Rabu, 30 Agustus 2017

Ibadah Haji; Napak Tilas Perjalanan Spiritual Nabi Ibrahim

Haji (/hædʒ/;[1] bahasa Arabحج‎ Ḥaǧǧ "ziarah") adalah ziarah Islam tahunan ke Mekkah, kota suci umat Islam, dan kewajiban wajib bagi umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup mereka oleh semua orang Muslim dewasa yang secara fisik dan finansial mampu melakukan perjalanan, dan dapat mendukung keluarga mereka selama ketidakhadiran mereka.[2][3][4] Ini adalah satu dari lima Rukun Islam, di samping SyahadatSalatZakat, dan Sawm. Haji adalah pertemuan tahunan terbesar orang-orang di dunia.[5][6] Keadaan yang secara fisik dan finansial mampu melakukan ibadah haji disebut istita'ah, dan seorang Muslim yang memenuhi syarat ini disebut mustati. Haji adalah demonstrasi solidaritas orang-orang Muslim, dan ketundukan mereka kepada Tuhan (Allah).[7][8] Kata Haji berarti "berniat melakukan perjalanan", yang berkonotasi baik tindakan luar dari perjalanan dan tindakan ke dalam niat.[9]
Ziarah terjadi dari tanggal 8 sampai 12 (atau dalam beberapa kasus ke 13 [10]) dari Zulhijjah, bulan terakhir kalender Islam. Karena kalender Islam adalah bulan dan tahun Islam kira-kira sebelas hari lebih pendek daripada kalender Gregorian, tanggal haji Gregorian berubah dari tahun ke tahun. Hram adalah nama yang diberikan pada keadaan spiritual khusus dimana peziarah mengenakan dua lembar putih kain halus. Dan menjauhkan diri dari tindakan tertentu.[7][11][12]
Haji dikaitkan dengan kehidupan nabi Islam Muhammad dari abad ke-7, namun ritual ziarah ke Mekkah dianggap oleh umat Islam untuk meregangkan ribuan tahun sampai Ibraham. Selama haji, peziarah bergabung dalam prosesi ratusan ribu orang, yang secara bersamaan berkumpul di Mekkah selama minggu haji, dan melakukan serangkaian ritual: setiap orang berjalan berlawanan arah jarum jam tujuh kali di sekitar Ka'bah (berbentuk kubus Bangunan dan arah doa untuk kaum Muslim), berjalan bolak-balik antara bukit-bukit Al-Safa dan Al-Marwah, minuman dari Sumur Zamzam, sampai ke dataran Gunung Arafah untuk berjaga-jaga, menghabiskan satu malam di Dataran Muzdalifah, dan melakukan rajam simbolis iblis dengan melemparkan batu ke tiga pilar. Para peziarah kemudian mencukur kepala mereka, melakukan ritual pengorbanan hewan, dan merayakan festival global tiga hari Idul Adha.[13][14][15][16]
Jamaah haji juga bisa pergi ke Mekkah untuk melakukan ritual di lain waktu sepanjang tahun. Ini kadang disebut "ziarah yang lebih rendah", atau Umrah.[17] Namun, biarpun mereka memilih untuk melakukan umrah, mereka masih diwajibkan untuk melakukan ibadah haji di lain waktu dalam hidup mereka jika mereka memiliki sarana untuk melakukannya, karena Umrah bukan pengganti haji.[18]

Ibadah Haji
Ibadah Haji adalah salah satu ibadah utama yang diwajibkan bagi umat Islam yang telah mempunyai kemampuan baik fisik maupun finansial (istita’ah), untuk melakukan perjalanan atau ziarah ke Baitullah (Ka’bah) di kota Mekah dan beberapa kegiatan di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Firman Allah yang menjadi dasar kewajiban ibadah haji adalah : “Allah telah mewajibkan ibadah haji ke Baitullah  atas orang-orang yang telah mampu dalam perjalanannya” (QS. Ali Imran 97).
Kegiatan inti ibadah haji dilaksanakan pada tanggal 8, 9 & 10 Dzulhijah, yang diawali dengan kegiatan mabit (bermalam) di Mina (8 Dzulhijah), wukuf (berdiam diri) di padang Arafah (9 Dzulhijah), dan lontar Jumrah di Mina (10 Dzulhijah).
Sementara ibadah tambahannya adalah  tawaf (mengelilingi Ka'bah), serta  sa’i (berlari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwa) di Mekah.  
Sedangkan puncak dari ibadah haji adalah Wukuf di padang Arafah.  “Al-Hajju Arafah” artinya “(puncak) ibadah haji itu adalah wukuf di Arafah”. Demikian jawaban Rasulullah ketika ditanya oleh sekelompok orang yang datang dari Nejed saat beliau sedang “wukuf” di padang Arafah.
Haji merupakan pertemuan tahunan terbesar bagi orang-orang Islam dunia dengan mengedepankan kesetaraan antar orang-orang Muslim dalam ketundukan kepada Allah, Tuhan semesta alam.


Napak Tilas Perjalanan Spiritual Nabi Ibrahim
Ibadah haji merupakan napak tilas perjalanan spiritual nabi Ibrahim, untuk mengenang kisah ketaatan beliau atas perintah Allah SWT melalui mimpi-mimpinya untuk menyembelih (mengorbankan) anak yang sangat dicintainya, Ismail.  Itu adalah ujian yang “maha berat” bagi seorang manusia.  Tidak ada satu ujianpun yang lebih berat ketimbang harus menyembelih anak semata wayang yang sangat dicintainya.
Bermula dari perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk melakukan perjalanan dari Mekah menuju Arafah bersama keluarganya, yaitu Siti Hajar (istrinya) dan Ismail (putra tercintanya).
Dalam perjalanan dari Mekah ke Arafah itu, selama tiga malam berturut-turut Nabi Ibrahim bermimpi dengan mimpi yang sama yaitu menyembelih putranya, Ismail.  Dari ketiga mimpinya itulah Nabi Ibrahim sangat yakin bahwa itu adalah perintah Allah untuk mengorbankan anak kesayangannya. 
Mimpi pertama.  Dalam perjalanan dari Mekah ke Arafah itu mereka bermalam di Mina.  Pada malam 8 Dzulhijah itu Ibrahim bermimpi dengan sangat jelas menyembelih anaknya, Ismail. Segera ia tergeragab bangun dari tidurnya, dan termenung memikirkan makna mimpi yang terlihat sangat jelas itu. Sampai pagi datang ia tidak mampu memejamkan kembali karena galau. Ia meragukan mimpi itu sebagai perintah Allah. Karena Allah adalah Dzat Yang Maha Penyayang, tak pernah menganiaya hamba-hamba-Nya.
Kelak, termenungnya Ibrahim di Mina ini menjadi Hari Tarwiyah, dimana jamaah haji berkumpul dan bersiap-siap menuju Arafah. Kata “Tarwiyah” bermakna “merenung dan memikirkan”. Menunjuk kepada saat-saat awal Ibrahim memperoleh perintah lewat mimpinya, yang ia sempat termenung dan merenunginya.
Keesokan harinya keluarga Ibrahim meneruskan perjalanannya menuju Arafah.  Ibrahim tidak bercerita apapun kepada anak dan istrinya tentang mimpinya semalam. Karena ia sendiri masih tidak tahu dan ragu-ragu tentang takwil mimpi tersebut. Apakah itu sekedar kembang tidur, godaan setan, atau perintah Allah.
Mereka sampai di padang Arafah sore hari menjelang malam.  Disanalah Ibrahim membuka tenda untuk bermalam.
Mimpi kedua.  Pada malam 9 Dzulhijah di Arafah, kembali Ibrahim bermimpi.  Mimpi keduanya itu sama persis dengan mimpi pertama saat di Mina yaitu menyembelih putranya, Ismail.  Ia tergeragab kembali, terbangun dari tidurnya. Dan seperti malam sebelumnya, ia tidak bisa memejamkan matanya kembali sampai pagi. Mimpi itu membuat keraguannya akan perintah Allah mulai luntur.
Tak kuat rasanya ia memendam sendirian. Ingin diceritakannya kepada anak istrinya beban yang berat menghimpit itu. Tetapi ia menahan diri sampai siang datang. Dalam kegundahan itu, Ibrahim memutuskan untuk tidak menceritakan dulu kepada mereka, melainkan akan terlebih dahulu mohon petunjuk kepada Allah.
Ibrahimpun menghentikan segala aktivitasnya, melakukan Wukuf di dalam tenda sambil memohon petunjuk kepada-Nya. Ia berkontemplasi, berdzikir, dan berdoa sepanjang siang hari hingga sore, menjelang matahari tenggelam.
Ia dapatkan rasa tenteram, dan menjadi lebih tenang karenanya. Hatinya menjadi lebih jernih dalam menangkap tanda-tanda dari Allah. Dan iapun memohon kepada-Nya untuk memperjelas perintah itu agar ia mantab dan tidak ragu-ragu dalam menjalaninya.
Mimpi ketiga. Mimpi yang sama kembali terjadi pada malam 10 Dzulhijah di Arafah.  Seperti mimpi-mimpi malam sebelumnya, dengan sangat jelas nabi Ibrahim menyembelih Ismail, putranya.  Ibrahim-pun menjadi yakin bahwa  mimpi itu adalah perintah Allah kepadanya untuk mengorbankan putranya sebagai bukti ketaatan kepada-Nya.
Akhirnya ia memutuskan untuk melaksanakan perintah Allah itu keesokan harinya. Sehingga tanggal 10 Dzulhijah dikenal sebagai Hari Nahar alias Hari Berkorban. Sedangkan tanggal 9 Dzulhijah dikenal sebagai Hari Arafah alias Hari Pengetahuan dimana Ibrahim memperoleh pencerahan atas makna ujian yang diberikan Allah kepadanya.
Malam itu, Ibrahim dan keluarganya melanjutkan perjalanan meninggalkan Arafah menuju ke Mina. Tengah malam mereka berhenti di Muzdalifah. Saat itulah Ibrahim mulai diganggu dan dirayu oleh setan, agar membatalkan keputusannya mengorbankan Ismail. Tapi, Ibrahim sudah mantab hati, dan teguh pada keyakinannya untuk melaksanakan perintah Allah pada keesokan harinya. Ibrahim lantas mengambil sejumlah batu untuk mengusir setan yang menghalanginya.
Bagi jamaah haji kini, malam hari di Muzdalifah itu, disunahkan mengambil batu kerikil untuk melempar jumrah keesokan harinya, sebagai simbol menghalau setan.
Siang hari Ibrahim sampai di Mina. Kemudian Ibrahim dan keluarganya menuju ke sebuah bukit yang kemudian dikenal sebagai Jabal Qurban, dimana Ibrahim akan melaksanakan perintah Allah mengurbankan Ismail.  Iapun minta ijin kepada Hajar untuk naik bukit, sedangkan Hajar diminta untuk menunggu di bawah.
Dalam perjalanan ke atas bukit di Mina itulah Ibrahim dan Ismail dihadang oleh setan, lagi-lagi merayu agar membatalkan niat kurban itu. Tetapi, Ibrahim sekali lagi melemparinya dengan bebatuan sampai setan itu pergi. Dan begitulah lagi sampai kali yang ketiga. Kelak, pelemparan batu terhadap setan itu dikenang sebagai lempar Jumrah ,yakni Jumrah Aqabah, Jumar Wustho dan Jumlah Ula.

Suatu ujian yang nyata
Sesampai di atas bukit, barulah Ibrahim menceritakan kepada Ismail tentang mimpinya yang datang berturut-turut dalam tidurnya selama tiga hari. Betapa beratnya pergulatan batin yang terjadi dalam menyikapi perintah yang sangat berat itu.
Terjadi dialog yang sangat menyentuh hati, antara seorang Ibrahim yang saleh dengan anaknya,  Ismail yang santun dan penyabar.  Dan akhirnya mereka memutuskan untuk membenarkan mimpi tersebut sebagai ujian yang datang dari Allah.  Kisah itu dibadikan Allah dalam firman-firman-Nya pada QS. Ash Shafaat (37) ayat 100 sampai dengan 110
QS.37:100. "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. ; 37:101. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. ; 37:102. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". ; 37:103. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), (nyatalah kesabaran keduanya). ; 37:104. Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, ; 37:105. sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu", sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. ; 37:106. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. ; 37:107. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. ; 37:108. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, ; 37:109. (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim". ; 37:110. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Karena nabi Ibrahim (dan juga Ismail) telah menunjukkan ketaatan akan perintah-Nya dan berserah diri, maka Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengganti anaknya dengan seekor domba sebagai simbol ketaatan pengorbanannya.
Bagi kita yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji, maka sangat dianjurkan untuk berkurban seekor hewan berupa domba, sapi atau onta. Ibadah kurban itu sebagai symbol ketaatan kepada Allah, meneladani ketaatan nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putra kesayangannya meski akhirnya diganti dengan seekor domba.
Berkorban dengan seekor domba atau sapi bukanlah sesuatu yang berat dibandingkan dengan sesuatu yang lain yang kita cintai, berupa harta, kekayaan, dan sebagainya. Apalah artinya bila dibandingkan dengan harus mengorbankan anak yang sangat dicintainya.


Keluarga Ibrahim adalah keluarga teladan yang kisahnya diabadikan Allah sampai akhir zaman. Khususnya, berupa ritual haji yang bermula dari Arafah dan kemudian berakhir di bukit Marwah, di Mekah.  Keduanya diabadikan-Nya sampai akhir zaman sebagai ikon hamba yang berserah diri kepada-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar