketetapan waktu subuh sebelumnya pada posisi matahari di ketinggian minus 20 derajat tersebut tampaknya diperoleh ulama masa lalu dari standar yang digunakan di Mesir 19,5 derajat atau dari Saudi 18 derajat di bawah ufuk.  Padahal posisi negara-negara tersebut ada di lintang tinggi, sementara Indonesia di khatulistiwa.

https://www.kompas.tv/article/132209/munas-tarjih-muhammadiyah-koreksi-waktu-subuh-mundur-8-menit 

Minggu, 20 Desember 2020

Mengintip’ Eksistensi Ruh : Ruh Tidak Dimintai Pertanggung-Jawaban

MASIH banyak yang rancu antara JIWA dan RUH. Dalam bahasa aslinya di Al Qur’an, keduanya menggunakan istilah yang berbeda. JIWA menggunakan kata NAFS (tunggal) dan ANFUS (jamak). Sedangkan RUH tetap menggunakan istilah RUH (tunggal), dan jamaknya ARWAH. Tetapi, saya belum menemukan penggunaan kata ruh dalam bentuk jamak di Al Qur’an. Selalu dalam bentuk tunggal. 

Kerancuan itu, bahkan juga terjadi di terjemahan ayat-ayat Qur’an keluaran Depag. Yakni menerjemahkan kata ‘nafs’ atau ‘anfus’ dengan ruh. Mestinya diterjemahkan sebagai ‘jiwa’. Misalnya, dalam ayat berikut ini. 

QS. At Takwiir (81): 7

Dan apabila ruh-ruh (anfus) dipertemukan (dengan tubuh), 

Dan kemudian merembet ke pemahaman ayat berikut ini, saat JIWA diminta bersyahadat oleh Allah di dalam rahim. Di ayat ini jelas menggunakan istilah ANFUS (jiwa-jiwa). Tetapi, masih banyak umat Islam yang memahaminya sebagai ‘ruh-ruh’. Meskipun dalam Al Qur’an Depag sebenanya sudah diterjemahkan sebagai  ‘jiwa’. Sehingga ada kepahaman yang salah kaprah tentang adanya ‘alam ruh’ dimana ruh-ruh manusia diminta bersyahadat. Padahal, mestinya proses bersyahadat itu terjadi di dalam rahim, sesaat setelah bertemunya sel telur dan sperma. 

QS. Al A’raaf (7): 172

Dan, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari organ reproduksi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap JIWA-JIWA (anfus) mereka: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Benar (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi”. (Yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan Tuhan)”, 

Dari sini, kita juga bisa memperoleh informasi penting bahwa RUH itu TUNGGAL, dan SAMA untuk seluruh makhluk. Sedangkan JIWA bisa berbeda-beda pada setiap makhluk hidup. Jadi ruh saya dan ruh Anda SAMA. Tetapi jiwa kita berbeda. 

Ibarat komputer dengan sumber listriknya. Jika Listrik diibaratkan ruh, maka komputer itu ibarat badan manusia dengan jiwanya. Badannya berupa hardware, jiwanya berupa software. Listriknya sama. Anda bisa menancapkan colokan listrik itu dimana saja, hasilnya tetap sama. Meskipun komputer Anda dari merek dan spesifikasi yang berbeda-beda. 

Nah, lagi-lagi ibarat komputer, substansi dasarnya adalah software. Bukan hardware ataupun listrik. Keberadaan hardware dan listrik itu ada dalam rangka mewujudkan peran software. Kurang lebih begitulah manusia. Yang substansial adalah JIWA. Bukan jasad atau ruh. Karena itu yang kelak dimintai pertanggungjawaban oleh Allah (dan manusia) juga bukan jasad ataupun ruh, melainkan jiwa. 

Tidak ada ‘ruh baik’ dan ‘ruh jahat’. Ruh itu sekedar potensi ketuhanan. Bergantung pada jiwanya, apakah dia mau menggunakan potensi itu untuk kebaikan ataukah kejahatan. Misal, sifat BERKUASA, bisa saja digunakan untuk kebaikan atau kejahatan. Sifat BERKEHENDAK, juga bisa untuk kebaikan atau kejahatan. Sifat Mendengar, Melihat, Berilmu, Berbuat, dan seterusnya, awalnya sekedar potensi ruh, dan kemudian menjadi baik atau jahat ketika diterapkan oleh jiwa. Maka, jiwa harus mempertanggung-jawabkan semua itu. Bukan ruh, bukan jasad. 

Potensi kemanusiaan berada di Jiwa. Dan kualitas jiwa itu pula yang membedakan seseorang dengan orang yang lain. Baik ataupun jahat. Karena itu kalau jiwanya sakit, ia tidak dimintai pertanggung-jawaban. Kalau badannya yang sakit, masih dimintai pertanggungjawaban. Meskipun nanti menunggu saat kesehatannya sudah membaik. Sedangkan ruh tidak bisa sakit ataupun sehat. Dia sekedar potensi dasar. Karena itu, berbagai ayat Al Qur’an menjelaskan tentang kualitas jiwa yang terus mengalami proses penyempurnaan itu. 

QS. Asy Syams (91): 7-10

Demi JIWA (nafs) serta proses penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (potensi) KEBURUKAN (fujur) dan KEBAIKAN (takwa), sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwanya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. 

Maka kita mengenal beberapa kualitas jiwa. Diantaranya, ada jiwa yang jelek dan merusak, disebut sebagai ‘hawa NAFSu’ atau ‘NAFSul hawa’. Ada yang emosional tak terkendali disebut ‘NAFSul amarah’. Ada yang sedang berproses menjadi baik dan suka menyesali perbuatan buruknya, disebut NAFSul lawwamah. Dan ada pula jiwa yang sudah TENANG & DAMAI, disebut ‘NAFSul Muthmainnah’. Yang terakhir ini disebut sebagai tingkatan yang sangat tinggi dari kualitas jiwa, yang digambarkan dalam ayat berikut ini. 

QS. Al Fajr (89): 27 – 30

Hai jiwa yang tenang dan damai (nafsul muthmainnah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. 

Lantas, bagaimanakah hubungan antara badan, jiwa dan ruh itu? BADAN adalah eksistensi yang bersifat material, JIWA adalah eksistensi yang bersifat energial, sedangkan RUH adalah eksistensi yang belum diketahui zatnya, tetapi memuat informasi. Tanpa ada informasi, badan dan jiwa kita tidak akan berfungsi. Sel-sel kita akan berhenti berproses. Tidak ada metabolisme, tidak ada regenerasi, tidak ada duplikasi, tidak ada reaksi-reaksi apa pun di tingkat selular, organik, maupun tubuh secara keseluruhan. Tubuh kita tak lebih hanya akan menjadi onggokan material tanpa aktifitas kehidupan. 

Demikian pula, tanpa ada informasi dari ruh, jiwa kita juga bakal stagnan. Karena struktur energi dalam jiwa kita bekerja seiring dengan struktur materi badan. Khususnya otak. Jika otak mati, maka energi kehidupan yang berupa jiwa di balik otak itu pun ikut mati. Sinyal-sinyal kelistrikan yang dipandu oleh informasi ruh di miliaran sel-sel sarafi itulah yang menghasilkan kualitas jiwa. 

Maka, dimanakah ruh dan dimanakah jiwa? Ruh meliputi seluruh tubuh manusia, mulai dari tingkat selular, organik, sampai totalitas tubuh. Pokoknya dimana ada informasi kehidupan, maka disitu ada ruh. Rambut kita hidup, maka ia diliputi oleh ruh. Kuku jari kaki kita juga hidup, ia pun diliputi ruh. Sedangkan jiwa, adalah software yang inheren di dalam sirkuit-sirkuit sarafi otak kita. Sehingga kalau sirkuit-sirkuit itu mengalami kerusakan, jiwa pun akan mengalami masalah.

Hubungan antara badan, jiwa dan ruh pada manusia yang hidup, memang tidak bisa dipisah-pisahkan. Badan dan jiwa itu mirip dua sisi yang berbeda dari satu keping mata uang yang sama. Karena, materi dan energi memang bisa saling berubah menjadi satu sama lain. Sedangkan ruh, ‘menyifati’ keduanya. Atau, mengendalikan proses-proses material-energial secara informasi berdasar ‘sifat-sifat’ itu. 

Maka, ketika suatu saat badan seseorang manusia rusak total, dan kemudian mati, struktur energialnya masih bisa lepas sendiri di dalam pengaruh ruh. Dalam ilmu kedokteran jiwa disebut sebagai badan halus alias bioplasma. Itulah yang diceritakan Al Qur’an, bahwa orang yang mati itu sebenarnya masih hidup di alam jiwa. Alam energial. Mirip peristiwa mimpi, dimana badan kita masih berada di atas kasur, tetapi jiwa kita bisa melanglang buana kemana-mana. 

QS. Al Baqarah (2): 154

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang GUGUR di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; sebenarnya mereka itu HIDUP. Tetapi kamu tidak menyadarinya. 


https://catatanagusmustofa.wordpress.com/2012/01/18/mengintip-eksistensi-ruh-ruh-tidak-dimintai-pertanggung-jawaban/

Jumat, 18 Desember 2020

Sedulur Papat Lima Pancer dalam Sufisme Jawa

 “Islam mengenal syariat, tariqat, hakikat dan makrifat dalam ajaran sufismenya, Jawa mengenal ajaran sufisme dengan sedulur papat limo pancer.”

 

Sedulur papat lima pancer dalam pemahaman orang Jawa merupakan puncak kesatuan dengan Illahi. Dalam pandangan ini, tubuh manusia ibaratkan sebagai kerajaan yang menempatkan pancer sebagai pemimpin dan sedulur papat sebagai yang diatur. Jika sedulur papat ini selaras dengan pemimpinnya (pancer), maka manusia akan menemukan kesatuan kehidupan dan Tuhannya.

Sedulur papat dalam keyakinan sufisme Jawa ialah nafsu. Nafsu inilah yang menjadi tindakan manusia yang mewujud menjadi rasa dan keinginan. Dalam ajaran Sunan Kalijaga sebagaimana dikutib oleh Tibun Raharjo (2012) sedulu papat dikenal dengan kanespon yang terdari empat nafsu yaitu aluamah, sufiyah, amarah dan mutmainah.

Pertama, nafsu aluamah, ialah keinginan yang paling dasar dalam hidup, berupa keinginan makan dan minum. Jika manusia memiliki banyak keinginan untuk makan, berdampak tidak baik dalam tubuh maupun pikiran. Makan yang terlalu banyak menjadikan manusia malas, tidak banyak beraktivitas dan berisiko terserang banyak penyakit.

Kedua, nafsu sufiyah, yakni nafsu yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial manusia. Nafsu ini memengaruhi keinginan manusia agar disanjung, memiliki pangkat, derajat, loba, tamak dan lainnya. Pada dasarnya kebanyakan manusia memiliki keinginan untuk dinilai lebih daripada manusia lain. Nafsu ini mampu menggerakkan manusia untuk berbuat jahat kepada manusia lainnya. Nafsu ini membuat manusia selalu gelisah dan mengusahakan berbagai cara agar memperoleh kekuasaan dan penghargaan.

Ketiga, nafsu amarah, ini merupakan muntahan sifat amarah melalui rasa marah, emosi dan kekecewaan terhadap apa yang menimpa diri manusia. Nafsu ini membuat seseorang menjadi tidak tenang, sehingga perilaku yang ditumbulkan menjadi tidak layaknya manusia. Nafsu amarah ini terkadang membuat manusia berperilaku di luar batas layaknya hewan buas, bahkan bisa lebih buas daripada hewan.

Keempat, nafsu mutmainah, adalah nafsu yang mengajak pada arah kebaikan, seperti membantu orang, rasa empati, simpati, beribadah dan bergembira. Nafsu ini dipengaruhi oleh persepsi yang membentuk pemahaman tentang kebaikan manusia seperti halnya ajaran agama, budaya dan pengalaman hidup manusia. Namun nafsu mutmainah jika berlebihan juga tidak baik bagi manusia itu sendiri, sebab dia akan lupa melihat dirinya sendiri jika terlelap kesenangan bersama dirinya.

Ketika sedulur papat tidak dapat dikendalikan, maka kehidupan seseorang akan semrawut. Seseorang akan dirundung kegelisahan dan melampiaskan segala keinginan. Jika keinginan itu gagal, maka akan berakibat pada kesedihan dan kemarahan yang berkepanjangan serta sulit beradaptasi dengan lingkungan sekitar.

Dalam kaitan bagaimana manusia mengendalikan nafsu-nafsu tersebut, baik ajaran Islam maupun Jawa menganjurkan manusia untuk puasa. Hal ini dimaksudkan untuk menekan nafsu sehingga pikiran menjadi tenang, jiwa dan raga menjadi sehat, sehingga nafsu-nafsu tidak saling menguasai diri dan menekan pancer atau jati diri.

Pancer ialah hati nurani yang mengendalikan sedulur papat atau nafsu-nafsu dalam diri. Dalam pandangan Jawa, hal ini dikenal dengan Nur Muhammad yakni guru sejati. Sebagai guru sejati pancer adalah penyeimbang jagad kecil dalam diri manusia atau dikenal dengan roso jati sejatining roso.

Ketika pancer sedah ditemukan atau aktif dalam diri, manusia akan mampu mengendalikan dirinya dan menempatkan dirinya di berbagai situasi. Sehingga membuat manusia tidak gampang gelisah dalam menjalankan kehidupan. Aktifnya pancer membuat nafsu-nafsu terkendalikan, manusia akan bijak kapan waktunya marah, sedih, senang dan bahagia dengan kadar yang semestinya.

Dalam sufisme Jawa sedulur papat lima pancer merupakan istilah untuk menggambarkan pengenalan diri secara mendalam. Manusia memiliki hati nurani untuk menentukan kebijakan dalam merespon segala permasalahan yang ada, yang dikenal dengan pancer. Sedang sedulur papat ialah perwujudan nafsu atau respon pada diri atas segala hal yang ada.

Jika manusia mengenal sedulur papat lima pancer, berarti dia sudah mengenal dirinya. Mengenal dirinya berarti mengenal Tuhannya. Perkenalan ini mengarahkan pada penyatuan dengan Tuhan yang Maha Esa. Melalui pengendalian nafsu dan pemahaman mengenai jati diri, mengarahkan manusia untuk menyadari tentang hakikat kehidupan dunia., sehingga manusia akan menyadari apa yang harus dilakukan di dunia ini.

Kehidupan ini ialah lakon, dan manusia ialah wayangnya. Pengenalan terhadap Sedulur papat lima pancer akan menuntun manusia untuk melakoni lakon kehidupan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Pada intinya sedulur papat lima pancer ialah diri manusia dengan segala nafsu-nafsu yang menyelimutinya. Pengendalian terhadap sedulur papat oleh pancer pada manusia, ibarat manusia mengendalikan mesin. Mesin akan bermanfaat apabila manusia mengendalikannya dengan bijak. Sebaliknya apabila manusia tidak memahami mesin, diri manusia justru akan dikendalikan oleh mesin itu sendiri. []

----------------------------------------

Muhamad Syaiful 

Institute for Javanese Islam Research
Jurusan Aqidah & Filsafat Islam
Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah
IAIN Tulungagung
Jl. Mayor Sujadi Timur 46, Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia.
Kodepos: 66221
email: pusatkajianislamjawa@gmail.com

----------------------------------------


Oleh: Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd.I

Falsafah Sedulur Papat Kalima Pancer adalah falsafah Jawa Kuno yang memiliki makna spiritual teramat dalam. Kelima elemen dasar dalam falsafah tersebut berbicara tentang kelahiran seorang manusia (jabang bayi) yang tidak lepas dari empat duplikasi penyertanya. Duplikasi tersebut dimaknai sebagai sedulur (saudara) yang tak kasat mata, yang akan menyertai kehidupan seseorang sejak lahir hingga matinya. Mereka itu antara lain:

Watman : yaitu rasa cemas / kawatir dari seorang ibu ketika hendak melahirkan anaknya. Ibu harus berjuang antara hidup dan mati dalam proses kelahiran. Watman adalah saudara tertua yang menyiratkan betapa utamanya sikap menaruh hormat dan sujud pada orang tua khususnya ibu. Kasih sayang, perhatian dan doa ibu adalah kekuatan yang akan mengiringi perjalanan hidup sang anak.

Wahman : yaitu kawah atau air ketuban. Fungsi air ketuban adalah menjaga agar janin dalam kandungan tetap aman dari goncangan. Ketika proses kelahiran terjadi, air ketuban pecah dan musnah menyatu dengan alam, namun secara metafisik ia tetap ada sebagai saudara penjaga dan pelindung.

Rahman : yaitu darah persalinan. Darah adalah gambaran kehidupan, nyawa dan semangat. Darah persalinan pada akhirnya musnah dan menyatu dengan alam, namun secara metafisik ia tetap ada sebagai saudara yang memberi semangat dalam perjuangan mengarungi kehidupan. Darah juga gambaran kesehatan jasmani dalam hidup seseorang.

Ariman : yaitu ari-ari atau plasenta. Fungsi ari-ari adalah sebagai saluran makanan bagi janin dalam kandungan. Ariman adalah saudara tak kasat mata yang menolong seseorang untuk dapat mencari nafkah dan memelihara kehidupannya.

Dan sebagai yang kelima adalah Pancer (Pusat) yaitu si jabang bayi itu sendiri. Ketika jabang bayi itu lahir, tumbuh dan dewasa, maka ia tidaklah sendirian. Keempat saudaranya Watman, Wahman, Rahman dan Ariman senantiasa menemani secara metafisik. Mereka adalah saudara penolong dalam mengarungi kehidupan hingga seseorang kembali lagi pada Sang Pencipta. 

Pancer atau Pusat juga dimaknai sebagai “Ruh” yang ada dalam diri manusia, yang akan mengendalikan kesadaran seseorang agar tetap “eling lan waspodo”, ingat pada Sang Pencipta dan menjadi insan yang bijaksana. Jadi sedulur papat berperan sebagai potensi / energi aktif, sedangkan pancer sebagai pengendali kesadarannya.

Kesadaran kosmik tentang adanya saudara penyerta dalam falsafah Sedulur 4 Ka-5 Pancer pada akhirnya akan mengaktifkan potensi dalam diri seseorang. Seseorang yang mampu menggali potensi Sedulur Papat Kalima Pancer akan menjadi seseorang yang sukses seutuhnya. Pada tingkat kesadaran tertentu orang tersebut bahkan dipercaya dapat mencapai “kesaktian” yang supranatural.

Dalam persepsi moralitas dan spiritualitas, orang yang memiliki kesadaran Sedulur Papat Kalima Pancer dapat dimaknai sebagai orang yang memiliki etika tinggi. Etika ini mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam berbagai hubungan dan perannya dalam masyarakat. Dalam keluarga, pekerjaan, pendidikan, kerohanian, kesehatan maupun hubungan-hubungan sosial lainnya. Banyak orang mengklaim dirinya sukses, tapi hanya dalam bisnis saja, sedangkan rumah tangganya berantakan, tubuhnya sakit-sakitan, jiwanya tertekan. Ini bukan sukses yang sejati.

Falsafah Sedulur 4 Ka-5 Pancer merupakan falsafah dasar yang kemudian dapat dikembangkan dalam berbagai pakem-pakem Jawa. Misalnya pakem tentang hari-hari Jawa, yaitu pasaran Legi (Timur), Pahing (Selatan), Pon (Barat), Wage (Utara) dan Kliwon (Tengah/Pusat). Dalam tradisi pewayangan juga dikenal tokoh Punakawan: Semar, Petruk, Gareng, Bagong yang menemani dan melayani tokoh pusat yaitu Arjuna. Hal ini juga menggambarkan keempat kuda pada kereta perang Arjuna yang dikendalikan oleh kusirnya yaitu Krisna. Pada periode Islam Jawa, dikenal pula keyakinan tentang malaikat penyerta yaitu Jibril, Mikail , Isrofil, dan Ijro’il yang akan membawa seseorang mencapai Sidrathul Muntaha atau menyertai hidup manusia hingga mati menghadap kepada Sang Ilahi.

Seperti yang sudah-sudah, falsafah Jawa selalu sarat dengan perlambangan, sehingga ia kaya akan interpretasi tanpa mengeliminir substansi-nya. Demikian pula falsafah Sedulur 4 Ka-5 Pancer, secara normatif dapat berupa perlambangan untuk makna yang jauh labih hakiki. Sedulur 4 menggambarkan elemen dasar dalam diri manusia (ego) yaitu Cipta, Rasa, Karsa dan Karya.

CIPTA adalah pikiran, sumber dari segala logika, idea, imajinasi, kreativitas dan ambisi. Pikiran adalah manipulasi otak atas informasi untuk membentuk konsep, penalaran dan pengambilan keputusan.

RASA adalah emosi atau reaksi afekif atas peristiwa dan pengalaman hidup. Berbagai ekspresi emosi begitu kaya, bahkan jauh lebih kaya daripada bahasa yang dapat mengungkapkannya.

KARSA adalah kehendak atau niat, yaitu motivasi dalam diri individu untuk melaksanakan keputusan dan rencananya. Seseorang dapat termotivasi oleh rangsangan dari luar, namun sebaliknya juga dari dalam dirinya sendiri.

KARYA adalah tindakan, yaitu aspek psikomotor dalam diri individu yang menghasilkan suatu wujud konkret, sehingga dapat dikenali dan berdampak bagi lingkungan sekitarnya.

Keempat elemen dasar dalam diri manusia di atas akan menjadi “efektif” apabila manusia tersebut dikontrol oleh Pancer/kunci yang disebut dengan KESADARAN yang biasa diistilahkan dengan “eling”. Di sinilah letak perjuangan spiritual sesungguhnya. Ketika katup-katup kesadaran mampu dibuka, maka potensi 4 elemen dasar manusia akan menjadi kekuatan “quantum” yang luar biasa, memiliki daya ledak, menjadikan seseorang menjadi insan seutuhnya, sukses lahir batin, satria pinandhita sinisihan wahyu!

Sumber: https://afifulikhwan.com/falsafah-sedulur-papat-kalima-pancer/

______________________________________


Mantra untuk Memanggil Sedulur Papat

Orang Jawa meyakini keberadaan sedulur papat limo pancer dalam perjalanan hidupnya. Istilah sedulur papat pertama kali diketahui dari Suluk Kidung Kawedar, Kidung Sarira Ayu, pada bait ke 41-42. Suluk ini diyakini masyarakat sebagai karya Sunan Kalijaga, sekitar abad 15-16.

Ada beberapa penafsiran terkait "sedulur papat limo pancer" ini. Pertama, Kakang kawah. Kakang kawah adalah air ketuban yang membantu kita lahir ke alam dunia ini. Karena keluar terlebih dahulu masyarakat kejawen menyebutnya dengan Kakang kawah atau Kakak kawah atau saudara lebih tua.

Kedua, Adi Ari-ari atau ari-ari. Setelah jabang lahir ari-ari inilah yang kemudian keluar, sehingga masyarakat kejawen menyebutnya dengan adi ari-ari atau adik ari-ari.

Ketiga, getih atau darah. Getih atau darah adalah zat utama yang terdapat pada bayi dan sang ibu. Darah jugalah menjadi pelindung pada saat bayi masih ada dalam kandungan.

Keempat, puser atau pusar. Pusar merupakan penghubung antara ibu dan anak, dengan adanya tali puser sang ibu mampu memberikan nutrisi kepada sang bayi. Puser juga merupakan saluran bernafas sang bayi. Dengan adanya puser inilah seorang ibu memiliki hubungan batin yang erat dengan bayi.

Kelima,Pancer. Pancer adalah kita sendiri sebagai pusat kehidupan ketika dilahirkan.

Ketika sang jabang bayi lahir ke dunia melalui rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari rahim ibu. Dengan izin Tuhan, unsur inilah yang menjaga manusia yang ada di bumi saat dilahirkan.

Selain itu ada pula yang menyebut sedulur papat adalah empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka adalah saudara yang setia menemani hidup manusia, mulai dilahirkan di dunia hingga nanti meninggal dunia menuju alam kelanggengan. Untuk menemukan Sang Aku Sejati (limo pancer) itulah manusia ditemani oleh sedulur papat.

Mantra Memanggil Sedulur Papat

Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Pustaka Raja Purwa menuliskan tatacara untuk berkomunikasi dengan sedulur papat. Begini terjemahannya,

Jangan lupa sambat (menyapa untuk minta dibantu) kepada mereka bila ada urusan. Demikian pula ketika minum, ketika makan, ketika duduk, berjalan, bekerja, menjelang tidur, jangan lupa menyapa kepada saudara-saudara kembar itu. Ajaklah mereka membantu atau menemani Andika dalam melakukan segala kegiatan tersebut, kecuali ketika akan tidur, sapalah mereka dan mintalah agar menjaga keselamatan Andika dari segala perbuatan buruk dari sesama makhluk, jangan diajak tidur.

Cara menyapanya cukup dibatin saja sebagai berikut: “Marmarti kakang Kawah adhi Ari-ari Getih Puser, kadang-ingsun papat kalima pancer, kadangingsun kang ora katon lan kang ora karawatan, sarta kadangingsun kang metu saka mar-gaina lan kang ora metu saka margaina, miwah kadangingsun kang metu barengan sadina kabeh, bapanta ana ing ngarep, ibunta ana ing wuri, ayo pada ……. (pekerjaan atau aktivitas yang sedang dilakukan). Sedang bila akan tidur ajakannya sebagai berikut: “Ingsun arsa turu baureksanen sariraningsun sarajadarbekingsun kang ana ing weweng-koningsun kabeh.”

Bila ada pekerjaan atau sedang mengerjakan sesuatu pekerjaan, ajaklah mereka untuk membantu, demikian: “Pada rewang-rewangana ingsun, katekanna ing sakarsaningsun. Bila sedang buang air atau membuang kotoran/penyakit, bekas luka dan lain-lain ajaklah untuk menyempurnakan pembuangan itu hingga kembali suci dan sembuh seperti sedia kala.

Terakhir, nanti bila sudah sampai janji (menemui kemati-an), saudara-saudara kembar spiritual itu sebaiknya diruwat, agar tidak menjadi penghambat di alam kubur. Meruwatnya dilakukan dalam batin sebagai berikut: “Ingsun angruwat kadangingsun papat kalima pancer kang dumunung ana ing badaningsun dhewe, Marmarti kakang Kawang adhi Ari-ari, Getih, Puser; sakehing kadangingsun kang ora katon lan ora karawatan, utawa kadangingsun kang metu saka ing margaina lan kang ora metu saka ing margaina, sarta kadangingsun kang metu barengan sadina, kabeh padha sampurna-a nirmala waluya ing kahanan jati dening kawasaningsun.”

Rabu, 16 Desember 2020

Daftar Isi Buku DK

*BAB 1 PELATIHAN AGEN KLANDESTIN*
1.1. Pembekalan Handler
1.2. Pengamanan Save House
1.2.1. Sterilisasi ruangan
1.2.2. Observasi lingkungan
1.2.3. Penggambaran Sket
1.3. Infiltrasi
1.3.1. uji cover
1.3.2. ancaman oposisi
1.3.3. kompartementasi
1.4. Surveillance
1.4.1. Matbar
1.4.2. Elisitasi
1.4.3. Counter Surveillance
1.4.4. Tanda isyarat & sandi
1.5. Debriefing
1.5.1. Evaluasi prod
1.5.2. Dokposdap
1.6. Casing & team work
.
*BAB 2 FILOSOFI INTELIJEN*
2.1. Pengertian FI
2.2. Hakikat Intelijen
2.2.1. Pengertian Intel
2.2.2. Tugas Pokok Intel
2.2.3. Early Warning (Deni, Peni, Ceni)
2.2.4. Ancaman (hakikat-kategori)
2.2.4.1. Hakikat Ancaman
2.2.4.2. Kategori Ancaman
2.3. Informasi Obyek Intelijen
2.3.1. Core bisnis
2.3.2. Bentuk Sasaran Info
2.3.3. Cara Dapatkan Informasi
2.3.4. Faktor penting dalam informasi
2.3.5. Pengolahan Informasi -- Tujuan & tahapan
2.3.5.1. Tujuan pengolahan
2.3.5.2. Tahapan pengolahan
2.4. Prinsip & Kaidah Intelijen
2.4.1. Prinsip Kerahasiaan
2.4.2. Kaidah Intelijen -- sekurity (C4)
.
*BAB 3 OPERASI KLANDESTIN*
3.1. Pengertian Klandestin
3.1.1. Pengertian
3.1.2. Perbedaan klandestin & tertutup
3.2. Karakteristik Opsklan
3.2.1. Ciri-ciri Opsklan
3.2.2. Tujuan Opsklan
3.2.3. Contoh Opsklan
3.3. Unsur Pokok Opsklan
3.3.1. Sponsor
3.3.2. Badan Intel
3.3.3. Agen (jenis, fungsi, tugas)
3.3.4. Sasaran (org, benda, temp, giat)
3.3.5. Oposisi (aktif, pasif, pembantu)
3.3.6. Sistem sekurity (elemen: C4 + sandi & RAE)
3.3.7. Metode komunikasi Klandestin (metode langsung & cut out)
3.3.8. Aspek penting Komklan
3.4. Bentuk Opsklan
3.4.1. Spionase, sabotase, Teror
3.4.2. Kontra intel
.
*BAB 4 MANAJEMEN AGEN INTELIJEN*
4.1. Umum
4.2. Pengertian (agen, informan, jaring)
4.3. Tugas & Tangwab
4.4. Jenis Agen (lap, teknis, analis, humas)
4.5. Fungsi agen (AH, AP, SA, AA)
4.6. Ketrampilan Agen
4.7. Persiapan agen lapangan
4.7.1. Pemahaman Sasaran
4.7.2. Penyiapan penyamaran
4.8. Jaring agen (langsung, TL, kombinasi)
4.8.1. Tugas jaring agen
4.8.2. Bentuk Jaring agen
4.9. Pembentukan & Pengendalian Agen (agent cycle)
4.9.1. Tahap pembentukan agen
4.9.2. Tahap Pengendalian agen
.
*BAB 5 SISTEM PENGAMANAN KLANDESTIN*
5.1. Urgensi Sistem Pengamanan
5.2. Tujuan Sistem Pengamanan
5.3. Aspek Sistem Pengamanan --- the need to know prinsiple
5.3.1. Penyamaran
5.3.2. Komunikasi Aman
5.3.3. Perlindungan penangkapan
5.4. Sistem Sekuriti Klandestin --- C4 (kode, sandi) + RAE
5.4.1. Kedok
5.4.2. Konselmen
5.4.3. Kompartementasi
5.4.4. Komunikasi
5.4.5. Skenario Cadangan (RAE Plan)
5.4.6. Hubungan elemen sistem sekuriti
5.5. Kode dan Persandian
5.5.1. Pengertian kode persandian
5.5.2. Tujuan penggunaan kode persandian
5.5.3. Tantangan dalam penggunaan kode persandian
5.6. Prosedur Pengamanan --- tertutup, aman fisik, counter Surv
5.6. Alat --- COD
.
*BAB 6 KOMUNIKASI KLANDESTIN*
6.1. Kerawanan Alat Komunikasi
6.2. Keamanan Komunikasi
6.3. Tujuan & Aspek penting Komunikasi
6.3.1. Tujuan Komklan
6.3.2. Aspek penting Komklan
6.4. Prinsip Komunikasi Klandestin
6.4.1. Prinsip Komklan (Keamanan, rahasia, cepat, fleksibilitas)
6.4.2. Tantangan Komklan
65. Metode Komunikasi Kland
6.5.1. Metode Komunikasi Langsung
6.5.2. Metode Sistem pemutus
6.6. Teknik Komklan
6.6.1. Personal meeting
6.6.2. Brush Contact
6.6.3. Kuriri
6.6.4. Live Drop
6.6.5. Penitipan alamat
6.6.6. Dead Drop
6.6.7. Surat pos
6.6.8. Iklan
6.6.9. Radio
6.6.10. Telepon
6.7. Kesimpulan
6.7.1.
6.7.2. Penggunaan Ponsel Darurat
6.8. Casing ???
.
*BAB 7 SURVEILLANCE*
7.1. Pengertian surveillance
7.2. Tujuan Utama
7.3. Metode Surveillance
7.4. Sasaran Surveillance
7.5. Dasar Surveillance
7.6. Contoh Kegiatan surveillance
7.7. Counter Surveillance
.
*BAB 8 KEDOK PENYAMARAN*
8.1.  Pengertian Kedok
8.2.  Tujuan/kegunaan Kedok
8.3.  Jenis kedok
        8.3.1. Kedok Identitas
        8.3.2. Kedok Tindakan
        8.3.3. Kedok Riwayat
8.4.  Macam kedok
        8.4.1. Kedok perorangan
        8.4.2. Kedok Kelompok
        8.4.3. Kedok Organisasi
8.5.  Kategori Kedok
        8.5.1. Kedok Jangka panjang
        8.5.2. Kedok Jangka pendek
        8.5.3. Kedok pengganti
        8.5.4. kedok berlapis
8.6.  Faktor Pengaruh
8.7.  Sifat Kedok
8.8.  Kriteria kedok
8.9. Tantangan Mengelola Kedok
..
8a. Konselmen

*BAB 9 PERSONAL MEETING*
9a. Brush Contact
.
*BAB 10 ELISITASI*

*BAB 11 SAFE HOUSE*
11a. Casing

*BAB 12 Renc RAE*
.
*BAB 13 SPIONASE ELI COHEN*

* BAB 14 LAINS*
9.1. Safe House
9.2. Kedok
9.3. Agen
9.4. Casing
9.5. RAE Plan


*BAB 11 INFOR INTEL (?)*
10.1. Umum
10.2. Pengolahan (RPI)
10.3. Pengolahan (Analisa)


Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Taat Pada Pemerintah Yg Ma'ruf

1. Amar Makruf Nahi Mungkar

a.  QS. Ali Imran: 104.

# Waltakum minkum ummatun yad’una ila al-khairi 

# ‘Wa ya’muruna bi al-ma’ruf wa yanhauna ‘ani al-munkar 

# Ulaika hum al-muflihun.

Arti:

# Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, 

# Menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; 

# Merekalah orang-orang yang beruntung.)


b. HR. Muslim.

Siapa yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.

 

2. Taat pada Allah, Rasul dan Pemerintah 

QS. An-Nisa, ayat 59 :

# Ya ayyuhalladżina amanu aṭi'ullaha wa aṭi'ur-rasụla wa ulil-amri mingkum,

# Fa in tanaza'tum fi syai`in - fa ruddụhu ilallahi war rasụli – ing kuntum tu`minụna billahi wal-yaumil-akhir,

# Dżalika khairuw wa aḥsanu ta`wila.

Arti:

# Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.

# Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.   

# Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.