Rabu, 31 Januari 2018

Kenapa Rumah Sakit di Mekkah Sepi

Di Mekkah Rumah Sakit pada sepi,  beda dengan di Indonesia, Memang beda dan tidak sama, yang membedakan adalah Aqidah dan Syariatnya.

Inilah rahasia mengapa di Mekkah rumah sakit sangat sepi, jarang sekali pasien yang datang
Ada seorang dokter membuka klinik di Tanah Suci (Makkah Mukarramah). Selama 6 bulan berpraktek, tidak ada seorang pasien pun yang datang untuk berobat. Hingga beliau merasa heran, apakah orang-orang di sini tidak pernah sakit?

Akhirnya beliau dapati jawabannya, dari salah seorang muslim di sana: Bila kami sakit,

Ikhtiar pertama
Yang kami lakukan ialah Sholat dua rakaat, dan memohon kesehatan kpd Allah. Insyaa Allah sembuh dengan izin dan kasih sayang-Nya.
Kalau belum sembuh,

Ikhtiar ke-dua
Yaitu baca Al Fatihah / surat-surat lain, tiupkan pada air dan minum. Dengan amalan tambahan:
Jika badan panas maka kami banyakin baca Sholawat (karena Sholawat sebagai penyejuk)
Jika Badan Dingin maka kami banyakin baca Ayat Kursi.
Jika sakit yang terlihat maka kami bacakan Surat Al fatihah sambil mengusap usap di bagian yang sakit.
Jika sakit tak terlihat maka kami perbanyak bacaan Surat Al ikhlas, Al Falaq dan An-Naas (sebagai penolak sihir).
Dan alhamdulillaah kami akan sehat. Inilah Ruqyah untuk diri sendiri.
Tapi kalau belum sehat juga,
Kami lakukan ikhtiar yg ke-tiga.

Ikhtiar ke-tiga
Yaitu bersedekah, dengan niat mendapatkan pahala kebaikan, dan dijadikan jalan penyembuh sakit kami. Insyaa Allah akan sembuh.
Kalau tidak sembuh juga, kami akan tempuh ikhtiar yg ke-empat.

Ikhtiar ke-empat
Yaitu banyak-banyak istighfar, untuk bertaubat. Sebab, Nabi Sholallahu 'alaihi wasallam beritahu kami, bahwa sakit adalah salah satu sebab diampuninya dosa-dosa.
Kalau belum sembuh juga, baru kami lakukan ikhtiar yg ke-lima.

Ikhtiar ke-lima
Yaitu minum madu dan habbatussauda

Ikhtiar yang ke-enam
Yaitu dengan mengambil makanan herbal, seperti bawang putih, buah tin, zaitun, kurma, dan lain-lain, seperti disebut dalam Al-Quran.
Dan, Alhamdulillah. Laa hawlaa wa laa quwwataa illaa billaah.

Jika belum sembuh, baru kami

Ikhtiar ke-tujuh
Yaitu pergi ke dokter yang soleh.
Insyaa Allah akan diberi kesembuhan dari Allah.

Semoga bermanfaat.

Rabu, 24 Januari 2018

Gajah Mada dan Kontroversi Dalang Pembunuhan Raja Majapahit

Raja Majapahit kedua, Jayanegara mati dibunuh oleh tabibnya sendiri, Ra Tanca. Ada dugaan, Gajah Mada di balik pembunuhan tersebut.
Satu hari di tahun 1328, seisi Istana Majapahit sontak geger. Raja Jayanegara tewas bersimbah darah di peraduannya. Penguasa Majapahit kedua ini mati di tangan tabibnya sendiri, Ra Tanca. Jayanegara, yang meminta Ra Tanca mengobati sakit bisulnya, ditikam dari belakang dan tewas seketika. Selain sebagai tabib istana, Ra Tanca juga seorang pengawal raja atau bhayangkara, sama seperti Gajah Mada.
Meskipun tudingan pelaku pembunuhan mengarah kepada Ra Tanca, tapi insiden berdarah ini belum terkuak sepenuhnya. Ada beberapa versi terkait siapa sebenarnya dalang yang menghendaki kematian Jayanegara. Selain Ra Tanca, Gajah Mada masuk dalam daftar tersangka.

Raja yang Tidak Disukai
Jayanegara naik takhta pada 1309. Ia adalah anak dari pendiri Majapahit, Raden Wijaya, dengan seorang putri Kerajaan Dharmasraya dari Sumatera, Dara Petak atau Indreswari. Kitab Pararaton menyebut Jayanegara dengan nama Kalagemet yang ditafsirkan sebagai olok-olok karena nama tersebut memiliki arti “lemah” atau “jahat”.
Memang, banyak orang di Majapahit yang tidak senang dengan naiknya Jayanegara menjadi raja. Salah satu penyebabnya adalah karena Jayanegara berdarah campuran, Jawa dan Melayu, bukan turunan murni dari Kertanagara, raja terakhir Singhasari sebelum Majapahit berdiri.
Selain itu, Jayanegara juga bukan lahir dari permaisuri, melainkan dari istri selir. Padahal, sebelum menikahi Dara Petak, Raden Wijaya sudah punya empat istri yang semuanya adalah putri Kertanagara, seperti ditulis Pitono Hardjowardojo, dkk., Pararaton (1965:46). Namun, Dara Petak berhasil membujuk Raden Wijaya untuk menjadikan putranya, Jayanegara, sebagai putra mahkota.
Merujuk Nagarakertagama, Haris Daryono Ali Haji (2012:42) dalam buku Menggali Pemerintahan Negeri Doho menyebut, kebiasaan raja-raja di Jawa zaman dulu bahwa yang berhak menggantikan takhta kerajaan adalah anak yang lahir dari permaisuri, entah itu anak laki-laki maupun anak perempuan.
Setelah Jayanegara dinobatkan, banyak terjadi guncangan internal, termasuk timbulnya serangkaian pemberontakan. Para pemimpin pemberontakan ini justru orang-orang yang dulu sangat loyal terhadap Raden Wijaya. Setelah Raden Wijaya wafat, mereka menganggap takhta Majapahit jatuh di tangan orang yang salah.
Dari sekian banyak pemberontakan yang muncul pada era Jayanegara, ada beberapa yang paling membahayakan, antara lain pemberontakan yang dimotori oleh Ranggalawe pada 1309, Lembu Sora pada 1311, Nambi pada 1316, hingga Kuti pada 1319. 
Namun, Jayanegara selalu lolos dari maut dalam berbagai aksi pemberontakan itu. Nyawanya melayang justru ketika situasi kerajaan sudah agak tenang, di tangan orang dalam istana yang tidak lain adalah tabib sekaligus pengawal kepercayaannya sendiri, Ra Tanca.

Gajah Mada Sebagai Dalang?
Banyak referensi yang menyebut Gajah Mada punya andil dalam peristiwa matinya Jayanegara pada 1328, secara langsung atau tidak. Seorang peneliti sejarah asal Belanda, N.J. Krom, dalam Hindoe-Javaansche Geschiedenis, misalnya, meyakini bahwa Gajah Mada adalah otak pembunuhan itu.
Dikutip dari Parakitri Simbolon (2006) dalam Menjadi Indonesia, Krom meyakini bahwa Gajah Mada menyimpan dendam terhadap Jayanegara lantaran telah berbuat tidak senonoh terhadap istrinya. Gajah Mada memperalat Ra Tanca yang juga tabib istana untuk membunuh sang raja.
Buku Nagarakertagama dan Tafsir Sejarahnya karya Slamet Muljana (1979) mendukung versi ini, meskipun Muljana juga memaparkan versi lainnya. Dituliskan, Gajah Mada pada hakikatnya tidak suka pada terhadap Jayanegara dan menggunakan Ra Tanca sebagai alat untuk mengakhiri nyawa raja yang bertabiat buruk itu.
Pararaton seperti dikutip Muljana juga mengungkapkan, Gajah Mada sudah bersiap di kamar raja tanpa diketahui Ra Tanca. Sesaat setelah Jayanegara ditikam, Gajah Mada mendadak muncul dan segera membunuh Ra Tanca. 
Meskipun ada di tempat kejadian perkara, nama Gajah Mada tetap bersih, bahkan ia disebut sebagai pahlawan. “Demikianlah rahasia itu tertutup. Orang ramai hanya tahu Gajah Mada membalaskan kematian sang prabu dan menusuk Tanca sampai mati,” tulis Muljana dalam bukunya.
Gajah Mada diduga memang tidak menyukai Jayanegara yang memiliki tabiat buruk dan kurang piawai dalam mengelola pemerintahan. Gajah Mada juga tidak terlalu cocok dengan Ra Tanca yang menjadi salah satu pesaing dalam kariernya  sesama pengawal raja.
Versi ini dilengkapi oleh Purwadi dalam Jejak Nasionalisme Gajah Mada (2004:84) yang menulis, setelah Jayanegara terbunuh, Gajah Mada segera menangkap Ra Tanca dan mengeksekusinya. Yang menjadi persoalan, eksekusi itu dilakukan tanpa melalui pengadilan terlebih dulu. Tindakan inilah yang lantas memunculkan asumsi bahwa Gajah Mada memang sengaja menggunakan Ra Tanca untuk menghabisi nyawa sang raja. 

Konspirasi Menghabisi Jayanegara
Dalam buku yang sama, Slamet Muljana juga mengungkap versi lain ihwal misteri matinya Jayanegara. Disebutkan bahwa pembunuhan itu memang murni dilakukan oleh Ra Tanca dan telah direncanakan sebelumnya.
Ra Tanca kesal terhadap Jayanegara setelah menerima laporan dari istrinya bahwa sang raja telah berbuat tidak sopan terhadap dua saudara tirinya yang juga putri Raden Wijaya, yakni Dyah Gitarja atau Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat atau Sri Rajadewi.
Mengetahui hal ini, Ra Tanca lantas melapor kepada Gajah Mada, tapi sang patih tidak segera bertindak. Ra Tanca, yang merupakan abdi setia mendiang Raden Wijaya, lantas mengambil tindakan sendiri saat mendapatkan kesempatan mengobati Jayanegara.
Purwadi dalam Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa(2007:97) menyebutkan bahwa Jayanegara memang tidak memperbolehkan dua adik perempuan tirinya itu menikah dan selalu menghalangi jika ada lelaki yang hendak meminang.
Setelah Jayanegara tewas, dua putri Majapahit itu akhirnya menikah. Tribhuwana disunting oleh Pangeran Cakradhara atau Kertawardhana, bangsawan muda keturunan Singhasari (Th. Pigeaud, Java in the 14th Century: A Study in Cultural History (2001: 540). Sedangkan Sri Rajadewi kawin dengan pangeran lainnya bernama Kudamerta.
Krom, seperti halnya Muljana, juga merilis versi lain ihwal pembunuhan Jayanegara. Menurut versi ini, Ra Tanca sudah berencana membunuh raja, bermula laporan istrinya yang mengaku telah dicabuli Jayanegara. Kebetulan, Ra Tanca mendapat kesempatan membalas ketika dipanggil Jayanegara yang memerlukan bantuannya.
Earl Drake dalam Gayatri Rajapatni: Perempuan Di Balik Kejayaan Majapahit (2012:96-97) punya kesimpulan yang lebih mengejutkan. Ia menyebut, pembunuhan Jayanegara merupakan konspirasi Gayatri bersama Gajah Mada. Gayatri adalah ibu Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Rajadewi atau salah satu istri Raden Wijaya sebelum menikahi Dara Petak, ibu Jayanegara. 
Menurut Drake, Gayatri dan Gajah Mada ingin menghabisi nyawa Jayanegara karena kepemimpinan sang raja yang sewenang-wenang, serta niat Jayanegara yang ingin menikahi Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Rajadewi yang tidak lain saudari tirinya sendiri.
Terlepas dari semua versi itu, karier Gajah Mada memang kian mantap setelah Jayanegara tiada. Tribhuwana Tunggadewi yang naik takhta menggantikan kakak tirinya, mengangkat Gajah Mada sebagai mahapatih atau panglima tertinggi Majapahit pada 1334, jabatan yang belum tentu didapatnya jika Jayanegara atau Ra Tanca masih hidup. 
https://tirto.id/gajah-mada-dan-kontroversi-dalang-pembunuhan-raja-majapahit-cCRR?gclid=EAIaIQobChMIyd7CgNLw2AIV0E0rCh0ZfA1cEAEYASAAEgKpUPD_BwE