Rabu, 01 Agustus 2018

Surat Al-Ashr : Manusia Dalam Kerugian, Kecuali ...


Ada sebuah surat dalam Al Qur’an yang pendek (hanya 3 ayat) dan telah banyak dihafal oleh kaum muslimin. Namun sayangnya (kata para ulama), hanya sedikit di antara kaum muslimin yang memahami dan melaksanakannya. Padahal surat ini memiliki kandungan makna yang sangat dalam, sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, ”Seandainya setiap manusia merenungkan surat ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” Surat itu adalah Al ‘Ashr (QS. 103)
Dalam surat Al ‘Ashr, Allah ta’ala berfirman: (1) Demi masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. (3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran (QS. Al ‘Ashr).

Ada 3 hal penting yang harus kita cermati dan renungkan dalam kandungan surat ini, yaitu:
Pertama; Surat itu merupakan sebuah statemen Allah SWT yang diawali dengan kalimat penegasan yang sangat serius (semacam sumpah), yaitu “Demi masa”.
Kedua; Substansi surat itu adalah sebuah statemen dari Allah, bahwa “Manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali… 
Ketiga: Manusia akan merugi apabila ia tidak melakukan 3 hal/perbuatan sekaligus, yaitu (1) beriman, (2) beramal shalih, dan (3) saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran.
Dengan demikian maka apabila seseorang hanya beriman saja (hanya beribadah dengan melaksanakan shalat, dzikir, iktikaf, puasa, dan ibadah mahdhah lainnya), tetapi tidak beramal shaleh (seperti sedekah, tolong menolong, peduli bencana, memakmurkan masjid, dst) maka ia akan mengalami kerugian. Kerugian disini bisa kerugian di dunia maupun di akhirat.
Dan demikian pula apabila seseorang yang telah beriman dan beramal shaleh tetapi tidak melakukan “amar makruf nahi munkar (menasehati antar sesama), maka ia juga dikatakan mengalami kerugian.

Esensi dari surat Al-Ashr adalah memerintahkan manusia untuk melakukan 3 hal, yaitu (1) beriman, (2) beramal shaleh, dan (3) saling menasehati.  Dalam konteks hablum minallah wa hablum minan naas, maka bagian pertama, yaitu beriman adalah hablum minallah (kesalehan individual). Sedangkan hal kedua dan ketiga, yaitu beramal shaleh dan saling menasehati adalah hablum minan naas (kesalehan sosial).
Kesalehan individual dan kesalehan sosial harus dilakukan secara bersamaan.  Tidak dibenarkan seseorang yang hanya tekun shalat, dzikir, iktikaf, dan puasa, tetapi apatis dengan masalah sosial, karena oleh Allah Ta’ala akan ditimpakan kepadanya kehinaan. Allah berfirman,  Dhuribat ‘alaihi mudh dhillatu ainamaa - tsuqifuu  illaa  bi hablim minallahi  wa hablim minan naas.  Ditimpakan atas mereka ”kehinaan” dimana saja mereka berada, kecuali kalau mereka berhubungan baik dengan Allah (hablim minallah) dan berhubungan baik pula dengan sesama manusia (hablim minan naas).   (QS. Ali Imran 112).

Dengan demikian maka, manusia selain harus beriman, ia juga dituntut untuk beramal shaleh dan saling menasehati tentang amar makruf nahi munkar.  Yang demikian itu baru dikatakan sebagai beragama Islam (memahami dan mengamalkan) secara Kaffah (menyeluruh).  Allah berfirman: “Ya ayyuhal ladzina amanud fis silmi kaffah  artinya: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.”(QS. Al Baqarah: 208).  Menyeluruh berarti beriman, beramal shaleh dan saling nasehat menasehati.

Pertanyaan besarnya adalah, Apakah benar sinyalemen para ulama bahwa hanya sedikit di antara kaum muslimin yang memahami dan melaksanakannya surat Al-Ashr ?  Jawabannya adalah kita kembalikan kepada diri kita untuk introspeksi.
Prof.  HA. Mukti Ali (mantan Menteri Agama RI, ulama ahli bidang perbandingan agama) pernah menyatakan bahwa, “Orang-orang Muslim banyak yang terjebak dalam masalah-masalah ritual, dan tidak peka terhadap masalah-masalah sosial. Padahal Allah memerintahkan untuk Hablu Minallah Wa Habluminan naas  secara seimbang”.
Dalam agama Islam, hablum minan naas mempunyai posisi yang istimewa. Kesalehan sosial lebih diutamakan daripada kesalehan individual.  Mereka yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk kemaslahatan Ummat daripada untuk dirinya sendiri dikatakan oleh Rasulullah sebagai sebaik-baiknya manusia.  Rasulullah bersabda,  Khairunnas anfa'uhum linnas”- Sebaik-baik kalian adalah yang paling banyak manfaatnya buat orang lain (HR. Ibnu Hajar al-Asqalani). 

-----------

Dalam konteks kecerdasan manusia, maka masing-masing dari ke-3 perbuatan itu mempunyai bidang kecerdasan yang berlainan.
1).  Ber-Iman.  Orang Islam yang telah beriman adalah mereka yang telah melaksanakan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan agama Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan ibadah spiritual lainnya. Modal kecerdasan dalam beriman adalah kecerdasan spiritual (SQ).
(2). Ber-Amal Soleh. Orang Islam harus pula melakukan perbuatan kebajikan dengan melakukan berbagai amal shaleh, seperti tolong menolong, tolerans, ramah, menjaga kebersihan, kerukunan, dan seterusnya.  Amal shaleh ini merupakan bentuk ibadah sosial. Modal kecerdasan dalam melakukan kebajikan sosial adalah kecerdasan emosional (EQ).
(3). Saling Menasehati. Saling menasehati sesama manusia tentang kebenaran dan kesabaran. Untuk dapat memberi nasehat kepada sesama diperlukan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Modal kecerdasan dalam melakukan perbuatan yang berlandaskan ilmu ini adalah kecerdasan intelektual (IQ).


&&&&

Syarat pertama, beriman.
Orang yang beriman disebut dengan “mukmin”.  Kedudukan orang yang beriman (mukmin)  tingkatannya lebih tinggi daripada orang yang beragama Islam (muslim).
Muslim adalah orang yang telah mengaku sebagai pemeluk agama Islam, dengan mengucapkan kalimah syahadah serta memahami aturan-aturan berupa kewajiban dan larangan dalam agama Islam.  Sedangkan Mukmin adalah orang Islam yang telah beriman, yaitu telah melaksanakan kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan agama Islam.
Dalam khasanah Islam tingkat kepatuhan seorang hamba kepada Allah dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu “Islam” (orangnya disebut muslim), “Iman” (orangnya disebut mukmin) dan “Ikhsan” (orangnya disebut mukhsin). 
Agar orang Islam (muslim) menjadi orang beriman (mukmin) maka ia harus melaksanakan ibadah mahdhah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan ibadah spiritual lainnya. (kecerdasan spiritual - SQ)

Syarat kedua, beramal shaleh.
Orang Islam harus berbuat kebajikan dengan melakukan berbagai amal shaleh, seperti tolong menolong, sedekah, tolerans, ramah, menjaga kebersihan, kerukunan, dan seterusnya. Amal shaleh ini merupakan bentuk ibadah sosial. (kecerdasan emosi - EQ)

Bila mencermati surat tersebut, maka modal beriman saja tidak cukup dan masih dikatakan orang yang merugi. Sehingga harus beramal shaleh.
Beriman dan beramal shaleh saja juga masih dikatakan tidak cukup dan masih dikategorikan orang yang merugi. Sehingga harus ditambah dengan saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran.

----

Pengertian amal saleh:
Syekh Muhammad Abduh mendefinisikan amal saleh sebagai “segala perbuatan yang bermanfaat bagi pribadi, keluarga, kelompok, dan manusia secara keseluruhan”.
Ahli tafsir Az-Zamakhsyari mengartikan amal saleh sebagai “segala perbuatan yang sesuai dengan dalil akal, Al-Quran, dan atau sunnah Nabi Muhammad Saw”.
Sedangkan menurut Quraish Shihab, (1997:480) amal saleh merupakan suatu pekerjaan yang dengan melakukannya diperoleh manfaat dan kesesuaian.

Dalam Islam, amal saleh merupakan modal dan bekal hidup untuk selamat dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

Lima Ciri Orang Bertaqwa


HAKEKAT TAQWA
Ketaqwaan merupakan prestasi tertinggi yang diraih oleh seorang mukmin dalam pengabdiannya kepada Allah SWT.   
Allah Swt berfirman,  “INNA AKRAMAKUM ‘INDALLAAHI ATQAAKUM”, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu”. (QS Al Hujurat ayat 13). 
Jaminan bagi orang yang bertaqwa adalah surga. Allah Swt berfirman, .  “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali Imran (3): 133)

Bagaimana untuk mencapai derajat taqwa?
Banyak da’i menyampaikan bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa adalah dengan menjalankan apa yang diperintahankan oleh Allah dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. (Berarti: melaksanakan yg wajib, dan menghindari yg haram. Padahal ada yang lain yaitu sunah dan makruh).
Pendapat lain, bahwa untuk menjadi orang yang bertaqwa adalah dengan dengan melakukan perbuatan yang ma’ruf (kebajikan) yang disukai Allah, dan menghindari hal-hal yang munkar (keburukan) yang tidak disukai oleh Allah.  (prilaki sombong & kikir tidak dilarang, tapi tidak disukai).
Prilaku Ma’ruf yaitu: jujur, adil, peduli, tanggung jawab, sederhana, ramah dsb (Jurdil Dulitang Sedmah)
Prilaku Munkar seperti: dzalim, sombong, apatis, kikir, dengki, serakah, dsb (Somtis Kirdeng Kah).

TAQWA DALAM AQ
Dalam Al-Quran  terdapat tidak kurang dari 208 ayat yang berkaitan dengan taqwa, antara lain pada surat Al-Baqarah (2) ayat 3, 177 & 183; Ali Imran (3) ayat 17 & 134; dan Adz-Dzariat (51) ayat 17-19. 
QS. Al Baqarah, ayat 2-3   :  Dzalikal kitabu la raiba fihi - hudal lil muttaqin # Alladzina yu’minuuna bil ghaibi wa yuqimunas salata wa mimma razaqnahum  yunfiqun # (Kitab AQ ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. # (mereka yg bertaqwa) yaitu mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka)
QS. Ali Imran, ayat 17: (orang yang bertaqwa yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
QS. Ali Imran, ayat 134:  (orang yg bertaqwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Sesuai Al-Qur’an, taqwa itu adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat, nabi-nabi, kitab-kitab, kehidupan akhirat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa, serta sabar (dalam menghadapi kesulitan), menahan amarah, memaafkan (kesalahan orang lain), dan menepati janji.
Singkatnya bertaqwa adalah RUKUN IMAN, RUKUN ISLAM, dan sedekah, sabar, memaafkan , kebajikan, dsb.

LIMA CIRI ORANG BERTAQWA
Dari keseluruhan ayat-ayat taqwa dalam Al-Qur’an, terdapat ciri-ciri khusus bagi orang yang bertaqwa.  Ciri-ciri ini bisa menjadi indikator bagi diri kita sejauh mana tingkat ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Lima ciri khusus orang yang bertaqwa adalah:
1.         Dermawan, yaitu suka berinfak baik dalam keadaan lapang maupun susah. (QS. 2:3,177 ;  3:17,134 ;   51:19)
2.         Sabar dalam penderitaan dan kesempitan (QS.2: 177)
3.         Menahan amarah  (QS. 3:134)
4.         Mudah memaafkan. (QS. 3:134)
5.         Suka Shalat Malam dan banyak ber Istighfar(QS. 51:18 ; 3:17)

TAQWA = IMAN + AMAL SALEH
Beriman saja belum menjamin seseorang akan memperoleh surga. Karena surga hanya dijanjikan untuk orang yang bertaqwa.  “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Ali Imran (3): 133)
Itulah sebabnya, orang beriman masih diperintahkan untuk meningkatkan keimanannya menjadi ketakwaan, sebagaimana difirmankan Allah: “Hai orang-orang yang ber-iman, ber-taqwa-lah kepada Allah dengan sebenar-benar  taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri (muslimun).” (Qs. Ali Imran: 102).
Jadi, bila orang yang sudah beriman ingin masuk surga maka ia harus mencapai tingkatan taqwa. Untuk mencapai derajat taqwa, iman saja tidak cukup (dalam pengertian hanya melaksanakan ibadah mahdhah (utama) saja, seperti shalat, zakat dan puasa, akan tetapi harus disertai pula dengan banyak berbuat kebajikan kepada sesama manusia (ibadah sosial).
Sesungguhnya “Taqwa = Iman + Amal Saleh”.
>  Iman = hablum minallah
>  Amal saleh = hablum minannas.

Dalam Al-Qur’an surah Al-‘Ashr dijelaskan pentingnya beriman dan beramal shaleh:
”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr).

Taqwallah juga harus disertai dengan syukur, sabar dan ikhlas.  Mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan kepada kita sekecil apapun. Sabar dalam menghadapi ujian berupa musibah dan cobaan-cobaan lain. Ikhlas dalam melakukan ibadah tanpa pamrih semata karena lillahi ta’ala. 


=====

Karakter Taqwa : Jujur, Adil, Bertanggungjawab, Peduli, Sederhana, Ramah, Komitmen dan Disiplin (Jurdil- Tangli – Dermah- Komplin)

Manusia Bernilai

1.  Nasehat Albert Einstein

Tentu kita semua sudah mengenal sosok yang bernama Albert Einstein. Dia dianggap sebagai manusia paling genius di abad 20Einstein merupakan ilmuwan terbesar abad itu, penemu teori relativitas dan banyak menyumbang bagi pengembangan ilmu fisika dan kosmologi. 

Beberapa bulan sebelum kematian Albert Einstein pada April 1955, seorang jurnalis majalah "LIFE" bernama William Miller mengunjungi ilmuwan terkenal itu di rumahnya di Princeton, New Jersey. Wartawan itu didampingi putranya Pat Miller.

Pada kesempatan itu William menginginkan agar Einstein memberikan nasehat kepada putranya untuk bimbingan dalam hidup, yaitu menjadi orang yang sukses.

Tertapi kemudian Pat Milller mendapatkan nasehat yang sama sekali tak diduganya. Einstein berkata, “Try not to become a man of success but rather try to become a man of value” (Cobalah untuk tidak menjadi orang yang sukses tetapi cobalah untuk menjadi orang yang bernilai).

Menurut Einstein, orang sukses mengambil lebih banyak (keuntungan) dari kehidupan ketimbang yang ia berikan, sedangkan orang bernilai memberi lebih banyak (keuntungan) kepada kehidupan daripada yang diterimanya.

Teks di atas muncul di majalah LIFE dalam edisi 2 Mei 1955 tentang "Kehidupan" yang ditulis oleh editor William Miller. 

2.  Perbedaan Manusia Sukses dan Bernilai

Bagi William Miller, orang sukses adalah orang yang karirnya mentereng, jabatan tinggi, kaya raya, populer dan sebagainya. Orang-orang yang mempunyai kedudukan seperti gubernur, presdir, artis terkenal, milyader adalah orang yang sukses.  Kondisi itu tentu akan sangat membahagiakan.

Namun tidak demikian bagi Einstein. Bagi Albert Einstein, tujuan hidup manusia adalah memperoleh kebahagiaan, Untuk mencapai hidup bahagia bukan menjadi orang sukses dalam karir, tetapi menjadi orang bernilai.

Maka dari itu untuk hidup bahagia, Einstein menasehati agar jangan terlalu berupaya menjadi orang sukses, tetapi berupaya untuk menjadi orang bernilai.

Mengapa?

> Orang sukses belum tentu bahagia, tetapi orang bernilai pasti merasakan bahagia.

> Menjadi orang sukses itu tidak mudah (membutuhkan kerja keras, keuletan dan disiplin tinggi, bahkan modal finansial yang besar). Sementara untuk menjadi orang bernilai hanya membutuhkan semangat dan keikhlasan.

Tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi orang sukses, tetapi semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi orang bernilai.

> Orang sukses belum tentu bernilai, tetapi orang yang bernilai merupakan orang yang sukses. 


3. Hakekat Manusia Bernilai

Bagaimana agar bisa menjadi manusia bernilai?  Nabi Muhammad Saw menjelaskan tentang hakekat manusia bernilai. Hal itu diceritakan dalam sebuah hadis berikut: 

Seorang sahabat Nabi bertanya , “Ya Rasulullah, manusia seperti apa yang paling disukai Allah, dan amalan apa yang paling disukai Allah?

Maka Nabi Muhammad menjawab: "Manusia yang paling disukai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, dan amal yang paling disukai Allah adalah menolong orang (mukmin) yang sedang mengalami kesulitan.

Jadi sesuai penjelasan Nabi Muhammad, manusia yang disukai oleh Allah itulah manusia bernilai. Manusia bernilai adalah yang banyak memberi manfaat bagi banyak orang. 

Sedangkan amal yang bernilai tinggi adalah menolong orang yang sedang mengalami kesulitan hidup.

Dengan begitu maka hakekat manusia bernilai adalah manusia yang suka berbagi atau bersedekah

Berbagi tidak selalu berupa harta, tetapi juga bisa berupa tenaga atau ilmuBila dia mempunyai harta, ia berbagi hartanya kepada orang yang membutuhkan. Bila ia mempunyai ilmu, ia berbagi ilmunya sehingga bermanfaat bagi orang lain. Dan bila ia punya tenaga, maka ia membantu kersulitan orang lain dengan tenaganya.


4.  Kebahagiaan

Seperti yang kita ketahui bahwa tujuan hidup manusia adalah memperoleh kebahagiaan. Lantas, bagaimana pengertian bahagia itu?

Hakekat kebahagiaan dapat kita rangkum dari pandangan beberapa tokoh, sebagai berikut:

a. Dalai Lama, seorang pemimpin agama Budha mengatakan, ”Tujuan utama kehidupan manusia adalah untuk mencari kebahagiaan.” Ia kemudian menjelaskan bahwa kebahagiaan dapat diperoleh dengan melatih atau mendisiplin pikiran dan hatiKebahagiaan yang sejati tak dapat dibeli dengan uang atau harta apapun. Sumber dan landasan dari kebahagiaan sejati adalah keikhlasan dan kesyukuran.

b. Prof. William James (1842-1910), tokoh pragmatisme yang telah memberi kontribusi besar pada pemikiran filsafat dunia Barat, mengatakan: "Kebahagiaan tidak selalu berada pada orang yang hidupnya penuh dengan kemudahan tanpa masalah, tetapi justru kebahagiaan seringkali dirasakan oleh orang yang selalu berhasil dalam mengatasi berbagai persoalan hidup".   

c. Mahatma Gandhi berkata: Kebahagiaan tergantung pada apa yang dapat anda berikanbukan pada apa yang anda peroleh." Sesungguhnya hakekat "orang kaya" adalah orang yang selalu merasa cukup, sehingga dia terus berbagi. Sedangkan "orang miskin" adalah orang yang selalu merasa kurang, sehingga dia terus mencari.

d. Goethe, salah seorang tokoh berpengaruh di Jerman berkata, "Keluar dari kesederhanaan berarti lenyapnya kebahagiaan sejati“ Sifat manusia sesungguhnya begitu tamak dalam memperbanyak harta. Manusia tidak pernah merasa puas dan bahagia dengan apa yang ada. 

e. Mario Teguh, seorang motivator ternama mengatakan: Bukan kebahagiaan yang menjadikanmu bersyukur, tapi kesyukuranlah yang menjadikanmu berbahagia." Jika anda telah bahagia, maka berbagilah bahagia itu kepada orang yang hidupnya susah. Dengan semakin banyak orang bahagia di sekitar kita, maka hidup kita akan semakin bahagia dan mendapatkan amal/pahala yang besar dari Tuhan.


5.  Menjadi Manusia Bernilai

a. Inti dari uraian ini adalah, bahwa tujuan hidup manusia adalah memperoleh kebahagiaan

b. Untuk mencapai kebahagiaan hidup maka harus menjadi manusia bernilai

c. Hakekat manusia bernilai adalah yang bermanfaat bagi banyak orang, yaitu mereka yang suka berbagi atau bersedekah.

d. Berbagi tidak selalu berupa harta, tetapi juga bisa berupa tenaga atau ilmu.

e. Berbagi tidak hanya membahagiakan orang lain, tetapi juga membahagiakan diri sendiri.

f. Orang yang berbahagia adalah orang yang suka berbagi, hidup sederhana, ikhlas dan bersyukur.

 

 

6. Lima Golongan Manusia

Manusia yang bermanfaat bagi orang lain yaitu apabila keberadaannya sangat berfaedah bagi orang di sekitarnya, dan sangat dibutuhkan oleh orang lain. Ia dicintai banyak manusia karena kepeduliannya terhadap sekitar dan bisa membawa pengaruh yang baik.

Berdasarkan Hukum Fiqih, MH Ainun Najib (Cak Nun) membagi keberadaan manusia ke dalam lima golongan berdasarkan kemanfaatan terhadap sesama, yaitu: a) manusia Wajib, b) manusia Sunnah, c) manusia Mubah, d) manusia Makruh dan e) manusia Haram.

a. Manusia Wajib

Manusia Wajib adalah tipe manusia yang keberadaannya memberi menfaat bagi banyak orang. Apabila dia tak ada maka orang-orang merasa kehilangan dan mencari tahu mengapa dia tidak hadir di tengah-tengah mereka, karena tidak ada (tidak banyak) orang lain yang bisa menggantikannya.

b. Manusia Sunnah

Manusia Sunnah adalah tipe manusia yang keberadaannya membawa manfaat bagi banyak orang. Namun apabila dia tak ada maka orang-orang tidak begitu kehilangan dan mencari tahu mengapa dia tidak hadir di tengah-tengah mereka, karena ada (banyak) orang lain yang bisa menggantikan posisinya.

c. Manusia Mubah

Manusia Mubah adalah tipe manusia yang ada atau tidak adanya dia tak mempengaruhi sedikitpun bagi orang-orang sekitarnya, karena keberadaannya tidak memberikan manfaat atau kerugian apapun. Tipe manusia seperti ini adalah manusia-manusia cuek yang hanya mementingkan dirinya sendiri tapi tak pernah mau peduli terhadap orang lain.

d. Manusia Makruh

Manusia Makruh adalah tipe manusia yang ketidakhadirannya tidak membawa pengaruh apa-apa, namun jika dia ada justru malah bisa mendatangkan masalah atau keburukan.

e. Manusia Haram

Manusia Haram adalah tipe manusia yang dengan keberadaannya justru malah akan menjadi masalah atau musibah bagi orang lain disekitarnya. Orang lebih suka jika dia tak ada. Ciri-ciri manusia ini adalah jika dia datang ke suatu tempat maka orang-orang pasti merasa tidak senang dan pergi menjauh.


*****


Manusia bernilai adalah manusia yang: a) bermanfaat bagi manusia lain, dan b) suka menolong kesulitan orang lain.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan agar kita bisa menjadi orang bernilai, yaitu:

1) Jika kita mempunyai harta, kita bisa memberikan manfaat kepada banyak orang dengan harta. 

2) Jika kita memunyai ilmu, kita bisa menyumbangkan ilmu dan pikiran kita sehingga bisa memberikan manfaat kepada banyak orang. 

3) Jika kita memunyai tenaga, kita bisa menyedekahkan tenaga kita sehingga menjadi manfaat bagi banyak orang.

Sedangkan kunci kebahagiaan adalah bersyukur, berbagi, ikhlas dan hidup sederhana

***