Rabu, 08 Juli 2020

Muhasabah, Mulat Sarira Hangrasa Wani

Mulat sarira hangrasa wani” adalah ungkapan filosofi Jawa Kuno, yang secara harfiah berasal dari kata “mulat” berarti melihat, “sarira” berarti badan, “hangrasa” berarti merasa, dan “wani” berarti berani. Secara terminologi “mulat sarira hangrasa wani” mempunyai pengertian “berani melihat kekurangan diri sendiri,” yang dalam bahasa popular saat ini adalah introspeksi atau mawas diri.
Lebih mendalam dari makna introspeksi, ungkapan “mulat sarira hangrasa wani” itu mengandung unsur “hangrasa” (kesadaran) dan unsur “wani” (keberanian/kemauan), maknanya ada kesadaran dan kesungguhan hati untuk melihat kekurangan diri.

Kemauan untuk mencari dan menemukan kekurangan diri bukan hal mudah, karena umumnya manusia mempunyai sifat egois dan merasa dirinya selalu benar. Sekalipun ia tahu dirinya mempunyai kesalahan, namun biasanya ia selalu berusaha untuk mencari pembenaran. Karena umumnya orang malu hati kalau kesalahan atau kekurangannya, yang merupakan aib itu terungkap dihadapan orang lain.
Untuk bisa melakukan introspeksi diri, maka seseorang harus menempatkan diri pada posisi yang paling rendah. Dengan kerendahan hati, kita akan lebih mampu untuk menyadari kesalahan yang telah kita lakukan. Introspeksi diri yang dilakukan dengan kerendahan hati dapat memberikan hasil yang lebih mendalam.
Sebaliknya introspeksi diri tidak dapat dilakukan bilamana kita masih ada rasa sombong. Introspeksi tanpa menyingkirkan rasa sombong tidak akan mungkin bisa dilakukan. Orang yang sombong tidak mau melakukan introspeksi karena ia selalu merasa dirinya benar.
Dalam khasanah Islam, introspeksi disebut dengan “muhasabah” (bahasa Arab; hasiba-yahsabu-hisab) yang artinya melakukan perhitungan atau evaluasi.  Secara istilah keagamaan, muhasabah berarti suatu upaya dalam melakukan evaluasi terhadap diri sendiri dengan melihat kebaikan dan keburukan dalam segala aspek. 
Dalam QS. Al Hasyr ayat 18 Allah Swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya (introspeksi) untuk hari esok (akhirat). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Teliti  terhadap apa yang kamu kerjakan".
Umar bin Khattab memberi nasehat kepada kita dengan pesannya "Hisablah (evaluasilah) dirimu sebelum engkau dihisab (dievaluasi) oleh yang lain, karena hisab terhadap dirimu nanti akan lebih mudah jika engkau lakukan hisab diri sekarang"
Cara bermuhasabah (introspeksi) :
Melakukan muhasabah secara efektif haruslah dilakukan dengan konsep “mulat sarira hangrasa wani”, yaitu melakukan introspeksi (mulat sarira) dengan penuh kesadaran (hangrasa) dan kesungguhan hati (wani).  
Beberapa tips melakukan muhasabah adalah sebagai berikut:
1. Hindari mindset bahwa kita yang paling benar.
Sikap membuka diri akan melatih dan menjauhkan diri dari sifat egois. Kita harus berhenti egois dan membuka pikiran dengan mencoba melihat persoalan dari sisi orang lain. Bisa jadi ada hal yang luput dari pikiran kita. Introspeksi dilakukan melalui perenungan dengan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri, “Adakah cara yang lebih baik/bijak?
2.  Menerima masukan dari orang lain.
Kita harus membuka diri untuk menerima masukan dari orang lain. Bahkan akan lebih baik bila dilakukan dengan proaktif, yaitu meminta masukan dan kritik dari seorang sahabat tentang diri kita atau tentang hal apa yang telah kita perbuat. Tentu cara menyampaiannya harus dengan tulus dan rendah hati agar sahabat kita tidak segan memberikan masukan secara jujur, bukan untuk menyenangkan hati.
3.  Berkhalwat.
Secara harfiah pengertian khalwat adalah sepi tau menyepi. Dalam khasanah Islam, pengertian berkhalwat adalah mengasingkan diri di tempat yang sunyi untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan cara bertafakur, berdzikir, kontemplasi, menenangkan pikiran, dan sebagainya.
Berkhalwat adalah cara paling efektif untuk bermuhasabah (introspeksi), dengan aktifitas utamanya adalah tafakur (kontemplasi) dan istighfar.
Tafakur atau kontemplasi  merupakan suatu kegiatan berfikir atau perenungan yang melibatkan qalbu terhadap segala fenomena yang terjadi di alam semesta, baik yang menyangkut pada pengalaman pribadi maupun orang lain.  Sedangkan istighfar adalah yaitu ungkapan permohonan ampunan kepada Allah Swt atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.
Aktifitas dalam berkhalwat lebih pada pemaksimalan daya indera dan rasa, bukan pada pemikiran. Karena pemikiran manusia sudah dipenuhi dengan hal-hal yang begitu banyak, bervariasi, dan dipenuhi egoisme.  Ketika berkhalwat kita berupaya meninggalkan segala nafsu keduniawian dengan lebih fokus pada  cara untuk memperoleh ketentraman jiwa.
Kekuatan memaafkan
Semua orang pasti tidak luput dari kesalahan baik sengaja maupun tak sengaja. Meminta maaf atas kesalahan terhadap orang lain adalah sikap yang baik. Namun memaafkan dengan tulus ikhlas atas kesalahan orang lain terhadap kita adalah sikap yang sangat mulia. Meminta maaf tidaklah sulit, tetapi memaafkan tidaklah mudah bahkan sangat berat.
Perlu dipahami bahwa orang yang sulit memaafkan tidak akan memperoleh kemuliaan, justru malah ketidak tenangan karena diliputi rasa kebencian. Sebaliknya, orang yang tulus memaafkan akan memperoleh kemuliaan, terhindar dari rasa kesal dan sesal, dan yang terpenting menjadi unsur untuk meraih kedudukan taqwa.
Orang bijak menasehati, “Memaafkan (mungkin) tidak bisa memperbaiki masa lalu, tetapi pasti memperindah masa depan”.  Dan salah satu cara untuk dapat melonjakkan kekuatan spiritual kita adalah dengan memaafkan orang yang berbuat dzalim kepada kita. 
Untuk dapat menjadi pemaaf maka perlu latihan, salah satu cara dengan meluangkan waktu untuk memikirkan orang-orang yang pernah kita benci atau pernah menyakiti.   Kemudian ingatlah kata-kata mereka yang menyakitkan, dan kemudian tenangkan batin kita.  Katakan dengan lembut dan tulus, aku telah memaafkanmu!”.

Nabi Muhammad bersabda, “ Allah akan memuliakan dan meninggikan derajat orang yang mempunyai sifat Hilm (sabar di atas sabar), yaitu sabar  kepada orang yang membencinya, memaafkan orang yang mendzaliminya, mengasihani kepada orang yang memusuhinya, dan menghubungi orang yang telah memutuskan silaturrahim dengannya” (HR Thabrani).

Senin, 06 Juli 2020

Salawat Nabi

SHALAWAT NABI (1)

Allâhumma sholli ‘alâ Muhammad
Yâ Robbi sholli ‘alayhi wasallim

Yaa Allah limpahkanlah rahmat ta’dzim pada Nabi Muhammad Saw.
Wahai Tuhanku limpahkanlah rahmat dan kesejahteraan padanya.


SHALAWAT IBRAHIMIYAH (2)


Allahumma shalli 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad,
Kamaa shallaita 'alaa ibrahim, wa 'alaa aali ibrahim.

Wa baarik 'alaa muhammad, wa 'alaa aali muhammad, kamaa baarakta 'alaa ibrahim, wa 'alaa aali ibrahim.

Fil 'aalamiina innaka hamiidummajiid.

Artinya:

Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan untuk Nabi Muhammad. Dan juga limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada keluarga Muhammad, Sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat dan keselamatan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim.

Limpahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim.

Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji lagi Maha Agung.

Ket : Shalawat Ibrahimiyah merupakan shalawat yang dibacakan saat shalat yaitu saat tasyahud akhir.


SHALAWAT NABI (3)

Allahuma sholi 'ala Muhammad
Ya Robbi sholi 'alayhi wasallim

Robbi fanfa’naa bibarkatihim
Wahdinal khusnaa bikhurmatihim

Wa amitnaa fii thoriiqotihim
Wa mu’aafaatim minal fitani

Arti:

Ya Allah limpahkanlah rahmat ta'dzim kepada Nabi Muhammad Saw.
Wahai Tuhanku limpahkan rahmat dan kesejahteraan padanya.

Yaa Tuhan dengan barokah mereka beri kami kemanfaatan
Tunjukkan kami kebaikan dengan kehormatan mereka.

Dan wafatkanlah kami di jalan mereka,


Dan selamat dari segala fitnah

Sedulur Papat Limo Pancer, Kakang Kawah Adi Ari-ari


Epistemologi Sedulur Papat
Secara bahasa, ada yang menyebut Kiblat Papat Limo PancerSedulur Papat Limo Pancer Kakang Kawah Adi Ari-ari. Pemaknaan istilah ini tidak bisa sembarangan karena sangat enigmatis dan penuh misteri, bahkan banyak kaum intelektual hanya menyebut sebagai mitos. Apakah demikian? Jelas tidak.
Adi (2018) menerjemahkan secara ilmiah ke dalam beberapa bagian. Pertama, kakang kawah atau air ketuban. Kedua, adi ari-ari atau ari-ari.  Ketiga, getih atau darah. Keempat, puser atau pusar. Kelima, pancer, yang berarti kita sendiri sebagai pusat kehidupan ketika dilahirkan.
Ketika sang jabang bayi lahir ke dunia melalui rahim ibu, maka semua unsur-unsur itu keluar dari rahim ibu. Dengan izin Tuhan, unsur ini menjaga manusia yang ada di bumi saat dilahirkan. Orang Jawa di dalam doa sering menyebut untuk mendoakan pejaga yang tidak tampak ini (kakang kawah, adi ari-ari, getih dan puser).
Sedulur papat juga dimaknai empat makhluk gaib yang tidak kasat mata (metafisik). Mereka merupakan saudara yang setia menemani hidup manusia, mulai dilahirkan di dunia hingga nanti meninggal dunia menuju alam kelanggengan.
Riset Raharjo (2012:4), menyebut dalam ilmu Jawa terdapat jagat kecil (mikrokosmos)  kiblat papat” yang merupakan “kakang kawah adhi ari-ari” dengan pusat manusia sendiri, sebagai satu kesatuan jiwa manusia untuk meraih ketentraman hidup memiliki saudara alamiah dalam tubuhnya.
Kedalaman makna ini tidak cukup ditinjau dari aspek filologi atau antropologi, namun harus menggunakan pendekatan lain yang lebih kompatibel. Dalam falsafah Jawa, saat manusia dilahirkan dari rahim ibu pasti membawa air ketuban, ari-ari, darah, dan tali plasenta. Masyarakat Jawa meyakini bahwa keempat benda ini menyertai kehidupan manusia dan selalu “menghidupi” secara batin sejak dilahirkan sampai meninggal dunia.
Semua agama meyakini bawa hidup dan matinya seorang ditentukan oleh Tuhan. Dalam kehidupan ini, selain alam fisik juga ada metafisik yang dalam keyakinan Hindu disebut mikrokosmos yang merupakan unsur alam dengan mengawinkan “sedulur papat” di atas sebagai bagian empat kiblat dalam alam yang berupa tanah/bumi, air, api, dan angin.
Konsep ini tentu selaras dengan kepercayaan semua agama di Nusantara yang meyakini manusia hidup, mati, dan menyinergikan kehidupan-kematian itu dengan tanah, api, air, dan angin. Tidak bisa tidak. Jika ada orang mengingkari Sedulur Papat, otomatis mereka menolak kehidupan.
Dalang Ki Sigit Ariyanto (2017) pernah menafsir Sedulur Papat dengan sangat rinci. Pertama, watman, merupakan rasa cemas atau khawatir ketika seorang ibu hendak melahirkan anaknya. Watman diartikan saudara tertua yang menyiratkan betapa utamanya sikap hormat, sujud kepada orangtua khususnya ibu. Kasih sayang ibu ialah kekuatan yang akan mengiringi hidup seorang anak.
Kedua, wahman yaitu kawah atau air ketuban. Fungsinya menjaga janin dalam kandungan agar tetap aman dari goncangan. Ketika melahirkan, air ketuban pecah dan musnah menyatu dengan alam, namun secara metafisik ia tetap ada sebagai saudara penjaga dan pelindung.
Ketiga, rahman atau darah dalam persalinan sebagai gambaran kehidupan, nyawa, dan semangat. Selalu ada sebagai saudara yang memberi kehidupan dan kesehatan jasmani. Keempat, Ariman atau ari-ari (plasenta) sebagai saluran makanan bagi janin. Ia merupakan saudara tak kasat mata yang mendorong seseorang untuk mencari nafkah dan memelihara kehidupan.
Kelima, panceratau pusat yang berarti bayi itu sendiri dimaknai juga sebagai ruh yang ada dalam diri manusia yang akan mengendalikan kesadaran diri seseorang agar tetap eling lan waspada (ingat dan waspada). Ingat kepada sang pencipta dan menjadi insan yang bijaksana.
Dalam risetnya, Dewi (2017:4) juga menemukan,  keempat saudarana watman, wahman, rahman, dan ariman itu merupakan saudara manusia yang menemani secara metafisik. Sedulur Papat menjadi potensi atau energi aktif dan pancer sebagai pengendali kesadaran. Mereka adalah saudara penolong dalam mengarungi kehidupan hingga seseorang  kembali lagi pada sang pencipta.
Artinya, tanpa mengenal Sedulur Papat kita sendiri akan susah menuju Tuhan.

Dari epistemologi di atas sudah jelas dan ilmiah, manusia mau beragama atau ateis akan berteman dengan Sedulur Papat atau Kiblat Papat. Sebab, Sedulur Papat inilah yang akan memandu manusia menuju Tuhannya. Orang Jawa sendiri, menjadi Sedulur Papat Limo Pancer sebagai jimat, pakem, aturan, atau pedoman dalam berbagai kehidupan.
Apa wujudnya? Salah satunya filosofi Kiblat Papat Lima Pancer yang diartikan sebagai empat arah mata angin yaitu timur, selatan, barat dan utara sedangkan Lima Pancer yaitu tengah.
Bahkan, orang Jawa sendiri memasukkan itu ke dalam nama-nama hari (pasaran) yang menjadi penentu jodoh, rezeki, dan nyawa manusia. Wujudnya, berupa konsep hari seperti pasaran legi (timur), pahing (selatan), pon (barat), wage (barat), dan kliwon (tengah/pusat).
Misalnya, dalam menanam jagung, ketika tidak mengindahkan konsep ini, bisa jadi mereka puso alias gagal panen. Begitu pula dengan pemilihan hari pernikahan, khitan, pindahan atau membangun rumah dan sebagainya.
Apakah hanya itu? Ternyata tidak. Kontekstualiasi Sedulur Papat juga menjelmas dalam elemen dasar dalam kehidupan manusia. Seperti cipta, rasa, karsa, dan karya. Tanpa keempat hal ini, bisa jadi manusia hidup namun mati. Artinya, sangat konyol ketika manusia hidup namun tidak memiliki cipta, rasa, karsa dan karya.
Islam sendiri sudah mengonsep hal itu dengan riil ke dalam bab nafsu, tasawuf, dan kondisi hati manusia dalam Surat Al-Qiyamah (75:1-2). Dari ayat itu, Winardi (2017) mengnalisis, manusia memiliki empat unsur paling dasar, yaitu lawwamah, supiyah, amarah dan mutmainah.
Lawwamah ini diartikan selemah apa pun manusia, pasti di dalam jiwanya terdapat sifat kejam dan berani membunuh. Jika diilmiahkan, sifat ini  menjadi pertanda setiap manusia hidup membutuhkan tanah sebagai salah satu sumber hidup atau dalam tubuh manusia  pasti mengandung zat tanah. Lambang warna dari sifat aluamah yakni  hitam.
Supiyah mengandung arti yaitu sebagai sahabat hidup manusia  yang selalu menginginkan harta benda dalam kemegahan serta  kemewahan dunia. Lambang warna dari sifat supiyah yakni kuning. Amarah yaitu sifat selalu mengajak dan menginginkan hal berbau atau dalam ranah politik, kecerdasan akan tetapi lebih cenderung dalam kesombongan.
Lambang warna dari sifat ini merah. Mutmainah yaitu sifat cenderung mengajak dalam nafsu ketuhanan,  beribadah kepada Tuhan. Lambang warna dari mutmainah yakni putih.
Dari keempat jenis ini, tidak mungkin manusia hanya memilih satu saja karena sudah digariskan dalam kehidupan. Namun, di antara keempat itu manusia harus dapat menyinergikan, memilah dan memilih mana yang potensi benar-salah, baik-buruk, indah-jelek untuk menggapai kehidupan bahagia dan pada akhirnya mengantarkan manusia kepada Tuhannya.
Tanpa Sedulur Papat Limo Pancer, bisa jadi manusia tidak tahu dirinya. Bahkan, filsuf Martin Buber (1878-1965) jauh-jauh hari menggagas konsep diri dalam kehidupan dengan tujuan agar manusia menjadi dirinya sendiri meskipun dalam dirinya ada diri-diri yang lain. Dari diri-diri yang lain itu, manusia harus dapat menggapai jati diri, hakikat diri, dan harga diri agar tidak membelah diri.
Sedangkan konsep diri perspektif Ibnu Miskawaih (1994: 43-44), manusia memiliki tiga bagian, yaitu al-quwwah  alnatiqah (fakultas berpikir), al-quwwah algadabiyyah (fakultas amarah), dan alquwwah  al-shahwiyah (fakultas nafsu syahwat). Sedangkan Imam Al-ghazali (1960: 291) membuat episteme fakultas berpikir dengan al-nafs al-insaniyyah (jiwa  sebagai  esensi  manusia), fakultas amarah dengan istilah al-nafs alhayawaniyyat, dan fakultas nafsu syahwat dengan istilah al-nafs al-hayawaniyyah.
Diri manusia, menurut dua filsuf ini memiliki keutamaan dengan beberapa syarat. Miskawaih dan Al-Ghazali mengemukakan ada empat keutamaan tertinggi bagi manusia.
Mulai dari al-hikmat sebagai keutamaan akal, al-shaja‘ah keutamaan daya, al-gadab, al-‘iffah sebagai keutamaan daya al-shahwah, dan al-‘adalah sebagai  keseimbangan  daya  itu. Keutamaan-keutamaan inilah yang harusnya digali, karena manusia selain badan, juga memiliki akal, nafsu/syahwat dan hati.
Sudah jelas, Sedulur Papat Limo Pancer merupakan bagian dari diri manusia yang harus diijtihadi, digali, dan disinergikan ke dalam kehidupan agar manusia dapat kembali kepada Tuhannya. Uniknya, saat ini Indonesia berada pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang secara leksikal merupakan kesamaan dari Sedulur Papat (Revolusi Industri 4.0), Limo Pancer (Society 5.0). Ini bukan kebetulan, namun memang sudah sesuai dengan zeitgeist (spirit zaman).
Jika kita tidak dapat mentransformasi teknologi batin pada Sedulur Papat Limo Pancer, maka akan susah bagi kita untuk menjawab tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0.
Sebab, sinyal, kuota, internet, pulsa, semuanya adalah dunia maya, makhluk gaib yang kita sembah setiap hari. Sedangkan Sedulur Papat Limo Pancer jelas-jelas ada secara fisik saat kita lahir. Dus, kini siapa yang lebih gaib dan mitos antara sinyal, pulsa, kuota dengan Sedulur Papat Limo Pancer?

Jumat, 03 Juli 2020

Sawang Sinawang

Pepatah Jawa “sawang sinawang” secara harfiah berasal dari kata sawang yang artinya melihat, sedangkan sinawang artinya balik melihat. Bila digabungkan mempunyai arti saling melihat dan dilihat.  
Sawang sinawang diambil dari ungkapan Jawa “Sejatine urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang" yang artinya kurang lebih yaitu “Sesungguhnya hidup itu hanyalah persoalan pandang memandang, jadi jangan hanya memandang dari apa yang terlihat.
Pepatah ini seirama dengan peribahasa Indonesia “rumput rumah tetangga nampak lebih hijau“ yang bermakna melihat kehidupan orang lain nampak lebih baik.
Pepatah “sawang sinawang” ini terkait dengan masalah kebahagiaan, mengandung filosofi atau ajaran untuk tidak membanding-bandingkan kehidupan seseorang dengan orang lain, karena apa yang dipandang belum tentu seindah atau semudah yang tampak.
Mungkin saja apa yang kita ‘lihat nikmat’ belum tentu demikian sebenarnya, apa yang kita lihat hanyalah ‘tampak’ bukan sebenar-benarnya yang dirasa atau yang terjadi. Bisa saja ketika yang ‘tampak’ tersebut didapat atau dirasai oleh diri kita sendiri, kita tidak benar-benar merasakan kenikmatan tersebut. 
Pepatah ini sering ditujukan kepada seseorang yang sedang mengeluhkan kondisi yang dialaminya dengan membandingkannya dengan kondisi orang lain yang nampaknya lebih baik.
Seperti misalnya seorang guru yang merasa nasibnya tidak lebih baik dibanding seorang dokter yang bergaji besar. Sedangkan seorang dokter yang iri dengan tetangganya seorang pengusaha yang bisa menikmati banyak waktunya. Sementara seorang pengusaha pingin jadi polisi yang nampak gagah. Dan kemudian seorang polisi yang iri dengan seorang guru yang hidupnya adem, ayem serta dan dihormati, dst.
Pada dasarnya setiap orang, apapun kedudukannya tentu mengalami kebahagiaan dan masalah dalam kehidupannya.  Gubernur, jaksa, polisi, dokter, guru, petani, dan buruh sekalipun dalam kehidupannya pasti mengalami sedih bahagia, susah senang, cemas tenang, dan seterusnya.
Kebahagiaan itu tidak bisa diukur dari materi dan status sosial, karena kebahagiaan itu masalah rasa dan perasaan yg adanya dalam hati. Meski materi dan kedudukan itu merupakan sarana utk membantu mempermudah mengatasi persoalan, tetapi tidak menjamin hadirnya kebahagiaan.  Kebahagiaan itu ada dalam hati, sehingga tergantung bagaimana kita mengelolanya.
Kehidupan keluarga gubernur belum tentu lebih bahagia ketimbang keluarga petani. Seorang gubernur belum tentu bisa menikmati makanan yang disipkan di meja makannya, meskipun makanannya enak dan mahal.  Di sisi lain seorang petani bisa sangat menikmati makanan sederhana yang dimasak istrinya dari rumah.
Itulah maka petuah Jawa menasehati, aja mung nyawang sing kesawang,” maksudnya jangan hanya melihat (menilai) seseorang dari apa yang terlihat (nampak dari luar).
Semakin tinggi status sosial ekonomi seseorang biasanya semakin tinggi pula standar tuntutan pola kehidupanya.  Semakin kaya seseorang maka tuntutan penampilan, pakaian, mobil, rumah, juga dalam hal makan akan semakin tinggi. Bila dia sudah masuk kedalam kehidupan yang mewah, maka kemewahan sudah menjadi hal yang biasa dan bukan lagi menjadi sesuatu yang membahagiakan.
Maka orang yang selalu hidup sederhana dan senantiasa bersyukur, meski status sosial ekonominya meningkat adalah mereka yang hidupnya bahagia.
Sebagaimana yang ajarkan dalam agama Islam, kunci kebahagiaan dalam hidup adalah syukur dan sabar.   Syukur adalah perwujudan dari rasa terimakasih dengan cara berbagi. Sedangkan sabar adalah kerelaan menerima keadaan yang tidak menyenangkan dengan kesadaran bahwa keadaan itu merupakan ujian dari Allah Swt.
Terkait dengan masalah syukur dan bahagia, ada ungkapan hikmah yaitu, “Jangan menunggu bahagia untuk bersyukur, tetapi bersyukurlah yang membuatmu bahagia.”
Sawang sinawang itu bisa kita pahami melalui kisah hidup seorang raja dan tukang kebun pada cerita berjudul “Jebakan 99”
Jebakan 99
Ada seorang Raja yang sedang termenung sambil melihat taman di depan istananya. Ia gelisah karena tak pernah merasakan ketenangan dan sulit sekali menemukan kebahagiaan. Kesehatannya mulai menurun karena ia mulai susah tidur akibat banyaknya pikiran yang mengganggu. Padahal selama ini ia tidur di  kamar mewah di atas kasur yang empuk.
Ketika sedang melamun, sang raja melihat seorang tukang kebun yang sedang bekerja sambil bernyanyi dan tertawa ria.  Setiap hari ia datang dengan senyuman dan pulang dengan keceriaan. Padahal gajinya pas-pasan dan rumahnya begitu sederhana.  Tak pernah tampak kesedihan di wajahnya.
Saat dia pulang keluarganya telah menunggu dengan hidangan makan seadanya dan keluarga kecil ini pun makan dengan bahagia.
Raja pun heran melihat orang ini.  Ia memanggil penasihatnya dan  bertanya: Hai penasihatku, telah lama aku hidup di tengah kegelisahan, padahal aku memiliki segalanya. Tapi aku sungguh heran melihat tukang kebun itu. Tak pernah tampak kesedihan di wajahnya. Kadang-kadang ia tertidur di bawah pohon, seperti tak ada beban dalam hidupnya.  Padahal ia tidak memiliki apa-apa.
Sang Penasehat tersenyum dan berkata : Paduka raja, Itu karena tukang kebun itu tidak tersentuh Jebakan 99.  Bila ia sudah terkena jebakan ini, maka hidupnya akan gelisah dan ia tdk akan bisa tidur.
Apa yang kau maksud dengan Jebakan 99 ?, tanya raja.  Bila paduka ingin tahu, besok malam perintahkan prajurit untuk mengantarkan hadiah kepadanya. Sediakan satu kotak uang dan tulislah 100 Dinar. Namun isi lah kotak itu dengan 99 dinar saja.  Raja pun menuruti saran dari penasihatnya.
Ketika hari mulai gelap, prajurit mengetuk pintu rumah tukang kebun ini dengan membawa hadiah. Si tukang kebun membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat prajurit membawa kotak hadiah. Ini hadiah dari raja untukmu, kata si prajurit.
Sampaikan terima kasihku kepada raja, jawab tukang kebun sambil kegirangan melihat kotak dengan tulisan 100 dinar. Belum pernah ia memiliki uang sebanyak itu. Ia segera membawa masuk kotak itu dan menghitungnya bersama keluarga.
Namun anehnya, jumlah uang didalam kotak itu hanya 99 dinar.Dia pun menghitung ulang lagi, tapi tetap jumlahnya 99. Dia yakin, pasti ada uang yang jatuh.
Dia mencari-cari di sekitar pintu, tapi tak menemukan apa-apa. Akhirnya dia mencoba untuk menelusuri sepanjang jalan menuju istana. Semalaman ia mencari, tapi tetap tidak menemukan apa-apa.
Matahari mulai terbit, raja beserta penasihatnya menanti tukang kebun ini.  Tak berapa lama dia datang dengan wajah yg masam dan merengut. Raja pun kaget dan bertanya kepada penasihatnya, Apa yang terjadi ?  Tak biasanya ia datang dengan wajah seperti ini !
Penasihat raja menjawab, Duhai raja, begitulah kehidupan. Kita memiliki banyak hal, namun kita mencari yang tidak kita miliki.  Orang ini mendapatkan 99 dinar secara cuma-cuma, namun ia sibuk mencari 1 dinar yang tidak ada. 
Munculnya kegelisahan hati, karena kita mencari sesuatu yang tidak kita miliki,  Sementara kita tidak pernah sungguh-sungguh mensyukuri banyaknya anugerah yg kita punya.  Sebuah renungan bagi kita bila kadang merasa kurang bersyukur.

Kehidupan di dunia ini diibaratkan panggung sandiwara.
Kehidupan di dunia ini diibaratkan kehidupan di panggung sandiwara. Tuhan sebagai penulis skenario sekaligus sebagai sutradara. Dan kita umat manusia sebagai aktor atau pemain yang harus memainkan sesuai perannya masing-masing.  Segala sesuatu yang kita lakukan sudah ada skenario.
Dan kita sebagai aktor, hanya perlu mengikuti skenario yang ada, mengikuti perintah sutradara. Tugas kita saat ini adalah berusaha tampil dengan sebaik-baiknya, sesuai peran yang diberikan.
Kita hanya menjalankan peran yang ada, tanpa bisa menilai, mengkritik dan memprotes. Apabila kita bisa memerankan peran sebaik mungkin sesuai skenario cerita, maka itulah nilai terbaik yang kita peroleh.

Allah SWT mempunyai kuasa penuh atas skenario kehidupan hamba-hambaNya dalam setiap episode. Dalam drama kehidupan di dunia, setiap manusia mendapat satu peran. Manusia sebagai pemain tidak mempunyai pilihan peran lain kecuali hanya memainkan sebaik mungkin peran yang sudah diberikan.

Kesemuanya menjadi satu pertunjukan yang sempurna. Tugas masing-masing manusia adalah memainkan perannya masing-masing sebaik mungkin.  Kalau jadi raja maka jadilah raja yang baik. Bila jadi rakyat maka jadilah rakyat yang baik sesuai kodratnya.

Shalat Jenazah (Ghaib)


Shalat Jenazah dilakukan dengan 4 takbir (tanpa rukuk dan sujud.)

1. Niat. (niat bisa dalam hati atau diucapkan)
Saya niat shalat jenazah atas mayit laki-laki ini empat kali takbir karena Allah Taala.

2. Takbir pertama (takbiratul ikhram), dilanjutkan membaca Surat Alfatihah.

3. Takbir kedua, dilanjutkan membaca Shalawat Nabi :
Allohumma sholli ‘ala muhamma wa ‘ala ali Muhammad, Kama sholaita ‘ala ibrohim wa ‘ala ibrohim.

4.  Takbir ketiga. dilanjutkan membaca do’a untuk jenazah.
Allahummaghfirlahu (ha:untuk perempuan),  Warhamhu(ha) , Wa ‘afihi wa’fu anhu(ha)
(Ya Allah ampuniah dia, berilah dia rahmat dan sejahterakan serta maafkanlah dia)

5.  Takbir keempat, dilanjutkan membaca do’a.
Allahumma la tahrimna ajrahu wala taftinna ba’dahu waghfirlana walahu  
(Ya Allah, janganlah Engkau halangi pahalanya yang akan sampai kepada kami, dan jangan Engkau memberi fitnah kepada kami sepeninggalnya serta ampunilah kami dan dia.)

6.  Salam (salam ke kanan dan ke kiri dalam posisi berdiri.)