Sabtu, 01 Oktober 2016

Pendahuluan ; Sinopsis & Penulis

PENDAHULUAN

 

Intelijen, pada awalnya adalah naluri atau insting dasar manusia untuk bertahan hidup. Sejak zaman purba, manusia telah mengembangkan kemampuan nalurinya untuk mengamati lingkungan sekitar, mengenali ancaman, dan mengambil tindakan pencegahan terhadap bahaya. Tujuannya memastikan kelangsungan hidup dan keamanan kelompok.

Seiring berjalannya waktu, intelijen berevolusi dari naluri menjadi pengetahuan. Berbagai pengalaman tentang upaya mengatasi ancaman dan memperbaiki kualitas hidup telah terakumulasi dari generasi ke generasi menjadi pengetahuan tentang ancaman dan peluang.

Evolusi intelijen berlanjut, dari pengetahuan menjadi disiplin Ilmu. Dengan semakin kompleksnya interaksi antar kelompok manusia, kebutuhan akan informasi yang relevan semakin mendesak. Muncullah ilmu intelijen sebagai disiplin yang sistematis, yang mempelajari cara mengumpulkan, menganalisis, dan memanfaatkan informasi akurat untuk mengantisipasi ancaman, serta mencari celah peluang yang menguntungkan.

Di era modern, popularitas aksi agen intelijen yang penuh misteri dan intrik telah mendorong industri hiburan untuk terus memproduksi film bergenre intelijen. Hal itu menjadikan tema intelijen sebagai komoditas komersial yang menguntungkan. Daya imajinasi dan kreatifitas penulis skenario yang tinggi, membuat karya-karya fiksi ini semakin menghibur dan berperan dalam membentuk persepsi publik tentang dunia intelijen.

Buku-buku sejarah intelijen yang mengulas lembaga-lembaga seperti CIA, KGB, Mossad, dan M16 semakin popular di berbagai kalangan. Hal ini menunjukkan minat masyarakat terhadap dunia intelijen semakin besar. Selain film-film seperti Nikita, Eli Cohen, Mossad, dan The Night Manager, novel-novel bertema serupa juga turut memperkaya konsumsi publik tentang dunia intelijen.

Peran intelijen terus berkembang, dari sekedar naluri bertahan hidup menjadi sebuah disiplin ilmu yang kompleks, dan bahkan menjadi komoditas komersial. Popularitasnya di media massa telah mengubah persepsi publik tentang intelijen, bahkan membuka peluang komersial yang baru. Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara kerja intelijen secara signifikan, memungkinkan pengumpulan dan analisis data dalam skala yang lebih besar dan cepat.

Buku yang Anda baca ini mencoba untuk mengupas lebih dalam mengenai kesamaran dunia intelijen. Melalui penggabungan berbagai sumber, mulai dari cuplikan narasi sejumlah novel dan film bertema intelijen hingga pengalaman para praktisi intelijen, buku ini berusaha menyajikan gambaran yang komprehensif tentang kesamaran operasi rahasia agen intelijen.

 

*****

 

SINOPSIS BUKU

 

Masyarakat seringkali memiliki persepsi negatif terhadap komunitas intelijen. Citra ini kerap dibentuk oleh tayangan film yang menonjolkan aksi kekerasan dan pelanggaran HAM, atau perilaku aparat “intel melayu” yang disalahgunakan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Ketika aparat bertindak tidak profesional, dan dimanfaatkan untuk tujuan yang menyimpang dari kepentingan nasional, dampak buruknya akan dirasakan oleh masyarakat. Namun, perlu dipahami bahwa hakikat intelijen bukanlah alat represi, melainkan sebagai benteng pertahanan diri, yakni kontra intelijen untuk menghadapi ancaman dari pihak asing, seperti terorisme, perang proksi, dan upaya subversi.

Tanpa disadari, setiap individu telah mempraktikkan prinsip-prisip intelijen dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari mengenali potensi bahaya hingga mencari peluang untuk meningkatkan kualitas hidup. Tidak hanya individu, organisasi seperti klub olahraga, perusahaan, partai politik, hingga negara juga memanfaatkan intelijen untuk mencapai tujuannya.

Buku "Klandestin: Mengenal Lebih Dalam Kesamaran Dunia Intelijen" hadir untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang dunia intelijen. Buku ini menyajikan pengalaman penulis dan praktisi intelijen lainnya, serta mengolah esensi cerita dalam novel atau film bergenre intelijen. Sebuah buku yang penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai ancaman potensial yang dapat membahayakan bangsa.


*****


TENTANG PENULIS

Dedi Kalimana, lahir di Surabaya 1962. Mulai mengenal dunia intelijen tahun 1990, saat direkrut Tim Charlie Badan Intelijen Strategis ABRI, bentukan Jendral LB. Moerdani.

Selepas mengikuti pendidikan intelijen Charlie selama dua setengah tahun, ia bergabung di Satuan Tugas Intelijen (STI) Bais ABRI yang bermarkas di Pasar Minggu.  Dengan nama kedok Sudirman, ia melaksanakan tugas tertutup di berbagai wilayah tanah air yang dinilai rawan stabilitas keamanan.

 

Selain menjabat perwira organik Bais ABRI, Ia juga bergabung di BIN tahun 2000 dan Sintel Pusat Angkatan Laut tahun 2009. Tak berhenti hanya berbekal ilmu intelijen Charlie yang cukup komprehensif, Sudirman juga menambah pengetahuan dan ketrampilan intelijen dengan mengikuti kursus dan pelatihan bersama officer intelijen asing dari Israel (1996), Inggris (1998) dan Amerika (2000).

Sudirman berulang kali mendapat kepercayaan menjadi penyelenggara dan instruktur utama pada pelatihan intensif Operasi Klandestin “Delta” yang diselenggarakan Bais TNI, serta pelatihan agen klandestin “Melati” dan “Siluet” yang diselenggarakan Sintel Pusat Angkatan Laut. Selain dipercaya menjadi intruktur utama pelatihan intelijen, Sudirman juga diundang menjadi narasumber di berbagai instansi, seperti Sesko dan Sintel TNI AL, Pusdikintel TNI AU, Satinduk Bais TNI, Kemenhub, dan FKPPI. Dia juga aktif terlibat dalam penyusunan buku-buku panduan intelijen di Sintel TNI, Bais TNI, dan Sintel Angkatan Laut.

Baginya, dalam hal pengumpulan informasi sebagai core bisnis intelijen, seorang agen harus bersikap jujur dan objektif. Karena objektivitas informasi menyangkut pengambilan keputusan strategis. Informasi-informasi objektif yang diperoleh Sudirman di lapangan kerap membuat pimpinan berubah pandangan. Hal-hal yang semula diketahui hanya dari satu sumber memang seharusnya dikonfirmasi dengan sumber lain.

Dua puluh tahun berkecimpung di satuan intelijen lapangan, membuat alumni Teknik Kelautan ITS dan Magister Hukum Univ. Pancasila ini mengenal dan belajar banyak tentang “kehidupan” dari berbagai kalangan. Melalui berbagai interaksinya dengan masyarakat, dari lapisan bawah hingga kalangan atas, dari golongan politisi hingga tokoh rohaniawan, serta individu dari berbagai suku, ras, maupun kepercayaan membuatnya menjadi pribadi yang toleran dan terbuka.

Profesi intelijen telah mengenalkan dan memperkaya wawasannya tentang ideologi, politik, budaya, filsafat, hingga kepercayaan spiritual.  Setelah menulis buku intelijen “Lima Melati” (2015), dan “Tim Siluet” (2016) sebagai konsumsi internal komuniti Bais TNI dan Sintel Angkatan Laut, kini Sudirman menulis buku “Klandestin; Mengenal lebih dalam keremangan dunia intelijen” yang didedikasikan bagi kalangan lebih luas, untuk tujuan edukasi dan membangun sense of security masyarakat bangsa.

 

*****

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar