PENDAHULUAN
Intelijen, pada awalnya adalah
naluri atau insting dasar manusia untuk bertahan hidup. Sejak zaman purba,
manusia telah mengembangkan kemampuan nalurinya untuk mengamati lingkungan
sekitar, mengenali ancaman, dan mengambil tindakan pencegahan terhadap bahaya. Tujuannya
memastikan kelangsungan hidup dan keamanan kelompok.
Seiring berjalannya waktu,
intelijen berevolusi dari naluri menjadi pengetahuan. Berbagai pengalaman tentang
upaya mengatasi ancaman dan memperbaiki kualitas hidup telah terakumulasi dari
generasi ke generasi menjadi pengetahuan tentang ancaman dan peluang.
Evolusi intelijen berlanjut,
dari pengetahuan menjadi disiplin Ilmu. Dengan semakin kompleksnya interaksi
antar kelompok manusia, kebutuhan akan informasi yang relevan semakin mendesak.
Muncullah ilmu intelijen sebagai disiplin yang sistematis, yang mempelajari
cara mengumpulkan, menganalisis, dan memanfaatkan informasi akurat untuk
mengantisipasi ancaman, serta mencari celah peluang yang menguntungkan.
Di era modern, popularitas
aksi agen intelijen yang penuh misteri dan intrik telah mendorong industri
hiburan untuk terus memproduksi film bergenre intelijen. Hal itu menjadikan
tema intelijen sebagai komoditas komersial yang menguntungkan. Daya imajinasi
dan kreatifitas penulis skenario yang tinggi, membuat karya-karya fiksi ini
semakin menghibur dan berperan dalam membentuk persepsi publik tentang dunia
intelijen.
Buku-buku
sejarah intelijen yang mengulas lembaga-lembaga seperti CIA, KGB, Mossad, dan
M16 semakin popular di berbagai kalangan. Hal ini menunjukkan minat masyarakat
terhadap dunia intelijen semakin besar. Selain film-film seperti Nikita, Eli
Cohen, Mossad, dan The Night Manager, novel-novel bertema serupa juga turut
memperkaya konsumsi publik tentang dunia intelijen.
Peran
intelijen terus berkembang, dari sekedar naluri bertahan hidup menjadi sebuah
disiplin ilmu yang kompleks, dan bahkan menjadi komoditas komersial.
Popularitasnya di media massa telah mengubah persepsi publik tentang intelijen,
bahkan membuka peluang komersial yang baru. Perkembangan teknologi informasi
telah mengubah cara kerja intelijen secara signifikan, memungkinkan pengumpulan
dan analisis data dalam skala yang lebih besar dan cepat.
Buku
yang Anda baca ini mencoba untuk mengupas lebih dalam mengenai kesamaran dunia
intelijen. Melalui penggabungan berbagai sumber, mulai dari cuplikan narasi
sejumlah novel dan film bertema intelijen hingga pengalaman para praktisi
intelijen, buku ini berusaha menyajikan gambaran yang komprehensif tentang kesamaran
operasi rahasia agen intelijen.
*****
SINOPSIS BUKU
Masyarakat seringkali memiliki persepsi negatif
terhadap komunitas intelijen. Citra ini kerap dibentuk oleh tayangan film yang menonjolkan
aksi kekerasan dan pelanggaran HAM, atau perilaku aparat “intel melayu” yang
disalahgunakan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Ketika aparat
bertindak tidak profesional, dan dimanfaatkan untuk tujuan yang menyimpang dari
kepentingan nasional, dampak buruknya akan dirasakan oleh masyarakat. Namun,
perlu dipahami bahwa hakikat intelijen bukanlah alat represi, melainkan sebagai
benteng pertahanan diri, yakni kontra intelijen untuk menghadapi ancaman dari
pihak asing, seperti terorisme, perang proksi, dan upaya subversi.
Tanpa disadari, setiap individu telah mempraktikkan
prinsip-prisip intelijen dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari mengenali
potensi bahaya hingga mencari peluang untuk meningkatkan kualitas hidup. Tidak
hanya individu, organisasi seperti klub olahraga, perusahaan, partai politik,
hingga negara juga memanfaatkan intelijen untuk mencapai tujuannya.
Buku "Klandestin: Mengenal Lebih Dalam
Kesamaran Dunia Intelijen" hadir untuk memberikan pemahaman yang lebih
komprehensif tentang dunia intelijen. Buku ini menyajikan pengalaman penulis
dan praktisi intelijen lainnya, serta mengolah esensi cerita dalam novel atau
film bergenre intelijen.
Sebuah buku yang penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan
pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai ancaman potensial yang dapat membahayakan
bangsa.
*****
TENTANG PENULIS
Dedi Kalimana, lahir di
Surabaya 1962. Mulai mengenal dunia intelijen tahun 1990, saat direkrut Tim
Charlie Badan Intelijen Strategis ABRI, bentukan Jendral LB. Moerdani.
Selepas mengikuti
pendidikan intelijen Charlie selama dua setengah tahun, ia bergabung di Satuan
Tugas Intelijen (STI) Bais ABRI yang bermarkas di Pasar Minggu. Dengan nama kedok Sudirman, ia melaksanakan
tugas tertutup di berbagai wilayah tanah air yang dinilai rawan stabilitas keamanan.
Selain menjabat perwira
organik Bais ABRI, Ia juga bergabung di BIN tahun 2000 dan Sintel Pusat
Angkatan Laut tahun 2009. Tak berhenti hanya berbekal ilmu intelijen Charlie
yang cukup komprehensif, Sudirman juga menambah pengetahuan dan ketrampilan
intelijen dengan mengikuti kursus dan pelatihan bersama officer intelijen asing
dari Israel (1996), Inggris (1998) dan Amerika (2000).
Sudirman berulang kali
mendapat kepercayaan menjadi penyelenggara dan instruktur utama pada pelatihan intensif
Operasi Klandestin “Delta” yang diselenggarakan Bais TNI, serta pelatihan agen
klandestin “Melati” dan “Siluet” yang diselenggarakan Sintel Pusat Angkatan
Laut. Selain dipercaya menjadi intruktur utama pelatihan intelijen, Sudirman
juga diundang menjadi narasumber di berbagai instansi, seperti Sesko dan Sintel
TNI AL, Pusdikintel TNI AU, Satinduk Bais TNI, Kemenhub, dan FKPPI. Dia juga
aktif terlibat dalam penyusunan buku-buku panduan intelijen di Sintel TNI, Bais
TNI, dan Sintel Angkatan Laut.
Baginya, dalam hal pengumpulan
informasi sebagai core bisnis intelijen, seorang agen harus bersikap jujur dan
objektif. Karena objektivitas informasi menyangkut pengambilan keputusan
strategis. Informasi-informasi objektif yang diperoleh Sudirman di lapangan kerap
membuat pimpinan berubah pandangan. Hal-hal yang semula diketahui hanya dari
satu sumber memang seharusnya dikonfirmasi dengan sumber lain.
Dua puluh tahun
berkecimpung di satuan intelijen lapangan, membuat alumni Teknik Kelautan ITS
dan Magister Hukum Univ. Pancasila ini mengenal dan belajar banyak tentang
“kehidupan” dari berbagai kalangan. Melalui berbagai interaksinya dengan masyarakat,
dari lapisan bawah hingga kalangan atas, dari golongan politisi hingga tokoh
rohaniawan, serta individu dari berbagai suku, ras, maupun kepercayaan
membuatnya menjadi pribadi yang toleran dan terbuka.
Profesi intelijen telah
mengenalkan dan memperkaya wawasannya tentang ideologi, politik, budaya,
filsafat, hingga kepercayaan spiritual.
Setelah menulis buku intelijen “Lima Melati” (2015), dan “Tim Siluet”
(2016) sebagai konsumsi internal komuniti Bais TNI dan Sintel Angkatan Laut,
kini Sudirman menulis buku “Klandestin; Mengenal lebih dalam keremangan dunia
intelijen” yang didedikasikan bagi kalangan lebih luas, untuk tujuan edukasi
dan membangun sense of security masyarakat bangsa.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar