SANGKAN PARANING DUMADI ; Telah menjelajahi kehidupan lebih dari 50 tahun, saatnya merenungi dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk "hari kemudian"
Rabu, 01 Desember 2021
Kufur Nikmat ; Kisah Ujian Tiga Orang Bani Israil
Selasa, 30 November 2021
Kidung Rumekso Ing Wengi
Sunan Kalijaga menggubah sebuah kidung berjudul
“Rumekso Ing Wengi”. Kidung ini juga dikenal dengan nama “MANTRA
WEDHA”, yang diyakini sebagai doa penolak bala.
Kidung ini merupakan doa permohonan kepada
Tuhan agar dijauhkan dari segala balak atau gangguan, baik yang nampak
maupun tidak.
Kidung ini biasa dinyanyikan pada malam hari,
atau selepas shalat malam. Dengan syair dan nada lagu yang pas (bagi orang jawa
kuno), tembang ini mampu menggetarkan hati dan menguatkan jiwa serta keyakinan
bagi yang melantunkannya.
Sesungguhnya kidung ini digubah oleh Sunan
Kalijaga dari surat Al-Falaq. Surat al-Qur’an ini diuah oleh kanjeng
Sunan Kalijaga dalam Bahasa jawa agar masyarakat paham akan maknanya.
Mengubah do’a surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas,
Al-Falaq & An-Nas menjadi sebuah kidung “Rumekso Ing Wengi”. Itu
adalah kidung Tolak bala
Berisi …
Kidung ini biasa dinyanyikan pada malam hari,
atau selepas shalat malam. Sebagaimana maknanya, Kidung Rumekso Ing Wengi
bertujuan menyingkirkan diri dari balak atau gangguan, baik yang nampak maupun
tidak.
Kidung ini juga mengingatkan manusia agar
mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga terhindar dari kutukan
dan malapetaka yang lebih dahsyat
Kekuatan Dzikir
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah
merupakan salah satu ulama madzhab 4. Memasuki usia senja beliau begitu ingin
pergi ke Negeri Syam.
Namun anehnya Imam Ahmad sama
sekali tidak memiliki tujuan yang jelas kenapa Ia ingin pergi ke tempat itu.
Padahal Ia harus menempuh perjalanan jauh dari kediamannya di Baghdad menuju
Syam.
Sesampainya di Syam, Imam Ahmad
berhenti untuk menunaikan salat dzuhur. Beliau sangat kelelahan, sehingga ingin
istirahat di masjid. Namun penjaga masjid tidak mengizinkan Ia tidur disana.
Imam Ahmad memohon, “Saya musafir,
saya ingin istirahat disini” Tapi
penjaga masjid menolak. Lalu sang Imam
keluar dan kembali beristirahat di pelataran masjid. Tapi lagi2 penjaga masjid
mengusirnya dg alasan aturan yg melarang.
Lalu ada tukang roti yang rumahnya
tidak jauh dari masjid melihat kondisi tersebut. Tukang Roti tersebut
memanggilnya. “Hai syekh, kemarilah beristirahatlah di toko ku, ”
Tukang roti itu terlihat mulutnya terus berdzikir. Ketika ditanya …“Ya, Allah
mengabulkan semua permintaan ku” Jawabnya.
“Lalu apa permintaanmu yang belum
dikabulkan Allah?” tanya Sang Imam. Aku ingin berjumpa dengan Imam Ahmad bin Hanbal.
“Allahu Akbar! karena Istighfarmu lah Allah SWT mendatangkan saya datang ke kota mu ini tanpa alasan yang jelas, karena Istighfarmu lah Marbot Masjid melarang saya tidur di Masjid, karena Istighfarmulah engkau menawarkan aku istirahat ditempatmu. Saya lah Ahmad bin Hanbal…
Marahnya Rasuulullah Kepada Kaisar Persia
Satu di antaranya adalah utusan yang menemui Kisra (Sultan/Kaisar) Persia. Utusan itu membawa sepucuk surat dari Rasulullah SAW yang isinya ajakan untuk memeluk agama Islam.
Lazimnya,
setiap utusan dari negara lain tentu akan diperlakukan dengan hormat. Akan
tetapi, Kisra Persia menghina utusan itu dan merobek surat dari Rasulullah SAW.
Nabi berdoa: " Ya Allah, hancurkanlah dan cerai-beraikanlah kekuasaannya.“à dihancurkan khalifah Umar bin Khatab
Muslimin Mengusir Kaum Bani Qainuka dari Madinah
Seorang Yahudi Madinah mengganggu seorang muslimah dengan mengikatkan ujung pakaian bagian belakangnya ke bagian yang lainnya. Sehingga ketika sang wanita itu bangkit dari duduknya tersingkaplah aurat bagian belakangnya.
Muslimah itu lalu berteriak meminta tolong. Seorang pemuda muslim mendengar teriakannya lalu menolong wanita muslimah tersebut hingga mengakibatkan orang Yahudi yang mengganggu itu terbunuh. Mengetahui rekan mereka terbunuh, serta merta kaum Yahudi menyerbu lelaki Muslim itu sehingga meninggal juga. Peristiwa ini akhirnya sampai ke telinga Rasulullah SAW.
Setelah mendengar berita terbunuhnya seorang pemuda muslim karena menolong muslimah yang dihina, seketika itu juga Rasulullah SAW memerintahkan kaum muslimin untuk mengepung Bani Qainuqa hingga mereka terusir dari Madinah.
Rasulullah Dianiaya Penduduk Thaif
Sepeninggal Abu Thalib, gangguan
kafir Quraisy terhadap Rasulullah semakin besar. Beliau pun berniat untuk
meninggalkan Makkah dan pergi ke Tha’if.
Beliau berharap akan memperoleh
dukungan penduduk setempat dan akan menyambut baik ajakan beliau untuk memeluk
agama Islam.
Tak lama kemudian, beliau bersama
Zaid bin Haritsah, anak angkat beliau, pergi ke Tha’if.
Rasulullah menemui pemimpin Bani
Tsaqif dan mengajak mereka untuk memeluk Islam dan tidak menyembah kepada
selain Allah.
Namun ajakan Rasulullah mendapatkan
penolakan, bahkan diejek dan dibulli serta diusir. Bahkan sekeluarnya dari kota
itu Rasulullah dihadang sekelompok penduduk kota Tha’if yang tidak ramah dengan
lemparan batu.
Mereka berdua terluka akibat
lemparan-lemparan itu. Setelah agak jauh dari kota Tha’if, Rasulullah berteduh
dekat sebuah pohon sambil membersihkan luka-luka mereka.
Ketika sudah tenang,
Rasulullah mengangkat kepala menengadah ke atas, ia hanyut dalam suatu doa yang
berisi pengaduan yang sangat mengharukan.
Malaikat Jibril dating, “Jika
engkau mau, maka malaikat-malaikat itu akan menabrakkan gunung-gunung itu
hingga penduduk kota itu akan binasa.”
Rasulullah: “Aku berharap dengan kehendak Allah, anak-anak mereka pada suatu masa nanti akan menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya.”
Ali bin Abi Tholib Menahan Marah
Satu kisah, Ali bin Abi Thalib
berada dalam sebuah peperangan. Saat menghadapi lawannya, Ali bin Abi Thalib
dalam posisi unggul. Ketika hendak menebas musuhnya, sang lawan meludahi wajah
sepupu Rasulullah SAW ini.
Seketika Ali menahan diri. Ia terdiam. Sang musuh heran. "Wahai Ali, kenapa engkau
tidak jadi melawanku?".
Setelah itu, Ali pun menjawab, "Ketika aku menjatuhkanmu, aku ingin
membunuhmu karena Allah. Akan tetapi ketika engkau meludahiku, maka niatku
membunuhmu karena marahku kepadamu," kata Ali.
Sikap ini teladan dari seorang sahabat Rasulullah SAW. Ia tahu, menjadi marah akan menghilangkan akal dan pikiran. Satu hal yang tak kehendaki ketika seseorang ingin memperoleh kemuliaan dari Sang Pencipta. Bisa saja Ali meenebas lawannya. Namun, Ali RA memilih menahan amarahnya.