Jumat, 09 November 2018

Prilaku Zuhud

Berkaitan dengan harta dan gaya hidup, KH Abdullah Gymnastiar (A'a Gym) dalam ceramahnya menjelaskan bahwa manusia dibagi menjadi empat tipe:
Pertama, orang kaya yang hidup mewah. Orang seperti ini masih dinilai wajar karena secara finansial sebenarnya tidak terlalu bermasalah, sesuai dengan penghasilannya.  Namun dia akan menjadi hina kalau bersikap sombong dan merendahkan orang lain yang dianggap tak selevel dengan dia.  Apalagi kalau bersikap kikir dan tidak mau membayar zakat atau mengeluarkan sedekah.  Sebaliknya, ia akan terangkat kemuliaannya dengan kekayaannya itu jikalau ia rendah hati dan dermawan.
Kedua, orang miskin yang hidup sederhana.  Orang seperti ini juga dinilai wajar karena secara finansial memang tidak mampu untuk hidup mewah, apalagi memperlihatkan hartanya.  Dia akan hina kalau menjadi beban bagi orang lain dengan menjadi peminta-minta yang tidak tahu diri. Namun dia akan menjadi mulia jika sangat menjaga kehormatan dirinya dengan tidak menunjukan berharap dikasihani, tak menunjukan kemiskinannya, ikhlas dan sabar dengan tetap menjaga harga diri.
Ketiga, orang miskin tapi hidup mewah. Orang seperti ini juga dinilai tidak wajar alias aneh. Ini yang disebut orang dengan istilah besar pasak daripada tiang. Orang seperti ini tidak bisa menerima kenyataan, sehingga akan merasa malu dan tersiksa bila dianggap sebagai orang yang tak mampu secara finansial.  Dia akan memaksakan diri dengan berbagai cara untuk menutupi kekurangannya, sekalipun dengan cara yang tercela bahkan tidak halal. Orang seperti ini hidupnya amat menderita, dan sudah barang tentu ia menjadi hina dan bahkan menjadi bahan tertawaan orang lain yang mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Keempat, orang kaya tapi hidup sederhana.  Inilah orang yang mulia, meskipun dia mampu membeli apapun yang dia inginkan namun berhasil menahan dirinya untuk hidup sederhana.  Orang seperti ini biasanya suka bersedekah, mempunyai kepedulian dan empati tinggi terhadap sesama.   Dia tidak akan menjadi bahan iri dengki orang lain, bahkan akan menjadi kekaguman bagi banyak orang,  Baginya tertutup peluang menjadi sombong dan takabur. Sungguh ia akan punya pesona kemuliaan tersendiri. Pribadinya menjadi lebih kaya dan lebih berharga dibanding seluruh harta yang dimilikinya.  Hidup seperti ini biasa dikenal dengan hidup zuhud.

Apa itu Zuhud?
Zuhud sering diartikan oleh banyak orang sebagai ungkapan atau refleksi sikap yang anti dunia, atau menjauh dari hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan bahwa seseorang yang sedangmenjalani hidup  zuhud harus mengosongkan diri dari segala hal yang berbau keduniawian.  Kesan selanjutnya bahwa ia harus menjalani kehidupan seorang yang miskin, berpakaian lusuh, compang-camping, dan sebagainya.
Pandangan seperti ini tentu tidak tepat. Perlu kita pahami bahwa zuhud terhadap dunia bukan berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, semacam harta benda, sarana dan kekayaan lainnya, melainkan harta benda bukan menjadi kebanggaan apalagi tujuan.
Allah swt melarang kita untuk hanya memikirkan akhirat saja, tetapi dunia juga harus kita raih dengan sebaik-baiknya. Allah swt berfiman yang artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS. Al Qashshash: 77).
Telah dicontohkan oleh sejarah bahwa para Nabi itu kaya. Kabarnya nabi Ibrahim berkurban seratus onta, yang menunjukkan bahwa dia orang kaya. Nabi Sulaiman jelas terkaya di dunia hingga akhir jaman. Nabi Ayyub juga kaya. Demikian juga Rasulullah Muhammad Saw. sebagai pengusaha kaya.
Ketika Rasulullah menikahi Siti Khadijah, beliau memberikan mahar sebanyak 100 ekor unta. Bayangkan berapa kekayaan yang dimiliki oleh Rasulullah saat itu (100 x Rp.15 juta = Rp. 1,5 miliar), tetapi dengan kekayaan yang melimpah beliau tidak hidup bermewah-mewahan.  Dan itulah perilaku zuhud.  Kesimpulannya bahwa para nabi adalah orang kaya tetapi juga hidup zuhud.

Hakikat zuhud bukan menghindari kenikmatan duniawi, tetapi tidak meletakkan nilai yang tinggi terhadap masalah duniawi.   Zuhud terumuskan dalam dua kalimat Alquran.  ”Supaya kamu tidak bersedih karena apa yang lepas dari tanganmu, dan tidak bangga dengan apa yang diberikan kepadamu.” (QS. Al-Hadid: 23).
Zahid, yaitu orang yang berperilaku zuhud diperbolehkan (bahkan dianjurkan) untuk kaya harta, tetapi harta kekayaannya tidak untuk memenuhi syahwat duniawi melainkan untuk sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

Bagi para sufi, zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang lebih dari kebutuhan hidup, walaupun sudah jelas kehalalannya.  Harta merupakan sarana untuk memperoleh kebaikan, bukan menjadi kebanggaan yang justru akan mencelakakan.

Prilaku dan hikmah hidup Zuhud
Karena prinsip hidup zuhud adalah membebaskan diri dari pengaruh dan godaan duniawi yang berbentuk kemewahan harta benda, maka prilaku orang-orang zuhud adalah: hidup sederhana (tidak mewah), rendah hati (tidak sombong), suka bersedekah, dan sabar dalam menjalani kehidupan, serta bekerja dan beribadah dengan sunguh-sungguh karena Allah.
Kehidupan yang mewah cenderung membawa perasaan sombong dan membanggakan diri.  Dua perasaan itu amat tidak disukai oleh Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri (QS. Lukman: 18).
Dengan hidup sederhana maka orang beriman cenderung untuk bersikap rendah hati, dan harta kekayaan yang dimilikinya akan cenderung digunakan untuk sedekah membantu orang lain.
Perawi hadis, Ibnu Majah mengisahkan, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, ”Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku lakukan, maka aku akan dicintai oleh Allah dan juga oleh manusia.”   Rasulullah menjawab, ”Berlaku zuhud-lah kamu terhadap kenikmatan dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, dan berlaku zuhud-lah kamu di tengah manusia niscaya kamu akan dicintai oleh mereka.”
Ayat al-Quran dan hadis di atas mengisyaratkan bahwa Allah Swt tidak menyukai prilaku orang yang sombong dan membanggakan diri. Sebaliknya perilaku zuhud dapat mengantarkan seseorang meraih kebahagiaan, yaitu meraih cinta Allah Swt dan cinta manusia
Prilaku-prilaku mulia orang yang zuhud itu akan melahirkan hikmah bagi orang yang mempraktekkannya.  Diantara hikmah orang yang hidup zuhud adalah hidupnya menjadi tenang, tidak mudah gelisah, tidak menimbulkan iri dengki bagi orang lain, serta sabar dan ikhlas dalam menerima ujian Allah Swt.

Kisah orang zuhud.
Adalah Zaenal, seorang manajer sebuah perusahaan swasta di Jakarta yang cukup sukses. Dalam perjalanannya dari Jakarta menuju Cipanas, ia sempat mampir di masjid At Ta’awun , sebuah masjid megah dan berarsitek sangat indah di Puncak Bogor.
Ketika berada di koridor toilet dan tempat wudlu, Zaenal melihat seseorang seperti sahabat lama semasa SMP dulu, namanya Ahmad.  Berkaos oblong dan celana digulung sampai lutut ia terlihat begitu tekun membersihkan tempat wudlu dengan sikat bertangkai.
Setelah di tegur, ternyata benar bahwa ia adalah Ahmad, sahabatnya yang sudah sekian lama tidak pernah berjumpa.  Dalam perbincangan singkat, Zainal berniat mau menolong Ahmad untuk bekerja di kantornya daripada sekedar sebagai pembantu marbot masjid.
Seusai shalat, Zainal mencari Ahmad namun tidak menjumpainya. Setelah menemui salah seorang marbot masjid, ia mendapat penjelasan bahwa Ahmad yang disangka sebagai pembantu marbot yang membersihkan toilet tadi adalah orang kaya yang membangun masjid At Ta’awun itu.  Pak Haji Ahmad adalah pemilik beberapa hotel dan penginapan di kawasan Puncak Bogor. Setiap hari Jumat beliau selalu datang ke masjid untuk membantu marbot membersihkan masjid.
Betapa terkejut dan malu Zaenal, karena ia telah menyangka bahwa Ahmad adalah seorang pembantu marbot masjid.  Namun ia juga bangga dan kagum mempunyai sahabat seperti Ahmad.  Ia sangat bersyukur mendapatkan pelajaran hikmah dari seorang yang zuhud.
Kisah ini secara lengkap bisa kita browsing di google dengan judul “Kisah Inspiratif dari Masjid At Ta’awun”.
Pelajaran lain tentang hidup zuhud adalah kisah hidup pak Abdullah, seorang mantan direktur bank swasta di Pekalongan yang sudah pensiun.  Setiap Jumat pagi ia selalu datang ke masjid At-Taqwa Wiradesa Pekalongan. Seperti biasanya, dia datang selalu dengan sepeda ontel dan kostum kaos training.  Kemudian dia langsung mengambil ember dan kain lap lalu membersihkan kaca dan mimbar khatib.
Ketika ditanya kenapa ia selalu melakukan pekerjaan itu, dia menjawab, “Dulu sebelum pensiun saya bekerja hanya untuk diri saya dan keluarga, tidak sempat untuk sosial. Saat ini saya mempunyai banyak waktu bekerja untuk sesama. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan panjang umur untuk mengabdi”
Pak Abdullah orang kaya di Wiradesa.  Tetapi kalau tidak kenal pasti menyangka dia orang biasa saja karena penampilannya yang sederhana. Ia bahagia menjalani kehidupan zuhud. Kisah ini saya dapatkan dari kakak saya yang tinggal di Wiradesa Pekalongan.

Penutup
Zuhud bukanlah sikap hidup yang anti dunia, atau menghindari kenikmatan duniawi, sehingga seseorang harus menjalani kehidupan layaknya orang yang miskin. Zuhud terhadap dunia bukan pula berarti tidak mempunyai hal-hal yang bersifat duniawi, melainkan harta benda bukan menjadi kebanggaan apalagi tujuan.
Zuhud adalah sikap hidup sederhana, sebagai upaya membebaskan diri dari pengaruh dan godaan duniawi berbentuk kemewahan, yang cenderung mendorong seseorang menjadi sombong dan membanggakan diri.
Dan sesungguhnya hakekat hidup zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang lebih dari kebutuhan hidup walaupun sudah jelas kehalalannya, karena harta merupakan sarana untuk memperoleh kebaikan, bukan menjadi kebanggaan yang justru akan mencelakakan.

Setiap Muslim hendaknya mampu menanamkan zuhud dalam hidupnya agar memperoleh  kehidupan dunia yang tenang, tidak mudah gelisah, tidak menimbulkan iri dengki bagi orang lain, serta sabar dan ikhlas dalam menerima ujian Allah Swt.

Hakekat Kebahagiaan

1. Hakekat Kebahagiaan

"Kebahagiaan tidak selalu berada pada orang yang hidupnya penuh dengan kemudahan tanpa masalah, tetapi justru kebahagiaan seringkali dirasakan oleh orang yang selalu berhasil dalam mengatasi berbagai persoalan hidup". Itulah pandangan Prof. William James (1842-1910),  tokoh pragmatisme yang telah memberi kontribusi besar pada pemikiran filsafat dunia Barat.
Menurut William, orang yang mempunyai banyak persoalan hidup tetapi ia selalu dapat mengatasinya itulah orang yang senantiasa bahagia. Sedangkan orang yang tidak pernah mempunyai persoalan hidup, yang perjalanan hidupnya adem ayem dan mulus-mulus saja, maka dia tak akan merasakan kebahagiaan. Ia hanya merasakan kehidupan yang datar, hambar, tidak dinamis dan menjemukan. Sebuah kehidupan yang "tidak hidup".
Prof. William, penulis buku Pragmatism (1907) dan TheMeaning of Truth (1909) itu menambahkan bahwa kebahagiaan itu dibangun oleh pikiran, "Engkau bukanlah yang engkau kira, tetapi apa yang engkau pikirkan. 
Kalau engkau memikirkan kebahagiaan, engkau akan bahagia. Kalau engkau berpikiran sedih, engkau menjadi sedih. Dan kalau engkau berpikiran takut, engkau akan menjadi takut". 
Pendapat  itu senada dengan pandangan DR. Dale Carnegie, pakar psikologi dan motivator terkemuka di AS : "Hidup kita dibentuk oleh pikiran kita. Orang tidak terlalu terluka oleh apa yang terjadi, tetapi oleh pendapatnya (pikirannya) tentang apa yang terjadi".  Meski kehidupan seseorang nampak berat, tetapi jika ia berpikiran senang maka ia akan merasa bahagia.

Definisi kebahagiaan, sesuai wikipedia adalah keadaan pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan, ketenangan, kesenangan, cinta hingga kegembiraan hidup yang intens

2. Kebahagiaan dari Sikap Hati
Kekayaan, ketenaran, kecantikan dan kekuasaan bukan jaminan untuk memperoleh kebahagiaan.  Buktinya, Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman mengakhiri hidup dengan cara menabrakkan tubuhnya ke kereta api. Michael Jackson, penyanyi terkenal dunia dari USA tewas setelah meminum obat penenang hingga overdosis.  
Marilyn Monroe, artis cantik dari USA  juga  tewas akibat kebanyakan mengkonsumsi obat anti depresi.  Demikian pula Getulio Vargas, presiden Brazil yang begitu berkuasa bunuh diri dengan cara menembakan pistol ke jantungnya.
Ternyata bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, populernya, cantiknya, kuasanya, atau se-sukses apapun hidupnya.  Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah sikap hati orang itu sendiri.

Alkisah... Ada seorang Raja yang begitu berkuasa tengah termenung memikirkan hidupnya sambil memandang taman di depan istananya.  Ia sering gelisah karena sulit menemukan ketenangan dan susah merasakan kebahagiaan. Ia susah tidur akibat banyaknya pikiran yang mengganggu. Padahal selama ini ia tidur di kamar mewah di atas kasur yang empuk.

Ketika sedang melamun, sang raja melihat seorang tukang kebunnya yang sedang bekerja sambil bernyanyi dan tertawa ria. Setiap hari ia datang dengan senyuman dan pulang dengan keceriaan. 
Padahal gajinya pas-pasan dan rumahnya begitu sederhana. Tak pernah tampak kesedihan di wajahnya.  Saat dia pulang keluarganya telah menunggu dengan hidangan makan seadanya dan keluarga kecil ini pun makan dengan bahagia.

Raja pun heran melihat orang ini. Ia memanggil penasihatnya dan bertanya, "Telah lama aku hidup di tengah kegelisahan, padahal aku memiliki segalanya. Tapi aku sungguh heran melihat si tukang kebun itu. Tak pernah tampak kesedihan di wajahnya. Kadang-kadang ia tertidur di bawah pohon, seperti tak ada beban dalam hidupnya. Padahal ia tidak memiliki apa-apa."

Sang penasehat memberi penjelasan, "Padukan raja, tukang kebun bisa hidup bahagia seperti itu karena ia mensyukuri apa yang telah ia peroleh. Ia ikhlas dengan keadaan yang telah ditakdirkan.  Ia tidak berusaha mencari sesuatu di luar mimpinya"

3. Letak kebahagiaan 
Kalau kebahagiaan bisa dibeli, tentu orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu dan orang miskin akan sulit mendapatkannya karena sudah diborong oleh mereka yang kaya.  Dan kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong, karena semua orang akan ke sana untuk memdapatkan hidup bahagia.  Untungnya kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia, sehingga kita tidak perlu membeli atau bersusah payah pergi mencari kebahagiaan itu.
Ungkapan bijak mengatakan, "Jika engkau ingin mencari kebahagiaan maka kebahagiaan itu ada di luar. Namun jika engkau ingin merasakan kebahagiaan maka kebahagiaan itu ada di dalam."  Orang-orang berada di tempat-tempat hiburan malam, diskotik, berdansa ria seraya mengkonsumsi narkoba, sesungguhnya ia adalah orang yang sedang mencari kebahagiaan. Karena hidupnya yang tidak bahagia, maka ia mencari kebahagiaan di luar.  Sedangkan orang yang menikmati teh hangat dan kue ringan bersama keluarga sambil bercanda ria, itulah orang yang bahagia. Mereka sedang merasakan kebahagiaan yang ada pada diri mereka.
Nabi Muhammad bersabda, "Hendaklah engkau berbahagia bila mempunyai hati yang bersyukur, lidah yang berzikir, dan istri (suami) yang membantunya dalam urusan akhirat" (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Di sisi lain, Nabi Muhammad juga menyampaikan bahwa ada 4 hal yang membuat hidup seseorang bahagia, yaitu (1) istri yang salihah, (2) anak-anak yang menyenangkan, (3) lingkungan (sahabat-sahabat) yang baik, serta (4) mempunyai penghidupan yang diusahakan di negeri sendiri. (HR Dailami).

4. Memberi Itu Membahagiakan
Dikisahkan ada seorang gadis mengontrak rumah bersebelahan dengan rumah seorang ibu miskin dengan 2 anak.  Pada satu malam tiba-tiba listrik padam, dan lampu peneranganpun mati. Dengan bantuan cahaya HP dia ke dapur mau mengambil lilin.  Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Ternyata anak miskin sebelah rumah.
Anak itu bertanya : "Kakak, punya lilin ?" Gadis itu berpikir: Jangan pinjamkan nanti jadi kebiasaan.  Maka si gadis menjawab , "Tidak Ada!!".
Saat itulah si anak miskin berkata riang: "Saya sudah duga kakak tidak punya lilin, Ini ada 2 lilin untuk kakak. Kami khawatir karena kakak tinggal sendiri dan tidak punya lilin."
Hati anak miskin itu sangat bahagia. Sementara gadis itu merasa sangat bersalah, dalam linangan airmata, dia memeluk anak kecil itu erat-erat.
Ternyata memberi itu membahagiakan lagi menentramkan hati.  Kata bijak dari Mahatma Gandhi, "kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat anda berikan, bukan pada apa yang anda peroleh".  Karena kekayaan tidak tergantung berapa banyak "kita punya", tetapi seberapa banyak "kita bisa memberi"
Sesungguhnya hakekat "orang kaya" adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi. Sedangkan "orang miskin"  adalah orang yang selalu merasa kurang, sehingga dia terus mencari.

Hakekat hidup mencari kebahagiaan: https://blogkalimana.blogspot.com/2019/01/hakikat-hidup-mencari-keahagiaan.html
https://www.kompasiana.com/kalimana/5b76a1aa43322f068b6eee7b/memahami-hakekat-kebahagiaan?page=all

Enam Kiat Sederhana untuk Bahagia

Pernahkah anda menyaksikan video motivasi tentang kebahagiaan mempengaruhi kesuksesan? Video presentasi dalam bahasa inggris itu telah menjadi viral di sosial media. Ada lima poin konten video tersebut sebagai berikut:
Satu, selama ini kita diajarkan bahwa kerja keras akan menghasilkan sukses, dan kemudian akan membuat bahagia.  Pola pikir itu salah. Riset membuktikan bahwa bahagia adalah syarat utama mempengaruhi kesuksesan. Jadi KEBAHAGIAAN akan mendorong KERJA KERAS, dan akan menghasilkan KESUKSESAN. Bukan sebaliknya.
Dua, pengetahuan membuktikan bahwa tubuh kita dilengkapi dengan sistem syaraf yang akan bekerja maksimal saat kita merasa bahagia.
Tiga, pada hati bahagia dan bersikap positif dalam hidup, maka tubuh kita menghasilkan zat kimia yang mengurangi rasa cemas dan meningkatkan konsentrasi & solusi.
Empat, penelitian menunjukkan bahwa orang yang gembira selalu tenang dalam situasi sesulit apapun, tidak gampang stress, dan lebih bersemangat.
Lima, perasaan dan sikap kita terhadap hidup semua tergantung pada pikiran kita. Ingat kita terus menerus dipengaruhi lingkungan yang negatif. Jika kita ingin perubahan, kitalah yang harus menciptakan perubahan. Dan kita mulai dengan bersikap positif dan hati gembira.

Nah intinya adalah kita harus membahagiakan diri terlebih dulu agar hidup sukses (bukan sebaliknya, “kita harus sukses dulu agar kita hidup bahagia”   Sayangnya dalam tayangan video itu tidak dijelaskan bagaimana cara membuat bahagia. Dari beberapa referensi, saya dapatkan informasi tentang BAHAGIA.
Seorang pemimpin agama Buddha, Dalai Lama, mengatakan, ”Saya percaya bahwa tujuan utama kehidupan kita adalah untuk mencari KEBAHAGIAAN.” Ia kemudian menjelaskan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan melatih atau mendisiplin pikiran dan hati. Pikiran adalah perlengkapan paling mendasar yang kita butuhkan untuk memperoleh kebahagiaan penuh.
Kebahagiaan yang sejati tak dapat dibeli dengan uang atau harta apa pun. Keikhlasan dan kesyukuran adalah sumber dan landasan dari kebahagiaan yang sejati.  
Jika uang adalah kunci kebahagiaan, maka hanya orang-orang kaya yang menari gembira di bawah hujan. Kenyataannya terbalik. Anak-anak dari keluarga miskin adalah jiwa-jiwa yang mampu mewadahi kebahagiaan dan merayakannya dalam sarana-sarana yang paling sederhana.
Tidak mudah memang untuk meraih kebahagiaan karena hidup manusia bisa di atas bisa di bawah dan kadang diberi ujian dari Tuhan yang cukup berat. Oleh karena itu jika anda ingin selalu bahagia, anda perlu tahu rahasia meraih bahagia.

ENAM KIAT SEDERHANA UNTUK BAHAGIA :
Pertama, senantiasa senyum dan ramah.  Senyum dan sikap ramah terhadap orang-orang disekitar akan menciptakan suasana nyaman dan menyenangkan.   Senyum akan menciptakan suasana ceria dan gembira karena terpancar dari sorot mata dan aura positif pada wajah, Gemar tersenyum akan membawa dampak yang baik pada psikologis kita serta terhadap orang-orang di sekitar kita. Senyum jangan sampai berlebihan karena bisa mengganggu orang di sekitar kita karena rishi, sehingga tersenyum bisa dilakukan dalam hati. Bersikap ramah pada orang sekitar kita akan menciptakan suasana ceria dan gembira. Hal pertama yang harus dilakukan untuk bersikap ramah adalah membiasakan mengatakan 3 kata sederhana yaitu “terima kasih”, “maaf” dan “tolong”.  Tiga kata tersebut adalah “the three magic words” (tiga kata ajaib), meski sederhana dan ringan diucapkan namun  memiliki kekuatan yang luar biasa dan bermakna positif dalam membangun hubungan sosial yang baik antar manusia.  Sekecil apapun bantuan orang lain yang kita terima, sampaikan “terima kasih”, sekecil apapun kesalahan kita, sampaikan permohonaan “maaf”, dan Sekecil apapun bantuan yang kita minta, awali dengan kata “tolong”.
Kedua, hidup sederhana. “Keluar dari kesederhanaan berarti lenyapnya kebahagiaan sejati“ begitu kata Goethe, salah seorang tokoh berpengaruh di Jerman. Sifat manusia sesungguhnya begitu tamak dalam memperbanyak harta. Manusia tidak pernah merasa puas dan bahagia dengan apa yang ada. Nabi Muhammad bersabda "Andai kata manusia telah memiliki satu lembah emas, niscaya ia masih ingin memiliki satu lembah lagi. Tidak ada yang dapat mengisi penuh mulutnya (hawa nafsu) melainkan tanah (maut), kecuali mereka yang selalu bersyukur dan merasa cukup."
Ketiga, bersyukur & berbagi (bersedekah). Mensyukuri apa yang telah kita dapati juga menjadi kunci kebahagiaan. Beramal baik dengan mengeluarkan kelebihan harta kita untuk orang yang membutuhkan merupakan wujud syukur. Mario Teguh, motivator terkenal mengatakan: “Bukan kebahagiaan yang menjadikanmu bersyukur, tapi kesyukuranlah yang menjadikanmu berbahagia.”  Jika anda telah bahagia, maka berbagilah bahagia itu kepada orang yang hidupnya susah. Dengan semakin banyak orang bahagia di sekitar kita, maka hidup kita akan semakin bahagia dan mendapatkan amal/pahala yang besar dari Tuhan. Mahatma Gandhi berkata: “Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat anda berikan, bukan pada apa yang anda peroleh.”
Keempat, sabar dan pemaaf. Orang yang sabar biasanya lebih disiplin, dan melakukan segala sesuatu dengan perencanaan, selangkah demi selangkah. Menikmati apa yang dilakukan dan yang kita peroleh. Mereka tidak marah atau menyalahkan orang lain ketika kegagalan yang dialaminya tiba. Memaafkan orang lain jika melakukan kesalahan adalah sikap dan tindakan yang luhur. Sebab memaafkan justru memiliki manfaat yang besar yang kembali kepada diri kita sendiri, yaitu mengobati rasa sakit hati.
Kalima, berpikir positif dan menjauhi buruk prasangka. Setiap kesulitan pasti ada jalannya jika kita berusaha dan berdoa dengan penuh ketenangan. Tuhan tidak akan memberikan musibah/ujian yang tidak mampu kita selesaikan. Berfikirlah yang sehat dan positif tidak iri, dengki, suka pamer, gengsian, pendendam dan berbagai penyakit hati lainnya. Menjahui buruk prasangka, sebab secara psikologis buruk sangka akan menyebabkan berbagai penderitaan jiwa, yaitu marah, cemas, dan berbagai emosi negative lainnya.
Keenam, selalu ingat tuhan dan banyak berdoa. Selalu ingat akanTuhan sebagai dzat pencipta dan pengatur seluruh alam semesta (termasuk diri kita) merupakan pangkal dari ketenangan hati. Dan awalilah selalu dengan doa (basmallah) setiap akan memulai pekerjaan dan mengakhiri dengan syukur (hamdallah) selesai melakukan pekerjaan.

Itulah enam kiat sederhana yang dapat kita lakukan untuk menjadikan diri kita bahagia. Sesungguhnya bahagia itu tidak terlihat dari luar tetapi terasa dari dalam. Kalau ingin mencari kebahagiaan maka kebahagiaan itu ada diluar, tetapi kalau ingin merasakan kebahagiaan maka kebahagiaan itu ada di dalam.  Jadi, orang-orang yang ada di tempat-tempat hiburan seperti night club, diskotik, karaoke, dan tempat hiburan malam lainnya adalah orang-orang yang sedang mencari kebahagiaan. Sedangkan orang yang bercengkerama dengan keluarga, nonton tv dirumah sambari minum teh hangat dan menyantap pisang goreng adalah mereka yang sedang menikmati kebahagiaan. 
Bila setelah membaca artikel ini anda memberi komentar, berarti anda membuat hati saya bahagia,  itu berarti anda menebarkan kebahagiaan. Dan tentu kebahagiaan anda akan bertambah. Lakukan dan rasakan hasilnya. Terimakasih atas kebaikan anda.
Selamat merasakan kebahagiaan.

Sumber : https://www.kompasiana.com/kalimana/57d61a6c107f61ed4a568851/enam-kiat-sederhana-untuk-bahagia-kunci-hidup-sukses

Siapakah Orang Kaya Itu?


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini
Kekayaan merupakan tema yang menarik diperbincangkan. Sedikit sekali penghuni dunia ini yang tidak ingin kaya dalam hidupnya. Hidup kaya bisa dikatakan impian setiap orang.
Kesuksesan orang baru diakui kalau dia sudah menjadi orang kaya. Keberhasilan pendidikan juga sering dilihat dari sejauh mana hasil pendidikan itu dapat mengantarkan peserta didiknya menjadi orang kaya.
Lawan dari kaya adalah miskin. Orang disebut kaya karena memiliki banyak harta. Yang minim harta, itu miskin namanya. Dengan begitu, kekayaan selalu identik dengan segala hal yang berbau materi atau benda. Memiliki rumah megah, uang banyak, mobil berderet, pakaian necis, dan tanah luas adalah di antara simbol orang kaya. Orang miskin berarti kebalikan dari semua itu.
Tidak usah kita berdebat tentang definisi yang sudah sekian lama diamini secara luas itu. Sekiranya definisi itu dianggap benar, kebenarannya tentu tidak mutlak. Definisi demikian dimensinya serba fisik. Tidak ada kewajiban bagi kita untuk menerimanya.
Saya teringat penuturan Rasulullah ketika mendefinisikan siapa gerangan orang kaya itu. Menurut Rasulullah, seperti dikutip Bukhari dan Muslim, “Bukanlah yang dinamakan kaya itu karena banyak harta, tetapi yang dinamakan kaya sebenarnya adalah kayanya jiwa.”
Mencermati makna hadis di atas, kita segera mendapatkan pemahaman bahwa Rasulullah ternyata memiliki definisi berbeda dengan kebanyakan kita tentang siapa orang kaya.
Barangkali hadis itu akan lebih mudah dipahami ketika kita mengaitkannya dengan daftar orang terkaya di dunia tahun 2013, sebagaimana dirilis majalah Forbes.
Keluarga Budi Hartono, pemilik BCA dan Djarum, memiliki harta 8,5 miliar dolar AS. Michael Hartono memiliki harta 8,2 miliar dolar AS. Dua orang ini jelas lebih kaya tinimbang kita. Menurut Forbes, mereka menduduki peringkat pertama dan kedua daftar orang terkaya di Indonesia. Tetapi, ternyata mereka tidak ada apa-apanya jika dibanding Carlos Slim Helu dan Bill Gates. Harta Carlos Slim Helu, CEO Telefonos de Mexico dan America Movil, mencapai 73 triliun dolar AS, sementara Bill Gates, yang mantan CEO Microsoft, memiliki harta 67 miliar dolar AS.
Banyaknya harta tidak pernah akan ada puncaknya. Di atas orang kaya, selalu ada orang yang lebih kaya. Di sini berlaku rumus relativitas. Fulan yang tergolong orang kaya di sini, belum tentu kaya di sana. Fulanah yang termasuk miskin di suatu tempat, justru dia orang paling kaya di tempat lain. Demikian pula seterusnya. Tegasnya, tidak ada orang yang paling kaya, sebagaimana juga tidak ditemukan orang yang paling miskin.
Penting pula dicatat, definisi kaya atau miskin semacam itu sesungguhnya muncul dari orang luar. Pelakunya sendiri kerap tidak merasakan apakah dia kaya atau miskin. Karena, kebanyakan orang masih saja merasa kurang. Meskipun orang bilang kita ini sudah kaya, tetapi senyatanya kita juga tidak merasa kelebihan harta. Selalu saja kita merasa miskin dan kurang.
Apalagi jika definisi kaya atau miskin itu dikaitkan dengan unsur diri yang bernama keinginan dan kebutuhan. Misalnya, petani desa yang saban hari mengantongi uang lima juta, dia boleh dibilang kaya. Berbeda halnya dengan seorang artis. Uang sejumlah itu tentu tidak dapat mendefinisikan dirinya sebagai orang kaya. Ini soal keinginan dan kebutuhan. Gaya hidup petani desa umumnya tidak menelan uang jutaan dalam sehari. Sementara, tuntutan profesi artis mengharuskan pelakunya untuk selalu tampil mewah dan mahal, sebagaimana rekan sesama artis.
Benarlah, Islam tidak menisbahkan definisi kaya atau miskin dengan kepemilikan benda. Definisi serba fisik itu sangat memusingkan. Karena itu, Rasulullah menegaskan, kekayaan sejati itu ada di dada. Menjadi kaya atau miskin itu murni soal mental. Inilah definisi berdimensi batin. Analoginya sederhana. Orang yang lapang dada selalu merasa kaya, meskipun minim harta. Sebaliknya, orang yang bermental miskin selalu merasa kurang, meskipun menggenggam emas segudang. Pikirannya mengawang di langit harapan, berusaha menjangkau segala yang belum digenggam tangan. Hidup berselimut harta tetapi tampil bagai pecundang.
Alangkah bahagia kehidupan orang yang hati, jiwa, dan pikirannya selalu merasa kaya. Mensyukuri nikmat yang ada tanpa terus mengangankan segala yang dipunyai orang. Harta sekadarnya selalu digunakan untuk memacu amal baik dan ibadah. Batinnya tenang, karena tidak diperbudak dunia, tetapi justru merajai dunia. Rasulullah memuji pribadi demikian. “Sungguh berbahagia orang yang masuk agama Islam dan diberi rezeki cukup, serta dikaruniai Allah sifat qana’ah atas segala yang diberikan kepadanya.” (HR Muslim).
Berbagai penyimpangan menyeruak di segala tempat adalah bukti ketidakmampuan orang untuk merajai dunia. Juga kebejatan moral yang berkecambah dan memperburuk sendi-sendi kehidupan. Mereka itulah orang miskin dalam makna sesungguhnya. Fisiknya mapan tetapi batinnya gersang, karena tidak pernah merasa kenyang oleh kuantitas harta. Kembali renungkan penegasan Rasulullah berikut.
“Bukanlah orang miskin itu orang yang berkeliling mendatangi rumah ke rumah lalu ditolak ketika meminta sebiji atau dua biji kurma, atau ketika meminta sesuap atau dua suap makanan. Tetapi orang miskin yang sebenarnya adalah orang yang tidak pernah memiliki kekayaan untuk mencukupi keperluannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Sungguh beruntung siapa saja yang dikaruniai Allah kelapangan harta sekaligus batin yang selalu menerima, gemar bersedekah, sehingga hidup selalu diliputi berkah dan jauh dari bencana.

Rabu, 07 November 2018

Makna Ikhlas

Ikhlas adalah sebuah kata yang mudah diucapkan namun tidak mudah dilaksanakan. Banyak nasehat supaya kita selalu bekerja dengan ikhlas agar hidup lebih tenang dan bahagia. Namun ternyata tidaklah mudah beribadah atau beramal saleh dengan benar-benar ikhlas. Kebalikan dari ikhlas adalah riya' .  Jika ikhlas mengharapkan balasan amal hanya dari Allah, sedangkan riya' berharap balasan dari manusia, walau sekedar ucapan terimakasih. 
Dalam beramal saleh, orang bisa menjadi cemas bila terjebak oleh narasi sebagian ustadz yang menyatakan bahwa riya’ menghapuskan amal saleh, dan seseorang tidak mendapat pahala dari amal yang dia lakukan bila masih ada riya’. Bahkan ia telah berbuat dosa yang akan dia peroleh akibatnya pada hari Kiamat bila masih ada riya’ di dalam hatinya.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Nasa’i, Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal perbuatan kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya”.  

Dengan begitu maka kita perlu memahami makna ikhlas secara menyeluruh.  Hakekat ikhlas sering diilustrasikan dengan filosofi gula dan kopi.

Filosofi Ikhlas Gula dan Kopi
Bila gula dicampur kopi dan dimasak dengan air namanya “Kopi Manis”, bukan Kopi Gula. Disitu nama gula tidak disebut.
Bila gula dicampur teh dan dimasak dengan air namanya “Teh Manis”, bukan Teh Gula. Disitu nama gula juga tidak disebut.
Tetapi jika rasa kopinya pahit, siapa yang disalahkan? Tentu gula-lah yang disalahkan, karena terlalu sedikit hingga rasanya menjadi pahit.
Dan jika rasa kopi terlalu manis, siapa yang disalahkan? Tentu gula lagi yang disalahkan, karena terlalu banyak hingga rasanya menjadi kemanisan.
Namun jika takaran kopi & gula imbang, siapa yang dipuji...? Tentu semua akan berkata... “Kopinya mantaaap.”  Gula tidak mendapat pujian.
Begitulah fenomena kehidupan.  Kadang kebaikan tak pernah disebut orang, tapi kesalahan akan dibesar-besarkan.
Kendati begitu tetaplah seperti gula, ia tetap memberi rasa manis meskipun namanya tak pernah disebut dan tak pernah mendapat pujian.  Meski namanya tak pernah disebut dalam kopi manis atau teh manis namun semua orang tau bahwa peranan gula sangatlah signifikan.  Begitulah hakekat ikhlas, perbuatan yang tak butuh pujian.
Maka tetaplah semangat menebar kebaikan. Karena kebaikan tidak untuk disebut, tapi untuk dirasakaan.

Pengertian Ikhlas
Secara bahasa, ikhlas mempunyai pengertian bersih hati, tulus, dan rela.  Orang yang bekerja dengan ikhlas adalah orang yang bekerja secara tulus, sukarela, atau tanpa pamrih untuk mendapatkan imbalan apapun.
Dalam prespektif agama Islam, ikhlas berarti niat perbuatan amal saleh secara tulus tanpa pamrih manusia, melainkan hanya mengharapkan ridho Allah SWT semata.
Orang yang ikhlas adalah orang yang berbuat sesuatu tanpa mengharapkan imbalan apapun dari orang lain sekalipun sekedar pujian, melainkan hanya mengharapkan keridhaan Allah semata.
Salah satu contoh perbuatan ikhlas adalah seorang ibu yang memberikan ASI, menjaga, merawat, dan mengasuh anak bayinya. Dia tidak mengharapkan imbalan apapun melainkan hanya ingin anak bayinya sehat, cerdas dan tumbuh berkembang menjadi manusia baik.
Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq di Masjid, maka fokus pikiran hanyalah bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.
Kebalikan dari ikhlas adalah riya’, yaitu melakukan sesuatu bukan karena Allah tetapi tujuannya adalah ingin dilihat, dipuji dan disanjung manusia.

Hakekat Ikhlas
Ikhlas itu merupakan pekerjaan hati.  Al-Junaid al-Baghdadi (tokoh tasawuf, sekaligus fiqih dari Baghdad) berkata, “Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang hanya diketahui oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, namun tidak diketahui oleh setan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya.
Kalau ada pertanyaan, bolehkah amal kita diperlihatkan kepada orang lain? Jawabannya adalah tergantung “Niat”.  Kalau niatnya ingin dipuji tentu itu menjadi riya’, namun bila niatnya adalah syiar supaya orang lain mengikutinya maka itu bukanlah riya’.
Setiap amal itu tergantung kepada niatnya. Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung dari niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hal bersedekah, orang boleh melakukannya secara tersembunyi atau terang-terangan. Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati” (QS. al-Baqarah ayat 274).
Salah satu ciri orang yang ikhlas adalah ia akan tetap beramal meskipun ada atau tidak ada orang lain yang melihat.  Namun bila ia hanya beramal ketika ada orang lain yang melihat, dan tidak beramal kalau tidak ada orang yang melihat maka itu tandanya tidak ikhlas alias riya’.
Ciri lain orang yang ikhlas adalah jarang kecewa terhadap makhluk, karena yang diharapkannya hanyalah penilaian dan keridhoan Allah Swt. Orang yang banyak kecewa terhadap makhluk yaitu orang yang banyak berharap dan bergantung kepada makhluk.

Pengelompokan Ikhlas
Menilai keikhlasan seseorang dalam beramal itu tidaklah hitam putih, tidaklah ikhlas dan tidak ikhlas. Tetapi keikhlasan itu ada tingkatan atau penggolongannya.  Ada tiga tingkatan ikhlas, yaitu:
Pertama, Ikhlas Mubtadi’.  Yakni orang yang beramal karena Allah, tetapi di dalam hatinya masih terbesit keinginan pada dunia.  Misalnya, seseorang melaksanakan shalat tahajud atau bersedekah karena ingin lulus ujian sekolah atau usahanya berhasil.  Ciri orang yang mubtadi’ bisa terlihat dari cara dia beribadah. Orang yang hanya beribadah ketika sedang butuh biasanya ia tidak akan istiqamah. Ia beribadah ketika ada kebutuhan. Jika kebutuhannya sudah terpenuhi, ibadahnyapun akan berhenti.
Kedua, Ikhlas Abid.  Yakni orang yang beramal karena Allah dan hatinya bersih dari riya’ serta keinginan dunia. Ibadahnya dilakukan hanya karena Allah demi meraih kebahagiaan akhirat, yaitu menggapai surga dan terhindar dari siksaan api neraka. Ibadah seorang abid ini cenderung berkesinambungan, tetapi ia tidak mengetahui mana yang harus dilakukan dengan segera (mudhayyaq) dan mana yang bisa diakhirkan (muwassa’), serta mana yang penting dan lebih penting. Ia menganggap semua ibadah itu adalah sama.
Ketiga, Ikhlas Muhibb.  Yakni orang yang beribadah hanya karena ingin mendapatkan cinta Allah, bukan ingin mendapatkan surga atau takut siksa api neraka. Semuanya dilakukan semata karena memenuhi kehendak dan cintanya kepada Allah SWT.

Beramal Saleh Sampai Ikhlas.
Untuk menjadi pribadi yang selalu benar-benar ikhlas tidaklah mudah, karena kebanyakan manusia masih tidak bisa melepaskan diri secara total dengan masalah-masalah duniawi.  Namun jangan sampai kondisi ikhlas itu menyandera kita menjadi tidak beramal saleh. 
Para ulama menasehatkan, “Beramallah engkau sampai ikhlas. Jangan menunggu ikhlas untuk berbuat amal saleh.  Perbuatan amal saleh, meskipun mengandung riya’ namun bila dilakukan terus menurus akan menjadi ikhlas.  Dan setiap perbuatan baik meski sebesar debu niscaya Allah akan membalasnya dengan kebaikan pula. 
Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Zalzalah ayat 7-8: "Faman ya'mal mitsqaala dzaratin khairay yarah, waman ya'mal mitsqaala dzaratin syarray yarah" artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar biji zarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya, dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebesar biji zarrah pun niscaya dia akan melihat balasannya.

Senin, 05 November 2018

Inspirasi Sedekah dari Yusuf Hamka


Yusuf Hamka (60 tahun), adalah seorang pengusaha keturunan China "muallaf" yang kepeduliannya kpd masyarakat dhuafa menjadi berita viral akhir-akhir ini, baik melalui TV, media cetak maupun media sosial.
Nama aslinya adalah Alun Joseph. Masa kecilnya dikenal sebagai anak nakal dan hobi tawuran.  Namun karena sering mendengarkan ceramah dari Buya Hamka, maka hatinya luluh dan tersadarkan. Sehingga pada usia 24 tahun ia memilih memeluk Islam (mualaf) atas bimbingan Buya Hamka.
Selanjutnya ia menjadi putra angkat Buya Hamka, dan atas seijin Buya Hamka namanya diganti menjadi Muhammad Yusuf Hamka.
Melalui pemberitaan media, aksi kedermawanan Yusuf Hamka menjadi viral. Setidaknya ada dua kegiatan, yaitu: (1)  Warung nasi kuning Pojok Halal bagi fakir miskin dan dhuafa, dan (2) Mushallah Indah di kolong jalan tol.

Warung “Nasi Kuning Pojok Halal” bagi fakir miskin dan dhuafa
Mulai beroperasi pada bulan Februari 2018 kemarin di Jl. Yos Sudarso Tanjung Priok.  sebagai bentuk pengabdian dan rasa terima kasihnya kepada Allah SWT dan Indonesia.
Yusuf Hamka membeli dari warung2 yang ada di sekitar seharga Rp. 10 - 12 ribu per porsi, dan menjualnya Rp. 3.000 kapada para fakir miskin dan dhuafa.  Bahkan gratis bila benar2 tidak mampu.
Dalam ilmu ekonomi, ini adalah bisnis yang aneh alias tidak masuik akal. Harga beli lebih mahal dari harga jual. Tetapi dalam konsep keimanan, bisnis seperti ini dikenal dengan istilah “Berdagang dengan Allah”.  Bisnis ini dilakukan untuk membantu orang miskin dan dhuafa. Bisnis ini tidak mencari keuntungan materi, tetapi mencari kecintaan Allah.
Dalam seminggu warung ramai sekali. Malah yang datang bukan hanya orang miskin tetapi juga tidak sedikit orang kaya.
Anehnya para orang kaya itu sekali makan ada yang membayar Rp. 20 ribu, Rp. 50 ribu dan Rp. 100 ribu. Bahkan ada orang kaya membayar dengan segepok uang Rp. 50 ribuan, jumlahnya Rp. 5 juta.
Saat ini nasi kuning pojok halal sudah ada 2 cabang, di Sunter dan Hayam Wuruk. Berikutnya dalam tahun ini Yusuf Hamka akan buka di samping gedung KPK, Jaksel dan Jaktim. Insyaallah beliau akan membuka cabang di 5 daerah Jakarta. Dan bahkan akan membuka cabang di seluruh Indonesia, dengan mengajak pengusaha lain.

Mushallah di kolong Jalan Tol
Yusuf Hamka membangun Mushallah di kolong Jalan Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Utara.  Lokasi itu semula merupakan lokasi yang kumuh dan dihuni oleh orang-orang yang jauh dari spiritual. Tujuannya untuk membantu masyarakat miskin dan amoral di sekitar wilayah itu untuk menjalankan ibadah shalat 5 waktu. 
Selain itu mushallah yang indah berarsitektur China itu mempunyai halaman yang cukup luas dan teduh, bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk beristirahat dan bermain bagi anak-anak.
Tayangan video kegiatan sedekah Yusuf Hamka begitu viral. Bisa kita simak melalui Youtube dg tag line “Yusuf Hamka, antara Islam dan China.
Yusuf Hamka yang merupakan komisioner independen PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) Tbk. Itu memberikan inspirasi tentang bagaimana hikmah dari bersedekah kepada fakir miskin. Ia menceritakan bahwa dengan bersedekah justru rezekinya datang begitu besar seperti datangnya tsunami.   

Hakekat Harta
Dalam sebuah wawancara TV, Yusuf Hamka menyampaikan bahwa apa yang ia lakukan adalah semata-mata karena ingin membantu mesyarakat miskin dan dhuafa. Seperti yang ia ketahui dalam agama Islam bahwa orang yang paling baik adalah yang banyak memberi manfaat bagi manusia lainnya.
Rasulullah bersabda, “khairunnas anfa’uhum linnas Manusia yang paling baik (dicintai Allah Ta’ala),  ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain.”  (HR. Ibnu Hajar Al-Asqalani)
Yusuf Hamka juga menyampaikan pesan moral tentang hakekat harta, yang ia terima dari Buya Hamka.  Perhatikanlah hartamu, karena:
·         Harta yang kau makan akan jadi kotoran
·         Harta yang kau simpan akan menjadi warisan atau rebutan
·         Harta yang kau sedekahkan akan menjadi tabungan berlipat di akherat nanti.
Orang menjadi bahagia bukan lantaran ia mampu mengumpulkan harta, tetapi justru karena ia mampu membaginya (menolong orang susah).  Dan itulah yang dirasakan oleh Yusuf Hamka.

Ancaman Menumpuk Harta
Sifat manusia itu sangat tamak dan rakus kepada harta, meski hartanya sudah melimpah ruah ia masih akan terus mengumpulkannya.  Keserakahannya akan terus tumbuh dan tidak akan hilang, kecuali setelah kematian menjemputnya.
Rasulullah bersabda,  Seandainya anak cucu adam (manusia) mendapatkan dua lembah yang berisi emas, niscaya ia masih menginginkan lembah emas yang ketiga.  Tidak akan pernah penuh perut anak Adam kecuali ditutup dalam tanah (mati). ” (HR. Ahmad)
Bagi mereka yang menumpuk harta dan tidak menyedekahkan sebagian hartanya, maka Allah akan memberi siksaan yang sangat pedih.
Allah SWT berfirman, ''Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ''Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.'' (QS At Taubah; 34-35)
Perlu diketahui, bahwa harta adalah sumber dari segala kejahatan.  Dalam suatu hadis Rasulullah bersabda: ”Setelah kaum iblis mengetahui bahwa aku telah diutus oleh Allah dan umat telah berdiri, maka mereka merasa tak sanggup lagi menyesatkan kaum  Muslimin supaya menyembah berhala.  Tetapi pemimpin mereka berkata, ’Aku tidak peduli apakah manusia itu masih atau sudah tidak lagi menyembah berhala.  Aku akan menggoda mereka setiap saat melalui tiga cara yaitu: (1) supaya mereka mencari harta dengan jalan yang tidak halal, (2) supaya mereka membelanjakan harta itu di jalan yang tidak benar, dan (3) supaya mereka menahan harta itu tidak pada haknya (HR. Abi Umamah).

Harta Tidak Dibawa Mati
Ungkapan “Harta tidak dibawa mati” itu dibantah oleh Haji Usman. Tentu ia mempunyai sudut pandang yang berbeda mengenai harta.
Haji Usman adalah pemilik salah satu usaha batik dan olahan texstil terkemuka di Yogyakarta.  Ia dikenal atas kedermawanannya, karena ia gemar sekali bersedekah, membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin. Namun hartanya tidak habis-habis, bahkan usahanya semakin maju.
Maka beberapa orang pengusaha muda yg bersemangat mendatangi beliau.  “Ajarkan pada kami Ji, bagaimana caranya agar kami seperti haji Usman. Bisnis bisa maju dan sukses, padahal harta terus dibagi-bagikan. Seolah tidak cinta pada harta”.


“Wah … Antum salah alamat!” Jawab Haji Usman. Kemudian ia melanjutkan.
Saya ini sangat sayang juga mencintai harta saya. Saya ini sangat mencintai aset yang saya miliki.  Saking cinta dan sayangnya pada harta, sampai-sampai saya tidak rela meninggalkan harta saya di dunia ini. Akan saya bawa mati harta-harta yang saya miliki.
Caranya?.    Saya titip-titipkan dulu ...
Titip pada Masjid,
Titip pada anak yatim,
Titip pada fakir miskin,
Titip pada madrasah,
Titip pada guru-guru agama
Titip pada saudara dan karyawan yang dirawat si rumah sakit.
Insya Allah di akhirat nanti mereka itu yang akan mengembalikan harta-harta titipan saya itu.